Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘tekno tanaman’ Category

PT Toba Pulp Lestari (TPL) berhasil mengkloning tanaman eukaliptus (Eucalyptus sp). Perusahaan pulp (bubur kertas) yang berbasis di Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara itu sukses mengkloning tanaman bahan baku pulp itu
PT Toba Pulp Lestari (TPL) berhasil mengkloning tanaman eukaliptus (Eucalyptus sp). Perusahaan pulp (bubur kertas) yang berbasis di Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara itu sukses mengkloning tanaman bahan baku pulp itu setelah melalui penelitian hampir 10 tahun.

”Kami mulai meneliti tanaman eukaliptus sejak tahun 1987, dan baru berhasil membuat kloning eukaliptus pada tahun 1996,” ungkap Manajer Pembibitan PT TPL Makmur Damanik di Porsea belum lama ini.

Dia menambahkan, sampai saat ini, PT TPL merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang berhasil mengkloning eukaliptus. Prestasi serupa dicapai oleh Thailand, Australia, dan Brasil.

Proses kloning yang dikembangkan oleh PT TPL, kata Makmur, melewati empat tahap. Tahap pertama, tahun 1987, PT TPL merintis eukaliptus dari biji. Istilahnya, tidak diketahui siapa ayah maupun ibunya. Tahap kedua (1992), ibunya jelas tapi ayahnya tidak jelas.

Penyerbukan/persilangan tidak terkontrol (open polynation).
Tahap ketiga (1994), ibunya jelas, ayahnya juga jelas. Persilangan terkontrol. Tahap keempat (1996), menghasilkan individu baru unggulan berdasarkan rekayasa genetika biologis. Cara kloning seperti ini disebut juga rekayasa genetika nonseluler.

Makmur menjelaskan, tanaman eukaliptus hasil kloning itu mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan tanaman sejenis yang dikembangkan dari biji. Pertumbuhan seragam, batangnya lurus, volume kayu yang dihasilkannya lebih banyak, dan umur siap tebangnya lebih pendek. (lebih…)

Read Full Post »

Tiga bulan lagi, Gunung Kidul bakal punya industri pengolah singkong dalam bentuk tiwul instan. Kini, Gunung Kidul membutuhkan teknologi pascapanen agar pasokan bahan bakunya bisa terpenuhi setiap waktu.
Tiga bulan lagi, Gunung Kidul bakal punya industri pengolah singkong dalam bentuk tiwul instan. Daerah penghasil gaplek ini tentu saja ingin menjadi pemasok bahan baku secara rutin. Sayangnya, pasokan hanya bisa dipenuhi pada musim-musim panen tertentu saja. Kini, Gunung Kidul membutuhkan teknologi pascapanen agar pasokan bahan bakunya bisa terpenuhi setiap waktu.

Kelompok petani di salah satu Dusun Petojo di Gunung Kidul memanfaatkan lumbung sederhana yang disebut lumbung tunda jual untuk menampung gaplek. Cara ini selain bisa mengatrol harga jual, juga bisa menjadi pasokan bahan baku secara kontinyu.

Upaya Pemda setempat mengangkat martabat tiwul merupakan terobosan baru. Bekerja sama dengan perusahaan tepung Bogasari, kelak tiwul akan dipasarkan sebagai makanan instan tidak ubahnya seperti indomi.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Gunung Kidul Ir Subagyo MS, uji awal telah dilakukan terhadap tiwul instan. Rencananya tiwul instan ini akan hadir dengan bumbu aneka rasa sehingga dapat memenuhi selera masyarakat.

“Pemda Gunung Kidul setuju investasi dikuasai pihak swasta seluruhnya sedangkan masyarakat Gunung Kidul hanya menjadi pemasok bahan bakunya. Tidak mungkin jika saat ini kami ikut berinvestasi dalam usaha tersebut,” jelasnya.

Dari sekitar 500 hektare lahan ubi kayu, produksinya mencapai 786 ribu ton. Produksi tersebut diperoleh selama dua kali masa panen sepanjang tahun 2002.

Di sinilah letak permasalahannya. Kalau saja produksinya bisa dirata-ratakan, maka Gunung Kidul mampu menyediakan bahan baku singkong sebanyak 3 ton per hari, atau 1 ton per hari dalam bentuk gaplek.

Karena itu, berbagai upaya ditempuh. Salah satunya adalah melalui penimbunan ubi kayu. Teknologi ini bisa menyimpan ubi kayu selama empat sampai lima bulan.

Namun berdasarkan uji coba, ubi kayu itu mengalami perubahan metabolisme, kadar padinya merosot. “Rasanya menjadi lebih manis. Padahal sebagai bahan baku tiwul instan, yang dibutuhkan adalah kandungan padinya,” ungkap Subagyo.

Ia menerangkan, teknik penyimpanan model ubi basah ini cukup sederhana. Ubi yang baru dipanen dimasukkan ke lobang berukuran 3 x 4 meter yang dalamnya mencapai 2 – 3 meter. Selanjutnya lobang ditutup dengan campuran tanah dan pasir.

Tunda Jual

Cara lain adalah melalui lumbung tunda jual. Memang cara ini selain bisa membuat harga gaplek tidak merosot tajam ketika petani panen raya, juga bisa memperpanjang umur gaplek.

Cara itu juga tak mudah. Sebab, dengan demikian dibutuhkan dana yang cukup besar untuk membeli dan menampungnya. “Sampai kini kami hanya mampu membeli dari petani sekitar 10 persen dari seluruh gaplek yang ada di lapangan,” keluh Subagyo.

Ia berharap, pemerintah pusat mau turun tangan membantu masalah tersebut. Subagyo berharap, Program Dana Talangan yang bakal dikucurkan pemerintah pusat itu bisa dimanfaatkan untuk membantu petani membeli komoditas nongabah.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian Dr Ir Achmad Suryana kepada Pembaruan mengatakan, program dana talangan memang diprioritaskan untuk komoditas gabah. Alasannya, dana tersebut untuk membantu stabilitas harga gabah saat petani panen raya.

Dengan demikian, petani di daerah-daerah sentra produksi padi tidak dipermainkan tengkulak. “Kita coba di gabah dulu, kalau berjalan dengan baik bisa dilanjutan dengan komoditas lainnya seperti gaplek, jagung, dan palawija lainnya,” tutur Achmad.

Untuk kasus Gunung Kidul, ia menjelaskan, daerah tersebut memang tidak terpilih sebagai penerima dana talangan. Namun demikian, para petani di sana bisa dibantu dengan alokasi lainnya seperti program tunda jual.

“Selama ini alokasi dana untuk tunda jual dari pusat memang masih kecil. Tetapi jika program ini memang dibutuhkan para petani, kami akan memperbesar alokasi dananya,” janji Achmad.

Tujuan lain dari teknik tunda jual adalah agar saat musim panen tiba nasib petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada para tengkulak yang pintar memainkan harga jual gaple. Untuk itu pihaknya telah membangun lumbung purna jual yang berfungsi menampung hasil panen petani di Gunung Kidul.

“Harga gaplek meningkat saat musim hujan. Karena jumlah penduduk yang mengkonsumsi gaplek semakin berkurang oleh perubahan konsumsi ke makan nasi, bukan tidak mungkin harga gaplek pun akan terus menurun. Untuk itu kami harus pandai menyiasati agar tengkulak tidak bertindak semaunya,” tutur dia seraya menjelaskan bahwa saat ini harga gaplek mencapai
Rp 550 per kg dengan produksi gaplek 7 ton.

Saat ini pihaknya tengah berusaha mengembangkan varietas lain dari ubi kayu sehingga waktu tanamnya dapat lebih pendek sehingga bisa dipanen setiap hari. “Kami mengharapkan waktu panen dari ubi kayu varietas baru ini dapat dilakukan sepanjang tahun, tidak seperti sekarang waktu panennya hanya pada bulan-bulan tertentu,” kata dia.

Subagyo menjelaskan penanaman ubi kayu juga terpengaruh pada kondisi alam Gunung Kidul yang tidak menentu. Padahal selama masa lima bulan pertama, tanaman ubi kayu membutuhkan jumlah air yang banyak. “Masalahnya di daerah ini curah hujannya tidak pasti,” keluh pria bertubuh besar ini.

Bergantung Cuaca

Hidup bagi masyarakat Gunung Kidul, Yogyakarta, bergantung sepenuhnya pada kondisi cuaca dan alam. Kondisi cuaca yang tidak bersahabat misalnya, seringkali membuat masyarakat yang sebagian besar hidup dari bertani padi, jagung, dan ketela ini menjadi tidak menentu.

Bahkan tingkat produktivitas tanaman dari tiap daerah seringkali mengalami perbedaan akibat curah hujan yang tak sama di tiap daerah. Maka jangan heran jika melihat pertumbuhan jagung atau padi di wilayah ini yang tidak sama antara satu dearah dengan yang lain.

“Tahun 2002 lalu merupakan tahun bencana bagi daerah kami,” tutur Subagyo. Bayangkan, ketika itu musim kemarau panjang melanda daerah tersebut. Padahal, curah hujan merupakan sumber kehidupan bagi sistem budidaya di Gunung Kidul. Dampaknya, jelas terasa. Banyak petani gagal panen. Ujung-ujungnya, mereka pun sulit mendapatkan bibit untuk musim panen sekarang ini.

Subagyo menuturkan, bahwa defisit curah hujan yang dialami daerahnya saat ini telah mencapai 60 persen. Diperkirakan baru akan kembali normal pada Februari mendatang.

Untuk mengatasi hal tersebut masyarakat Gunung Kidul pun banyak yang memilih menanam palawija, karena tanaman ini cukup tahan kekeringan. “Sangat riskan, kalau petani menanam padi,” ungkap Subagyo sambil menambahkan bahwa pertanian di daerahnya 90 persen menggunakan sistem tadah hujan.

Sisanya, menggunakan sistem irigasi dan sumur bor. Hingga saat ini daerah Gunung Kidul baru memiliki 58 sumur bor untuk mengairi sekitar 3.000 hektar sawah. (lebih…)

Read Full Post »

Salah satu penyakit yang ditakuti petani adalah penyakit hawar daun bakteri (HDB). Penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae oryzae (XOO) tersebut dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dan tanaman tua.
Setiap kali manusia memunculkan teknologi baru untuk mengatasi hama, selalu muncul hama yang lebih tahan. Sudah ratusan jenis dan varietas padi yang dilepas kaum peneliti ke lapangan, selalu saja muncul strain baru hama yang menyerang padi. Pestisida yang disemprotkan pada akhirnya hanya membuat lingkungan tercemar, sementara hama baru tetap muncul.

Salah satu penyakit yang ditakuti petani adalah penyakit hawar daun bakteri (HDB). Penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae oryzae (XOO) tersebut dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dan tanaman tua. Semakin meluas tanaman varietas unggul IR64 yang tahan terhadap wereng batang cokelat malah meningkatkan HDB. IR64 ternyata rentan terhadap serangan HDB karena patogen penyebab HDB memiliki banyak strain.

Terus Meningkat

Kerusakan yang ditimbulkan terus meningkat dari waktu ke waktu akibat pergeseran patotipe XOO di lapangan. Pergeseran tersebut menyebabkan upaya penanggulangannya menjadi sulit. Pasalnya strain yang tidak menonjol suatu ketika akan menonjol ketika mendapatkan inang yang cocok. Selain itu, terdapat satu strain XOO yang tingkat virulensinya paling tinggi dan belum ada varietas yang tahan terhadap strain itu.

Saat ini penggunaan varietas tahan hama masih menjadi antisipasi terbaik dalam penanggulangan HDB. Untuk itu harus terus dilakukan pemantauan pergeseran strain di lapangan. Mengetahui strain yang dominan akan mempermudah rekomendasi varietas yang ditanam di suatu daerah.

Saat ini tim peneliti dari Badan Litbang Pertanian terus saja melakukan pengamatan langsung. Menurut HR Hifni, salah seorang anggota tim, penggunaan varietas tahan dinilai masih cukup efektif, efisien, aman, dan murah, serta tidak mencemari lingkungan.

“Setiap negara dan setiap daerah memiliki strain XOO yang berbeda-beda, sehingga diperlukan penanganan yang berbeda pula,” ujar Hifni. (lebih…)

Read Full Post »

Peningkatan teknologi tepat guna sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi pertanian.
Peningkatan teknologi tepat guna sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi pertanian. Petani sebagai tulang punggung pertanian Indonesia tentu tidak membutuhkan teknologi super- canggih, melainkan sederhana, murah, dan efisien.

Keadaan saat ini menunjukkan, kemampuan petani untuk mengakses teknologi, seperti alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor (roda dua dan empat), pompa air, transplanter (alat tanam padi), dryer (pengering), dan alat perbengkelan, masih terbatas. (lebih…)

Read Full Post »

TIDAK gampang mencari bibit jeruk pontianak bermutu tinggi pada tahun 1992-an. Saat itu petani betul-betul frustrasi.

TIDAK gampang mencari bibit jeruk pontianak bermutu tinggi pada tahun 1992-an. Saat itu petani betul-betul frustrasi. Setelah penyakit busuk pangkal batang atau Phytophora sp menyerang areal perkebunan jeruk di Kabupaten Sambas, tidak kurang dari 7,6 juta pohon jeruk pontianak dibabat habis petani. Ranting-ranting pohon jeruk yang telah mengering kemudian dibakar sebagai wujud kekesalan petani.

Kabupaten Sambas, yang semula hijau oleh hamparan pohon jeruk, mendadak terasa gersang. Tidak ada lagi pepohonan jeruk yang hamparannya seperti permadani hijau. Tak terlihat lagi petani yang ceria memetik buah-buah jeruk di kebun.

Sangat sulit pula mencari varietas asli jeruk pontianak karena semua pohon yang terserang penyakit sudah dibabat habis petani. Untunglah di puncak-puncak perbukitan dan daerah-daerah terisolasi masih ada bibit asli jeruk pontianak. Dari bibit inilah kemudian secara tekun dilakukan penelitian mengenai penyebab penyakit dan cara penanggulangannya. Penelitian dilakukan Departemen Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, Pemerintah Kabupaten Sambas, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. (lebih…)

Read Full Post »

Peluang usaha minuman sari tebu untuk Anda. Kini telah tersedia mesin pemeras tebu (mesin giling tebu) yang bisa Anda gunakan untuk memulai usaha ini. Harga mesin pemeras tebu sangat terjangkau.

Tersedia beberapa tipe mesin pemeras tebu, sesuai dengan keuangan Anda.

Mesin pemeras tebu ini, didesain sangat menarik, sehingga sangat cocok untuk usaha minuman sari tebu di mall, sekolah, pasar, tempat rekreasi, dll

Mesin pemeras batang tebu ini memiliki kecepatan yang lebih baik daripada mesin sejenis buatan lokal. Cukup dengan memasukkan satu kali batang tebu, maka air tebu akan terkuras habis.
Agrobisnis.net, 01 April 2007

Read Full Post »

Bagi Anda yang ingin memulai bisnis minyak VCO (virgin coconut oil), ataupun yang ingin mengembangkan usaha yang telah berjalan, kini tersedia paket mesin pembuat minyak VCO. Cocok untuk skala menengah ke atas.

Mesin pengolah minyak VCO terdiri dari :
1. mesin pemarut kelapa
2. mesin pemeras santan
3. mesin mixer VCO
4. mesin pendingin cepat
5. mesin penghangat cepat
6. mesin sentrifus (sentrifugal)
7. mesin evaporator vakum

Penggunaan mesin untuk pembuatan minyak VCO akan meningkatkan kecepatan pembuatan, sekaligus meningkatkan kualitas minyak VCO Anda

agrobisnis, 29 April 2009

Read Full Post »

Older Posts »