Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘bisnis’ Category

Bisnis Tanaman Hias Cerah

Bisnis tanaman hias di Kota Semarang, Jawa Tengah, dinilai prospektif karena minat kalangan masyarakat untuk membeli tanaman hias mengalami peningkatan signifikan.

“Kalangan masyarakat yang memburu tanaman hias belakangan ini meningkat, apalagi jika di Kota Semarang ada pameran tanaman hias pasti diserbu konsumen,” kata Achmad Rofii (41) penjual tanaman hias di Jalan Wolter Mongisidi Semarang, di Semarang, Sabtu.(23/2)

Ia mengakui, pameran tanaman hias yang sering diadakan di Kota Semarang dengan menampilkan berbagai tanaman hias jenis baru mampu mendongkrak pendapatan para penjual tanaman hias. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Potensial dikembangkan sebagai alternatif bahan pangan. Nilai gizinya lengkap dan prospek bisnisnya pun cerah.

Namanya memang tak sepopuler jagung, padi atau bahkan gandum, tapi bukan berarti sorgum tak bernilai bisnis. Hampir seluruh bagian tanaman yang bernama ilmiah Sorghum bicolor bisa jadi rupiah. Daunnya menjadi sumber pakan ternak, tangkai daunnya bisa dijadikan kerajinan tangan dan sapu. Sedangkan batangnya adalah lumbung bioetanol dan bahan pembuat kertas. Bagian akar sorgum, secara empiris dipercaya sebagai jamu memperlancar aliran darah.

Geser Gandum

Potensi terbesar sejatinya ada di bagian biji, berdasar penelitian UGM dan rilis Depkes, kandungan gizinya sangat mumpuni. Nilai proteinnya 11 g per 100 g, jauh lebih oke ketimbang beras dan jagung yang hanya 6,8 g dan 8,7 g. Begitu juga dengan kalsium dan karbohidratnya, masing-masing mencapai 28 mg dan 73 g per 100g. Selain itu, diketahui sorgum juga kaya serat dan mengandung gluten rendah.

Biji sorgum dapat dibuat tepung sebagai bahan dasar pembuatan penganan. Bahkan setelah dikupas kulitnya, biji sorgum dapat langsung ditanak layaknya beras dan dikonsumsi. Dengan segala kelebihanya, tanaman yang juga dikenal dengan nama Hermada ini menjadi alternatif potensial sumber pangan.

Seperti dilakukan Rien Soedimulyo dengan bendera Ndari Hermada Indonesia Art di bilangan Klender, Jakarta Timur. Wanita berusia 64 tahun ini memproduksi tepung, “beras”, dan aneka penganan kering serta kue basah berbahan sorgum. Meski mengaku masih mendapat order berdasar pesanan, tiap bulan Rien berhasil menjual 6—10 kg tepung sorgum. Ditambah 6—8 kg “beras” sorgum yang berhasil dipasarkannya ke beberapa karyawan BUMN. Belum lagi kue kering dan basah yang laris manis saat pameran digelar.

“Memang jumlah pesanan produk sorgum masih kecil karena masyarakat belum mengerti manfaat sorgum. Yang mereka tahu, sorgum sebagai bahan pakan, bukan pangan. Padahal nilai gizinya tinggi dan baik bagi penderita diabetes karena kaya serat serta gluten rendah,” beber Rien yang memulai usaha sejak 2003.

Harga yang ditawarkan Rien relatif murah. Tepung misalnya, ia patok Rp10.000 per kg dan beras Rp6.000 per kg. Kue kering dijual Rp15.000 per toples. Begitu juga kue basah yang dilabeli harga sama. Sedangkan bubur ayam dan jenang, dibanderol Rp2.000 per cup kecil. “Pemasaran memang masih menjadi kendala. Tetapi saya yakin ke depan produk sorgum akan banyak diminati. Menghadapi Ramadhan, saya akan membuat lapak takjil di depan rumah saya,” ungkap wanita bernama asli Rr. Rindartati ini.

Membuat tepung sorgum tidaklah sulit. Setelah dikupas kulitnya, biji sorgum kering lalu digiling. “Setelah digiling, saya harus ayak lagi sampai 8 kali karena hasil penggilingan di pasar ukurannya masih besar,” ungkap penerima penghargaan LKM Pangan Award, Depdag, Kategori Inovasi Penggunaan Bahan Baku 2008 itu. (lebih…)

Read Full Post »

Sistem waralaba tak hanya ada di bisnis restoran cepat saji dan minimarket, tapi juga di bisnis pupuk organik.

Berawal dari keprihatinan melihat kondisi tanah pertanian di Pulau Jawa, khususnya Tulungagung, Jatim, Hadi Mustofa ingin mengembalikan kesuburan tanah. Caranya menjadi salah satu pewaralaba PT Petrokimia Gresik yang memproduksi pupuk organik berlabel Petroganik.

Pada tahap awal, Hadi yang memulai usaha pada Januari 2007 melalui CV Lestari Mulyo ini, mengaku rugi, karena, “Petani belum merasakan pupuk organik merupakan sebuah kebutuhan,” ucapnya. Petani, imbuh alumnus Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta 1997 ini, masih memandang pemanfaatan pupuk organik sebagai penambahan biaya. Karena itu, ia melakukan sosialisasi secara gencar, bahkan dengan biaya sendiri. “Kita tidak memikirkan pengembalian. Hanya saya yakin, suatu ketika petani akan butuh,” tandasnya saat ditemui AGRINA dua tahun silam.

Lebih Untung

Dari segi hasil, menurut Hadi, jelas ada perbedaan antara pertanaman dengan pupuk organik dibandingkan yang tanpa pupuk organik. ”Demplot di Kecamatan Kali Dawir di Tulungagung itu selisihnya 2 ton per hektar dengan perlakuan sama. Yang membedakan hanya Petroganik saja. Satu lahan memakai Petroganik, Phonska, dan urea, yang satunya hanya urea dan Phonska,” terangnya.

Hitung punya hitung, imbuh Hadi, jika harga jual gabah kering panen sekitar Rp2.500 per kg, petani meraih tambahan Rp5 juta dari penjualan kenaikan produksi 2 ton per hektar (ha). Tambahan biaya pupuk organik sebanyak 5 kuintal yang harga subsidinya Rp500 per kg sehingga totalnya Rp250 ribu. “Petani ada penambahan pendapatan Rp5 juta, tapi mengeluarkan biaya Rp250 ribu. Masih sisa Rp4,75 juta. Itu petani belum banyak tahu,” paparnya.  (lebih…)

Read Full Post »

Bisnis Manis Si Cabai Manis

Kesulitan dalam budidaya yang tidak mudah ditebus dengan keuntungan berlipat.

Memasuki Dusun Kumbo-Desa Tlogosari, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan, Jatim, hawa dingin mulai menyergap. Suasana perbukitan dan jajaran pohon apel di kanan-kiri jalan menambah asri pemandangan. Daerah ini juga cocok untuk bertanam paprika. Wajar bila berderet-deret rumah plastik (greenhouse) dengan warna hijau dan putih berisikan tanaman cabai manis mendominasi dusun tersebut.

Produksi

Sujianto, salah satu petani paprika di sana, mengatakan, ”Sistem budidaya paprika susah. Kendalanya banyak sekali: virus, hama thrips, mildew (cendawan). Hasil paprika tergantung perawatannya. Jika perawatan baik, ya untung, kalau kurang baik ya rugi.”

Namun kendala yang besar itu tidak menyurutkan Sujianto mengupayakan paprika. Lahan milik 10 keluarga yang dikelolanya mencapai 4 hektar (ha). Ia menerapkan sistem budidaya hidroponik dari Belanda. Karena itu pula ia menggunakan benih hibrida dari salah satu produsen asal Belanda.

Berbincang tentang biaya produksi, pemilik dua hektar kebun paprika itu menjelaskan, untuk 1.000 tanaman menghabiskan dana sekitar Rp35 juta. Dana sebanyak ini dialokasikan ke pembuatan rumah plastik dan 280 batang bambu. Rumah plastik itu bisa dipakai sampai empat siklus.

Lebih lanjut Sujianto memaparkan tahapan cara budidayanya. Benih disemai selama 7—10 hari. Kemudian bibit dipindahkan ke polibag berwarna hitam selama 20 hari. “Setelah 20 hari ditanam bersama-sama dengan polibag-nya di dalam polibag berwarna putih yang panjang melintang. Medianya berupa arang sekam,” ujar petani yang lahannya biasa dikunjungi media elektronik nasional dan lokal. Satu hektar memuat sekitar 15.000 tanaman.

Setelah menginjak umur tiga bulan, tanaman bisa mulai dipanen. Panen dilakukan setiap minggu sampai 9 bulan. Setelah 9 bulan, tanaman dibongkar karena hasilnya sudah tidak bagus lagi. Total produksi per tanaman berkisar 6—7 kg. (lebih…)

Read Full Post »

Tongkol jagung yang biasanya dibuang, kini menjadi komoditas harapan baru karena laku diekspor.

Bermula dari Siswoyo Syaifi Majid, 59 tahun, mantan Kepala Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Kecamatan Kejobong, Kab. Purbalingga, Jateng, yang melihat dampak krisis global. “Bangsa kita masih terancam oleh naiknya angka pengangguran dan angka kemiskinan, bangsa kita harus bangkit,” ujarnya saat ditemui AGRINA. Karena itu ia ingin membantu pemerintah membuka lapangan pekerjaan.

Olah Limbah

Suatu hari Siswoyo bertemu teman lamanya, Yusuf Warsono, teknisi mesin pabrik di Purbalingga. Dari pertemuan itu, ia memperoleh informasi mengenai pembuatan bahan campuran pakan ternak dari tongkol jagung (concobu) yang dibutuhkan Jepang. Sang teman sendiri memperoleh informasi ini langsung dari Sugimoto, warga Jepang, pemilik PT NYP Purbalingga, perusahaan pembuat alat makan jepang berbahan kayu.

Melalui Koperasi Serba Usaha (KSU) Garuda, Siswoyo mengupayakan pemanfaatan limbah jagung untuk diproses menjadi concobu. Ia terjun langsung sebagai Ketua Tim Pelaksana Industri Limbah Tongkol Jagung. “Usaha ini disambut baik oleh Bupati H. Triyono Budi Sasongko, M.Si. Bupati berjanji akan mensosialisasikan ke tiap kecamatan di Purbalingga,” jelasnya.

Setelah itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat juga memberikan dukungan. “Kami meminjamkan alat pencacah plastik untuk dimodifikasi menjadi pencacah tongkol jagung,” tutur Agus Purhadi Setya, Kepala Bidang Industri, Dinas Perindag Purbalingga. (lebih…)

Read Full Post »

Bisnis Bawang Saat Ini

Budidaya bawang merah masih banyak yang melirik. Selain siklus cepat, usaha ini juga menjanjikan laba tidak sedikit.

Bawang merah atau biasa disebut brambang oleh masyarakat Jawa, bukanlah komoditas yang sulit dijual. Keberadaannya wajib tatkala kaum hawa beraksi di dapur. Hampir semua menu masakan nusantara menggunakan bawang merah sebagai bumbu. Itu pula salah satu alasan Dulladi di Desa Cisalam, Kec. Wanasari, Brebes mengusahakan bawang merah. Meski butuh modal tidak sedikit, tapi menurutnya, harga umbi tanaman bernama ilmiah Allium ascalonicum ini cukup bagus di pasaran. Alhasil, laba pun berlipat

Harga Bagus

Dulladi bercerita, mengusahakan satu hektar bawang merah setidaknya membutuhkan dana Rp40 juta. Namun tak perlu khawatir, laba yang diperoleh berlipat dua kali lantaran, “Harga sekarang (6/5) relatif bagus, sekitar Rp7.000 per kg,” terangnya. Nilai tersebut di atas harga titik impas sebesar Rp5.000—Rp6.000 per kg.

Bila produksinya 8 ton per ha, maka setelah dikurangi modal, dalam durasi dua setengah bulan Dulladi dapat mengisi koceknya sekitar Rp8 juta—Rp16 juta. Ini hasil pertanaman Februari-Maret.

Kalau mulai tanam Juni-Juli, produksinya bisa sekitar 18—24 ton per ha. Titik impasnya pada harga Rp2.500—Rp3.500 per kg. Meski produksi September-Oktober relatif tinggi, harga jualnya cenderung jatuh, Rp3.000—Rp4.000, karena panen raya. “Hasilnya cukup lumayanlah,” ujar Dulladi. Di desanya ada sekitar 150 ha kebun bawang merah.

Dengan pola tanam padi-kedelai/bawang-bawang, petani Brebes umumnya mengusahakan bawang merah pada Juni-Juli yang dipanen Oktober. Walaupun ada juga yang menanam pada Februari-Maret. (lebih…)

Read Full Post »

Peningkatan produksi tak lagi bisa bergantung pada perluasan lahan yang kian  terbatas. Intensifikasi melalui mekanisasi, penggunaan benih unggul, dan pemupukan seimbang menjadi solusinya.

Selain arealnya yang makin terbatas, ekstensifikasi juga berpotensi menggeser komoditas lain, yakni padi. Itulah sebabnya kini peningkatan produksi salah satunya terfokus pada penggunaan benih unggul, antara lain hibrida yang penggunaannya mencapai 43,7% atau 25.120 ton pada 2007. Jagung hibrida memang punya potensi hasil yang relatif tinggi, 6—8 ton per, dibandingkan benih jagung komposit yang hanya 3—4 ton per ha.

Agar potensi genetik tanaman dapat optimal, maka harus didukung pola budidaya yang baik. “Budidaya itu terkait dengan cara dan pola tanam, pemupukan, perlindungan terhadap serangan hama dan penyakit, serta pascapanen,” jelas Azrai, peneliti jagung di Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, Sulsel. Caranya, dengan budidaya terpadu yang menerapkan berbagai komponen teknologi sehingga memberikan pengaruh yang sinergis terhadap tanaman.

Benih Unggul dan Mekanisasi

Di Indonesia, benih jagung hibrida diproduksi oleh 10 institusi, baik swasta maupun lembaga penelitian milik pemerintah, serta perguruan tinggi. Merek benih jagung yang banyak beredar, antara lain BISI, Pioneer, NK, DK, Jaya, dan SHS. Benih tersebut dihasilkan perusahaan multinasional, seperti Pioneer Overseas Corp, Charoen Seed Co, Ltd, PT Novartis, dan PT Asian Hybrid Seed Technologies. Sedangkan varietas jagung hasil penelitian lembaga riset nasional, antara lain Semar, Bima, Bima-Bantimurung, dan Andalas.

Menurut Azrai, penggunaan benih jagung sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan digunakan. Jika tanahnya subur, menengah, sampai sangat subur, disarankan untuk memilih benih hibrida. Sebaliknya, jika lahan yang digunakan tergolong kritis, jenis kompositlah yang dipilih. “Jadi, yang penting petani punya komitmen untuk merawat tanamannya dengan baik,” katanya lagi.

Hal itu dibuktikan Rins Sirton Antonin Malau alias Anton “Pacul”, petani jagung di kawasan Pantai Rancabuaya, Desa Purbayani, Kec. Caringin, Kab. Garut, Jabar. Di tangan mantan pegawai PT Freeport Indonesia ini, jagung komposit varietas Sukamaraga bisa berproduksi rata-rata 9 ton jagung pipilan kering. Dua kali lipat dari rata-rata produksi jagung komposit nasional.

Namun demikian, Anton mengakui menemui hambatan utama dalam pengembangan jagung di wilayahnya. “Masalahnya adalah keterbatasan alsintan (alat dan mesin pertanian), mulai dari penyediaan hand tractor, traktor roda empat, mesin tanam, hingga mesin pengering,” ungkapnya. Untuk menjaga kualitas produksi, sementara ini ia menggunakan mesin pengering (drier) berkapasitas 3—4 ton buatan sendiri.

Keterbatasan alsintan juga dialami F. Alexander FW, Direktur Utama PT Teora Triberkah Abadi, perusahaan yang bermitra dengan sejumlah petani jagung di Sukabumi, Jabar. Menurutnya, peningkatan produksi jagung tidak mungkin terwujud jika  hanya mengandalkan tenaga manusia. Karena itu, pria yang biasa disapa Alex Jagung ini mengusulkan selain subsidi benih sebaiknya pemerintah juga memberikan subsidi  alsintan.

“Di Indonesia, teknologi paling mentok hand tractor,” cetus Alex. Selain itu saat penanaman masih banyak memanfaatkan tugal. Padahal, di luar negeri, seperti Brasil misalnya sudah menggunakan mesin tanam. Intinya, kata dia, peningkatan produktivitas itu harus diikuti dengan teknologi. “Kalau semua manual biayanya malah lebih tinggi dan hasilnya juga pasti tidak maksimal,” katanya lagi. 

Pemupukan Berimbang

Hal lain yang menentukan keberhasilan usaha tani jagung adalah perawatan tanaman, terutama pemupukan. Selain tepat waktu, pemupukan juga harus tepat dosis. Pemupukan juga terkait dengan kesuburan tanah. “Jadi kita memupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kalau dipaksakan malah akan menghambur-hamburkan pupuk saja. Pemupukan yang benar adalah yang berimbang, baik dosis maupun komposisinya,” ujar Azrai.

Pemupukan pertama biasanya dilakukan pada 1—10 minggu setelah tanam. Pemupukan kedua diberikan 28—35 hari setelah tanam. Kadang juga diperlukan pemupukan ketiga, sewaktu tanaman menjelang berbunga. Pupuk sebaiknya tidak diberikan dengan cara dihamburkan ke dekat tanaman tapi ditugal. Dengan cara ini, pupuk terhindar dari penguapan, terutama unsur Nitrogen (N).

Tanaman jagung umumnya membutuhkan unsur hara makro primer, makro sekunder, dan mikro esensial untuk pertumbuhan, yang dosisnya berbeda-beda menurut jenis tanahnya. Unsur hara makro primer terdiri dari nitrogen, fosfat, dan kalium (NPK), unsur hara makro sekunder adalah magnesium, selenium, dan kalsium (Mg, S, dan Ca), sedangkan unsur hara mikro esensial, yaitu besi, boron, tembaga, mangan, seng, dan klor (Fe, Bo, Cu, Mn, Zn, Cl).

Selain pupuk kimia, petani seperti Anton Pacul mengombinasikannya dengan pupuk organik dan suplemen tanaman. “Saya menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk dasar dan guano (pupuk dari kotoran kalelawar) untuk cor yang jumlahnya kira-kira 4 kuintal,” ujar Anton. Dosis pupuk kimianya 300—350 kg per ha,  ditambah suplemen tanaman SozoFM-1 Agriculture yang diberikan lima kali dalam sekali musim tanam.

Penyemprotan Sozo pertama dilakukan hari ke-14, selanjutnya hari ke-28, 32, 46, dan 56. Dosisnya 3—4 tetes per liter, sedangkan volume air yang dibutuhkan sekali penyemprotan sebanyak 200 liter.  Anton mengakui, sebelumnya ia membuat percobaan di lahan seluas satu hektar sebelum akhirnya mendapat dosis yang paling baik. “Dengan dosis tersebut, tampilan tanaman menjadi tinggi, besar, batang kokoh, dan bertongkol besar,” tegasnya.

Karena itu, masih menurut Anton, ketersediaan pupuk harus menjadi prioritas pemerintah. Jika petani membutuhkan sementara pupuk tidak ada, tanaman akan hancur. “Bila pupuk akhirnya datang, sudah terlambat, ya akan percuma. Sama seperti ngurus bayi, bila kecilnya sehat, besarnya nanti akan sehat. Kalau sudah sakit mau diapain?” tukasnya.

agrina-online.com, 16 Maret 2009

Read Full Post »

Older Posts »