Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘konservasi’ Category

Meningginya kesadaran mengunakan produk alami, nyatanya belum dibarengi tingkat konservasi tanaman obat secara serius. Tentu akan berpengaruh terhadap jumlah koleksi dan berujung pada mandeknya pengembangan tanaman obat. “Selama ini kita hanya mengandalkan dari alam, koleksi tanaman obat untuk konservasi masih dilakukan secara hunting, “ ungkap Mustaid Siregar, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor

Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati melimpah, Indonesia belum bisa menjadi pemasok tanaman obat terbesar dunia. “Ini menjadi tantangan kebun raya untuk bisa melakukan konservasi tanaman obat. Hampir 50 % genetik tanaman obat ada di masyarakat dan alam. Jadi seluruh lapisan masyarakat harus terlibat, “ jelasnya

Menanggapi hal tersebut, kebun Raya Bogor menyelenggarakan Lokakarya bertema, Pengembangan Koleksi Tumbuhan Obat Indonesia di Kebun Raya Bogor (14/8). Sebagai pembicara hadir Didik Widyatmoko, Kepala Kebun Raya Cibodas, Ervizal A.M. Zuhud, kelapa bagian Konservasi Tumbuhan, Fahutan IPB, dan Endah Lasmidiwati, herbalis yang juga kolektor tanaman obat “Tujuan kita adalah berbagi pengalaman untuk perkembangan konservasi tanaman obat Indonesia, “ ungkap Syamsul Hidayat, Ketua penyelenggara.

agrina-online.com, 09 Agustus 2009

Read Full Post »

ADA sejenis tanaman yang dianggap ?semiliar? karena pada umumnya hanya menjadi tanaman sambilan di pinggiran kebun, pingggiran pekarangan rumah atau di bawah naungan pohon besar


ADA sejenis tanaman yang dianggap ?semiliar? karena pada umumnya hanya menjadi tanaman sambilan di pinggiran kebun, pingggiran pekarangan rumah atau di bawah naungan pohon besar seperti kelapa, sengon dan bahkan jengkol dan petai, serta sebelumnya belum ada kebun khusus. Walau begitu, umbi tanaman ini setiap saat selalu tersedia di pasar, bukan untuk dijadikan makanan-nyamian seperti halnya singkong, talas maupun ubi-jalar, tetapi umumnya akan menjadi pengisi syarat tujuh macam umbi-umbian pada saat selamatan tujuh-bulanan. Juga secara terbatas, kadang-kadang tersedia dalam bentuk tepung untuk pembuatan bubur ataupun kue-kue.

Inilah jenis makanan yang saat Indonesia dilanda krisis moneter dan ekonomi berkepanjangan sampai sekarang, mulai dimunculkan ke permukaan oleh para pejabat terkait, mulai dari Menteri Pangan dan Hortikultura, Menteri Pertanian, dan bahkan Menteri Perindag. Karena, tepung umbi tanaman ini akan dijadikan sebagai pengganti tepung terigu.

Secara umum, masyarakat Jawa Barat (suku Sunda) menyebutnya patat sagu, kemudian irut, arut, garut, jelarut, dsb. Sedangkan orang Amerika, asal tanaman ini menyebutnya arrow-root. Karena menurut sejarahnya, asal tanaman ini dari kawasan Amerika-tropis, kemudian menyebar ke India, Srilangka, Filipina, dan Indonesia, sekarang dikebunkan secara luas di Filipina dan India.

Garut, irut, arus atau jelarut, besar kemungkinan berasal dari kata arrowroot karena umbi atau rimpang tanaman ini seperti anak panah, lancip, adalah maranta arundinacea, merupakan tanaman perdu dengan tinggi antara 40-60 cm, tumbuh baik pada lahan dengan ketinggian mulai dari 0 sampai 900 meter dpl serta yang paling baik pada ketinggian antara 60-90 m, dengan keadaan tanah lembab dan lingkungan terlindung di bawah pohon tinggi, misalnya kelapa, sengon bahkan jengkol, dan petai.

Sejak lama masyarakat mengenal garut sebagai tanaman penghasil atau rimpang yang dapat dijadikan panganan seperti halnya singkong, ubi jalar. Kemudian ada yang dijadikan tepung untuk membuat bubur, kue-kue, bahkan candil ataupun goyobod.

Bahkan, saat bedak tradisi yang terbuat dari ramuan beberapa umbi ataupun rimpang, misalnya bedak Saripohaci yang sangat populer di kawasan Priangan masih menjadi ?primadona? kosmetika tradisi, bahan baku tepungnya harus terbuat dari tepung garut.

Di kawasan Amerika sendiri, asal tanaman garut, orang Indian selalu menggunakan perasan akarnya sebagai obat luka, obat karena tusukan anak panah, dan bahkan obat luka karena gigitan serangga dan ular. Sedangkan di Filipina dan India, hancuran akar garut kemudian dijadikan bahan baku untuk pembuatan minuman beralkohol, seperti layaknya tuah dan brem di Indonesia atau sake di Jepang.

Di Indonesia sendiri khususnya di sepanjang kawasan Pulau Jawa, umbi garut banyak digunakan untuk makanan nyamian bersama bajigur atau bandrek (minuman tradisi masyarakat Sunda) atau dibuat keripik. Bahkan, sekarang keripik asal umbi garut mulai menjadi komoditas andalam perajin makanan ringan sekitar Garut, Tasik, dan Ciamis.

Mulai dikembangkan

Akibat krismon dan semakin terpuruknya perekonomian Indonesia, ternyata membawa hikmah terhadap banyak komodias Indonesia yang sebelumnya banyak disepelekan dan bahkan tidak pernah dilirik. Salah satunya umbi tanaman garut. Sejak lama tim ahli di lingkungan Balitbang Pertanian berupaya meningkatkan peran aktif umbi dan terutama tepung garut karena dari hasil penelitian dan pengembangan sejak lama, sudah positif memiliki potensi yang menguntungkan.

Seperti misalnya tepung umbi garut. Dari banyak uji coba pemanfaatan secara luas, pada akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa bentuk, sifat, dan karakteristik tepung tersebut tidak jauh berbeda dengan tepung terigu. Dengan demikian, jangan heran kalau masyarakat Jawa Barat misalnya, khususnya yang bertempat tinggal sekitar Ciamis, Tasik, Garut, Sumedang bahkan Cianjur Bogor, mengenal umbi garut sebagai bahab baku pembuatan tepung yang umum dijual di pasar. Sehingga, sebelum terigu memasuki pasar tradisi secara luas, terlebih dahulu masyarakat mengenal tepung garut sebagai tepung untuk membuat kue-kue, lapis, serta sederet makanan lainnya.

Sekarang pada saat harga terigu melambung tinggi karena subsidi untuk pembelian impor biji gandum sebagai bahan baku tepung terigu mulai dibatasi dan akan dihapus mulai Oktober 1998, kehadiran tepung garut mulai dimunculkan lagi dengan predikat terhormat sebagai pengganti tepung terigu.

Pemerintah Indonesia walau dengan berat sekali harus menarik semua subsidi terhadap impor biji gandum yang akibatnya harga banyak makanan hasil olahan tepung terigu akan naik seperti halnya mi instan, kue, dan roti, tetapi kalau dilihat jumlah subsidi per tahun sekira Rp 3,4 triliun dari seluruh jumlah devisa impor sekira Rp 8,1 triliun maka keputusan tersebut dinilai sangat tepat untuk masa kini. Karena kalau saja uang subsidi terhadap impor biji gandum kemudian dialihkan menjadi subsidi terhadap beras misalnya, manfaatnya akan lebih banyak, lebih luas terhadap masyarakat yang mayoritas ?pengguna? nasi.

Bahwa kemudian harga mi instan ataupun hasil olahan terigu lainnya akan menjadi mahal, keputusannya diserahkan kepada masyarakat terbatas yang sudah telanjur menyenangi produk olahan tepung terigu tersebut. Oleh karenanya, tidak heran kalau keputusan pemerintah untuk menghentikan semua subsidi terhadap impor biji gandum, disambut oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai keputusan yang penuh kebijakan mengingat uang sebesar Rp 3,4 triliun bukan sedikit.

(lebih…)

Read Full Post »

Konversi komoditas pertanian menjadi alkohol tidak hanya terjadi pada gula. Amerika Serikat, produsen utama jagung, akan terus meningkatkan konversi jagung ke alkohol.

Konversi komoditas pertanian menjadi alkohol tidak hanya terjadi pada gula. Amerika Serikat, produsen utama jagung, akan terus meningkatkan konversi jagung ke alkohol. Perubahan ini akan mendorong kenaikan harga jagung. Tahun lalu Indonesia mengimpor jagung sekitar satu juta ton.

Tinjauan yang dikeluarkan dan Departemen Pertanian AS (USDA) dan Food and Agricultural Policy Research Institute (FAPRI) sebuah lembaga pemasok analisis pasar pertanian Kongres AS yang diterima Kompas di Jakarta, Senin (6/3), menyebutkan, penggunaan jagung untuk bahan baku alkohol mengalami lonjakan.

USDA memperkirakan konversi jagung naik dari 1,5 miliar gantang (9,2 juta ton) pada 2005 menjadi 2 miliar gantang (12,3 juta ton), sedangkan FAPRI memperkirakan dari 1,5 miliar gantang menjadi 1,75 miliar gantang (10,7 juta ton).

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Prof Bustanul Arifin berharap, pemerintah membuat kajian mengenai pasar komoditas, termasuk jagung, agar bisa diketahui secara persis fenomena konversi komoditas itu.

Kasus konversi gula menjadi alkohol oleh Brasil sudah membuat kita kalang kabut karena kurang antisipasi. Sudah saatnya kita membuat kajian mengenai situasi yang terjadi pada pasar sejumlah komoditas pertanian, apakah ini fenomena sesaat atau akan menjadi tren, katanya.

Di negara bagian di AS, New Jersey, Pennsylvania, Delaware, dan Maryland, menurut The Philadelphia Inquirer, petani mendirikan pabrik alkohol di Bridgeton. Pendirian ini akan menjadi pasar baru bagi jagung produksi mereka. Permintaan alkohol pun dilaporkan melonjak. (lebih…)

Read Full Post »

Selasa , 05 Februari 2008 , 13:42:53 wib

Kisdiantoro

CIPATAT, TRIBUN – Menteri Kehutanan MS Kaban menyebutkan, tutupan hutan di Pulau Jawa idealnya sebanyak 30 persen dari daratan terbuka. Hanya saja, saat ini tutupan hutan hanya tinggal 19 persen saja.”Angka 19 persen harus ditambah dari tahun ke tahun. Tapi, potensinya malah semakin berkurang,” jelas MS Kaban pada acara Program Nasional Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan 2008, di Pusdikif TNI AD, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Selasa (5/2) pagi.

Menurutnya, program penananaman 100 ribu hutan yang dicanangkan pemerintah, saat ini sudah terlaksana dengan penanaman sebanyak 74 juta pohon.

Untuk melakukan perbaikan hutan, Menhut mengharapkan keterlibatan semua elemen masyarakat. Alasannya, upaya konservasi hutan dan sumber air tak bisa ditunda.

Bila hutan terpelihara, maka tanah longsor, banjir, hilangnya flora dan fauna, termasuk kebakaran hutan bisa dicegah. Sebaliknya, bila hutan rusak, maka lahan tak mampu lagi menyerap dan menampung air.

Penanaman sejumlah pohon di area Pusdikif seluas 400 hektare diharapkan bisa membantu program pemerintah mengatasi masalah kerusakan hutan. Selain itu, akan menjadi sumber ekonomi karena setelah 10 tahun berjalan kayu bisa dipanen. (nip)

tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=2100&kategori=9

Read Full Post »

Senin, 21 April 2008 | 14:06 WIB

PALANGKARAYA, SENIN– Jajaran Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah dalam operasi wanalaga yang berlangsung 7 April hingga 7 Mei 2008, hingga saat ini berhasil menyita sekitar 17.000 potong kayu tebangan liar dari beberapa kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Demikian Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah Brigadir Jenderal Polisi Dinar yang ditemui pers seusai gelar pasukan pengamanan terkait rencana kunjungan kerja Presiden di Palangkaraya, Senin (21/4).

“Kami memantau dari udara menggunakan helikopter sehingga memudahkan mencari lokasi-lokasi tempat terjadinya praktik pembalakan liar,” kata Dinar. Adapun jumlah tersangka pembalakan liar yang sudah berhasil ditangkap 16 orang. Kayu tebangan liar tadi ada yang merupakan tebangan baru ada yang tebangan lama. Kerugian negara akibat praktik penebangan liar akan dihitung setelah usainya operasi.
CAS

dari : kompas.co.id

Read Full Post »

Kamis, 13 November 2008 | 21:15 WIB

MEDAN, KAMIS – Perambahan kawasan konservasi di Sumatera Utara semakin nekat. Berkali-kali operasi penyelamatan lingkungan digelar, perambah tetap saja membuka kawasan untuk perkebunan kelapa sawit.

“Mereka membuka kebun dengan memakai ekskavator. Padahal mereka tidak mempunyai izin yang sah. Kami menyita tiga alat berat setelah perambah tertangkap basah menduduki hutan mangrove,” tutur Kepala Dinas Kehutanan Sumut James Budiman Siringoringo, Kamis (13/11) di Medan.

Ekskavator yang disita petugas ini berasal dari hutan mangrove yang ada di Kabupaten Batubara (satu) dan Langkat (dua). Untuk kasus pendudukan lahan di Kabupaten Langkat berkas kasusnya sudah dia limpahkan ke kejaksaan Tinggi Sumut pekan lalu. “Di kawasan ini 400 hektar lahan hutan mangrove rusak berat dari 2.000 hektar luas kawasan,” katanya. (lebih…)

Read Full Post »

Kamis, 24 April 2008 | 21:34 WIB

PONTIANAK, KAMIS – Sekitar 11.000 batang kayu meranti olahan yang ditemukan Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (Sporc) Kalimantan Barat di Taman Wisata Alam (TWA) Asuansang, ditengarai juga berasal dari pembalakan liar di TWA Melintang dan TWA Gunung Dungan. Kayu-kayu yang memiliki volume lebih dari 1.000 meter kubik itu, harga jualnya saat diselundupkan ke Sematan, Malay sia, diperkirakan mencapai Rp 18 miliar.

Penelusuran sementara atas tunggul-tunggul kayu bekas tebangan di TWA Melintang dan TWA Gunung Dungan , ternyata juga sesuai dengan kayu olahan yang ditemukan di TWA Asuansang. Diperkirakan aktivitas pembalakan di sana baru berlangsung dua bulan terakhir, kata Komandan Brigade SPORC Kalbar Dedy Sentosa, Kamis (24/4).

Belum bisa diperkirakan berapa luasan areal yang ditebangi pembalak liar di kawasan konservasi itu , berikut kerugian atas rusaknya habitat satwa liar yang dilindungi di sana. Padahal hutan di sana merupakan habitat asli sejumlah satwa dilindungi seperti monyet ekor panjang (Macca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina) , klempiau (Hylobates muellerii), beruang madu (Helarctos malayanus), serta burung enggang (Bucerotidae). Beragam jenis anggrek hutan (orchidaceae) juga hidup di sana. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »