Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘tanaman buah’ Category

(istimewa)

Ilmuwan berhasil mengembangkan tomat ungu yang terbukti mampu mencegah kanker pada tikus. Tomat ungu dihasilkan dengan cara rekayasa genetik.

Hasil penelitian ilmuwan Inggris Cathie Martin dan koleganya dipublikasikan di jurnal Nature Biotechnology, mempertegas ide tanaman yang dikembangkan secara genetik bisa membuat orang makin sehat. Tomat ungu berisi nutrisi seperti yang terdapat pada buah berri.

Tikus yang menderita kanker dan diberi makan tomat yang telah direkayasa ini mampu bertahan hidup lebih lama daripada tikus yang makanannya tanpa dicampurkan tomat ungu.

“Efeknya lebih besar dari yang kami perkirakan,” kata Martin yang ahli biologi tanaman. (lebih…)

Read Full Post »

(Istimewa)

INILAH.COM, Texas – Semangka diyakini mampu berfungsi sama laiknya Viagra. Zat yang terdapat di dalam buah semangka mampu memicu dan merelaksasikan pembuluh darah di tubuh. Hal yang sama terjadi ketika pria mengonsumsi Viagra.

Berdasarkan penelitian di Texas, AS, semangka mengandung suatu zat yang disebut citrulline. Zat ini mampu memicu produksi komponen yang dapat merelaksasikan pembuluh darah di tubuh. Hal yang sama terjadi ketika pria mengonsumsi Viagra.

Zat ini terdapat dalam daging dan kulit semangka. Citrulline bereaksi dengan enzim tubuh dan diubah menjadi arginin, suatu asam amino yang menguntungkan bagi jantung, sirkulasi darah, dan sistem imunitas.

Arginin meningkatkan nitrat oksida, yang mampu merelaksasikan pembuluh darah, sama seperti prinsip dasar yang digunakan oleh Viagra untuk mengobati dan mencegah disfungsi ereksi. Hal tersebut merupakan cara yang mudah untuk merelaksasikan pembuluh darah tanpa efek samping obat.” kata Bhimu Patil, peneliti dan Direktur dari A&M’s Fruit and Vegetable Improvement Center.

Menurut Patil, nitrat oksida juga dapat membantu mengurangi angina, tekanan darah tinggi, dan masalah kardiovaskular lain. Patil menjelaskan bahwa sekitar 60% citrulline didapatkan di kulit semangka dan sisanya di dagingnya, namun hal tersebut dapat bervariasi. Para peneliti bahkan dapat menemukan cara untuk meningkatkan kadar citrulline di daging.

Peneliti di Departemen Pertanian di Lane, Okla, Amerika Serikat, Penelope Perkins-Veazie, mengatakan bahwa citrulline ditemukan di semua jenis semangka, dan yang paling tinggi didapatkan di semangka kuning. (lebih…)

Read Full Post »

 
Buah Naga “ Kaktus Manis” Berkhasiat untuk Kesehatan
(Gambar)
   Tanaman buah naga atau Heloserkus Undatus adalah tanaman buah komoditas baru di Indonesia. Species ini buahnya terkenal mujarab untuk menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.
Buah naga atau Dragon Fruit, masih jarang dijumpai, padahal tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus sejak ditanam sampai menghasilkan buah/ produksi
dengan karakternya tanaman ini cocok ditanam diberbagai jenis lahan dan jenis tanah. Pemeliharaan tanaman ini mudah sekali, tidak memerlukan banyak air/ tahan terhadap kondisi tanah yang kering sehingga tidak perlu perlakuan khusus di musim kemarau.

Dengan menyiapkan lahan tanam dengan bedengan, pupuk organic dan tiang penyangga setinggi 2, 5 meter ( 0, 5 m ditanam dilahan dan 2 m sebagai penyangganya) .

Pada umur 1 tahun dengan pemeliharaan yang baik tanaman ini sudah dapat berproduksi, proses dari bunga sampai buah layak petik hanya dalam waktu 35 hari saja, dalam satu tahun musim buah antara bulan Oktober sampai bulan April.

Buah naga mempunyai bebeapa jenis diantaranya jenis putih, merah, merah super dan hitam. Sedangkan yang lazim dan banyak dibudidayakan adalah jenis buah naga putih dan merah.

sentraprimakarya.web.id, 10 November 2009

Read Full Post »

Kandungan antioksidannya lebih besar daripada jeruk dan wortel. 

Keeksotikan tampilan dan rasa buah manggis menjadikannya menyandang gelar Queen of Fruit alas Ratu Buah. Indonesia disebut-sebut sebagai tanah leluhur manggis, tapi sebagian orang baru sebatas mengagumi rasanya. Padahal buah bernama ilmiah Garcinia mangostana ini mengandung kekuatan super penangkal gangguan degeneratif, semacam kanker, jantung koroner, stroke, dan radang saluran kemih.

Yang menarik, kemampuan terbesar penangkal keluhan kesehatan kelas berat itu malah terkandung di kulit buah. Yaitu bagian yang selama ini hanya mengisi tempat sampah pecinta manggis. Kemampuan kulit manggis menangkal radikal bebas tercatat 67 kali lebih besar dari wortel dan 8,7 kali lebih hebat ketimbang jeruk.

Xanthone

Dr. Susiani Purbaningsih, ahli Fisiologi Tumbuhan, Universitas Indonesia, mengatakan, kulit manggis mempunyai kandungan antioksidan super. Nilainya mencapai 17.000—20.000 orac per 100 ounce (sekitar 2.835 gram kulit), lebih besar dari wortel dan jeruk yang hanya berkadar 300 orac dan 2.400 orac. Oxygen radical absorbance capasity alias Orac adalah kemampuan antioksidan menetralkan radikan bebas, ”Kulit manggis mampu meninimalkan serangan penyakit degeneratif,” paparnya.

Adalah xanthone, senyawa yang mendominasi kandungan kulit buah manggis. Menurut doktor jebolan Montpellier, Perancis ini, ada 200 jenis xanthone di alam, tetapi sekitar 40 jenis di antaranya menumpuk di kulit buah manggis.

Bukan hanya itu, ekstrak kulit manggis pun dapat menghambat sel kanker dan menyebabkan apoptosis sel kanker payudara. Ia juga mampu menghambat produksi spesies oksigen reaktif, “Berdasarkan penelitian itu, kulit manggis berpotensi sebagai kemopreventif kanker, “ ujar pengajar departemen Biologi, FMIPA UI ini.

Lebih jauh, Susiani mengatakan, kulit manggis juga berisi senyawa tanin, resin, dan crystallizable mangosteen. Semua zat tersebut bereaksi positif bagi tubuh. Keuntungannya adalah membuang asam urat sehingga cocok bagi penderita rematik/gout. Konsumsi xanthone selama 30 hari berturut-turut juga diyakini membuat wajah tampak lebih muda.   (lebih…)

Read Full Post »

Sampai saat ini produksi dalam negeri hanya mampu menyuplai kebutuhan nasional sebesar lima persen dari total konsumsi minimal 1,5 juta ton per tahun. Lebih memprihatinkan lagi, jumlah kebutuhan terus meningkat rata-rata lima sampai 10 persen per tahun se

SELAMA ini Indonesia selalu membanggakan diri sebagai negara agraris terbesar di dunia. Akan tetapi, realisasinya sangat bertolak belakang. Indonesia bukannya menjadi pengekspor, tetapi pengimpor bahan pangan dan buah-buahan terbesar. Itu berarti, ketahanan pangan benar-benar rapuh serta nasib petani selalu tertindas, tanpa masa depan. Jeruk, misalnya.

Sampai saat ini produksi dalam negeri hanya mampu menyuplai kebutuhan nasional sebesar lima persen dari total konsumsi minimal 1,5 juta ton per tahun. Lebih memprihatinkan lagi, jumlah kebutuhan terus meningkat rata-rata lima sampai 10 persen per tahun sesuai pertambahan penduduk dan kesadaran untuk mengonsumsi jeruk.

Penurunan volume produksi tak terlepas dari campur tangan yang berlebihan dari pemerintah selama Orde Baru dalam pemasaran jeruk. Hal itu terbukti dengan diberlakukannya tata niaga atau monopoli jeruk siam Pontianak selama satu dasawarsa (15 April 1988-29 Januari 1998). Kebijakan itu ternyata benar-benar menghancurkan 20.000 hektar jeruk dan masa depan ratusan ribu keluarga petani. Petani tadinya sudah memiliki rumah permanen dilengkapi televisi berwarna, antene parabola, kulkas, sepeda motor, bahkan mobil. Tiap tahun mereka juga berlomba-lomba menunaikan ibadah haji serta menyekolahkan anak ke perguruan tinggi. Akan tetapi, dengan tata niaga, mereka perlahan-lahan jatuh miskin secara sangat menyakitkan, karena harga yang diberlakukan pemegang monopoli begitu rendah dari harga pasar.

Namun, petani juga dilarang memasarkan ke pedagang lainnya. Gerak-gerik petani diintai oknum aparat militer dan pemerintah daerah (pemda). Jika ada petani yang kedapatan menjual jeruk miliknya kepada pihak lain di luar pedagang pengumpul yang telah ditentukan pemegang monopoli, langsung dipukul dan dituduh menghambat pembangunan nasional. Takut terhadap aksi kekerasan aparat TNI, petani akhirnya cuma pasrah memasarkan komoditasnya dengan harga rendah. Begitu rendahnya pendapatan yang diperoleh membuat mereka semakin sulit menyisihkan biaya perawatan tanaman, sehingga tanaman dengan mudah diserang hama dan produksi pun merosot tajam. “Sewaktu ada tata niaga itu, jangankan untuk merawat tanaman dan membiayai anak sekolah, membeli kebutuhan beras, gula pasir, dan kopi saja susahnya bukan main. Pokoknya tata niaga itu membuat kami sangat menderita,” ungkap Ambin (49), petani Desa Sidak, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, yang dulu memiliki 10 pohon jeruk.

Untuk mempertahankan hidup, para petani terpaksa melelang satu per satu barang-barang yang dimiliki. Tidak sedikit anak yang putus sekolah dan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia. Jika, pada tahun 1989/1990, TKI asal Sambas yang menuju ke Malaysia hanya 250 orang, maka tahun 1992/1993 meningkat menjadi 2.689 orang. Setahun berikutnya bertambah lagi 4.541 orang, kemudian 1996/1997 sebanyak 6.000 orang. Bahkan, sejak 1998 TKI asal Sambas ke Sarawak meningkat tajam rata-rata 7.500 orang per tahun.

Bukan hanya itu saja, jumlah petani penggarap jeruk pun semakin berkurang. Jika pada tahun 1992 sebanyak 34.613 orang, tiga tahun kemudian tinggal 26.493 orang. Setelah itu terus berkurang, dan tahun 1998 tercatat hanya 1.991 orang. Produktivitas pun terus berkurang. Pada tahun 1992 luas tanaman 21.377 hektar, tapi yang berproduksi 14.756 hektar dengan total buah jeruk yang diproduksi 234.509 ton.

Tiga tahun kemudian, luas tanaman tinggal 16.980 hektar, dan areal yang berproduksi cuma 6.621 hektar dengan jumlah produksi 128.000 ton. Tahun 1998 luas tanaman semakin berkurang, yakni 3.906 hektar dan yang berproduksi 1.132 hektar dengan volume produksi 6.792 ton. Selain itu, keinginan Pemerintah Kabupaten Sambas saat itu agar tata niaga meningkatkan pendapatan asli daerah ternyata hanya utopia belaka. PAD yang diperoleh dari jeruk yang pada 1991/1992 senilai Rp 1,1 milyar itu, tahun 1994/ 1995 merosot tajam, yakni tinggal Rp 878,3 juta, dan tahun berikutnya turun lagi menjadi Rp 750 juta. Bahkan, sejak tahun anggaran 1997/ 1998 hingga saat ini, sepeser pun tidak lagi diperoleh dari jeruk. “Makanya, sampai kapan pun kami tak kan mungkin melupakan kasus tata niaga jeruk. Kasus itu menyakitkan dan telah membuat hidup kami menjadi sangat menderita,” kata Ambin berkali-kali.

SECARA nasional, produksi jeruk sejak tahun 1990 terus mengalami peningkatan, dan pada tahun 1995 sempat mencapai 1,004 juta ton. Tetapi, tahun 1996 langsung anjlok menjadi 793.810 ton. Setelah itu semakin merosot, dan pada 2000 tinggal 368.522 ton.

Realisasi produksi ini berada jauh di bawah kebutuhan nasional, jika diperhitungkan dengan rata-rata komsumsi jeruk di negara berkembang dan negara maju. Menurut ketentuan FAO (Food and Agricultural Organization), konsumsi jeruk di negara berkembang rata-rata masih 6,9 kilogram per kapita per tahun, sedangkan, tingkat konsumsi jeruk di negara-negara maju mencapai 32,6 kilogram per kapita per tahun.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 230 juta jiwa, lalu diasumsikan produksi jeruk di Indonesia saat ini sebesar 500.000 ton per tahun, maka komsumsi jeruk di Indonesia baru mencapai 2,2 kilogram/ kapita per tahun. Konsumsi ini masih berada di bawah konsumsi negara-negara berkembang sebanyak 68,12 persen, dan di bawah konsumsi negara maju sebesar 92,40 persen. Selain untuk konsumsi dalam negeri, sebagian jeruk Indonesia telah diekspor ke manca negara, terutama ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Hanya saja, jumlahnya relatif kecil.

Namun demikian, pada saat yang sama, Indonesia juga mengimpor jeruk dalam volume dan nilai yang jauh melampaui ekspor (lihat tabel). Berdasarkan studi banding, PT Multi Jeruk Lestari (MJL) di beberapa negara Asia menunjukkan, pengembangan jeruk di Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara lain. Cina, misalnya, memiliki jumlah penduduk 1,3 milyar jiwa dengan areal perkebunan jeruk 2,4 juta hektar. Tiap hektar mampu menghasilkan 10 ton jeruk berkualitas tinggi dalam setahun, atau total produksi 24 juta ton per tahun. Sebanyak 80 persen digunakan untuk konsumsi dalam negeri, dan 20 persennya diekspor. Sebanyak 10 persen di antaranya adalah jeruk segar yang berkualitas terbaik (kelas A) hanya diekspor ke Eropa. Sedangkan, 10 persen sisanya merupakan jeruk yang berkualitas rendah (kelas C) yang cuma diekspor ke Indonesia. “Inilah yang menyedihkan sekali.

Masyarakat Indonesia begitu berbangga mengonsumsi jeruk Mandarin dari Cina. Ternyata jeruk itu sebetulnya tidak layak ekspor, sebab bukan lagi termasuk buah segar. Bahkan, di Cina biasanya dijadikan makanan ternak, khususnya kuda,” tegas Sugito Darmawan, Presiden Komisaris PT MJL. Pendapat ini juga dibenarkan Arry Supriyanto, pakar jeruk dari Loka Penelitian Jeruk dan Holtikultura Sub-tropik, Batu, Malang, Jawa Timur. Sementara itu, Thailand yang berpenduduk 62 juta jiwa memiliki arel perkebunan jeruk seluas 64.000 hektar. Setiap hektar juga memproduksi 10 ton per tahun, dan yang diekspor hanya lima persen dari total produksi nasional. Lalu, Vietnam, termasuk negara yang baru berkembang. Namun, diperkirakan dalam lima tahun mendatang luas areal tanaman jeruk akan mencapai kurang lebih 40.000 hektar. Bahkan, luas areal ini pun bakal ditingkatkan lagi sebesar 25 persen. Australia yang berpenduduk 18 juta jiwa memiliki arel tanaman jeruk seluas 60.000 hektar. Total produksinya mencapai 650.000 ton per tahun. Tetapi hanya tiga persen sampai lima persen dari total produksi itu diekspor, termasuk ke Indonesia.

Produksi jeruk dunia saat ini sebanyak 1,2 milyar ton per tahun. Volume dan kebutuhan komoditas ini pun terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 10 persen per tahun. Dari volume produksi sebesar itu, AS dan Cina merupakan penyuplai terbesar, yakni masing-masing sebesar 30 persen. Kemudian, menyusul Australia 10 persen, Thailand lima persen, serta sisanya Pakistan dan Vietnam. Sementara Indonesia yang memiliki penduduk 230 juta jiwa cuma memiliki areal tanaman jeruk tidak mencapai 20.000 hektar. Volume produksinya pun pada tahun 2000 tercatat hanya sebanyak 369.522 ton, dan jumlah ini diyakin terus menurun.

Penyebabnya, pengelolaan yang umumnya belum profesional, tak ada program rehabilitas tanaman, dan sebagainya. Melihat realitas ini, berarti masih terjadi kesenjangan antara permintaan dan penawaran jeruk dalam negeri minimal 1.217.478 ton per tahun. Kebutuhan ini diyakin akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Artinya, peluang pasar untuk pembudidayaan dan pengembangan jeruk masih sangat besar di masa depan.

“Peluang ini harus dipenuhi petani kita. Jika hal itu terjadi, volume impor dapat ditekan, dan pasti memberi penghematan biaya yang cukup besar bagi negara,” ujar Menteri Pertanian Bungaran Saragih. Maka, apabila program pengembangan jeruk secara profesional dimulai dari sekarang, diperkirakan pada 2010 Indonesia mulai dapat mengurangi impor jeruk sebesar 50 persen. Bahkan, Kalimantan Barat (Kalbar) berpotensi meningkatkan suplai nasional sebesar 30 persen. (lebih…)

Read Full Post »

Ternyata tidak semua buah mengkudu berkhasiat bagi kesehatan seperti yang berasal dari suku Rubiaceae dengan jenis khusus yakni Morindra Citrofolia.

Tidak Semua Buah Mengkudu Baik Bagi Kesehatan

Ternyata tidak semua buah mengkudu berkhasiat bagi kesehatan seperti yang berasal dari suku Rubiaceae dengan jenis khusus yakni Morindra Citrofolia.

“Kita perlu berhati-hati dalam memilih mengkudu karena jenis mengkudu yang lain seperti mengkudu leuweng, bengkudu dan mengkudu padang tidak mempunyai khasiat sebesar morindra Citrofolia,” kata

Ketua Perhimpunan Peneliti Tumbuhan Obat Indonesia dan Guru Besar Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Dr. Sidik.

Ia mengungkapkan hal itu dalam dalam acara “workshop” tentang khasiat buah mengkudu yang diselenggarakan sebuah perusahaan Jamu Senin (25/11).

Buah mengkudu yang baik, katanya, bahkan bisa meningkatkan gairah seks, namun demikian masyarakat perlu berhati-hati karena meskipun baik bagi kesehatan tidak semua buah mengkudu mempunyai khasiat yang sama.

Prof. Dr. Sidik mengatakan, zat alkaloid Xeronine dalam buah Pace yang bahan aktifnya menunjukkan efek pengobatan. Xeronine bekerja mengatur bentuk dan keutuhan dari protein khusus dalam tubuh manusia dan mempunyai efek positif bagi beberapa organ tubuh berbeda. (lebih…)

Read Full Post »

Proses produksi papain sebenarnya tidaklah rumit karena bahan bakunya adalah getah pepaya yang berasal dari buah, batang dan daun, serta bahan penolongnya berupa air dan NaHSO3 dan Na2S4O6.

Pepaya (carica papaya) merupakan tanaman tropis yang tumbuh subur di Indonesia. Menurut data dari FAO, sebagaimana dikutip http://www.deptan.go.id, selama 2000 Indonesia tercatat sebagai negara produsen pepaya utama keempat setelah Brazil, Meksiko, dan India.
Akan tetapi, sampai saat ini sebagian besar pepaya dikonsumsi dalam bentuk segar. Ditinjau dari segi bisnis, hal ini memang memberikan keuntungan.

Namun, nilai tambah dan nilai jual yang lebih tinggi bisa diperoleh jika getah pepaya bisa diolah lebih lanjut menjadi papain yang bermanfaat sebagai pelunak daging, pembuat konsentrat protein, penghidrolis protein, pelembut kulit, antidingin, bahan obat dan kosmetik, bahan pencuci sutra, pencuci lensa, pelarut gelatin, perenyah kue, penjernih minuman, dan penggumpalan susu untuk pembuatan keju.

Bayangkan saja, harga jual per kilogram papain di pasar dalam negeri mencapai Rp. 300.000. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.