Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2008

Adenium Arabicum dalam Kontes

Selasa, 2 September 2008 | 08:59 WIB

MEMULAI usaha bisa diawali dari hobi. Seperti halnya Anas (32) yang memulai bisnis tanaman hiasnya dari sekedar hobi dan berkembang hingga sekarang. Tiga tahun lalu, Anas dan tiga temannya membuka nursery Joglo Flora di kawasan Joglo, Kembangan, Jakarta. Nursery Anas fokus mengembangkan tanaman mawar gurun atau adenium. Namun, sebagai stok Anas juga menyediakan tanaman hias pendukung lainnya. Adenium, menurut Anas, merupakan tanaman yang gampang dibudidayakan.

Dengan modal awal sekitar Rp 2-3 juta, kini dengan luas lahan 3.500 meter Anas mampu meraup untung puluhan juta tiap bulannya. Perawatan adenium juga terbilang mudah. Adenium membutuhkan cahaya matahari langsung minimal 5 jam perhari dan dapat hidup antara suhu 5-52 derajat celcius.

Penyiraman dilakukan setiap hari jika musim kemarau tiba, dan saat musim hujan intensitas penyiraman dikurangi. Pemupukan juga mudah dilakukan dengan pupuk kandang, humus atau kompos yang ditambahkan pada permukaan media tanam setiap 1 bulan sekali. Untuk tambahan nutrisi, Anas memberi pupuk kimia buatan pabrik yang bersifat slow release (tidak mudah larut) seperti Dekastar, Magamp, Osmocote setiap 3 atau 6 bulan sekali. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Tanaman Neomarica sebagai penghias taman

Senin, 15 September 2008 | 22:29 WIB

JAKARTA, SENIN-Kontribusi tanaman hias Indonesia dalam perdagangan dunia pada 2007 lalu mencapai 18 juta dollar AS dari total perdagangan dunia yang mencapai 80 miliar dollar AS. Kebanyakan tujuan ekspor ke negara Amerika, Belanda, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang.

Hal itu dikatakan Direktur Budidaya Tanaman Hias, Agus Wediyanto dalam konferensi di Direktorat Jenderal Hortikultura, Jakarta  (15/9).

“Agus mengatakan masih banyak kelemahan industri tanaman hias Indonesia dibanding negara pesaing. Sistem perbenihan, tujuan pasar ekspor, dan produksi kita belum tertata dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan-perbaikan agar ekspor tanaman hias Indonesia terus meningkat,” katanya.

Menurut Agus, banyak potensi tanaman hias di Indonesia yang dapat digali untuk ekspor seperti tanaman hias daun Dracaena, Palem. Tanaman hias taman seperti Sansievera, Pandan bali, Kamboja. Tanaman hias in door (dalam rumah) seperti Polycia, Raphis Excelsa, serta bunga potong dan anggrek.

Untuk meningkatkan daya saing, Agus mengatakan, diperlukan perencanaan pasar yang baik seperti menghilangkan birokrasi dalam ekspor, menumbuhkan sistem lelang seperti di Rawa Belong dan pusat perdagangan modern di Tangerang, serta membuka pasar dunia.

Ia menyayangkan banyak produk tanaman hias asal Indonesia yang diberi merek oleh negara lain untuk di reekspor kembali. “Contohnya bunga melati asal Indonesia yang masuk ke Singapura, kemudian diberi merek lalu di ekspor,” ucapnya kesal.(M15-08)

dari : kompas.com

Read Full Post »

Jarak Pagar Si Anti Diare

Kamis, 10 Januari 2008 | 22:36 WIB

Di zaman penjajahan Jepang, orang dipaksa menanam jarak pagar untuk diambil minyaknya sebagai bahan bakar kapal dan pelumas senjata.

Secara tradisional, masyarakat Jawa sebetulnya biasa memanfaatkan daun serta minyak buah jarak untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, yakni diare, penurun panas, gatal, dan borok kronis.

Kasmin (32 tahun) dan Wandi (29), ingat betul, semasa kecil di Jepara, ibunya selalu memborehkan remasan daun jarak pagar di sekitar pusar mereka saat tubuhnya panas tinggi. Menurut kedua juru masak sebuah rumah makan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat ini, malam hari diobati dengan daun jarak, paginya suhu tubuh mereka sudah kembali normal.

David (33), sinse yang berpraktik di bilangan Daan Mongot, Jakarat Barat, mengaku semasa kanak-kanak, ibunya sering meletakkan daun jarak pagar yang telah diolesi minyak kelapa dan dipanaskan di atas api ke perutnya. Resep itu terbukti ampuh untuk menanggulangi diare yang menyerangnya.

Bahan Bakar
Jatropha curcas alias jarak pagar sudah dikenal luas oleh masyarakat pedesaan. Tumbuhan bernama Cina, Ma feng shu ini, biasa ditanam sebagai pagar rumah, di kebun, atau di makam. Di Sumatera, tanaman ini bernama Nawaih nawas, jarak kosta di Sulawesi, Lulu nau (Nusa Tenggara), dan Muun mav (Maluku).

Menurut cerita banyak orang, pada zaman penjajahan Jepang, rakyat dipaksa menanam pohon jarak. Minyaknya diambil untuk digunakan sebagai bahan bakar kapal dan pelumas senjata. (lebih…)

Read Full Post »

Festival Tulip di Lembah Skagit

Berbagai macam Tulip

Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan akan masih terus melanjutkan pengembaraannya.
(Email : bondanw@gmail.com)
Kamis, 24 April 2008 | 08:23 WIB

Kebanyakan kita di Indonesia mengenal tulip sebagai bunga dari Belanda. Begitu lekatnya tulip dengan Belanda, sampai-sampai orang tidak percaya bahwa sebetulnya tulip bukan asli Belanda, dan juga bahwa tulip tidak hanya ada di Belanda.

Tahun lalu saya berkunjung ke Masjid Rustem Pasha di dekat Spice Bazaar di Istanbul. Masjidnya kecil, tetapi ia merupakan salah satu permata arsitektur yang tidak dapat dilewatkan. Masjid ini dibangun oleh Mimar Sinan, seorang arsitek legendaris yang dipercaya merancang begitu banyak bangunan penting di masa Sultan Sulaeman Agung.

Rustem Pasha “hanyalah” orang kaya yang bukan bangsawan. Karena itu, ketika ia berniat membangun masjid, ia tidak dibolehkan membangun minaret (menara untuk mengumandangkan azan). Rustem kemudian mencari akal untuk menunjukkan bahwa kekayaannya tidak kalah dibanding para sultan.

Rustem kemudian memekerjakan para pekerja seni dari Iznik untuk membuat keramik khusus guna menutupi dinding dalam masjid. Salah satu desain keramik itu adalah gambar bunga tulip. Keramik itu sangat indah dan tidak ada tandingannya pada masa itu di seluruh Istanbul. Belum lama ini, satu keping keramik asli dari Masjid Rustem Pasha dilelang Sotheby’s dan mendapat harga 80.000 poundsterling.

Lho, mengapa ada gambar tulip di dinding masjid di Istanbul? Mengapa pula gambar tulip dapat ditemukan pada keramik di dinding Masjid Biru alias Masjid Sultan Ahmad di Istanbul?

Tulip sebenarnya adalah tumbuhan bunga asli dari Turki. Ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa tulip sudah dibudidayakan di Turki sejak tahun 1000 Masehi, khususnya di daerah sekitar Laut Hitam. Setelah Sultan Mehmet Sang Penakluk merebut Turki pada pertengahan abad ke-15, bunga tulip mulai ditanam di halaman istana. Di istana itulah orang-orang Eropa mulai melihat keindahan tulip dan menganggapnya sebagai bunga yang bernilai tinggi.

Belanda baru mengenal tulip pada tahun 1593, setelah seorang botanis dari Austria diangkat sebagai gurubesar di Universitas Leiden. Botanis itu sebelumnya telah memiliki bibit tulip yang diperolehnya dari mantan dutabesar Austria di Turki yang diberi bibit tulip sebagai hadiah dari Sultan. Tulip di masa itu merupakan tanaman eksklusif yang hanya dimiliki secara terbatas oleh para pangeran di Eropa. (lebih…)

Read Full Post »

Areal Terbesar Kedua Dunia
Ibu penangkar bibit kopi di Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Kamis (28/2), membersihkan tanah di sekitar batang dan akar bibit kopi miliknya. Para penangkar bibit kopi cukup terpukul karena kenaikan harga kantung polybag yang mencapai 50 persen lebih per kilogramnya.

Rabu, 19 Maret 2008 | 11:02 WIB

JAKARTA,RABU – Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian (Deptan) bertekad untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kopi maupun produk kopi unggulan di dunia pada 2025. Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani di Jakarta, Rabu (19/3) mengatakan, meski di peringkat dunia luasan areal perkebunan kopi Indonesia berada pada urutan besar kedua, namun untuk produksi dan ekspor ada di posisi empat.

Saat ini dengan produktivitas kopi sebesar 792 kg biji kering per hektar per tahun Indonesia masih dibawah Kolombia (1.220 kg/ha/tahun), Brazil (1.000 kg/ha/tahun) bahkan Vietnam (1.540 kg/ha/tahun). “Oleh karena itu melalui kebijakan kopi nasional dipilih strategi yang dapat mempercepat terwujudnya Indonesia sebagai produsen kopi dan produk kopi unggulan di dunia tahun 2025,” katanya.

Menurut dia, kopi merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan penghasil devisa ekspor, sumber pendapatan petani dan penghasil bahan baku industri, penciptaan lapangan kerja dan pengembangan wilayah.

Dari luas areal 1,30 juta ha pada 2006, sebagian besar yakni 95,9 persen dusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat dan sisanya 4,10 persen berupa perkebunan besar baik oleh PTPN maupun swasta.

Data Ditjen Perkebunan mencatat perkebunan kopi yang diusahakan di Indonesia saat ini sebagian besar berupa kopi Robusta seluas 1,30 juta ha dan kopi Arabika mencapai 177.100 ha dengan total produksi 682.158 ton dan ekspor 413.500 ton pada 2006 dengan nilai 586.877 dolar AS. (lebih…)

Read Full Post »

Selasa, 5 Februari 2008 | 01:49 WIB

Sejak jaman dulu, Lingzhi, Reishi atau Ganoderma lucidum sudah dipercaya sebagai peningkat system kekebalan tubuh. Penggunaannya secara rutin diyakini dapat memperpanjang usia. Orang-orang Jepang dan Cina sudah membuktikannya sejak ribuan tahun lalu.

Li Shi Zen dari Dinasti Ming, guru besar pengobatan Cina menyimpannya dalam Ben Cao Gan Mu. Dia mengatakan,” Penggunaan LingZhi secara luas akan menjamin bentuk tubuh yang ramping dan peremajaan, menikmati usia yang panjang seperti sebuah keabadian…..”

The Materia Medica Classic of Shengnong juga menilai LingZhi sebagai “crème de la crème” dari obat-obatan herbal, atau obat herbal yang paling agung dan mulia tanpa efek samping.

Sekarang ini, dengan bantuan teknologi moderen, unsur-unsur yang menyebabkan LinZhi menjadi berkhasiat ini diteliti terus menerus dan memang terbukti secara klinis bahwa jamur ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.

Prof. Feng-Lin Hsu, Ph.D, Professor dan Direktur pada Graduate Insitute of Pharmacognosy Science, Taipei medical University, Departemen Ilmu dan Teknologi Farmakognosi, Jepang menyebutkan,” Dengan serangkaian pengalaman dan penelitian saya pada pengobatan tradisional Cina dalam beberapa dekade ini, saya masih belum mampu untuk memenuhi cakupan dan pengertian tentang keajaiban dari herbal Cina.Salah satu contoh yang bagus adalah LingZhi. Dalam 30 tahun terakhir, sejumlah besar ilmuwan dari seluruh dunia sudah menyelesikan beberapa penelitian dalam bidang medis tentang LingZhi,” (lebih…)

Read Full Post »

Sabtu, 9 Februari 2008 | 07:21 WIB

DENPASAR, SABTUFakultas Kedokteran (FK) Univeritas Udayana bekerjasama dengan FK Universitas Gajah Mada sedang melakukan penelitian terhadap umbi ungu untuk penyembuhan penyakit kanker.

“Penelitian tersebut merupakan kelanjutan dari pengkajian terhadap aneka umbi-umbian yang telah dilakukan Fakultas Pertanian Unud,” kata Kepala Lab Biopestisida Fakultas Pertanian Unud, Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta, MSc di Denpasar Sabtu (9/2).

Ia mengatakan, hasil pengkajian terhadap umbi-umbian, khususnya yang berwarna ungu mengandung protein yang cukup tinggi serta obat untuk penyembuhan kanker. Hasil penelitian kedua fakultas kedokteran itu diharapkan mampu mengungkap keistimewaan umbi-umbian ungu untuk penyembuhan penyakit kanker, ujar Ngurah Suprapta.

Di Bali sedikitnya terdapat 75 jenis tanaman umbi-umbian yang umumnya mengandung protein tinggi, disamping sebagai obat penyembuhan kanker dan diabetes. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »