Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘plasma nutfah’ Category

 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang) Departemen Pertanian tugasnya antara lain melakukan konservasi plasma nuftah tanaman buah-buahan. Tujuannya agar tanaman buah yang sudah langka ini jangan sampai punah karena sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Untuk itu, di Subang, Jawa Barat, telah dibangun sebuah kebun percobaan plasma nutfah yang sekaligus juga dikembangkan sebagai objek wisata. Kebun ini seluas 108,52 ha di Kelurahan Subang, Kabupaten Subang. Tepatnya di belakang asrama Batalyon Infanteri 312/Kala Hitam.

Di sini terdapat 58 komoditas terdiri dari 48 varietas dan 2.718 pohon. Selain untuk pelestarian tanaman buah-buahan, juga sangat memadai untuk berwisata, terutama di saat panen buah-buahan. Bahkan dijual pula bibit tanaman buah-buahan, tanaman obat yang telah dikemas dalam kantong plastik dengan harga Rp 10.000-Rp 50.000/kantong. Juga Tabulapot (tanaman buah dalam pot) yang harga-nya Rp 50.000-Rp 500.000/pot.

situshijau.co.id, 14 September 2003

Iklan

Read Full Post »

(Semuel Leunufna)

Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura, Ambon

ABSTRACT

Strategic Use of the Bank Gene for the Conservation of Plant Germplasm. Semuel Leunufna. Convention on Biological Diversity held in Rio de Jenairo, Brasil, 1992, granted the right to posses and to manage the genetic resources to the countries in which the materials exist and evolve. This decision is surely beneficial for the diveloping/tropical countries which posses a great diversity of the biological resources, but at the same time it obligates them to participate actively in the conservation and sustainable use of the resources. Implementation of the Rio convention through ex situ conservation specificly through gene banks has been given a serious attention both by IPGRI and various nations in the world. Ex situ conservation through gene bank is useful as the back up to the in situ conservation and provides an easy means to access and to use the collected germplasm, beside its uses in the genetic improvement of the materials, readiness of the materials to be used in research, environmental restoration and recovery of genetic base in specific areas as well as in plant breeding. These benefits may be realized through a clear definition of the objectives followed by an effective implementation of an organizational structure and activities of the gene bank such as leadership, accession entry, reproduction, evaluation, collection, documentation and distribution. Furthermore, implementation of the results of Rio convention through ex situ conservation both nationally in several countries and internationally through the coordination of IPGRI as well as some challenges faced by Indonesia are discussed.

Key words: Genetic resources, bank gene, ex situ

Sejak berakhirnya konvensi biodiversitas di Rio de Jenairo, Brasil, 1992, plasma nutfah atau sumber daya genetik tidak lagi merupakan kekayaan dunia di mana setiap penduduk dunia dapat mengeksplorasi, mengklaim hak kepemilikan (mempatenkan) dan memanfaatkannya secara bebas, akan tetapi merupakan kekayaan setiap negara di mana sumber daya genetik itu berada dan berkembang (sebagai aset nasional tiap negara). (lebih…)

Read Full Post »

(Sri Astuti Rais)

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor

ABSTRACT

Germplasm as a Source for Developing New Elite Varieties of Groundnut. Sri Astuti Rais. Germplasm is one of the important resource, other than soil, water and air, that must be kept to conserved. It contain a lot of valuables traits that will be very useful for facilitating plant improvement. A high variability inside of this germplasm can be used for developing new varieties which have a specific character in its own such as tolerance to disease, tolerance to aluminum toxicity, drought tolerance, tolerance to shading, variety which has short-day maturity and high nutritional quality. Until 2002, gene bank of ICABIOGRAD-Bogor, already conserve 1146 accessions of groundnut. It consist of 176 accessions of introduced varieties, 374 accessions of local varieties, 2 accessions of wild species, and 565 accessions of breeding-lines derived from breeding population conducted in Bogor and Sukamandi. Evaluation of groundnut germplasm has been conducted in Bogor and RILET-Malang, and the results showed that 20 accessions are tolerance to acid soil, 30 accessions are drought tolerance, 26 accessions are tolerance to shading, 18 accessions have a short-day maturity, 51 accessions are tolerance to Bacterial wilt (Pseudomonas solanacearum), 43 accessions are tolerance to Rust disease (Puccinia arachidis), 25 accessions are tolerance to Leaf spot (Cercospora sp.), 31 accessions have protein content 32-34%, and 25 accessions have a high oil content (more than 45%). These selected germplasm can be recommended to be used as a parents for groundnut breeding program in Indonesia.

Key words: Groundnut, germplasm, source

Plasma nutfah adalah sumber daya alam keempat di samping sumber daya air, tanah, dan udara yang sangat penting untuk dilestarikan. Pelestarian plasma nutfah sebagai sumber genetik akan menentukan keberhasilan program pembangunan pangan. Kecukupan pangan yang diidamkan akan tergantung kepada keragaman plasma nutfah yang dimiliki karena pada kenyataannya varietas unggul, yang sudah, sedang, dan akan dirakit (lebih…)

Read Full Post »

Perubahan iklim merupakan topik yang hangat dibicarakan saat ini baik oleh masyarakat, pengambil keputusan dan para pakar. Salah satu alasan mengapa perubahan iklim perlu mendapat perhatian yang cukup besar adalah karena perubahan iklim global yang disebabkan antara lain oleh pemanasan global, mempunyai pengaruh pada sistem hidrologi bumi, yang pada gilirannya berdampak pada struktur dan fungsi ekosistem alami dan kehidupan manusia. Dampak yang mudah terlihat adalah frekuensi dan skala banjir serta musim kering yang panjang, yang terjadi di banyak bagian dunia, termasuk Indonesia.

Dalam pernyataannya menyambut Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang diperingati setiap tanggal 22 Mei 2007, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, perubahan iklim juga telah dirasakan berdampak pada pertanian, ketahanan pangan, kesehatan manusia, dan pemukiman manusia, lingkungan, termasuk sumber daya air dan keanekaragaman hayati. “Akibat nyata dampak perubahan iklim terhadap spesies sebagai komponen keanekaragaman hayati adalah berupa perubahan dalam kisaran penyebaran, meningkatnya tingkat kelangkaan, perubahan waktu reproduksi, dan perubahan dalam lamanya suatu musim tanam,” ujarnya. (lebih…)

Read Full Post »

Eksplorasi

    1. Eksplorasi adalah kegiatan mencari, mengumpulkan, serta meneliti jenis varietas lokal tertentu (di daerah tertentu) untuk mengamankan dari kepunahannya. Langkah ini diperlukan guna menyelamatkan varietas-varietas lokal dan kerabat liar yang semakin terdesak keberadaannya, akibat semakin intensifnya penggunaan varietas-varietas unggul baru. Kegiatan eksplorasi sebaiknya dilakukan di daerah sentra produksi, daerah produksi tradisional, daerah terisolir, daerah pertanian lereng-lerang gunung, pulau terpencil, daerah suku asli, daerah dengan system pertanian tradisional/belum maju, derah yang masyarakatnya menggunakan komoditas yang bersangkutan sebagai makanan pokok, daerah epidemik hama/penyakit, serta daerah transmigrasi lama dan baru.
      Dalam lima tahun terakhir, telah dilakukan serangkaian kegiatan eksplorasi ke Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Irian Jaya, Kabupaten Sukabumi dan Lebak (Jawa Barat) (tahun 1998/1999), Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Riau dan Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat) (tahun 2000), Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur (2001), Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan (2002), Provinsi Sulawesi Tenggara (2003), serta Provinsi Kalimantan Timur dan Jawa Barat (2005). (lebih…)

Read Full Post »


Edisi Pertama Tahun 2004

ISBN 979-3919-01-9

Penyusun:

Hakim Kurniawan, Ida Hanarida Somantri, T. Sudiaty S., Sri Gajatri B., Hadiatmi, Asadi
Nurwita Dewi, Sri Astuti Rais, Nani Zuraida, Minantyorini, Tintin Suhartini, Mamik Setyowati

Penerbit:
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen), Bogor

Plasma nutfah merupakan bahan genetik yang memiliki nilai guna, baik secara nyata maupun yang masih berupa potensi. Wilayah Indonesia yang membentang luas dengan kondisi geografi dan ekologi yang bervariasi telah menciptakan keanekaragaman plasma nutfah yang sangat tinggi. Tingginya tingkat keanekaragaman plasma nutfah tersebut telah memberikan peluang untuk mendapatkan manfaat yang tinggi pula. Dengan tingginya keanekaragaman plasma nutfah, maka terbuka peluang yang besar pula bagi upaya mencari dan memanfaatkan sumber-sumber gen penting yang ada untuk program pemuliaan. Oleh karena itu, tingginya keanekaragaman plasma nutfah memiliki aspek yang sangat penting untuk dipertahankan. (lebih…)

Read Full Post »

Koleksi plasma nutfah pertanian BB-Biogen terdiri atas:

Plasma nutfah tanaman pangan, sebanyak 10.592 aksesi (23 komoditas). Perincian banyaknya koleksi masing-masing komoditas adalah sebagai berikut:

Konservasi benih ortodoks plasma nutfah tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, sorgum dan kacang-kacangan) dilakukan secara:

    • metode penyimpanan di ruang dingin dengan kondisi suhu 14 sd. 18 derajat Celcius untuk penyimpanan jangka pendek (short term).
    • penyimpanan di dalam cold storage dan chiller bersuhu 0 sd. -5 derajat Celcius untuk penyimpanan jangka menengah (medium term).
    • penyimpanan di dalam freezer bersuhu -18 sd. -20 derajat Celcius untuk penyimpanan jangka panjang (long term).
Penyimpanan jangka pendek
Penyimpanan jangka menengah
Penyimpanan jangka panjang

Untuk plasma nutfah ubi-ubian (ubikayu, ubijalar dan ubi-ubian minor), konservasi dilakukan dalam bentuk tanaman di lapang (field gene bank) .

Field gene bank ubikayu
Field gene bank ubijalar
Field gene bank ubi-ubian minor

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »