Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘bioenergi’ Category

(istimewa)

 Peneliti Amerika menggunakan tembakau sebagai bahan bakar alternatif. Bahan kimia tembakau potensial menunjang industri dan kendaraan selain sebagai bahan baku rokok yang berbahaya bagi lingkungan.

Kelompok peneliti di Philadelphia Amerika mempunyai rencana radikal untuk bahan bakar alternatif dari tanaman. Ide baru yang ditawarkan untuk kendaraan masa depan tidak hanya datang dari alkohol, bunga matahari atau alga. Ilmuwan mengajukan bahwa mereka akan mengembangkan bahan bakar dari tembakau.

“Tembakau adalah bahan bakar bio yang sangat menarik karena selain digunakan untuk produksi bahan makanan ternyata bisa untuk tenaga pendorong kendaraan,” ujar Dr Vyacheslav Andianov dari Universitas Thomas Jefferson.

“Kami telah menemukan cara secara kimiawi genetika memproses tanaman tersebut agar daun tembakau dapat menghasilkan banyak minyak. Pada beberapa percobaan, tanaman modifikasi memproduksi 20 kali lebih banyak minyak pada bagian daunnya,” tambah Thomas.

Menurut penelitian daun tembakau secara umum mengandung 1,7% hingga 4% proporsi minyak dalam keadaan kering. Satu gen modifikasi yang diuji coba Andrianov dan koleganya mampu menghasilkan 6,8% minyak dalam berat kering.

Minyak bibit tembakau telah diujicoba juga di mesin diesel, tetapi ternyata bibit tembakau tidak terlalu produktif, hanya 1500kg per hektar. Meskipun ternyata akhirnya dari keseluruhan bahan tanaman, daun adalah yang terbaik. (lebih…)

Read Full Post »

Listrik dari Ampas Tebu

Di beberapa negara seperti Hawaii dan Kuba, ampas tebu bisa dipakai untuk menghasilkan tenaga listrik yang dikenal dengan co-generation (kogenerasi).

Industri gula ternyata tidak hanya menghasilkan gula dan tetes saja. Banyak bagian dari tebu yang bernilai sangat komersial, jika diberi sentuhan teknologi. Salah satunya adalah ampas tebu.

Menurut Adig Suwandi, Associate Corporate Secretary PTPN XI, Jawa Timur, ampas tebu bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas atau bahan bakar untuk memanaskan ketel di pabrik gula. Bahkan, di beberapa negara seperti Hawaii dan Kuba, ampas tebu bisa dipakai untuk menghasilkan tenaga listrik yang dikenal dengan co-generation (kogenerasi).

Gula di Kuba termasuk bahan ekspor utama yang menghidupi perekonomian rakyat.

Krisis energi yang melanda Kuba membuat negara komunis itu memanfaatkan ampas tebu untuk memasok sepertiga kebutuhan energi nasional. Begitu tebu dipanen, bagasse atau ampas tebu yang mirip jerami dibakar untuk menghasilkan listrik bagi pabrik itu sendiri.

Selebihnya dijual ke jaringan listrik konvensional. Daun dan tangkai tebu dipres untuk digunakan sebagai bahan bakar padat.

Ada sekitar 156 pabrik gula di seluruh Kuba. Pabrik yang sudah tua hanya dapat membangkitkan 20 KWh (kilowatt hour) listrik untuk setiap ton tebu.

Mereka menggunakan turbin uap tua yang kurang efisien bertekanan 18 atmosfer. Sedangkan konversi energi pada pabrik yang lebih baru bisa menghasilkan 40 KWh listrik dari setiap ton tebu.
(lebih…)

Read Full Post »

Anny Mulyani1, F. Agus1, dan David Allelorung2
1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111

ABSTRAK
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) akhir-akhir ini menjadi komoditas primadona karena berpotensi sebagai penghasil bahan bakar nabati (BBN). Selain jarak pagar, BBN juga dapat diperoleh dari kelapa sawit, kelapa, biji kapas,
canola, dan rapeseed (untuk biodiesel), serta ubi kayu, tebu, dan sagu (untuk bioetanol). Jarak pagar sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman obat dan penghasil minyak. Saat ini banyak masyarakat dan
investor yang tertarik untuk mengembangkan jarak pagar sehingga perlu diinformasikan wilayah-wilayah yang potensial baik ditinjau dari segi biofisik lahan, iklim maupun lingkungan. Untuk maksud tersebut telah disusun peta
kesesuaian lahan untuk jarak pagar pada skala eksplorasi (1:1.000.000) berdasarkan Peta Sumberdaya Lahan dan Arahan Tata Ruang Pertanian, serta Peta Sumberdaya Iklim skala 1:1.000.000. Hasil evaluasi kesesuaian lahan
menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk jarak pagar seluas 49,50 juta ha. Lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi kelas sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3) dengan luas berturut-turut 14,30 juta
ha, 5,50 juta ha, dan 29,70 juta ha. Untuk perencanaan pengembangan jarak pagar skala nasional, hasil evaluasi tersebut perlu ditumpangtepatkan (overlay) dengan data spasial penggunaan lahan terkini, karena sebagian besar
lahan yang sesuai tersebut sudah digunakan untuk komoditas lain atau untuk sektor nonpertanian.

Potensi pengembangan jarak pagar yang paling besar adalah pada lahan yang sementara tidak diusahakan (lahan terlantar) yang luasnya mencapai 12,40 juta ha serta padang rumput 3,10 juta ha. Sekitar 1 juta ha lahan alang-alang yang
tersebar di 13 provinsi telah diidentifikasi kesesuaiannya pada skala 1:50.000 untuk pengembangan pertanian.
Informasi sumber daya lahan hasil identifikasi tersebut dapat digunakan untuk mempercepat delineasi lahan untuk tanaman jarak pagar pada skala yang lebih detail.
Kata kunci: Jatropha curcas, sumber daya lahan, Indonesia (lebih…)

Read Full Post »

Potensi Lahan

Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering (LKDRIK) di Indonesia tersedia + 6 juta ha. Tersebar di Bali dan NTT seluas 2.616.895 ha, Sumatera 470.801 ha, Jawa 962.720 ha, Sulawesi 1.810.930 ha, Maluku dan Papua 582.815 ha. (Departemen Pertanian, 22/02/2006)

Kekurangan Biodiesel dari Jarak

  1. Produktivitas paling optimis 5 ton/ha/tahun. Diketahui 1 liter biodiesel membutuhkan 3-4 kg biji jarak kering. Bila harga biodiesel harus lebih rendah daripada minyak diesel (petrol-based), Rp 4300/liter, maka harga maksimum biji jarak adalah Rp 1000/kg. Atau harga per kg biji kering jarak pagar sekitar Rp 500 – Rp 800 (Basuki, 13/09/2006). Jadi potensi pendapatan maksimum adalah Rp 5jt/ha/tahun, dimana biaya bibit (Rp 3.5jt/ha), pupuk, tenaga kerja, biaya lahan, pun proses biodiesel, belum diperhitungkan (Kompas, 18/02/2006). Total biaya pengolahan (esterifikasi dsb) + total biaya produksi untuk menghasilkan minyak biodiesel per liternya adalah Rp 3500, karena dalam proses pengolahan minyak jarak menjadi minyak biodiesel diperlukan bahan baku lain misalnya Etanol dan Caustic Soda (NaOH) sebagai bagian dari proses esterifika (Basuki, 13/09/2006).
  2. Belum ada bukti cukup keberhasilan monokultur jarak dalam luasan yang besar
  3. Pengadaan bibit unggul jarak belum menunjukkan hasil yang memadai (agrobisnis besar memerlukan bibit unggul dalam jumlah besar)
  4. Pada tingkat potensi produksi yang tinggi, penghasilan dari minyak jarak sangat tidak bersaing (bila anda memiliki berhektar-hektar lahan, apakah anda akan mengejar penghasilan Rp 5jt/tahun/hektar?)
  5. Permainan jarak adalah permainan sampingan, dan inilah ekonomi gerilya (ekonomi kerakyatan) (lebih…)

Read Full Post »

Tanaman jarak memiliki prospek masa depan yang menjanjikan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan minyak bumi.

Rabu, 21 Mei 2008 | 22:20 WIB

DENPASAR, RABU- Masyarakat Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali mempertanyakan keberlanjutan proyek penanaman jarak untuk biofuel. Alasannya, semenjak pelaksanaan proyek tahun 2007 hingga sekarang masyarakat belum pernah lagi mendapatkan penjelasan soal pemasaran buah jarak. Mereka masih sebatas menanam dan memelihara tanaman jarak yang jumlahnya ribuan pohon.

Nyoman Pidada, warga Desa Klumpu, Nusa Penida, Rabu (21/5), mengungkapkan, pohon jarak yang ditanam di kebunnya seluas dua hektar sudah berbuah awal tahun lalu. Namun, dia kebingungan untuk menjualnya, karena sama sekali tidak ada pembelinya. Sementara Camat Nusa Penida Wayan Sumarta berharap program penanaman jarak tidak berhenti tanpa ada keberlanjutan. Sebab, dia khawatir apabila tanpa didukung pemasaran yang memadai, program ini dapat dihentikan dengan sendirinya oleh warga setempat.

“Masyarakat menyambut baik jika penanaman jarak ini diperluas kedepannya, asal ada sistem pemasaran yang memadai. Jika tidak ada, untuk apa program ini dilanjutkan,” kata Sumarta.
AYS,BEN

dari : kompas.com

Read Full Post »

A. Habitat Hidup Alga
Alga adalah salah satu organisme yang dapat tumbuh pada rentang kondisi yang luas di permukaan bumi. Alga biasanya ditemukan pada tempat-tempat yang lembab atau benda-benda yang sering terkena air dan banyak hidup pada lingkungan berair di permukaan bumi. Alga dapat hidup hampir di semua tempat yang memiliki cukup sinar matahari, air dan karbon-dioksida.

B. Potensi Alga Menghasilkan Biodiesel
Secara teoritis, produksi biodiesel dari alga dapat menjadi solusi yang realistik untuk mengganti solar. Hal ini karena tidak ada feedstock lain yang cukup memiliki banyak minyak sehingga mampu digunakan untuk memproduksi minyak dalam volume yang besar.

Tumbuhan seperti kelapa sawit dan kacang-kacangan membutuhkan lahan yang sangat luas untuk dapat menghasilkan minyak supaya dapat mengganti kebutuhan solar dalam suatu negara. Hal ini tidak realistik dan akan mengalami kendala apabila diimplementasikan pada negara dengan luas wilayah yang kecil.
Berdasarkan perhitungan, pengolahan alga pada lahan seluas 10 juta acre (1 acre = 0.4646 ha) mampu menghasilkan biodiesel yang akan dapat mengganti seluruh kebutuhan solar di Amerika Serikat (Oilgae.com, 26/12/2006). Luas lahan ini hanya 1% dari total lahan yang sekarang digunakan untuk lahan pertanian dan padang rumput (sekitar 1 milliar acre). Diperkirakan alga mampu menghasilkan minyak 200 kali lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan penghasil minyak (kelapa sawit, jarak pagar, dll) pada kondisi terbaiknya. (lebih…)

Read Full Post »

Diversifikasi Sumber Biofuel

Menerawang ke depan perkembangan penggunaan biofuel di dunia ini akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan ancaman pemanasan global yang sumber utamanya diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Selama 15 tahun terakhir pemanasan global telah meningkatkan suhu dan menyebabkan turunnya permukaan salju kutub utara dan es terapung di Laut Artik sehingga permukaan air laut mengalami kenaikan 14-20 cm selama satu abad terakhir.

global-warming.jpg

Tren pengembangan biofuel ini telah terlihat di Amerika Serikat, negara konsumen utama BBM di dunia ini kini telah memulai meningkatkan produksi etanol dari 6.464,2 miliar liter pertahun menjadi 17.029,32 miliar liter pertahun. Perkembangan ini diikuti oleh beberapa negara maju di dunia baik dari belahan Eropa (Perancis, Poladia, Jerman, Itali, dan Spanyol) maupun Asia ( China). (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »