Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘hutan tanaman’ Category

Produksi biji jarak yang dibudidayakan petani di Indonesia masih tergolong rendah rata-rata 600 kg/ha per tahun akibat pengembangannya masih berskala kecil, sementara kebutuhan komoditas tersebut cukup tinggi.
Produksi biji jarak yang dibudidayakan petani di Indonesia masih tergolong rendah rata-rata 600 kg/ha per tahun akibat pengembangannya masih berskala kecil, sementara kebutuhan komoditas tersebut cukup tinggi.

Soenardi, peneliti di Balittas (Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat) Malang, menyebutkan kebutuhan biji jarak di dalam negeri rata-rata baru terpenuhi 17,5%, karena budi daya komoditas tersebut masih diposisikan sebagai tanaman tambahan dan pengisi lahan kosong saat kemarau.

Menurut dia, potensi lahan kering beriklim kering yang cocok bagi penanaman jarak di Indonesia mencapai jutaan hektare, tetapi petani selama ini lebih memfokuskan terhadap pembudidayaan tanaman pangan. (lebih…)

Read Full Post »

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap serat kapas tentu perlu dicarikan bahan baku lain penggantinya. Terlebih mengingat bahan tersebut memang sangat dibutuhkan terutama oleh kalangan industri kecil.
Sebelum terjadi badai krisis, usaha tekstil dan komoditas tekstil merupakan komoditas menyumbang devisa tertinggi dan menjadi komoditas nonmigas. Namun, akibat krisis multidimensi, banyak pabrik tekstil yang terpaksa harus menghentikan produksinya. Pada tahun 1993, Indonesia sempat mengimpor 414.000 ton serat kapas atau sekira 96% kebutuhan bahan baku tekstil.

Ketergantungan yang begitu besar terhadap bahan impor, menyebabkan kebangkrutan industri tekstil dalam negeri akibat melambungnya nilai tukar dolar terhadap rupiah. Hancurnya industri tekstil menyebabkan pengangguran besar-besaran karena industri tekstil menyerap tenaga kerja dalam jumlah sangat banyak.

Sementara itu, produksi serat kapas dalam negeri baru mencapai 2-4%. Peningkatan produksi kapas sulit dicapai mengingat tanama kapas sangat rentan terhadap hama/penyakit serta memerlukan bio fisik lingkungan tertentu. Oleh karenanya, tanaman kapas sulit dikembangkan secara merata di seluruh Indonesia.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap serat kapas tentu perlu dicarikan bahan baku lain penggantinya. Terlebih mengingat bahan tersebut memang sangat dibutuhkan terutama oleh kalangan industri kecil.

Tanaman ramie (boehmeria nivea L. GAUD) yang lebih dikenal dengan sebutan China Grass atau di Jawa Barat disebut haramay akhirnya menjadi alternatif pilihan. Karena tanaman ini memiliki kemiripan dengan kapas dan dapat digunakan untuk bahan baku tekstil atau suplemen kapas. Malah, ramie mampu menghasilkan serat 10 kali lebih tinggi dibandingkan kapas. Ramie juga merupakan bahan baku kertas kualitas tinggi, di samping sering juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan kerajinan rakyat.

Karena dinilai memiliki prosfek yang baik, Senin (10/2) di Gedung Pendopo Kabupaten Garut digelar Lokakarya Pengembangan UKM Sentra Ramie yang Berorientasi Pasar Global, yang diprakarsai pengelola Pesantren Darusalam pimpinan Hj. Aminah Musaddad.

Lokakarya yang melibatkan 118 peserta dari kalangan eksekutif, legislatif, praktisi, akademisi, dan UKM itu menghadirkan para pembicara antara lain Ir. Wawan Dermawan (guru besar ITT), Ir. Bambang (Balai Besar Tektil), Ir. Edi Sahidi (ahli kimia), R.H. Lili Somantri (praktisi ramie), serta Endan Arif Rahman (BDS Zulfaa Agri Utami).

Sedangkan dari kalangan pemerintah antara lain Ir. Sri Woro B. Harjono, M.Sc. (Deputi Menristek), Rubaman (Dirjen PSKT Depnaker), Dedi (Kadis Perindag Jabar), Kadisbun Jabar, dan Wakadiskop Jabar. Sementara itu dari pihak Pemkab Garut dihadiri Asisten II, Drs. Maman Sutasman.

Lahirkan Komunike Garut

Dari hasil lokakarya tersebut diambil kesimpulan, Garut potensial untuk dijadikan sentra ramie. Karena masih banyak lahan tidak produktif dan budi daya ramie bernilai ekonomis cukup tinggi. (lebih…)

Read Full Post »

Dephut meminta masyarakat dan pelaku bisnis kehutanan agar tidak terjebak pada manipulasi data jati hasil kultur jaringan yang disebarkan para produsen jati ‘unggul’.
Dephut meminta masyarakat dan pelaku bisnis kehutanan agar tidak terjebak pada manipulasi data jati hasil kultur jaringan yang disebarkan para produsen jati ‘unggul’.

Menurut Kepala Pusat Informasi Kehutanan Tachrir Fathoni, semua bibit jati hasil kultur jaringan yang beredar saat ini dengan klon dari berbagai asal-usul di luar negeri, masih perlu dikaji.

“Sampai saat ini, pohon jati yang diunggul-unggulkan itu belum ketahuan hasil akhirnya karena itu perlu dikaji lebih cermat lagi,” katanya kepada Bisnis kemarin.

Dia mengatakan umumnya klon yang berasal dari kultur jaringan bersifat site spesific, sehingga belum tentu cocok dikembangkan di setiap lokasi di Indonesia. Selain itu, belum ada penelitian atau kajian yang menyatakan hasil panenannya, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Fathoni menyebutkan kegiatan memperbanyak jati secara kultur jaringan bukan merupakan metode pemuliaan, namun suatu metode perbanyakan biasa, sehingga tidak dapat memperbaiki kualitas genetik bibit.

Karena itu, pemaanfaatan bibit pohon itu perlu didukung uji klon unggul untuk skala operasional. (lebih…)

Read Full Post »

Minyak yang berasal dari tanaman jarak (Ricinus communis L) hingga saat ini masih banyak dibutuhkan untuk industri. Jenis komoditas ini bisa dikembangkan di lahan kering dan potensinya cukup besar di Indonesia.
Minyak yang berasal dari tanaman jarak (Ricinus communis L) hingga saat ini masih banyak dibutuhkan untuk industri. Jenis komoditas ini bisa dikembangkan di lahan kering dan potensinya cukup besar di Indonesia. Namun, masih sedikit usaha tani untuk komoditas ini. Sebenarnya, tanaman ini memiliki manfaat ekonomi dan ekologi untuk lahan yang dibiarkan menganggur.

Hasil utama tanaman jarak adalah buah yang terdiri atas 20 persen bahan serabut (kulit buah) dan 80 persen yang mengandung minyak sekitar 47 persen dengan sifat tidak mudah mengering. Pada awalnya, minyak jarak dipergunakan untuk minyak lampu penerangan, obat-obatan antara lain cuci perut, minyak gosok apabila terkilir, dan bahan kosmetik. Sedangkan ampasnya (residunya) dipergunakan sebagai pupuk.

Akhir-akhir ini, penggunaan minyak biji jarak makin berkembang terutama dalam bidang industri, antara lain untuk industri cat, bahan pelapis, vernis. Kemudian industri polimer berupa resin, plastik, kulit sintetis, industri tekstil seperti serat sintetis berupa jala penangkap ikan, tali pancang, kemudian industri logam berupa metal working oil.

Selain itu, digunakan untuk industri elektronika, bahan baku isolasi listrik, industri kertas dan percetakan berupa duplicating paper, tinta cetak. Juga untuk industri karet sebagai bahan pembantu pada pemrosesan karet alam, industri otomotif berupa minyak pelumas sintetis, minyak rem. Minyak jarak juga bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar roket. Sedangkan ampasnya kecuali untuk pupuk organik, juga dipakai sebagai campuran media jamur merang (campignon).

Menurut informasi dari Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat (Balittas) di Malang (telepon 034-491447), tanaman jarak dapat tumbuh pada ketinggian hingga 800 meter dari permukaan air laut (dpl), bahkan di daerah ekuator dapat tumbuh hingga 2.750 meter dpl.

Suhu optimum 20-26 derajat Celcius dengan kelembaban rendah. Suhu rendah akan menghambat perkecambahan dan pertumbuhan awal, sebaliknya pada saat penyerbukan tidak menghendaki suhu tinggi.

Tanaman ini toleran terhadap kondisi kering sehingga tanaman ini tersebar pada areal bercurah hujan rendah (300-700 mm/tahun), bahkan jenis jarak genjah dari hasil seleksi hanya memerlukan curah hujan 60-100 mm pada saat tanam sampai dua bulan berikutnya. Tanaman jarak akan mampu tumbuh berkembang dan berproduksi, asal tiga bulan pertama cukup air dan jarak tanam longgar.

Menurut Balittas, pada kondisi lingkungan yang semakin kering sebaiknya dibudidayakan jarak varietas yang berumur lebih dalam (panjang). Untuk wilayah kering yang berpenduduk jarang dianjurkan membudidayakan varietas tengahan atau dalam.

Kelebihan jenis ini mampu berkembang dan berproduksi sepanjang musim kemarau, asal tiga bulan pertama cukup air dan jarak tanam longgar. Sebaliknya untuk jenis genjah akan mati setelah berbuah dan menghasilkan biomassa sedikit sehingga sesuai untuk diusahakan secara intensif.

Jarak ditanam langsung melalui benih tanpa disemaikan lebih dahulu. Benih berasal dari blok pertanaman yang seragam, berdaya hasil tinggi, dan berkadar minyak lebih dari 47 persen serta memiliki daya kecambah minimal 80 persen.

Sedangkan tanah perlu diolah sampai gembur, sebaiknya sampai kedalaman 30 cm. Saluran pembuangan (drainase) perlu diupayakan agar lahan pada musim penghujan tidak tergenang.

Jarak tanam yang dianjurkan adalah 0,50 m x 1,00 m untuk jenis genjah, 2 m x 2 m untuk jenis dalam. Benih ditanam dengan cara ditugal sedalam 3 cm dan tiap lubang diisi 2-3 butir. Penjarangan dilakukan pada 20 hari setelah tanam dengan menyisakan satu tanaman per lubang. Waktu tanam diperhitungkan tiga bulan sebelum bulan kering.

Tanaman jarak mulai rimbun pada umur tiga bulan, yaitu setelah mulai bercabang. Percabangan terbentuk bila tanaman telah berbuah sehingga pada saat tiga bulan pertama, tanaman jarak tidak mengganggu apabila ditumpangsarikan dengan palawija yang berumur pendek seperti kedelai, kacang hijau, atau kacang tanah. Untuk jenis tengahan atau dalam, sebaiknya ditumpangsarikan dengan palawija sehingga jarak dapat memanfaatkan lahan pada musim kemarau yang pada saat tersebut tanaman lain tidak mampu berproduksi. Idealnya umur palawija yang ditumpangsarikan tidak lebih dari tiga bulan.

Perlu juga diperhatikan soal hama dan penyakit karena tanaman jarak sangat disenangi ulat walaupun tidak setiap tahun menyerang secara serius. Hama di dalam tanah dapat dikendalikan dengan pemberian Fura dan 3 G atau sejenisnya sebanyak 5 gram/lubang tanam bersamaan dengan tanam. Hama yang sering merugikan adalah Achaea janata yang menyerang daun dan pucuk tanaman.

Saat panen yang tepat dilakukan apabila buah sudah mulai mengering.

situshijau.co.id, 10 November 2003

Read Full Post »

Akar Pinang

Pinang umumnya ditanam di pekarangan, di taman-taman atau dibudidayakan, kadang tumbuh liar di tepi sungai dan tempat-tempat lain, dapat ditemukan dari 1-1.400 m dpl. Pohon berbatang langsing, tumbuh tegak, tinggi 10-30 m, diameter 15-20 cm, tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. Daun majemuk menyirip tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm, tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1-1,8 m, anak daun mempunyai panjang 85 cm, lebar 5 cm, dengan ujung sobek dan bergigi. Tongkol bunga dengan seludang panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun, panjang sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap. Ada 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning, benang sari 6. Bunga betina panjang sekitar 1,5 cm, hijau, bakal buah beruang satu. Buahnya buah buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5-7 cm, dinding buah berserabut, bila masak warnanya merah oranye. Biji satu, bentuknya seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Umbutnya dimakan sebagai lalab atau acar, sedang buahnya merupakan salah satu ramuan untuk makan sirih, dan merupakan tanaman penghasil zat samak. Pelepah daun yang bahasa Sundanya disebut upih, digunakan untuk pembungkus makanan, bahan campuran untuk pembuatan topi, dsbnya. Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Jambe, penang, wohan (Jawa). pineng, pineung, pinang,; Batang mayang, b. bongkah, b. pinang, pining, boni (Sumtra); Gahat, gehat, kahat, taan, pinang (Kalimanantan). alosi; mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon.(Sul.); Bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm (Maluku). bua, winu,;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Cacingan, Perut kembung, Luka, Batuk berdahak, Diare, Kudis; Koreng, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, difteri; Tidak nafsu makan, Sembelit, Sakit pinggang, gigi dan gusi,;
(lebih…)

Read Full Post »

Selasa , 05 Februari 2008 , 13:42:53 wib

Kisdiantoro

CIPATAT, TRIBUN – Menteri Kehutanan MS Kaban menyebutkan, tutupan hutan di Pulau Jawa idealnya sebanyak 30 persen dari daratan terbuka. Hanya saja, saat ini tutupan hutan hanya tinggal 19 persen saja.”Angka 19 persen harus ditambah dari tahun ke tahun. Tapi, potensinya malah semakin berkurang,” jelas MS Kaban pada acara Program Nasional Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan 2008, di Pusdikif TNI AD, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Selasa (5/2) pagi.

Menurutnya, program penananaman 100 ribu hutan yang dicanangkan pemerintah, saat ini sudah terlaksana dengan penanaman sebanyak 74 juta pohon.

Untuk melakukan perbaikan hutan, Menhut mengharapkan keterlibatan semua elemen masyarakat. Alasannya, upaya konservasi hutan dan sumber air tak bisa ditunda.

Bila hutan terpelihara, maka tanah longsor, banjir, hilangnya flora dan fauna, termasuk kebakaran hutan bisa dicegah. Sebaliknya, bila hutan rusak, maka lahan tak mampu lagi menyerap dan menampung air.

Penanaman sejumlah pohon di area Pusdikif seluas 400 hektare diharapkan bisa membantu program pemerintah mengatasi masalah kerusakan hutan. Selain itu, akan menjadi sumber ekonomi karena setelah 10 tahun berjalan kayu bisa dipanen. (nip)

tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=2100&kategori=9

Read Full Post »

Jumat, 28 November 2008 | 09:02 WIB

PALANGKARAYA, JUMAT – Penanaman pohon serentak terkait hari menanam pohon Indonesia tanggal 28 November di Kalimantan Tengah dipusatkan di Bumi Perkemahan Tuah Pahoe, Sabaru, Kecamatan Sabangau Palangkaraya.  Di tempat tersebut secara seremonial ditanam sekitar 1.000 batang pohon.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Anang Acil Rumbang, Jumat (28/11), menuturkan, di tiap kabupaten/kota di Kalteng juga akan ditanam pohon. Di kalteng ada 13 kabupaten dan satu kota.

“Rata-rata di tiap kabupaten kota akan ditanam 85.715 batang pohon,” kata Anang.

Saat ini telah tersedia satu juta bibit dari Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Kahayan, dan 200.000 bibit dari BP DAS Barito. Jenis pohon yang ditanam antara lain mahoni, tanjung, alau, jelutung, tengkawang, mangga, rambutan, sukun, karet, dan durian.

Anang menuturkan, pada tahun lalu juga ditanam 886.765 batang pohon di Kalteng melalui aksi penanaman pohon serentak Indonesia, dan 233.160 batang pohon melalui gerakan perempuan menanam dan memelihara pohon Indonesia.
Cyprianus Anto Saptowalyono

dari : kompas.co.id

Read Full Post »

Older Posts »