Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘bunga potong’ Category

KRISAN

Hasil perhitungan secara terperinci dan nilai besaran yang digunakan dapat dilihat pada Tabel Lampiran Krisan.

1). Asumsi Dasar

GUsaha budidaya krisan dilakukan di daerah yang mempunyai ketinggian minimum 800 m dpi dengan kelembaban udara antara 70 – 90%. Budidaya krisan dilakukan di dalam rumah naungan bertipe jogio berukuran 7 x 30 m. Di dalam rumah naungan tersebut dibuat 4 bedengan ukuran 1 x 30 m di mana di atasnya ditanam krisan dengan jarak tanam 12,5 x 12,5 cm. Luas efektif lahan yang dapat ditanami krisan adalah 120 m2 Dalam bentuk luasan tersebut dapat ditanami bibit krisan sebanyak 8.676 batang. Untuk meningkatkan pertumbuhan, diberikan cahaya tambahan di malam hari. Cahaya tersebut diberikan dari lampu TL berdaya 40 W sebanyak 14 buah yang terpasang dalam 2 jalur memanjang. Pemberian air dilakukan dengan sistem irigasi tetes (drip irrigation). Biaya konstruksi untuk 1 unit rumah naungan lengkap dengan instalasi listrik, irigasi tetes dan peralatan pertanian diperkirakan Rp 9.950.000.

Produksi bunga yang memenuhi syarat untuk dijual diperkirakan sekitar 75% dari bibit yang ditanam. Dalam 1 tahun diasumsikan dapat dilakukan 3 kali kegiatan penanaman dan pemanenan.

Skala usaha yang digunakan sebagai dasar perhitungan analisa finansial adalah usaha bunga potong yang menggunakan 4 (empat) unit rumah naungan. Biaya investasi yang diperlukan diperkirakan Rp 48.001.929 . Biaya tersebut diharapkan dari kredit perbankan dengan bunga 24,00% per tahun dan berjangka waktu 5 tahun atau 60 bulan termasuk 6 bulan masa tenggang. Dengan memperhitungkan bunga selama masa tenggang, maka jumlah kredit yang diberikan menjadi Rp 53.762.160.

2). Neraca Usaha


[gali selengkapnya….]

Iklan

Read Full Post »

PELUANG PASAR

Aspek pemasaran bunga potong merupakan aspek yang penting karena hal ini menyangkut kelangsungan usaha para petani dan pengusaha bunga potong. Pasar bunga potong mempunyai ciri tersendiri yang pada segmen pasarnya; Banyaknya petani/pengusaha yang berkecimpung dalam usaha bunga potong, mengharuskan seorang petani/pengusaha untuk dapat menentukan segmen pasar produknya yang dianggap paling menguntungkan. Adanya beberapa segmen pasar bunga potong, seperti florist, dekorator, hotel, restoran, perkantoran, catering, supermarket dan lain-lain, menunjukkan bahwa usaha bunga potong diyakini masih memiliki peluang yang layak untuk dikembangkan. Hasil penelitian soekartawi (1996) di Surabaya menunjukkan bahwa elastisitas permintaan terhadap bunga potong mencapai 0,214. Hal ini menunjukkan bahwa usaha bunga potong masih mempunyai peluang usaha yang cukup baik untuk dikembangkan. Indikator lain yang menunjukkan optimisme terhadap prospek usaha bunga potong tersebut adalah bahwa Indonesia, selain mengimpor juga mengekspor bunga potong (lihat Tabel 1.). hal ini menunjukkkan bahwa komoditi bunga potong bersifat elastis terhadap permintaan.

Tabel 1.
Ekspor Dan Impor Tanaman Hias (Bunga-Bungaan) di Indonesia

Tahun

Ekspor

Impor

Neraca (Ekspor-Impor)

Volume (Ton)

Nilai
(000 US$)

Volume (Ton)

Nilai
(000 US$)

Volume (Ton)

Nilai
(000 US$)

1986

730

291

77

523

653

(232)

1987

1.102

608

20

114

1.082

494

1988

1.652

1.371

70

553

1.582

818

1989

464

1.937

103

1.059

361

878

1990

307

174

409

1.172

(102)

(998)

1991

507

688

279

1.146

228

(458)

1992

1.421

2.155

48

1.183

1.373

972

1993

2.182

2.604

21

599

2.161

2.005

1994

1.558

2.147

32

337

1.526

1.810

1995

695

1.630

111

640

584

990

1996

739

1.752

214

817

525

935

1997

182

315

98

1.330

84

(1.015)

1998

18

5

68

426

(50)

(421)

Keterangan : untuk tahun 1998 angka yang tercantum s/d Oktober 1998
Sumber : Direktorat Binus dan Pangolahan Hasil TPH, Deptan, 1999

[baca selengkapnya…]

Read Full Post »

LATAR BELAKANGTanaman hortikultura, khususnya bunga potong (cut flower) merupakan komoditi yang sangat khas, di mana para pengusaha dituntut untuk lebih memberikan perhatian khusus dalam pengusahaannya yang didasarkan atas ketrampilan seni, ketrampilan dalam hal penguasaan teknologi budidaya dan kemampuan dalam memperdagangkan hasil produksi. Pengusaha bunga potong juga dituntut dapat untuk memperdagangkan produksinya dalam keadaan segar dan menampilkan bentuk dan warna produksinya yang secara artistik mampu menarik calon konsumen.

Sejalan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, maka konsumsi bunga potong akan cenderung meningkat.Persepsi masyarakat terhadap bunga potong semakin positif sehingga penggunaan bunga potong tidak hanya terbatas untuk sekedar hiasan belaka, tetapi juga dapat diberikan untuk ucapan selamat, ucapan simpati, kegiatan keagamaan, upacara perkawinan, dan sebagainya. Dengan makin luasnya penggunaan bunga potong, maka persaingan dalam pengembangan komoditi ini juga semakin meningkat. Pengembangan teknologi yang memungkinkan untuk menghasilkan bunga potong berwarna-warni, bentuk yang menarik, tahan lama dan harganya relatif terjangkau. Adanya segmen pasar untuk masyarakat golongan tertentu yang mempunyai selera eksklusif dan fanatik terhadap jenis bunga tertentu yang belum dapat dihasilkan di dalam negeri menyebabkan semakin meningkatnya impor bunga potong. Di lain pihak, lembaga-lembaga penelitian dan para nursery di dalam negeri telah mengembangkan varietas-varietas baru yang mempunyai daya saing yang kuat dengan produk impor, juga dengan adanya teknologi budidaya yang semakin dikuasai dan efisien menyebabkan harga jual bunga potong mampu bersaing dengan produk impor. Hal ini mendorong ekspor bunga potong Indonesia ke luar negeri semakin meningkat dari tahun ke tahun.

    [baca selanjutnya…]

Read Full Post »