Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2009

Indonesia merupakan negara kedua terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati. Terdapat sekitar 30.000 jenis (spesies) yang telah diidentifikasi dan 950 spesies diantaranya diketahui memiliki fungsi biofarmaka, yaitu tumbuhan, hewan, maupun mikroba yang memiliki potensi sebagai obat, makanan kesehatan, nutraceuticals, baik untuk manusia, hewan maupun tanaman. Dengan kekayaan tersebut Indonesia berpeluang besar untuk menjadi salah satu negara terbesar dalam industri obat tradisional dan kosmetika alami berbahan baku tumbuh-tumbuhan yang peluang pasarnya pun cukup besar.

Sebagai salah satu alternatif pengembangan biofarmaka, fitofarmaka atau lebih dikenal dengan tanaman obat, sangat berpotensi dalam pengembangan industri obat tradisional dan kosmetika Indonesia. Selama ini, industri tersebut berkembang dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang diperoleh dari hutan alam dan sangat sedikit yang telah dibudidayakan petani. Bila adapun, teknik budidaya dan pengolahan bahan baku belum menerapkan persyaratan bahan baku yang diinginkan industri , yaitu bebas bahan kimia dan tidak terkontaminasi jamur ataupun kotoran lainnya. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

WARISAN PUSAKA INDONESIA

Rabu, 19 Maret 2008
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebih kurang 30.000 jenis tanaman, di mana 2.500 jenis di antaranya merupakan tanaman obat. Indonesia sebagai negara agraris juga memiliki hutan dan lahan pertanian yang luas serta menyimpan kekayaan alam yang besar. Berdasarkan hal itu, Indonesia mewariskan budaya pengobatan tradisional yang telah dikenal sejak dulu dan dilestarikan secara turun-temurun.

Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Farid Anfasa Moeloek mengatakan, budaya bangsa Indonesia telah mewariskan kebiasaan minum jamu dan ramuan tradisional (herbal) lainnya untuk pemeliharaan kesahatan dan pencegahan penyakit. Bahkan kalangan dokter juga menerima dan mengakui obat-obatan berbahan alami yang terbukti khasiat, termasuk keamanannya jika dikonsumsi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak lantas memudarkan peran jamu dan produk herbal lainnya dalam memelihara kesehatan masyarakat. Bahkan produk ramuan alami tersebut justru semakin dikenal di dunia, karena terbukti berkhasiat untuk memelihara kesehatan hingga mencegah dan mengobati penyakit.
“Obat modern, farmasi, memiliki efek samping yang sulit dihindarkan dalam penggunaan yang cukup lama. Sebaliknya, obat berbahan baku alami, seperti jamu dan produk herbal lainnya, relatif lebih aman dikonsumsi. produk ini juga tergolong murah dan mudah didapat. Apalagi hingga saat ini terdapat penyakit tertentu yang belum bisa diobati dengan obat-obat kimia,” tutur Farid. (lebih…)

Read Full Post »

28 November 2005, 14:35 WIB Jakarta, SeninKadar gas-gas rumah kaca – khususnya karbon dioksida dan metana – di atmosfer Bumi saat ini lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya, dalam 650 ribu tahun terakhir. Inilah kesimpulan para peneliti setelah mempelajari sampel lapisan-lapisan es dari kedalaman tiga kilometer di bawah permukaan Benua Antartika.Dalam laporannya, para ilmuwan juga menunjukkan terjadinya kondisi pemanasan global yang luar biasa. Sementara penelitian lain, yang sama-sama dipublikasikan dalam jurnal Science, menunjukkan bahwa tinggi permukaan air laut kemungkinan meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan satu abad lalu.

Bukti-bukti konsentrasi atmosfer tersebut diambil dari sebuah daerah di Antartika yang disebut dengan Dome Concordia (Dome C). Para peneliti telah mengebor lapisan es di Dome C sedalam 3.270 meter atau sebanding dengan lapisan es yang terbentuk selama sekitar 900 ribu tahun. Para ilmuwan yang terlibat dalam European Project for Ice Coring in Antarctica (Epica) ini telah melakukan penelitian lebih dari lima tahun yang dimulai sejak 1999.

Gelembung gas yang terjebak dalam es menjadi bukti penting yang menunjukkan campuran gas di atmosfer dan suhu pada waktu tertentu. “Satu hal yang terpenting yaitu kita dapat memandang kadar karbon dioksida dan metana sekarang dalam konteks jangka panjang,” kata kepala penelitian Thomas Stocker dari Universitas Bern, Swiss.

Para peneliti menemukan bahwa kadar karbon dioksida 30 persen lebih tinggi dan metana 130 persen lebih tinggi daripada ratusan ribu tahun yang lalu. Tingkat kenaikan karbon dioksida bahkan 200 kali lebih cepat daripada tahun-tahun sebelumnya dalam 650 ribu tahun terakhir.

Hubungan yang stabil

Tahun lalu, tim Epica telah mengeluarkan data pertamanya. Dua makalah terakhir mereka menganalisis komposisi gas dan temperatur pada 650 ribu tahun lalu. Hal ini memperluas gambaran inti es Antartika dari dekat Danau Vostok yang meneliti kondisi atmosfer 440 ribu tahun yang lalu.

Data tambahan ini sangat diperlukan karena sekitar 420 ribu tahun terjadi perubahan pola iklim Bumi dalam jangka panjang di sana. Sebelum dan sesudah itu, planet menjalani siklus perubahan periode pembekuan dan pencairan es yang berlangsung setiap 100 ribu tahun.

Inti Dome C menunjukkan data dari enam pola siklus, dua sebelum terjadi perubahan, dan empat sesudahnya. Dari sana terlihat bahwa selama 420 ribu tahun ini, pola siklusnya berubah di mana kondisi ekstrem saat hangat dan dingin terlihat semakin mencolok.

“Kami menemukan hubungan yang sangat erat antara karbondioksida dan suhu bahkan sebelum 420 ribu tahun yang lalu,” kata Profesor Stocker. Pada kenyataannya, lanjut Stocker, hubungan yang terlihat dalam setiap pergantian antar periode iklim ini mengindikasikan bahwa karbon dioksida memegang peranan penting dalam pengaturan iklim.

Untuk memastikannya, para ilmuwan Epica berencana memperluas analisis mereka untuk kondisi pada rentang waktu yang lebih lama.

Kenaikan permukaan air laut

Penelitian lain yang dimuat dalam jurnal yang sama mengklaim bahwa selama 150 tahun terakhir permukaan air laut telah meningkat. Tingkat kenaikannya dua kali lebih cepat dibandingkan seabad lalu.

Menggunakan data dari pengukuran pasang naik dan pasang turun serta melihat kembali temuan dari berbagai penelitian sebelumnya, para peneliti Amerika telah menyusun rekaman tingkat permukaan air laut dalam 100 juta tahun terakhir. Dari perhitungan yang mereka lakukan, diketahui bahwa tingkat kenaikannya saat ini mencapai 2 milimeter pertahun.

“Hal terpenting bahwa perubahan tersebut terjadi sejak abad ke-19 dan pengamatan secara modern dilakukan sejak meluasnya penggunaan bahan bakar fosil serta naiknya kadar gas rumah kaca,” ungkap Kenneth Miller dari Universitas Rutgers.

The Intergovernmental Panel on Climate Change, badan yang mengumpulkan fakta alamiah untuk kepentingan para pembuat keputusan, juga menyimpulkan bahwa permukaan air laut naik hingga satu sampai dua milimeter setiap tahun di abad sebelumnya dan akan menambah kenaikan hingga 88 centimeter di abad ini.(k-1)

-Kompascybermedia

Read Full Post »

Selasa , 05 Februari 2008 , 13:42:53 wib

Kisdiantoro

CIPATAT, TRIBUN – Menteri Kehutanan MS Kaban menyebutkan, tutupan hutan di Pulau Jawa idealnya sebanyak 30 persen dari daratan terbuka. Hanya saja, saat ini tutupan hutan hanya tinggal 19 persen saja.”Angka 19 persen harus ditambah dari tahun ke tahun. Tapi, potensinya malah semakin berkurang,” jelas MS Kaban pada acara Program Nasional Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan 2008, di Pusdikif TNI AD, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Selasa (5/2) pagi.

Menurutnya, program penananaman 100 ribu hutan yang dicanangkan pemerintah, saat ini sudah terlaksana dengan penanaman sebanyak 74 juta pohon.

Untuk melakukan perbaikan hutan, Menhut mengharapkan keterlibatan semua elemen masyarakat. Alasannya, upaya konservasi hutan dan sumber air tak bisa ditunda.

Bila hutan terpelihara, maka tanah longsor, banjir, hilangnya flora dan fauna, termasuk kebakaran hutan bisa dicegah. Sebaliknya, bila hutan rusak, maka lahan tak mampu lagi menyerap dan menampung air.

Penanaman sejumlah pohon di area Pusdikif seluas 400 hektare diharapkan bisa membantu program pemerintah mengatasi masalah kerusakan hutan. Selain itu, akan menjadi sumber ekonomi karena setelah 10 tahun berjalan kayu bisa dipanen. (nip)

tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=2100&kategori=9

Read Full Post »

J.T. Yuhono
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Jalan Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111

ABSTRAK
Lada (Piper nigrum L.) merupakan komoditas ekspor potensial di Indonesia. Pada tahun 2005 produksi lada Indonesia menduduki urutan kedua dunia setelah Vietnam. Lada menyumbang devisa negara terbesar keempat untuk komoditas perkebunan setelah minyak sawit, karet, dan kopi. Lada Indonesia masih mempunyai kekuatan dan peluang untuk dikembangkan, karena lahan yang sesuai untuk lada cukup luas, biaya produksi lebih rendah dibanding negara pesaing, tersedianya teknologi budi daya lada yang efisien, serta adanya peluang melakukan diversifikasi produk apabila harga lada jatuh. Namun, kenyataan di lapang menunjukkan, sistem agribisnis lada menghadapi berbagai kendala, kelemahan dan ancaman. Pada subsistem bagian hulu, harga sarana produksi cukup tinggi serta
prasarana jalan di daerah pengembangan belum baik. Pada subsistem produksi (on farm), teknologi produksi yang diterapkan petani masih konvensional dengan pola tanam sebagian besar monokultur. Sedangkan pada subsistem hilir, pengolahan produk belum higienis, dan adanya ancaman dari negara pesaing. Pada subsistem pendukung, kendalanya adalah peran kelembagaan di tingkat petani sampai tingkat pemasaran belum berpihak kepada petani.

Tulisan ini bertujuan untuk mencari strategi pengembangan sistem agribisnis lada. Dengan pendekatan analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats) diperoleh alternatif strategi pengembangan sistem agribisnis lada melalui beberapa kebijakan, yaitu: 1) mengembangkan lada melalui perluasan areal pada daerah yang sesuai dengan menggunakan teknologi rekomendasi, 2) mempertinggi daya saing lada melalui peningkatan produktivitas dan mutu hasil serta diversifikasi produk, dan 3) meningkatkan peran kelembagaan petani sampai dengan kelembagaan pasar dalam dan luar negeri.
Kata kunci: Lada, agribisnis, strategi, pengembangan (lebih…)

Read Full Post »

Nasrun1 dan Yang Nuryani2
1Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Laing, Kotak Pos 1, Solok, Sumatera Barat
2Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Jalan Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111
ABSTRAK
Penyakit layu bakteri merupakan salah satu penyakit penting pada nilam di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum dan dapat menurunkan produksi nilam 60?80% sehingga menjadi kendala dalam peningkatan produktivitas nilam. Pengendalian patogen dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan yaitu Sidikalang, teknik budi daya (pemupukan, bahan organik, dan mulsa), pestisida hayati (Pseudomonas fluorescens dan Bacillus spp.), pestisida nabati (serai
wangi), pengendalian kimiawi (bakterisida), dan membatasi penyebaran patogen dari daerah terinfeksi ke daerah yang tidak terinfeksi. Pengendalian penyakit layu bakteri harus dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan berbagai teknik pengendalian.
Kata kunci: Nilam, Ralstonia solanacearum, pengendalian hayati, pengendalian terpadu

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan komoditas ekspor penting
di Indonesia. Ekspor minyak nilam mencapai 1.276 ton dengan nilai US$ 19.264
juta (Direktorat Jenderal Perkebunan 2006). Indonesia merupakan pengekspor minyak nilam terbesar di dunia dengan memasok hampir 90% kebutuhan minyak nilam dunia (Asman 1996). Oleh karena itu, minyak nilam diharapkan dapat meningkatkan sumber pendapatan negara dari sektor nonmigas.

Minyak nilam mempunyai prospek baik untuk memenuhi kebutuhan industri
parfum dan kosmetik (Hernani dan Risfaheri 1989; Asnawi dan Putra 1990).
Minyak nilam dapat pula digunakan sebagai antiseptik, insektisida, dan
aromaterapi (Robin 1982; Mardiningsih et al. 1995). Patchouli alcohol merupakan
komponen utama minyak nilam dan digunakan sebagai indikator kualitas minyak
nilam (Nurjanah dan Marwati 1998).
Pada umumnya pertanaman nilam di Indonesia diusahakan oleh petani yang
tersebar di 14 sentra produksi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sebagian di Jawa (Dhalimi et al. 1998). Produktivitas dan mutu minyak nilam Indonesia masih sangat rendah dengan kadar minyak 1?2% (Rusli et al. 1993). Pada tahun 2003 produktivitas rata-rata nilam hanya 199,48 kg/ha/tahun (Direktorat Jenderal Perkebunan 2006).

Salah satu penyebabnya adalah seranganpenyakit antara lain penyakit layu bakteri
yang dapat menurunkan produksi 60?80% (Asman et al. 1993). Penyakit ini telah menyebar hampir di seluruh sentra produksi nilam di Sumatera Barat, NAD, dan
Sumatera Utara, bahkan akhir-akhir ini telah ditemukan di Jawa Barat dan Jawa
Tengah.
Penyakit layu bakteri pada nilam disebabkan oleh Ralstonia solanacearum
(Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et al. 1997; Asman et al. 1998; Supriadi et al.2000; Nasrun 2005). Penyakit ini menyebar melalui bahan tanaman, dan menyerang tanaman muda sampai tanaman berproduksi (Sufiani dan Hobir 1998).

Kondisi lingkungan yang cocok untuk perkembangan penyakit dapat mendorong penyakit berkembang secara pesat (Supriadi et al. 2000). Ditambah lagi petani belum melakukan pengelolaan penyakit secara benar, seperti menggunakan setek nilam sebagai bibit dari kebun yang terinfeksi penyakit layu bakteri, membiarkan sisasisa tanaman sakit, dan tidak melakukan pemupukan sehingga dapat memacu perkembangan penyakit layu bakteri.

Strategi pengendalian penyakit layu bakteri didasarkan pada konsep pengendalian
yang tepat berdasarkan pertimbangan kelayakan teknologi, ekologi,
ekonomi, dan sosial budi daya. Pengendalian bakteri patogen akan lebih efektif
bila dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan berbagai teknik pengendalian, meliputi varietas tahan atau toleran, teknik budi daya (pergiliran
tanaman, bahan organik, pemupukan), pengendalian menggunakan agens hayati,
pestisida nabati dan kimiawi, serta membatasi penyebaran bakteri patogen termasuk peraturan karantina.
PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM

Gejala Penyakit Di lapangan, penyakit layu bakteri nilam menyebar secara merata pada satu areal pertanaman dengan gejala daun layu dan diakhiri dengan kematian tanaman dalam waktu singkat (Gambar 1). Gejala awal serangan penyakit berupa salah satu daun pucuk layu dan diikuti dengan daun bagian bawah. Setelah terlihat gejala lanjut dengan intensitas serangan di atas 50%, tanaman akan mati dalam waktu 7?25 hari.

Pada serangan lanjut, akar dan pangkal batang membusuk dan terlihat adanya
massa bakteri berwarna kuning keputihan seperti susu. Bentuk gejala ini merupakan
ciri khas dari serangan patogen penyebab penyakit layu bakteri (Nasrun 2005).


Bila potongan batang nilam yang terinfeksi direndam di dalam air maka akan
terlihat aliran massa bakteri patogen. Hasil pengamatan pada sayatan tipis batang
tersebut secara mikroskopis menunjukkan adanya massa bakteri patogen yang keluar dari jaringan pembuluh kayu. Melalui metode ini dapat diketahui secara pasti
bahwa nilam yang bergejala layu tersebut telah terinfeksi oleh bakteri patogen
pembuluh kayu. Metode ini merupakan karakterisasi awal secara makroskopis dan
mikroskopis serangan bakteri patogen pembuluh kayu (Nasrun 2005).

Sifat-sifat Bakteri Patogen (lebih…)

Read Full Post »

Anny Mulyani1, F. Agus1, dan David Allelorung2
1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111

ABSTRAK
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) akhir-akhir ini menjadi komoditas primadona karena berpotensi sebagai penghasil bahan bakar nabati (BBN). Selain jarak pagar, BBN juga dapat diperoleh dari kelapa sawit, kelapa, biji kapas,
canola, dan rapeseed (untuk biodiesel), serta ubi kayu, tebu, dan sagu (untuk bioetanol). Jarak pagar sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman obat dan penghasil minyak. Saat ini banyak masyarakat dan
investor yang tertarik untuk mengembangkan jarak pagar sehingga perlu diinformasikan wilayah-wilayah yang potensial baik ditinjau dari segi biofisik lahan, iklim maupun lingkungan. Untuk maksud tersebut telah disusun peta
kesesuaian lahan untuk jarak pagar pada skala eksplorasi (1:1.000.000) berdasarkan Peta Sumberdaya Lahan dan Arahan Tata Ruang Pertanian, serta Peta Sumberdaya Iklim skala 1:1.000.000. Hasil evaluasi kesesuaian lahan
menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk jarak pagar seluas 49,50 juta ha. Lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi kelas sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3) dengan luas berturut-turut 14,30 juta
ha, 5,50 juta ha, dan 29,70 juta ha. Untuk perencanaan pengembangan jarak pagar skala nasional, hasil evaluasi tersebut perlu ditumpangtepatkan (overlay) dengan data spasial penggunaan lahan terkini, karena sebagian besar
lahan yang sesuai tersebut sudah digunakan untuk komoditas lain atau untuk sektor nonpertanian.

Potensi pengembangan jarak pagar yang paling besar adalah pada lahan yang sementara tidak diusahakan (lahan terlantar) yang luasnya mencapai 12,40 juta ha serta padang rumput 3,10 juta ha. Sekitar 1 juta ha lahan alang-alang yang
tersebar di 13 provinsi telah diidentifikasi kesesuaiannya pada skala 1:50.000 untuk pengembangan pertanian.
Informasi sumber daya lahan hasil identifikasi tersebut dapat digunakan untuk mempercepat delineasi lahan untuk tanaman jarak pagar pada skala yang lebih detail.
Kata kunci: Jatropha curcas, sumber daya lahan, Indonesia (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »