Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘tokoh’ Category

Suka Mengawinkan

Keahlian mengawinkan tanaman adalah buah kecintaan Greg terhadap alam. Sejak kecil Greg memang sangat mencintai alam. Waktu masih bocah, ia punya hobi mengutak-atik tanaman. Pada saat duduk di kelas 4 SD, Greg bahkan memelihara lebah. Lebah itu saya pelihara untuk diambil madunya, kenangnya.

Ketertarikan pada alam saat itu bukanlah turunan dari orang tua. Menurut anak ke empat dari lima bersaudara ini, kegemaran ini ia jalani secara naluriah. Karena ayah Greg adalah seorang montir elektro. Ayah saya montir radio dan reparasi kelistrikan, jelasnya. Sedangkan sang ibu, merupakan ibu rumah tangga.

Ilmu dari alam dan dari buku itu memang bermanfaat. Bahkan saat baru duduk di bangku SMP, Greg sudah mampu menyilangkan pepaya. Saya menyilangkan pepaya burung dikawinkan dengan pepaya semangka (berbentuk bulat), katanya.

Semakin Getol

Begitu masuk SMU, tentu pengetahuan Greg bertambah. Ia mulai menyukai ilmu kimia. Menurutnya, semua pelajaran sains selalu berhubungan satu sama lain. Ia mulai membuat percobaan dengan mencampur bahan kimia. Ketertarikan di bidang sains ini membawa Greg memilih masuk ke jurusan biologi. Saya kuliah Biologi Pertanian di IPB, terang Greg. Saat masuk bangku kuliah pada 1969, Greg semakin yakin bahwa itu adalah jalannya. Bahkan, ia semakin getol menyilangkan tanaman dan buah. Semasa itu, Greg mencoba menyilangkan tanaman jagung.

Keseriusan Greg di dunia tanaman menarik perhatian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kemudian merekrutnya sebagai pegawai. Menurut Greg, yang menariknya ke LIPI adalah Min Rifai. Saya hanya bermodal ijazah SMU, terangnya. Dari situ, keingintahuan Greg terhadap beragam jenis tanaman, cara tumbuh, dan bagaimana sistem reproduksinya semakin berkembang. Di situ, ia juga mulai mempelajari serangga yang membantu reproduksi tanaman.

Greg senang menjadi pegawai di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Soalnya, ia bisa leluasa mengakses laboratorium LIPI untuk mengembangkan penelitian. Sejak mengawali karier di LIPI pada 1973 silam, ia sudah meneliti salak dan tanaman palem. Dari lab LIPI itu, ia bisa menghasilkan beberapa silangan.

Lantaran punya minat cukup besar di bidang konservasi dan pemanfaatan sumber-sumber daya genetik, Greg mendapat banyak tawaran untuk memperdalam ilmu di Inggris. Saat itu saya belum menyelesaikan kuliah di IPB, jelas Greg. Ia baru menggondol predikat sarjana muda dan sedang proses mengerjakan skripsi.

Lantaran tak mau melewatkan peluang mendapat beasiswa, akhirnya Greg memutuskan meneruskan studi ke Inggris meski skripsinya belum kelar. Saya mendapat beasiswa dari British Council, katanya. Pada 1975, ia berangkat ke Inggris untuk mempelajari pemanfaatan plasma nutfah.

Setahun kemudian, Greg berhasil menyelesaikan kuliah di Inggris dan pulang dengan nama baru: Gregori Garnadi Hambali, MSc. Ia langsung menyabet gelar master tanpa harus mengikuti program sarjana S1. Sepulang dari Inggris, pada 1978, Greg mulai mengaplikasikan ilmunya dengan membuat silangan caladium. Sayangnya, jenis ini tidak dapat bertahan lama. Sebab, menurutnya, walau modelnya bagus, tapi bentuk daunnya tidak kokoh alias loyo. Sehingga, dia pun harus terus mengembangkan agar lebih kuat. Namun rekor harga tertinggi caladium ini hanya Rp 50.000.

Suka Talas
Greg juga meneliti tanaman talas. Saya juga mengembangkan soka, kata Greg. Saat mengembangkan soka, ia tidak pernah mengomersialkannya. Dalam benak Greg hanya ada niat mengembangkan tanaman tropis dalam negeri agar lebih komersil. Caranya, dengan menyilangkan tanaman yang semula biasa menjadi tanaman yang luar biasa.

Lantaran idealismenya ini, kadang usaha Greg mengembangkan tanaman jadi terhambat. Maklum, sebagai seorang pegawai negeri, dia harus mengikuti program dari pemerintah. Merasa dikekang kebebasannya, pada 1983, Greg memutuskan keluar dari LIPI. Saya ingin lebih mengekspresikan diri saja, dalihnya.

Cita-cita Greg adalah menciptakan tanaman varietas baru. Ini bukan persoalan gampang. Pasalnya, untuk tujuan ini, ia mengaku kesulitan mendapatkan dana membiayai proyek. Pertama kali, saya, ya, jatuh bangun, ujarnya. Untung, beberapa teman yang mempunyai perhatian terhadap tanaman mau membantu Greg dengan mengucurkan modal. (lebih…)

Read Full Post »

potret2.jpg (23077 bytes)

Logo potretKecintaan luar biasa dan kemampuan membaca pasar membuat namanya melambung di kalangan pemerhati dan pencinta tanaman hias. Dialah yang membuat helikonia atau pachira digandrungi, bahkan menjadi trend di kalangan penyuka tanaman hias. Tanaman apa lagi yang akan dimunculkan?

Kalau ditengok ke belakang, booming tanaman hias barangkali diawali sekitar 10 tahun lalu. Sejalan dengan itu muncul jenis-jenis tanaman tertentu yang digandrungi penikmat tanaman, bahkan melahirkan trend baru. Euphorbia, helikonia, palem, pachira, misalnya, bisa dianggap sebagai benang merah yang menandai perjalanan selera tanaman hias di kota-kota besar. Tatkala helikonia atau pisang-pisangan muncul ke permukaan, bisa dibilang tak satu pun taman yang tidak dihiasi tumbuhan asal Kosta Rika ini. (lebih…)

Read Full Post »

HOBI MELESTARIKAN LINGKUNGAN

Kalau kita suka memelihara tanaman hias, itu sudah merupakan modal dasar untuk mencintai lingkungan yang nyaman. Siapa yang tidak senang melihat keindahan tanaman hias di suatu lingkungan yang asri. Dari situ tinggal beberapa langkah lagi untuk melestarikan lingkungan yang disenangi itu juga.Dr. Mambodiyanto, kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, melangkah lebih jauh. Dari hobi menyenangi tanaman dan lingkungan, ke hobi melestarikan tanaman langka. Di tempat lain, tanaman yang diberi gelar “langka” itu makin digusur demi pembangunan. Jasanya yang berawal dari hobi sebagai modal dasar, menghasilkan penghargaan sebagai Pembina Lingkungan, berikut hadiah Kalpataru tahun 1996.

Sewaktu menjadi dokter Puskesmas Desa Kebasen, ia mengumpulkan jenis-jenis tanaman langka yang ditanamnya di kebun pekarangannya di Desa Pabuaran, Baturaden. Ada pohon nagasari, mahkota dewa, genitri, kopi anjing (nama-nama yang mungkin tidak begitu kita kenal karena sudah terancam punah), tetapi juga ada jenis-jenis pohon buah yang akrab kita kenal, seperti jambu, belimbing, durian, buah nona. Lo, kok nyelip!

halhi.jpg (25106 bytes)

Ilustrasi: Anton

Itu karena siasat beliau, agar buahnya dapat dijual ke pasar masyarakat sekitar dan menghasilkan duit untuk membiayai perawatan tanaman langka yang dilestarikan di kebun itu.

Hobinya tidak berhenti sampai hanya menikmati keindahan pohon dan tanaman langka saja, tetapi juga membibitkan jenis-jenis langka itu untuk disebarluaskan ke taman-taman berbagai kota lain di Pulau Jawa. Pulau Jawa memang paling parah menderita penggusuran jenis-jenis tanaman langka oleh tanaman hias yang lebih populer dan sedang “in“. (lebih…)

Read Full Post »

Bagi bayi, sumber gizi paling sempurna adalah ASI. Padahal, tidak setiap ibu bisa menghasilkan ASI yang cukup. Guru besar FKUI bersama timnya itu meneliti manfaat daun katuk dan membuat tabletnya untuk para ibu yang sedang menyusui. Kalau ada dokter yang lebih mementingkan pekerjaan meneliti daripada praktik mengobati pasien, mungkin dialah salah satu orangnya. Sampai-sampai ia diolok-olok koleganya sebagai dokter “abnormal”; seperti yang tidak doyan duit saja, malah cari susah. Kafilah pun tetap berlalu. “Ya, biar saja,” kilahnya enteng. Selain mengajar, dokter spesialis farmakologi kedokteran dan guru besar di Bag. Farmakologi dan Terapeutik, Fak. Kedokteran Universitas Indonesia, itu memang lebih banyak menghabiskan waktunya di bidang penelitian farmakologi, terutama tanaman obat.

Bukan berarti ia sama sekali tidak melayani pasien pelanggannya di kamar praktik pribadinya sebagai dokter umum. Hanya saja dalam sehari, dia mengaku cuma “ngamen” tiga jam sehari di kamar praktiknya, dan “ngasong” di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Secara finansial-material ia memang tertinggal. “Tapi sebagai dokter umum, saya sudah merasa cukuplah. Keluarga tidak keleleran dan bisa menyekolahkan anak-anak,” aku ayah 4 orang anak dari istrinya Ny. Harningsih, serta kakek seorang cucu ini. Ia memang bersikap cuek dengan olok-olok itu. Dalam kamus hidupnya tak ada kata setengah-setengah dalam bekerja. Apa pun bidang pekerjaan, mesti ditekuni dengan penuh rasa pengabdian supaya tidak terasa berat. Juga, menurutnya, harus melahirkan kepuasan batin. “Namun, yang saya harapkan, kepuasan batin itu muncul dari suatu pekerjaan yang spesifik dan unik. Di tempat praktik ada juga kepuasan batin, tetapi cenderung membosankan.” Mengapa? “Saya terjebak pada rutinitas yang monoton. Ibaratnya, batuk, pilek, mencret … batuk, pilek, mencret. Itu saja pasien yang saya hadapi. Saya ingin pekerjaan yang lebih menantang,” ujar Sardjono. (lebih…)

Read Full Post »

Kamis, 07 September 2006 | 14:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

– Ines Atmosukarto, Fellowship Internasional 2003
Peneliti bidang biologi molekuler ini adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih fellowship tingkat internasional L’Oreal-UNESCO for Women in Science di Paris, 2004. Doktor dari University of Adelaide, Australia, ini bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di bagian bioteknologi. Kini Ines tengah melakukan riset tentang endofit, sejenis jamur yang menumpang pada tumbuhan dan memiliki kemampuan antibiotik, antikanker, dan antijamur.

– Rintis Noviyanti, Fellowship Indonesia 2004
Peneliti bidang biologi molekuler parasit malaria yang meraih gelar doktornya dari University of Melbourne, Australia. Anggota riset di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini melakukan riset tentang genetika parasit malaria Plasmodium falciparum. Kasus malaria yang meningkat di Desa Hanura, Padang Cermin, Lampung Selatan, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan, nyamuk sebagai vektor penyebar malaria, dan faktor genetika dari parasit malaria itu sendiri. (lebih…)

Read Full Post »

Senin, 15 Januari 2007 | 11:59 WIB

TEMPO Interaktif, Cambridge: Selama 200 tahun para ahli dunia tanaman mencari-cari keluarga besar tanaman bunga bangkai atau Rafflesiaceae. Sifat-sifatnya yang unik karena tidak berbatang, berdaun, bahkan berakar, membuat tanaman yang satu ini sulit sekali dicarikan kerabatnya.

Baru setelah menggunakan teknologi analisis DNA, tim peneliti yang dipimpin Charles Davis dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, berhasil mengungkap para kerabatnya itu. Lewat Jurnal Science edisi pekan lalu, Davis menyatakan bunga raksasa penebar bau tak sedap ini ternyata termasuk keluarga Euphorbiaceae. (lebih…)

Read Full Post »

Hj. Melani Memed


Pengalaman pribadi sembuh dari penyakit rematik, membuat Melani Memed memutuskan menggali khasiat tanaman obat. Berbagai kursus, ”training”, dan seminar diikuti perempuan yang sudah tak muda ini. Hasilnya ia menjadi piawai meracik berbagai tanaman obat. Pengetahuan yang semula ia bagikan gratis kepada teman-temannya, malah membuatnya memiliki penghasilan tambahan.

”Sebenarnya orang tua saya mengobati anak-anaknya yang sakit dengan berbagai ramuan obat yang berasal langsung dari tanaman. Namun, setelah dewasa sempat terlupakan,” kata Lani, demikian ia biasa disapa.

Persentuhan kembali Lani dengan berbagai tanaman obat diawali ketika tahun 2000 ia menderita sakit rematik. Penyakit ini membuatnya tak berkutik. Perempuan gesit yang biasa ke mana-mana mengurus berbagai organisasi sosial ini harus menerima kenyataan duduk di kursi roda. Menerima bukan berarti tidak berusaha. Bosan bolak-balik ke rumah sakit, akhirnya ia mencoba minum rebusan akar pohon sadagori, sambiloto, dan mahkota dewa. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »