Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Umbi-umbian’ Category

Kolak ubi-singkong disukai karena rasanya yang manis dan ringan. Padahal bukan cuma rasanya yang istimewa, khasiatnya pun tak bisa diabaikan, menhatkan jantung dan mengendalikan darah adalah sebagian manfaatnya. Apa keistimewaan lain ubi-singkong?Rasanya memang sederhana, tetapi justru itulah sisi istimewanya. Kedua bahan ini sangat mudah dikombinasikan dengan bahan lain. Tak terhitung kreativitas menu berbahan ubi dan singkong.

Tetapi yang layak diperhitungkan adalah khasiatnya untuk menyembuhkan berbagai penyakit.Cegah KebutaanUbi hidup liar menjalar. Ada tiga jenis ubi jalar, yaitu ubi berumbi putih, kuning kemarahan (jingga), dan ungu. Yang  lebih baik adalah yang berwarna kuning jingga karena kaya kandungan bakarotennya. Betakaroten merupakan provitamin A dan bersifat anitoksidan. Konsumsi ubi jalar yang kaya provitamin A tersebut dilaporkan sebagai faktor pencegah kebutaan akibat kurang vitamin A Pada balita di darah lembah Balim, provinsi Irian Jaya.Kandungan kimia pada ubi jalar cukup kaya, antara lain protein, lemak, karbohidrat, kalori, serat, abu, kalsiu, fosfor, zat besi, karoten, vitamin B1, B2, C, dan asam  nikotinat.

Menurut pakar tanaman obat Prof. Hmbing Wijakusumaya, ubi jalar memiliki sifat kimia manis dan dingin. Efek farmakologisnya berkhasiat sebagai tonik (meningkatkan stamina) dan menghentikan pendarahan. Bagian yang bisa  dimanfaatkan adalah umbi dan daun.Ubi jalar dapat digumnakan sebagai obat penyakit kuning, pengbengkakan, rematik, asam urat, pegal linu, dan rabun senja.  Semua penyakit ini dapat diatasi dnga mminum air rebuasan ubi jalar merah dicampur bahan-bahan lain.  Khusus untuk rematik, asam urat, dan pegal linu, slain air rebusannya yang diminum, ubi rebusnya juga di makan. Khusus untuk rabun senja, bukan air rebusannya yang diminum, melainkan ubinya yang dimakan.

Anti penyumbatan Singkong sama populernya denga ubi. Bukan hanya umbinya yang memiliki rasa unik, namun daun singkong pun bisa disulap menajadi sayuran yang sangat nikmat. Menurut pakar tanaman obat Prof. Hembing Wijayakusuma,efek farmalogis dari singkong adalah sebagai antioksidan, antikangker, antitumor, dan mnambah nafsu makan. Bagian yang biasa dipakai pada tanaman ini adalah daun dan umbi.Umbi singkong memiliki kandungan kalori, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B dan C, dan amilum. Daun maengandung vitamin A, B1, dan C, kalsium, kalori, fosfor, protein, lemak, hidrat arang, dan zat besi.

Sementara kulit batang, mengandung tannin,enzim peroksidase, glikosida, dan kalsium oksalat. Penyakit aterosklerosis atau timbunan lemak di dinding pembuluh darah dapat diceagah daenaga hanya makan daun singkong. Akibat tersumbatnya aorta (saluran darah besar), darah tidak bisa disalurkan ke jantung dan penderita menjadi anfal. Pada penelitian daun singkong  mengandung cuprofilin yang mampu menurunkan kolesterol, trigliserida, lipida serum darah secara nyata. Cuprfilin pada daun singkong terdapat pada klorofilnya. Klorofil dan beberapa turunannya memiliki daya antioksidan dan antikangker.  (lebih…)

Read Full Post »

INILAH.COM, Denpasar – Fakultas Kedokteran Univeritas Udayana bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada sedang melakukan penelitian terhadap umbi ungu untuk penyembuhan penyakit kanker.

“Penelitian tersebut merupakan kelanjutan dari pengkajian terhadap aneka umbi-umbian yang telah dilakukan Fakultas Pertanian Unud,” kata Kepala Lab Biopestisida Fakultas Pertanian Unud, Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta, MSc di Denpasar, Sabtu (9/2).

Ia mengatakan, hasil pengkajian terhadap umbi-umbian, khususnya yang berwarna ungu, mengandung protein yang cukup tinggi serta obat untuk penyembuhan kanker.

“Hasil penelitian kedua fakultas kedokteran itu diharapkan mampu mengungkap keistimewaan umbi-umbian ungu untuk penyembuhan penyakit kanker,” ujar Ngurah Suprapta.

Di Bali sedikitnya terdapat 75 jenis tanaman umbi-umbian yang umumnya mengandung protein tinggi. Umbi-umbian itu juga berguna sebagai obat penyembuhan kanker dan diabetis.

“Pengkajian umbi-umbian ungu untuk menyembuhkan penyakit kanker telah dilakukan sejak lima tahun yang lalu. Hasil kajian itu kini masih diperdalam oleh kedua FK,” ujar Ngurah Suprapta.

Ia beharap, jika penelitian menunjukkan umbi-umbian merupakan obat penyembuh kanker dan jenis penyakit lainnya akan mendorong masyarakat untuk mengkonsumsinya.

Kajian awal yang dilakukan menunjukkan umbi-umbian mengandung antiosiamnin yang sangat baik bagi kesehatan dan unsur itu tidak terdapat dalam beras atau gandum,” ujar Ngurah Suprapta.

INILAH.COM, 09/02/2008

Read Full Post »

Pangan alternatif ini menawarkan keuntungan ekonomis bagi pelaku bisnisnya dan kesehatan bagi konsumennya.

Garut (Maranta arundina) adalah tanaman perdu musiman dan mudah ditemui di pekarangan. Umbinya biasa dipanen 9—10 bulan setelah tanam. Musim panen biasanya jatuh pada Juli—-September.

Umbi garut, salah satu sumber pangan sehat dengan indeks glisemik sangat rendah, hanya 14. Ini jauh lebih rendah ketimbang beras, terigu, kentang, dan ubikayu, yang masing-masing 96, 100, 90, dan 54. Indeks glisemik adalah ukuran kekuatan pengaruh suatu pangan untuk menaikkan kadar gula darah setelah orang mengonsumsinya. Garut juga tidak mengandung kolesterol dan asam urat. “Jadi, emping ini cocok untuk orang yang ingin makan gorengan tetapi takut gemuk dan penderita diabetes,” terang Prof. Murdijati Gardjito, Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM.

Murdijati juga menjelaskan, garut mengandung serat terlarut dan tidak terlarut dalam jumlah yang tinggi. Serat yang terlarut berfungsi menyerap racun di dalam tubuh, sedangkan yang tidak larut akan memperbesar volume feses sehingga teksturnya menjadi lunak. Hal ini akan menghindarkan orang dari susah buang air besar.

Pengolahan

Untuk meningkatkan nilai ekonomi garut, pelaku usaha mengolahnya menjadi emping.  Adalah Saminah, yang menjadi pioner pembuat emping garut. Ketua kelompok produsen emping garut di Blabak, Triwidadi, Pajangan, Bantul, Yogyakarta ini mampu menjual emping garut seharga Rp50.000 per kg. Untuk kualitas tingkat dua, tiga dan empat masing-masing dibanderol Rp40.000, Rp32.000, dan Rp24.000 per kg. Seiring peningkatan harga emping, harga bahan baku pun turut merangkak naik. Harganya mencapai Rp2.000 per kg. Dari satu kilo umbi ini akan diperoleh 200 gr emping dan 200 gr pati atau amilum. (lebih…)

Read Full Post »

UBI ALABIO

Ubi Alabio adalah sebutan daerah Kalimantan Selatan untuk ubi kelapa atau ‘Yam'(Dioscorea alata L.). Ubi Alabio merupakan tanaman perdu merambat dengan panjang mencapai 3-10 m. Tanaman ini memerlukan tiang panjat agar dapat tumbuh ke atas dan daunnya dapat melakukan proses fotosintesa dengan baik. Bentuk ubinya beragam yaitu bulat, panjang dan ada yang bercabang. Meskipun jenis ubi Alabio cukup banyak, namun secara nyata dapat dibedakan dari warna daging ubinya yaitu ubi merah/ungu (violet) dan ubi putih.

Ubi Alabio merah mempunyai sirip batang dan ujung tangkai daun berwarna merah keunguan, bentuk ubi bulat dan menjari. Daging ubi Alabio merah ini mempunyai aroma harum jika direbus. Ubi Alabio putih memiliki sirip batang dan tangkai daun berwarna hijau keputihan, bentuk ubi panjang dan tidak memiliki aroma harum. Kulit ubi berwarna coklat, namun ubi merah warna kulitnya lebih tua (coklat kehitaman).

VARIETAS LOKAL

Varietas-varietas lokal ubi Alabioa yang dibudidayakan petani di Kalimantan Selatan, diantaranya adalah ubi Habang Harum, ubi Kesuma (Jaranang), Ubi Tongkat (Tiang), ubi Ketan (Tongkol), ubi Nyiur, ubi Jawa, ubi Cina, ubi Putih, ubi Habang Carang.
(lebih…)

Read Full Post »

Mengembangkan Ubi Jalar

Ubi jalar, yang di beberapa daerah disebut telo rambat atau huwi boled, merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan kita.
Ubi jalar, yang di beberapa daerah disebut telo rambat atau huwi boled, merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan kita.

Meskipun pamor ubi jalar masih kalah populer dibanding beras dan jagung, tanaman yang banyak dikonsumsi langsung penduduk pedesaan ini memiliki peran strategis sebagai bahan baku industri pangan di dalam negeri dan komoditas ekspor. Konsumsi ubi jalar di dalam negeri kini mencapai 9,6 kg/tahun dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. (lebih…)

Read Full Post »