Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘lahan’ Category

Read Full Post »

Lahan terbatas sering dikeluhkan oleh para pemilik rumah. Apalagi bagi mereka yang hobi berkebun, dan ingin memiliki taman atau kebun sendiri. Balkon bisa menjadi solusi untuk keterbatasan tadi.

Lahan terbatas sering dikeluhkan oleh para pemilik rumah. Apalagi bagi mereka yang hobi berkebun, dan ingin memiliki taman atau kebun sendiri. Balkon bisa menjadi solusi untuk keterbatasan tadi. Area balkon bisa dimanfaatkan sebagai alternatif lahan berkebun. Cukup mengandalkan ide kreatif, dan memanfaatkan tanaman-tanaman dalam pot.

Tanaman pot bersifat praktis dan fleksibel. Letaknya mudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan penataan yang pas, tanaman-tanaman dalam pot pun bisa secantik taman di halaman.

Misalnya dengan cara begini. Tempatkan beraneka tanaman dalam pot, di sepanjang pagar balkon. Penataan dilakukan di atas rak, yang dibuat menjulur sepanjang 40cm, ke luar bangunan. Rak terbuat dari rangka besi berdiameter 10mm, dan ditambatkan di bagian bawah pagar balkon. Agar rangka besi ini kuat menahan beban tanaman, rak ditempelkan ke dinding menggunakan dinabolt.

Dudukan pot, sekaligus alas rak, menggunakan kawat berukuran 2cmx2cm. Kawat diikat dengan rangka besi menggunakan clamp. Lubang kawat berfungsi sebagai celah, untuk mengalirkan air dari dalam pot atau air hujan. Penataan tanaman pot memberi banyak kemudahan. Tidak menyita banyak lahan. Mudah dibongkar atau ditata ulang, jika ingin mengganti suasana.

Deretan tanaman pot di sepanjang pagar, membuat balkon terlihat rimbun. Suasana segar dan nyaman ala taman pun terpenuhi. Keberadaan taman balkon juga turut memperindah tampilan fasad rumah. Fasad yang semula tampak kaku, akan menjadi lebih lembut, dan tidak monoton.

situshijau.co.id, 30 Juni 2008

Read Full Post »

Hemat Lahan dengan Pot Gantung

MEMILIKI rumah yang sejuk dan nyaman tentu menyenangkan. Salah satu cara mewujudkannya adalah dengan membuat taman di halaman rumah. Keberadaan taman menghadirkan nuansa hijaunya tanaman yang menyejukkan. Selain itu, taman juga merupakan sarana sirkulasi

MEMILIKI rumah yang sejuk dan nyaman tentu menyenangkan. Salah satu cara mewujudkannya adalah dengan membuat taman di halaman rumah. Keberadaan taman menghadirkan nuansa hijaunya tanaman yang menyejukkan. Selain itu, taman juga merupakan sarana sirkulasi udara yang baik.

Permasalahan muncul jika lahan untuk taman sangat terbatas. Walau sebetulnya, ukuran lahan tidak lah perlu jadi masalah. Banyak kok cara mengakali masalah lahan ini. Salah satunya dengan membuat taman dalam pot.

Tanaman-tanaman pot, selain praktis karena menghemat lahan, juga mudah dipindah-pindahkan. Namun, seringkali ketika koleksi tanaman pot Anda bertambah, muncul pula kerepotan baru. Bagaimana ya mengatur tanaman-tanaman pot tersebut, agar tidak tampak berantakan?

Soal itu, kita pun sebetulnya tak perlu khawatir. Masalah ini pun ada solusinya. Jika lahan di atas tanah telah penuh, gunakan pot gantung. Penggantungnya bisa buat baru atau manfaatkan barang bekas yang ada.

Misalnya, gunakan pagar besi yang sudah tidak terpakai lagi sebagai penggantung. Tempelkan pagar ini di tembok dan gunakan ruas-ruas pagar sebagai tempat menggantung pot. Untuk menggantung pot tanaman, Anda perlu memperhatikan tali atau kawat penggantungnya. Pastikan tali atau kawat tersebut cukup kuat menahan beban dari pot dan tanaman yang akan digantung.

Soal jenis tanamannya, pilih tanaman-tanaman yang daunnya bertulang panjang atau yang menjuntai ke bawah. Jenis ini cantik ketika digantung.

situshijau.co.id, 19 Januari 2009

Read Full Post »

Gagasan menetapkan 15 juta hektar untuk lahan pertanian abadi sebagai bagian dari kebijakan melakukan revitalisasi pertanian semakin menunjukkan tidak adanya konsistensi kebijakan pemerintah terhadap lahan.

Gagasan menetapkan 15 juta hektar untuk lahan pertanian abadi sebagai bagian dari kebijakan melakukan revitalisasi pertanian semakin menunjukkan tidak adanya konsistensi kebijakan pemerintah terhadap lahan.

“Penetapan lahan pertanian abadi itu artinya mempersulit berubahnya fungsi lahan pertanian untuk peruntukan lain. Padahal, Presiden sudah membuat peraturan tentang pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum, yang intinya mempermudah pelepasan tanah untuk kepentingan umum, yakni bisa pasar, jalan, dan sebagainya. Bagaimana dua kebijakan itu akan disinkronkan,” tutur Direktur Yayasan Cindelaras Francis Wahono, Jumat (13/5) dari Pontianak.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2005 yang menetapkan demi kepentingan umum, hak atas tanah milik seseorang bisa dicabut oleh negara. Penerbitan keputusan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan infrastruktur yang diselenggarakan pemerintah.

Sementara gagasan menetapkan lahan pertanian abadi seluas 15 juta hektar sebagai rangkaian dari revitalisasi pertanian disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie seusai memaparkan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) kepada Presiden, Kamis (12/5).

Menurut Wahono, hal itu menunjukkan pemerintah tidak memiliki perencanaan yang utuh terhadap lahan, tetapi sepotong-sepotong tanpa pengkajian yang mendalam. “Tidak ada blue print (cetak biru) yang komprehensif. Sebaiknya tiga tahun mendatang ini Presiden fokus untuk pembuatan blue print yang bagus dan lakukan satu atau dua program yang tepat. Jangan semua ingin dilakukan tetapi tidak ada yang tuntas, yang akhirnya semua hanya jadi retorika,” katanya.

Selain itu, lokasi yang ditetapkan sebagai lahan pertanian abadi juga harus diputuskan secara cermat sehingga tujuan untuk menyejahterakan petani dan menjaga ketahanan pangan nasional tercapai. “Jangan seperti pembukaan lahan gambut yang pernah dilakukan. Dan tetap harus diperhatikan perlindungan pemilikan lahan pertanian oleh petani dan rakyat kecil,” ujarnya.

Penetapan lokasi yang tepat juga disampaikan oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) Bunasor Sanim. “Lokasi yang ditetapkan harus tepat sesuai dengan targetnya, misal untuk ketahanan pangan hingga 10 tahun mendatang. Idenya baik. Tetapi, kalau lokasi yang dipilih tidak tepat, justru akan jadi masalah,” kata Bunasor.

Menurut Wahono, untuk Jawa, tidak mungkin lagi dibuka lahan pertanian secara hamparan. “Kecuali kalau mau menerabas hutan, tetapi itu akan sangat berisiko. Inilah kesalahan kita selama ini mengembangkan industri di Jawa, padahal lahan yang bagus untuk pertanian di Jawa,” ujarnya.

Saat ini, sawah di seluruh Indonesia seluas 8,9 juta hektar, setiap tahun diperkirakan terjadi alih fungsi lahan sawah untuk kepentingan di luar pertanian sekitar 80.000 hektar.

Selain itu, lanjut Bunasor, harus dilakukan konsolidasi manajemen lahan pertanian kecil yang memberi nilai tambah tinggi buat petani dari lahannya. Jika tidak, dorongan untuk melakukan alih fungsi lahan pertanian untuk kepentingan lain tidak bisa dihindarkan.

“Konsolidasi manajemen lahan kecil itu perlu, bukan konsolidasi kepemilikan. Sehingga pertanian dikelola dengan skala ekonomi dan itu bisa dilakukan dengan sistem pertanian kontrak, seperti pernah digagas mantan Mentan M Prakosa. Ini bisa dengan bagi hasil atau kepemilikan saham,” ujar Bunasor.

Seiring dengan itu, menurut Bunasor, harus dikembangkan industri pedesaan agar aliran finansial tetap di desa tidak mengalir ke kota. Harus diciptakan peluang bisnis di desa,” tuturnya.

situshijau.co.id, 22 Mei 2005

Read Full Post »

Anny Mulyani1, F. Agus1, dan David Allelorung2
1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111

ABSTRAK
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) akhir-akhir ini menjadi komoditas primadona karena berpotensi sebagai penghasil bahan bakar nabati (BBN). Selain jarak pagar, BBN juga dapat diperoleh dari kelapa sawit, kelapa, biji kapas,
canola, dan rapeseed (untuk biodiesel), serta ubi kayu, tebu, dan sagu (untuk bioetanol). Jarak pagar sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman obat dan penghasil minyak. Saat ini banyak masyarakat dan
investor yang tertarik untuk mengembangkan jarak pagar sehingga perlu diinformasikan wilayah-wilayah yang potensial baik ditinjau dari segi biofisik lahan, iklim maupun lingkungan. Untuk maksud tersebut telah disusun peta
kesesuaian lahan untuk jarak pagar pada skala eksplorasi (1:1.000.000) berdasarkan Peta Sumberdaya Lahan dan Arahan Tata Ruang Pertanian, serta Peta Sumberdaya Iklim skala 1:1.000.000. Hasil evaluasi kesesuaian lahan
menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk jarak pagar seluas 49,50 juta ha. Lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi kelas sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3) dengan luas berturut-turut 14,30 juta
ha, 5,50 juta ha, dan 29,70 juta ha. Untuk perencanaan pengembangan jarak pagar skala nasional, hasil evaluasi tersebut perlu ditumpangtepatkan (overlay) dengan data spasial penggunaan lahan terkini, karena sebagian besar
lahan yang sesuai tersebut sudah digunakan untuk komoditas lain atau untuk sektor nonpertanian.

Potensi pengembangan jarak pagar yang paling besar adalah pada lahan yang sementara tidak diusahakan (lahan terlantar) yang luasnya mencapai 12,40 juta ha serta padang rumput 3,10 juta ha. Sekitar 1 juta ha lahan alang-alang yang
tersebar di 13 provinsi telah diidentifikasi kesesuaiannya pada skala 1:50.000 untuk pengembangan pertanian.
Informasi sumber daya lahan hasil identifikasi tersebut dapat digunakan untuk mempercepat delineasi lahan untuk tanaman jarak pagar pada skala yang lebih detail.
Kata kunci: Jatropha curcas, sumber daya lahan, Indonesia (lebih…)

Read Full Post »

Abdurachman Adimihardja
Balai Penelitian Tanah, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123

ABSTRAK
Pengetahuan dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap multifungsi pertanian masih rendah. Fungsi pertanian yang paling dikenal masyarakat adalah sebagai penghasil produk pertanian, seperti padi, palawija, dan hortikultura,
yang nilai ekonomisnya lebih rendah dari nilai kegunaan di luar pertanian, seperti untuk industri, pertambangan, perdagangan, dan permukiman. Hal tersebut, ditambah dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat pedesaan
yang memerlukan pendapatan segera dan pemikiran tentang fungsi pertanian hanya dalam jangka pendek, menyebabkan konversi lahan diterima sebagai hal yang wajar, dan bukan sebagai masalah hilangnya multifungsi pertanian. Faktor lain yang mendorong percepatan proses konversi lahan pertanian adalah pembangunan
sektor lain yang membutuhkan lahan siap pakai terutama ditinjau dari karakteristik biofisik dan asesibilitas, yang umumnya terpenuhi oleh lahan pertanian beririgasi. Selain itu, kuantitas dan kualitas multifungsi pertanian menjadi berkurang dengan terjadinya degradasi lahan pertanian yang diakibatkan oleh banjir, longsor, erosi
tanah, dan sebagainya. Faktor-faktor pendorong hilangnya atau berkurangnya multifungsi pertanian tidak mungkin diubah hanya oleh masyarakat pengguna lahan pertanian, tetapi memerlukan fasilitas dan kebijakan pemerintah dengan strategi yang tepat dan tegas, namun harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Strategi utama untuk mempertahankan multifungsi pertanian di Indonesia adalah: 1) meningkatkan citra pertanian dan masyarakat tani, 2) mengubah kebijakan produk pertanian harga murah, 3) meningkatkan apresiasi terhadap multifungsi pertanian, 4) meningkatkan upaya konservasi lahan pertanian, dan 5) operasionalisasi penetapan lahan pertanian abadi sesuai Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.
Kata kunci: Multifungsi pertanian, degradasi lahan, konversi lahan, strategi (lebih…)

Read Full Post »

Kerusakan hutan di kawasan ekosistem Leuser yang berada di sekitar jalur Ladia Galaska ke arah Pinning, Kabupaten Gayo Lues, NAD pada September 2005.

Senin, 3 Maret 2008 | 14:00 WIB

JAKARTA, SENIN – Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Nasional WALHI, bersama dengan beberapa tokoh Republik Mimpi seperti Jarwo Kuat dan Effendi Gazali menyerahkan uang sejumlah Rp1.614.000 hasil donasi kepada Departmen Keuangan Republik Indonesia yang diwakili oleh Agoeng Adhianto, kepala humas Depkeu, untuk menyewa lahan hutan Indonesia selama dua tahun, Senin (3/3).

Penyerahan uang ini sebagai bagian dari aksi kepedulian lingkungan yang dilakukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menolak PP No.2/2008 tentang penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan hutan. Menurut Chalid, peraturan pemerintah ini jelas akan menimbulkan kerusakan hutan secara permanen.

“PP ini jelas akan mengijinkan pembukaan hutan lindung dan hutan produksi untuk kegiatan tambang dengan tarif sewa seharga seratus dua puluh hingga tiga ratus rupiah per meter persegi,” tegas Chalid. Dalam aksinya di depan kantor Depkeu, WALHI menggelar orasi, spanduk dan dagangan dari dua penjual gorengan sebagai simbol bahwa hutan Indonesia hanya dihargai senilai harga gorengan. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »