Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘tanaman hias’ Category

Menanam sayuran organik cukup mudah dilakukan sendiri di rumah.
Kamis, 13 Januari 2011, 13:51 WIB

Pipiet Tri Noorastuti

Sayuran organik (corbis.com)

VIVAnews – Menanam sayuran organik di rumah merupakan satu pilihan cerdas. Keluarga sehat bisa mengonsumsi makanan organik setiap hari. Rumah pun hijau dan cantik.

Menanam sayuran organik cukup mudah dilakukan sendiri di rumah. Perawatannya tak jauh berbeda dengan tanaman hias atau bunga. Cukup rawat dengan pupuk alami seperti kompos. Hindari pupuk kimia atau pestisida.

Tak perlu pula pekarangan atau kebun luas untuk menanamnya. Sayuran organik bisa tumbuh di dalam pot. Dengan pilihan pot yang menarik dan unik, Anda bisa menempatkannya di sudut-sudut ruang sebagai hiasan.

Sayuran organik memang banyak dilirik seiring meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Tapi banyak dari mereka kemudian mengurungkan niat mengonsumsi makanan organik lantaran harganya mahal. Harga sayur organik bisa 75 persen lebih mahal dibanding sayur biasa. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Tanaman hias, dipuja bagaikan primadona.
(iPhA/Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta ? Sebagian dari Anda tentu pernah merasakan terkena Gelombang Cinta. Menghanyutkan, bahkan bisa membutakan, dan acap tak tergantikan dengan uang. Tapi, Gelombang Cinta yang satu ini berbeda. Ia-lah sang primadona yang identik dengan uang!

Ya, Gelombang Cinta yang satu ini justru banyak dijajakan di tempat-tempat terbuka. Orang dengan gampang melihat-lihat dan menakar-nakarnya. Berminat, harga cocok, silakan angkut.

Tapi, jangan salah dan jangan berpikir yang bukan-bukan. Gelombang Cinta yang sedang jadi primadona ini bukanlah komoditas bagi para Om Senang. Ia tak berambut panjang, tak berkaki jenjang, tak sarat gincu dan wewangian.

Gelombang Cinta yang satu ini adalah sejenis tanaman hias. Anda yang suka bercocok tanam dan berkebun pasti mengenalnya. Dan, Anda pun pasti tahu tanaman ini masih menjadi primadona. Di setiap acara pameran dan bursa tanaman, ia termasuk yang diburu. Harganya bisa puluhan, bahkan ratusan juta rupiah.

Tengok saja aksi dan daya magnet Gelombang Cinta di ajang Trubus Agro Expo 2008, Sabtu (1/3) di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Dipamerkan bersama sederet tanaman top lain seperti Jemani Cobra, pakis bulu, kaktus, kamboja, dan lain-lain, Gelombang Cinta termasuk yang begitu menggoda perhatian.

Gelombang Cinta nan eksotis sungguh bisa menjadi sandaran hidup pelaku budidaya tanaman hias.

Simak pengalaman Budi (bukan nama sebenarnya), seorang pengusaha tanaman hias. Tiga bulan lalu, ia membeli 100 pohon Gelombang Cinta dengan harga Rp 11.000 per pohon. Selang beberapa hari, ia bisa menjual dengan harga Rp 300.000 per pohon. (lebih…)

Read Full Post »

Satu tanaman dalam pot kini ditransaksikan puluhan juta bahkan di atas satu miliar rupiah.Harganya semahal berlian. Rasanya mustahil tapi itulah yang terjadi pada bisnis tanaman akhir-akhir ini. Murni bisnis atau ulah mafia ?

Fenomena bisnis tanaman ini sedikit sulit dimengerti. Sebuah tanaman yang tampaknya biasa-biasa saja dijual dengan harga sangat mahal hingga miliaran rupiah. Namun tak lama kemudian harganya turun.

“Itu hanya permainan para pebisnis tanaman. Bisa dibilang mereka mafia. Semuanya dilakukan secara terencana dan jelas bisa mendatangkan uang berlimpah bagi sekelompok pedagang tanaman,” ujar Martono, warga Serpong Tangerang yang juga seorang kolektor tanaman hias, ketika ditemui di Tangerang, Sabtu (17/11). (lebih…)

Read Full Post »

Berita Baru dari Gurun

Anda pasti tahu kaktus. Tanaman berduri asal gurun pasir itu sudah kondang sejak era 70-an sebagai penghias teras rumah. Anda juga pasti tahu nilainya. Kisaran harga tanaman anggota keluarga Cactaceae itu Rp2.500-Rp10.000 per pot. Paling tinggi Rp2-juta, itu pun untuk tanaman yang sudah berumur lebih dari 20 tahun. Echinocactus grusonii alias barrel cactus alias golden ball cactus adalah contohnya.

Sekarang ada perkembangan menarik di dunia kaktus. Tanaman yang terkenal murah meriah itu ternyata kini muncul dengan sosok, corak, dan penampilan baru. Sebut saja Astrophytum myriostigma ‘onzuka’ guadricostatum, Astrophytum myriostigma ‘fukuryu’, dan Webbolnia pectinetera variegata. Onzuka istimewa karena pada areole-tempat tumbuh duri-membentuk huruf V putih. Biasanya V itu muncul di kelompok asterias. Sementara fukuryu, unik dengan tonjolan-tonjolan mirip kerak lava di permukaan kulit. Variegata pada pectinefera memunculkan paduan 3 warna sekaligus: hijau, kuning, dan merah muda.

Harganya pun bisa membuat orang terperangah. Ariocarpus ‘godzilla’ dijual seharga Rp12-juta dan pembelinya terpaksa memasuki daftar tunggu. Contoh lain Ariocarpus fissuratus ‘shiga kikko’ dijajakan dengan harga Rp7,8-juta; Ariocarpus furfuraceus dibanderol Rp7,8-juta. Kaktus asal gurun pasir itu bagi para pemain tanaman hias kini ibarat seteguk air di tengah keringnya bisnis tanaman hias.

Pembaca yang terhormat, harga hibrida-hibrida baru itu diprediksi bertahan lama. Penyebabnya dua: barang sedikit dan pertumbuhan kaktus terkenal lambat, tidak bisa diperbanyak secara massal dalam waktu singkat. Hibrida lama yang murah meriah pun permintaannya ajek dari tahun ke tahun. Dari Lembang, Jawa Barat – pusat kaktus Indonesia – setiap bulan keluar 150.000 pot, menyebar ke seluruh Indonesia.

Geliat bisnis kaktus sekarang memang tidak akan meroket seperti pengalaman booming di era 80-an. Namun, perjalanan lebih dari 20 tahun membuktikan, tanaman yang juga bisa dijadikan sumber makanan dan herbal itu layak dilirik menjadi pilihan bisnis. Permintaan tak pernah putus, tidak terpengaruh tren sesaat, dan harganya pun stabil.

petanibunga.com, 10 Mei 2009

Read Full Post »

Lidah Naga Super

Dulu, pernah muncul anthurium lidah naga dengan keunikan di ujung daun yang membentuk tekstur membelah mirip lidah reptil. Dengan struktur tubuh normal lebih dari 1 meter, membuat tampilannya semakin aduhai. Lalu, bagaimana jika tampilan anthurium lidah naga ini dibuat minisize? Apakah segarang pendahulunya?

Ukuran tampilan jenis anthurium ini memang relatif lebih kecil dibanding normalnya. Panjang per lembar daunnya kurang lebih 30-40 cm. Uniknya, ini merupakan ukuran maksimal tanaman. Secara keseluruhan tekstur tampilan, anthurium ini sama dengan satu jenisnya. Keunikan bentuk kerdilnya ini, sepertinya mampu menyihir minat setiap orang yang melihatnya. Bahkan, berpengaruh pada harganya yang mencapai Rp 1,2 juta per tanaman.
Kelainan jadi Tren
Siapa mengira, cacat atau kelainan pada tanaman seakan jadi tren setter di dunia tanaman hias saat ini. Padahal tujuan orang merawat tanamannya, agar bisa tampil sehat dan memiliki tampilan yang bagus. Tak ubahnya dengan saat ini, setiap orang berbondong-bondong memburu jenis tanaman yang mengalami kelainan fisik, baik yang disebabkan karena faktor genetik ataupun pengaruh lingkungan. Bahkan antusiasme penggemar tanaman hias ini seakan mengacuhkan harga yang dipatok.
“Ini soal rasa. Sama halnya dengan memahami seni rupa yang tak bisa diukur dengan materi. Kalau klik, kenapa tidak?” tandas Penggemar Anthurium di Semarang, Dodik.
Memang, kalau soal rasa tidak ada alasan untuk mengatakan salah atau benar. Sebab, sifatnya yang cenderung relatif. Perlu digaris bawahi di sini, bahwa untuk kelainan yang dialami pada tanaman sifatnya adalah natural atau alami. Artinya, kelainan atau cacat pada tanaman merupakan hasil dari proses alam – bukan buatan, sehingga karakter yang muncul pun akan terlihat alami, membuat harganya melambung tinggi.
Selain itu, tekstur yang dibuat oleh alam ini peluangnya sangatlah kecil. Tak semua tanaman akan mengalami fase ini. Terlebih, jika kelainan tampilan tanaman disebabkan oleh faktor genetik yang besar kemungkinan tak dapat diubah lagi. Namun kelainan untuk anthurium lidah naga kerdil satu ini, tak hanya disebabkan faktor genetik – dimana bisa membentuk tekstur belah di ujung daun. Tapi juga disebabkan oleh faktor lingkungan – sebagai penyebab kondisinya yang tumbuh kerdil.
Bentuk Kerdil
Proporsi tubuh yang kerdil ini akibat pengaruh lingkungan, terutama oleh faktor penyinaran. Sinar matahari yang berlebih, berpotensi untuk membuat tangkai daun anthurium lidah naga ini tetap tampil pendek, meski tak sesuai dengan usianya. Sebab, proses pertumbuhannya yang terhambat, dimana sel-sel yang ada pada tanaman tak bisa mengalir sempurna sesuai keadaan normal.
Idealnya, untuk jenis anthurium membutuhkan faktor lingkungan yang cukup teduh, dimana terdapat naungan untuk memperlancar siklus pertumbuhan dan pembentukan karakteristik daun. Itu sepertinya tidak diterapkan pada anthurium lidah naga minisize ini. Ia dibiarkan tumbuh dalam keadaan terbuka, dengan memanfaatkan sinar matahari langsung. Pantas saja, jika kondisi batang daunnya kecil, meski tanaman sudah berumur 1 tahun.
Kesimpulannya, untuk kelainan yang disebabkan oleh faktor lingkungan bisa dijadikan eksperimen untuk membentuk karakter tanaman. Namun itu bukan berarti perlakuan seperti ini tak membawa resiko. Sebab, kalau diterapkan secara asal dan tak sesuai dengan aturan, akan berdampak pada kerusakan daun. (lebih…)

Read Full Post »

TANAMAN HIAS KESEPIAN

PASOKAN BERLIMPAH, HARGA MULAI TERKOREKSI

Pamor tanaman hias anthurium mulai meluntur. Masa booming harga mulai berlalu. Bahkan, harga berbagai anthurium mulai merosot. Di kalangan pebisnis tanaman hias berembus kabar penurunan harga bila dirata-rata mencapai sekitar 40%.

Etje Anggoro, seorang pemain tanaman hias di Pondok Cabe yang sudah berkecimpung di tanaman anthurium sekitar 15 tahun, mencontohkan gelombang cinta sebagai anthurium yang mengalami penurunan harga. Saat ini harga bibit gelombang cinta yang memiliki daun sepanjang 7 cm – 8 cm sekitar Rp 25.000 saja. Padahal di masa booming, bibit gelombang cinta dengan spesifi kasi sama, harganya empat kali lipat dari harga sekarang.

Frankie Handoyo, pemilik stan Taman Anggrek Indonesia, mengakui penurunan harga. Ia menyebutkan, harga anthurium jenis hockery yang daunnya sekitar 5 cm – 10 cm tinggal sekitar Rp 75.000, padahal sebelumnya bisa mencapai Rp 150.000 per pot. Tren tanaman ini sudah mencapai titik balik, ungkap Frankie. Ia menambahkan gelombang pembelian anthurium kini terhenti. Penurunan harga terjadi karena melubernya pasokan barang, ujar Frankie. (lebih…)

Read Full Post »

Strategi membuat banyak website untuk memperbanyak pasar dilakukan oleh Teguh sejak tahun 2003. Awalnya ia membuat petanibunga.com. Selanjutnya tahun 2005, dibuat toekangboenga.com untuk penjualan adenium. Sementara untuk produk lainnya, seperti aglaonema, anthurium, dan philodendron dibuka – daoenbagoes.com. Sementara untuk pupuk dikembangkan web baru, yaitu tokopupuk.com.
 
Jangan Lupakan Domisili Nurserinya

Dunia maya memang mempesona. Tinggal “klik”, Anda sudah dapat berjuta informasi. Parahnya, kecanggihan teknologi internet ini juga banyak dimanfaatkan sebagai ladang bisnis, tak terkecuali bisnis tanaman hias on line. Namun Anda jangan terkecoh, karena banyak penipuan di bisnis ini.

Bisnis tanaman hias di Tanah Air memang sedang booming. Banyak nurseri bermunculan, mulai dari pedesaan hingga perkotaan. Ditambah, berbagai even tanaman hias marak digelar di berbagai daerah, membuat masyarakat akhirnya ‘terkontaminasi’ dengan hobi tanaman hias.

Bahkan kecanggihan teknologi pun dimanfaatkan oleh beberapa pelaku bisnis tanaman hias untuk menawarkan barang dagangannya secara on line. Dengan janji bla, bla, dan bla, akhirnya bisnis ini pun mencuat ke permukaan menyaingi bisnis nurseri. Bila diamati di beberapa website bisnis tanaman hias on line, koleksi tanaman hias yang ditawarkan pun bervariasi. Ada anthurium seharga ratusan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah, mulai bibitan, anakan hingga indukan. Ada adenium, sansevieria, euphorbia, anggrek, bonsai, pachypodium, stroberi, durian, dan masih banyak lagi.

Pebisnis on line balekembang.blogspot.com, Gusniar alias Bebenbegaul, mengatakan bisnis on line banyak untungnya. Salah satunya adalah bisnis on line tak perlu sewa tempat untuk membangun nurseri, untuk pembayaran websitenya hanya mengeluarkan sekitar Rp 1 juta setiap bulannya, dan tak perlu tempat luas untuk menata tanaman hias.

Beben mengaku, sudah tiga tahun lalu menekuni bisnis ini. Selama ini, konsumen yang sering ia tangani kebanyakan datang dari Banjarmasin, Lombok, Aceh, Palembang, Bekasi, dan Bandung.

“Kami melayani pemesanan secara grosir dan eceran. Hanya kesulitan kami adalah ketika ada konsumen yang komplain, karena pengiriman barang terlambat datang ke kotanya,” ujar Beben. “Pengiriman kan lewat jasa kurir atau distribusi. Jadi, kita tak tahu kendala yang janjinya on time, tapi ternyata molor dari hari yang ditentukan. Klaim dari konsumen masalah keterlambatan di luar jangkauan kita, karena menyangkut kondisi tanaman di tempat konsumen,” lanjutnya.

Komplain itu menurutnya wajar, karena biaya pengiriman barang ditanggung pembeli. Apabila ada konsumen yang memesan barangnya hanya satu jenis, ia pun tetap melayani, selama harga yang ditawarkan disetujui pembeli. Namun pembeli sebelumnya diberi pengertian bila sampai di lokasi barangnya ada kerusakan, itu karena biasanya ada spek khusus, namanya kirim jauh, barang darinya bagus, tapi kalau di kargonya dibanting-banting, maka pembeli tak boleh komplain. Jadi, tentunya konsumen sudah tahu resikonya.

“Bila dihitung-hitung, bisnis on line dengan nurseri keuntungannya hampir sama. On line kan hanya mempermudah sarana komunikasi dengan konsumen atau calon konsumen,” kata Beben.

Hindari Penipuan

Fenomena maraknya bisnis ini, membuat beberapa orang berpikir jahat, dengan membuat website palsu untuk menipu konsumen. Beben punya trik khusus untuk mengantisipasi hal ini, yaitu cek keberadaan nurserinya, agar kita tahu seperti apa kondisi nurseri dan produk tanamannya.

Sementara Teguh dari petanibunga.com mengatakan, konsumen sebaiknya jangan mudah terpesona dengan kehebatan atau kecanggihan websitenya. Itu bisa mengecoh. Lokasi penjual juga tak kalah penting. Jangan hanya karena harga barang yang ditawarkan murah atau penjualnya ramah, Anda melupakan domisilinya.

Website bagus, tak identik dengan bisa dipercaya. Siapa pun bisa membuat website bagus. Paling membuat aman, jika si penjual tanaman ada di internet itu atau dia punya situs sendiri, seperti http://www, bla, bla.com. Bukan menggunakan situs gratisan, seperti geocities. Sebab, bukan tak mungkin dia tiba-tiba bisa kabur meninggalkan situsnya atau kalaupun tidak, situs itu sendiri bisa saja tiba-tiba hilang (meninggalkan pemiliknya beserta kita), karena diblokir.

Nama, alamat, dan nomer telepon si penjual harus jelas. Nomor ponsel saja masih bisa mengecoh, apalagi jika dia menggunakan ponsel pra bayar. Bayangkan bila baik disengaja maupun tidak, dia tak bisa lagi dihubungi hanya karena katanya dia telah mengganti nomor ponselnya. Paling ideal, dia mencatumkan nomer telepon rumah, kantor atau paling sedikit nomer fax yang tak mudah digonta-ganti nomernya.

Dia harus mudah dihubungi. Sedikitnya dia memiliki beberapa nomer telepon yang bisa dihubungi atau ada alamat email. Syukur-syukur dia juga punya alamat Yahoo Messenger (YM) yang selalu on line. Jika ragu, Anda bisa menelepon atau berkirim SMS dulu. Dari itu, sedikitnya Anda bisa tahu sikap salesmanship dan kadar profesionalitasnya sebelum Anda menyimpulkan dia bisa dipercaya.

Tak kalah penting, si penjual harus memiliki kebun, nurseri, showroom/shop atau sedikitnya punya komoditi yang ditawarkan. Adalah buang waktu saja bila kita berurusan dengan makelar atau calo-calo tanaman. Mereka umumnya petualang. Bagaimana cara mengetahuinya? Anda bisa menyuruh rekan atau kenalan Anda di kota si penjual untuk menyelidikinya.

Lokasi penjual tak kalah penting. Jangan hanya karena harga barang yang ditawarkan murah atau penjualnya ramah, Anda melupakan domisilinya. Kalau si penjual tinggal di pelosok yang jauh dari bandara atau dari pusat keberadaan jasa ekspedisi, bisa dipastikan, tanaman yang bakal Anda terima akan runyam. Jelas tanaman dapat diramalkan akan lama di perjalanan, karena tanaman harus singgah beberapa kali transit. [ary] (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »