<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ANEKAPLANTASIA.cybermediaclips &#187; lahan</title>
	<atom:link href="http://anekaplanta.wordpress.com/category/lahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anekaplanta.wordpress.com</link>
	<description>plants clipping informations from all over media in Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Apr 2009 11:49:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='anekaplanta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/04e41f6751089b4588b27105e76a77e2?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ANEKAPLANTASIA.cybermediaclips &#187; lahan</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://anekaplanta.wordpress.com/osd.xml" title="ANEKAPLANTASIA.cybermediaclips" />
		<item>
		<title>POTENSI SUMBER DAYA LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DI INDONESIA</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/potensi-sumber-daya-lahan-untuk-pengembangan-jarak-pagar-jatropha-curcas-l-di-indonesia/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/potensi-sumber-daya-lahan-untuk-pengembangan-jarak-pagar-jatropha-curcas-l-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 13:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[bioenergi]]></category>
		<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/?p=1097</guid>
		<description><![CDATA[



Anny Mulyani1, F. Agus1, dan David Allelorung2
1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111
ABSTRAK
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) akhir-akhir ini menjadi komoditas primadona karena berpotensi sebagai penghasil bahan bakar nabati (BBN). Selain jarak pagar, BBN juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=1097&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="meta">
<div class="entry hentry">
<div class="meta"></div>
<div class="content">
<p><strong>Anny Mulyani1, F. Agus1, dan David Allelorung2</strong><br />
1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123<br />
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111</p>
<p><strong>ABSTRAK</strong><br />
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) akhir-akhir ini menjadi komoditas primadona karena berpotensi sebagai penghasil bahan bakar nabati (BBN). Selain jarak pagar, BBN juga dapat diperoleh dari kelapa sawit, kelapa, biji kapas,<br />
canola, dan rapeseed (untuk biodiesel), serta ubi kayu, tebu, dan sagu (untuk bioetanol). Jarak pagar sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman obat dan penghasil minyak. Saat ini banyak masyarakat dan<br />
investor yang tertarik untuk mengembangkan jarak pagar sehingga perlu diinformasikan wilayah-wilayah yang potensial baik ditinjau dari segi biofisik lahan, iklim maupun lingkungan. Untuk maksud tersebut telah disusun peta<br />
kesesuaian lahan untuk jarak pagar pada skala eksplorasi (1:1.000.000) berdasarkan Peta Sumberdaya Lahan dan Arahan Tata Ruang Pertanian, serta Peta Sumberdaya Iklim skala 1:1.000.000. Hasil evaluasi kesesuaian lahan<br />
menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk jarak pagar seluas 49,50 juta ha. Lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi kelas sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3) dengan luas berturut-turut 14,30 juta<br />
ha, 5,50 juta ha, dan 29,70 juta ha. Untuk perencanaan pengembangan jarak pagar skala nasional, hasil evaluasi tersebut perlu ditumpangtepatkan (overlay) dengan data spasial penggunaan lahan terkini, karena sebagian besar<br />
lahan yang sesuai tersebut sudah digunakan untuk komoditas lain atau untuk sektor nonpertanian.</p>
<p>Potensi pengembangan jarak pagar yang paling besar adalah pada lahan yang sementara tidak diusahakan (lahan terlantar) yang luasnya mencapai 12,40 juta ha serta padang rumput 3,10 juta ha. Sekitar 1 juta ha lahan alang-alang yang<br />
tersebar di 13 provinsi telah diidentifikasi kesesuaiannya pada skala 1:50.000 untuk pengembangan pertanian.<br />
Informasi sumber daya lahan hasil identifikasi tersebut dapat digunakan untuk mempercepat delineasi lahan untuk tanaman jarak pagar pada skala yang lebih detail.<br />
<em>Kata kunci</em>: Jatropha curcas, sumber daya lahan, Indonesia<span id="more-1097"></span></p>
<p>Indonesia dengan luas daratan sekitar 188,20 juta ha memiliki sumber daya<br />
lahan (jenis tanah, bahan induk, fisiografi dan bentuk wilayah, ketinggian tempat dan<br />
iklim) yang sangat bervariasi. Kawasan barat umumnya beriklim basah dan<br />
sebaliknya kawasan timur beriklim lebih kering. Keragaman karakteristik sumber<br />
daya lahan dan iklim ini merupakan potensi untuk memproduksi komoditas pertanian unggulan di masing-masing daerah sesuai<br />
dengan kondisi agroekosistemnya. Data (informasi) sumber daya lahan<br />
sangat diperlukan untuk memberikan gambaran potensi sumber daya lahan dan<br />
kesesuaiannya untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian. Namun, data<br />
berupa peta atau informasi sumber daya lahan dan iklim yang mencakup seluruh<br />
kawasan Indonesia baru tersedia pada skala eksplorasi (1:1.000.000), yang<br />
meliputi Atlas Sumberdaya Lahan (Tanah) Eksplorasi (Pusat Penelitian Tanah dan<br />
Agroklimat 2000), Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Nasional (Pusat Penelitian<br />
dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat 2001), Atlas Arahan Pewilayahan<br />
Komoditas Pertanian Unggulan Nasional (Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Tanah dan Agroklimat 2002), dan Atlas Sumberdaya Iklim Indonesia (Balai<br />
Penelitian Agroklimat dan Hidrologi 2003).<br />
Peta ini sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran secara umum tentang potensi sumber daya lahan di Indonesia serta untuk mendukung perencanaan dan<br />
pembangunan pertanian secara nasional. Data yang lebih detail pada skala<br />
tinjau (skala 1:250.000) baru mencakup 60% dari seluruh wilayah Indonesia.<br />
Kawasan barat Indonesia (Sumatera dan Kalimantan) relatif lebih lengkap datanya<br />
dibandingkan kawasan timur. Peta pada skala tinjau ini bermanfaat untuk perencanaan dan pengembangan pertanian pada tingkat provinsi. Peta yang lebih<br />
detail yang bermanfaat untuk operasional di lapangan pada tingkat kabupaten atau<br />
kecamatan adalah pada skala semidetail<br />
atau tinjau mendalam (skala 1:50.000? 1:100.000). Data pada skala ini masih<br />
sangat terbatas (baru mencakup 15% dari luas daratan Indonesia) dan untuk luasan<br />
kecil dan terpencar-pencar.</p>
<p>Berdasarkan hasil evaluasi karakteristik sumber daya lahan dan iklim, dari<br />
luas daratan Indonesia 188,20 juta ha, lahan yang sesuai untuk pengembangan<br />
pertanian seluas 100,80 juta ha, baik untuk lahan basah (sawah, perikanan air payau<br />
atau tambak) maupun lahan kering (tanaman pangan, tanaman tahunan/<br />
perkebunan, dan padang penggembalaan ternak). Hasil evaluasi potensi sumber<br />
daya lahan tersebut dituangkan dalam Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian<br />
Nasional skala 1:1.000.000 (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan<br />
Agroklimat 2001).<br />
Seiring dengan gencarnya pengembangan jarak pagar sebagai sumber bahan<br />
bakar nabati (BBN), diperlukan informasi tentang kesesuaian lahan untuk tanaman<br />
tersebut. Selain jarak pagar, tanaman yang berpotensi sebagai penghasil BBN adalah<br />
kelapa sawit, kelapa, biji kapas, canola, dan rapeseed (untuk biodiesel), serta ubi kayu, tebu, dan sagu (untuk bioetanol).</p>
<p>Jarak pagar (Jatropha curcas L.) sudah lama dikenal masyarakat Indonesia<br />
sebagai tanaman obat dan penghasil minyak. Minyak jarak pagar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar serta untuk<br />
bahan pembuatan sabun dan kosmetik. Jarak pagar merupakan tanaman<br />
yang tahan kekeringan, mampu tumbuh dengan cepat, serta dapat digunakan<br />
sebagai sumber kayu bakar, mereklamasi lahan yang tererosi, dan sebagai pagar<br />
hidup di pekarangan atau pembatas lahan (Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan 2006a).</p>
<p>Penanaman jarak pagar untuk bahan baku minyak sebaiknya<br />
menggunakan bahan tanaman hasil pembibitan dari biji, karena tanaman dapat<br />
hidup lebih lama dan produksinya lebih tinggi daripada tanaman asal setek. Untuk<br />
tanaman pagar dan pencegah erosi dapat digunakan bahan tanaman yang ditanam<br />
langsung dari biji maupun setek (Mahmud et al. 2006).<br />
Saat ini telah terjadi demam bertanam jarak pagar di kalangan masyarakat<br />
(termasuk swasta dan BUMN) maupun pemerintah tanpa disertai perencanaan<br />
yang matang. Banyak yang beranggapan bahwa jarak pagar adalah tanaman “serba<br />
super” yang dapat ditanam di mana saja tanpa pemeliharaan. Oleh karena itu, tidak<br />
mengherankan jika semua daerah memrogramkan pengembangan jarak pagar. Di<br />
satu sisi hal ini dapat memacu produksi biji jarak pagar, tetapi di sisi lain dapat<br />
menimbulkan kekecewaan karena produktivitas tanaman tidak sesuai dengan yang<br />
diinginkan akibat kesalahan dalam pemilihan lokasi. Untuk diketahui, produktivitas<br />
tanaman dipengaruhi oleh potensi genetik, kondisi lingkungan, dan teknologi<br />
(manajemen) pengelolaan. Meskipun jarak pagar dikenal dapat tumbuh di daerah<br />
beriklim kering dan lahan marginal, tanaman tetap membutuhkan air dan hara<br />
yang cukup untuk dapat berproduksi secara optimal (David et al. 2006). Makalah<br />
ini menyajikan dukungan data daninformasi tentang kesesuaian lahan untuk<br />
pengembangan jarak pagar di Indonesia.<br />
<strong>PENYEBARAN DAN SYARAT TUMBUH</strong><br />
<strong>Penyebaran</strong><br />
Jarak pagar diperkirakan berasal dari Amerika Tengah, khususnya Meksiko. Di<br />
daerah tersebut, tanaman tumbuh secara alami di kawasan hutan pinggiran pantai.<br />
Di Afrika dan Asia, jarak pagar hanya ditemukan sebagai tanaman pagar atau<br />
pembatas lahan pertanian (Heyne 1950; Heller 1996 ).<br />
Jarak pagar menyebar di Malaka setelah tahun 1700-an dan di Filipina<br />
sebelum tahun 1750 (Heller 1996). Di Malaka, jarak pagar disebut sebagai Dutch<br />
castor oil dan di Jawa sebagai Chinese castor oil. Di Afrika dan Asia, jarak pagar<br />
disebut sebagai castor oil plant yang menunjukkan bahwa tanaman ini dibawa<br />
dari daerah lain dan ditanam untuk diambil minyaknya. Selanjutnya jarak pagar<br />
dikenal luas sebagai hedge castor oil plant yang menunjukkan bahwa tanaman<br />
ini biasanya ditanam di pagar-pagar (Heyne 1950; Heller 1996; Fundora et al.<br />
2004).<br />
Penyebaran jarak pagar di Thailand terjadi lebih dari dua abad yang lalu oleh<br />
saudagar-saudagar Portugis. Terdapat lima spesies jarak di Thailand, yaitu J.<br />
curcas, J. gossypifolia, J. multifida, J. integrrima, dan J. podagrica. Menurut<br />
catatan setempat, orang Portugis menggunakan biji jarak untuk membuat sabun cuci<br />
dan lainnya (Sadakorn 1984).<br />
Di Indonesia tidak ada catatan yang<br />
pasti kapan jarak pagar masuk ke wilayah<br />
Nusantara, tetapi diperkirakan bersamaan<br />
dengan di Malaysia. Jarak pagar dapat<br />
ditemukan di berbagai tempat, namun<br />
umumnya tumbuh di pagar-pagar atau tepi<br />
jalan di pedesaan (Heyne 1950). Jarak pagar<br />
dikenal dengan berbagai nama daerah,<br />
antara lain nawaih nawas di Aceh, jarak<br />
wolanda di Manado, jirak di Minangkabau,<br />
jarak kosta di Jawa Barat, jarak budeg, jarak<br />
gundul, jarak iri, jarak pager, jarak cina,<br />
kaleke di Madura, jarak pageh di Bali,<br />
tangang-tangan kali kanjoh di Makassar,<br />
malate (hoti) di Seram Timur, bolacai di<br />
Halmahera Utara, dan balacai hisa di<br />
Tidore (Heyne 1950).<br />
Syarat Tumbuh<br />
Jarak pagar tersebar luas di daerah tropis<br />
dan subtropis. Kisaran curah hujan daerah<br />
penyebarannya bervariasi yaitu 200?2.000<br />
mm/tahun (Heller 1996), 480?2.380 mm/<br />
tahun (Jones dan Miller 1992), tetapi<br />
tanaman tumbuh baik pada curah hujan<br />
900?1.200 mm/tahun (Becker dan Makkar<br />
1999). Di Indonesia, jarak pagar dapat<br />
dijumpai di beberapa daerah dengan curah<br />
hujan lebih dari 3.000 mm/tahun, seperti<br />
di Bogor, Sumatera Barat, dan Minahasa.</p>
<p>Ketinggian tempat berkisar 0?1.700 m dpl,<br />
dengan suhu 11?38°C. Jarak pagar tidak<br />
tahan cuaca yang sangat dingin (frost) dan<br />
tidak sensitif terhadap panjang hari (daylength)<br />
karena tanaman berasal dari<br />
daerah tropis (Heller 1996).<br />
Menurut Henning (2004), jarak pagar<br />
membutuhkan curah hujan minimal 600<br />
mm/tahun. Jika curah hujan kurang dari<br />
600 mm/tahun maka tanaman tidak dapat<br />
tumbuh, kecuali dalam kondisi tertentu<br />
seperti di Kepulauan Cape Verde dengan<br />
curah hujan hanya 250 mm/tahun tetapi<br />
kelembapan udaranya sangat tinggi. Di<br />
daerah-daerah dengan kelengasan tanah<br />
bukan menjadi faktor pembatas (misalnya<br />
irigasi atau curah hujan cukup merata),<br />
jarak pagar dapat berproduksi sepanjang<br />
tahun, tetapi tidak dapat bertahan dalam<br />
kondisi tanah jenuh air. Iklim yang kering<br />
akan meningkatkan kadar minyak biji,<br />
tetapi kekeringan yang berkepanjangan<br />
menyebabkan tanaman menggugurkan<br />
daun sehingga pertumbuhan tanaman<br />
terhambat (Jones dan Miller 1992).<br />
Sebaliknya, pada daerah dengan curah<br />
hujan tinggi seperti di Bogor, tanaman<br />
memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebat<br />
tetapi pembentukan bunga dan buah<br />
kurang. Arivin et al. (2006) melaporkan<br />
bahwa di Desa Cikeusik Malingping,<br />
Banten, dengan curah hujan 2.500?3.000<br />
mm/tahun, tanaman jarak pagar dapat<br />
berbunga dan berbuah, tetapi hal ini masih<br />
perlu diteliti apakah pembungaan tersebut<br />
berlangsung sepanjang tahun. Walaupun<br />
curah hujan daerah ini cukup tinggi, yang<br />
memungkinkan radiasi rendah, pembuahan<br />
cukup baik. Hal ini diduga merupakan<br />
hasil interaksi antara potensi genetik dan<br />
lingkungan seperti suhu yang selalu<br />
panas (±27°C) karena letaknya di tepi<br />
pantai, serta tekstur tanahnya berpasir<br />
yang menjamin drainase dan aerasi yang<br />
baik. Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan (2006b) mengemukakan<br />
bahwa tipe iklim sangat berpengaruh<br />
terhadap pertumbuhan dan produksi jarak<br />
pagar. Jarak pagar tumbuh baik di lahan<br />
kering dataran rendah beriklim kering<br />
dengan ketinggian tempat &lt; 500 m dpl,<br />
curah hujan 300?1.000 mm/tahun, serta<br />
suhu &gt; 20°C.<br />
Jarak pagar dapat tumbuh pada<br />
semua jenis tanah, tetapi pertumbuhan<br />
yang baik dijumpai pada tanah-tanah<br />
ringan atau lahan dengan drainase dan<br />
aerasi yang baik (terbaik mengandung<br />
pasir 60?90%). Tanaman jarak pagar dapat<br />
beradaptasi di lahan marginal dan dapat<br />
tumbuh pada tanah berbatu, berpasir,<br />
berliat, dan pada lahan yang tererosi (Mal<br />
dan Joshi 1991). Tanaman ini dapat pula<br />
dijumpai di wilayah perbukitan atau<br />
sepanjang saluran air dan batas kebun<br />
(Heller 1996; Arivin et al. 2006). Menurut<br />
Okabe dan Somabhi (1989), jarak pagar<br />
yang ditanam pada tanah bertekstur<br />
lempung berpasir menghasilkan biji lebih<br />
tinggi daripada di tanah bertekstur lainnya.<br />
Selanjutnya Jones dan Miller (1992)<br />
mengemukakan bahwa meskipun jarak<br />
pagar dapat tumbuh dengan baik di tanah<br />
yang dangkal dan umumnya ditemukan<br />
tumbuh di tanah berkerikil, berpasir, dan<br />
berliat, pada tanah yang tererosi berat<br />
pertumbuhannya kerdil. Di daerah yang<br />
sangat kering, umumnya tinggi tanaman<br />
hanya 2?3 m.<br />
Jarak pagar dapat tumbuh pada tanah<br />
yang ketersediaan air dan unsur-unsur<br />
haranya terbatas atau lahan marginal,<br />
tetapi lahan yang berdrainase baik merupakan<br />
tempat yang sesuai bagi tanaman<br />
ini untuk tumbuh dan berproduksi secara<br />
optimal. Bila perakarannya sudah berkembang,<br />
jarak pagar toleran terhadap kondisi<br />
tanah masam atau alkalin (terbaik pada pH<br />
tanah 5,50?6,50) (Heller 1996; Arivin et al.<br />
2006). Jones dan Miller (1992) menyatakan<br />
untuk mendapatkan produksi yang tinggi<br />
pada tanah miskin hara dan alkalin,<br />
tanaman perlu dipupuk dengan pupuk<br />
anorganik maupun organik, yang mengandung<br />
sedikit kalsium, magnesium,<br />
dan sulfur. Pada daerah-daerah dengan<br />
kandungan fosfat rendah, penggunaan<br />
mikoriza dapat membantu pertumbuhan<br />
tanaman jarak.<br />
EVALUASI KESESUAIAN<br />
LAHAN<br />
Kriteria Kesesuaian Lahan<br />
Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan<br />
suatu bidang lahan untuk penggunaan<br />
tertentu. Kesesuaian lahan dapat<br />
dinilai untuk kondisi saat ini (present) atau<br />
setelah diadakan perbaikan (improvement).<br />
Secara spesifik, kesesuaian lahan<br />
untuk suatu komoditas dinilai berdasarkan<br />
sifat-sifat fisik lingkungan seperti tingkat<br />
kesuburan tanah, iklim, topografi (kelas<br />
lereng), hidrologi, dan drainase (Balai<br />
Penelitian Tanah 2003).<br />
Kriteria kesesuaian lahan untuk jarak<br />
pagar disusun berdasarkan ketersediaan<br />
data sumber daya lahan (tanah dan iklim),<br />
yaitu: 1) data (peta) sumber daya lahan<br />
(tanah) eksplorasi pada skala eksplorasi<br />
(skala 1:1.000.000) yang mencakup seluruh<br />
wilayah Indonesia (Pusat Penelitian<br />
Tanah dan Agroklimat 2000), 2) Peta<br />
Arahan Tata Ruang Pertanian Nasional<br />
skala 1:1.000.000 (Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat<br />
2001), dan 3) Peta Sumberdaya Iklim<br />
Pertanian Indonesia skala 1:1.000.000<br />
(Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi<br />
2003). Selain itu, evaluasi juga mengacu<br />
data syarat tumbuh tanaman jarak pagar<br />
yang dihimpun dari berbagai sumber<br />
(Heyne 1950; Jones dan Miller 1992; Heller<br />
1996; Henning 2004; Arivin et al. 2006).<br />
Kelas kesesuaian lahan digolongkan<br />
menjadi empat, yaitu sangat sesuai (S1),<br />
cukup sesuai (S2), kurang sesuai atau<br />
sesuai marginal (S3), dan tidak sesuai (N).<br />
S1 terdapat pada lahan dengan ketinggian<br />
tempat &lt; 400 m dpl, curah hujan tahunan<br />
1.000?2.000 mm dengan bulan kering 4?5<br />
bulan (tipe iklim II-B dan II-C) atau curah<br />
hujan tahunan 2.000?3.000 mm dengan<br />
bulan kering 5?6 bulan (tipe iklim III-A).<br />
S2 terdapat pada lahan dengan ketinggian<br />
tempat &lt; 400 m dpl, curah hujan tahunan<br />
1.000?2.000 mm dengan bulan kering 6?8<br />
bulan (tipe iklim II-A) atau curah hujan<br />
tahunan 2.000?3.000 mm dengan tipe iklim<br />
III-B. Lahan yang termasuk kelas S3<br />
terdapat pada ketinggian tempat &lt; 700 m<br />
dpl, curah hujan tahunan &lt; 1.000 mm<br />
dengan bulan kering &gt; 8 bulan (tipe iklim<br />
I-A, I-B, dan I-C), atau curah hujan tahunan<br />
2.000?3.000 mm dengan bulan kering 3?4<br />
bulan (tipe iklim III-C), atau curah hujan<br />
tahunan 3.000?4.000 mm dengan bulan<br />
kering 3 bulan (tipe iklim IV-C). Daerah yang<br />
tidak sesuai (N) terletak pada ketinggian<br />
tempat &gt; 700 m dpl, curah hujan tahunan<br />
3.000?4.000 mm dengan bulan kering 0?2<br />
bulan (tipe iklim IV-A, IV-B, dan IV-D), atau<br />
curah hujan tahunan &gt; 4.000 mm dengan<br />
tipe iklim V-A, B, C, D; VI-A, B, C, D). Kriteria<br />
selengkapnya disajikan pada Tabel 1.<br />
Meskipun demikian, tingkat akurasi<br />
peta ini masih rendah karena data yang<br />
tersedia masih sangat kasar. Sebagai<br />
gambaran tingkat akurasi peta, ketinggian<br />
tempat yang digunakan dalam peta sumber<br />
daya lahan terdiri atas dua kategori yaitu<br />
&lt; 700 dan &gt; 700 m dpl dan selang kategori<br />
curah hujan tahunan dalam peta sumber<br />
daya iklim 1.000 mm/tahun.</p>
<p>Tahapan Penilaian<br />
Tahap pertama penilaian kesesuaian lahan<br />
adalah melakukan pemilahan lahan dari<br />
data spasial arahan tata ruang pertanian.<br />
Lahan yang tidak sesuai dan tidak mungkin<br />
dapat dikembangkan tidak diperhitungkan,<br />
yang meliputi 1) lahan yang<br />
berada di dataran tinggi (&gt; 700 m dpl), 2)<br />
lahan sawah, rawa (gambut), tambak<br />
(perikanan air payau), danau dan kolam,<br />
3) kawasan hutan lindung, 4) kawasan<br />
perkebunan besar (kelapa sawit, karet, jati),<br />
dan 5) kawasan konservasi, yaitu lahan<br />
yang tidak sesuai dari segi biofisik dan<br />
lingkungan untuk pengembangan pertanian.<br />
Dari data spasial sumber daya iklim<br />
dipilah kawasan-kawasan yang mempunyai<br />
tipe iklim IV-A, IV-B, IV-D, serta<br />
semua tipe V dan VI karena mempunyai<br />
curah hujan tinggi dan tidak sesuai untuk<br />
pengembangan jarak pagar.<br />
Dari pemilahan tahap pertama tersebut,<br />
terpilih lahan yang sesuai untuk<br />
jarak pagar yaitu semua lahan kering yang<br />
berada di dataran rendah (&lt; 700 m dpl),<br />
bentuk wilayah datar sampai berbukit<br />
dengan lereng &lt; 30%. Dalam arahan tata<br />
ruang pertanian, lahan tersebut mempunyai<br />
simbol 1B2 (lahan kering beriklim<br />
basah untuk tanaman semusim), 1B3<br />
(lahan kering beriklim basah untuk<br />
tanaman tahunan), 1K2 (lahan kering<br />
beriklim kering untuk tanaman semusim),<br />
1K3 (lahan kering beriklim kering untuk<br />
tanaman tahunan), dan 1K4 (lahan untuk<br />
penggembalaan ternak).<br />
Pengelompokan tipe iklim didasarkan<br />
pada kriteria jumlah curah hujan serta<br />
jumlah bulan kering dan bulan basah<br />
yang tersedia dalam atlas sumber daya<br />
iklim pertanian Indonesia. Kriteria tipe iklim<br />
yang digunakan disajikan dalam Tabel 1,<br />
yaitu S1 (II-B, II-C, III-A), S2 (II- A, III-B),<br />
S3 (I-A, I- B, I- C, III- C, IV-C), dan N (IV-A,<br />
IV-B, IV-D, serta semua tipe V dan VI).<br />
Tahapan selanjutnya adalah tumpang<br />
tepat (overlay) antara lahan yang<br />
terpilih berdasarkan data spasial arahan<br />
tata ruang 1B2, 1B3, 1K2, 1K3, dan 1K4<br />
dengan data spasial tipe iklim sesuai<br />
dengan kriteria kelas kesesuaiannya. Dari<br />
tumpang tepat ini diperoleh lahan yang<br />
sesuai dari aspek iklim dan lahan untuk<br />
pengembangan jarak pagar. Seluruh<br />
proses ini menggunakan data spasial<br />
atau peta digital (GIS).<br />
Untuk melihat kaitan antara hasil<br />
evaluasi kesesuaian lahan dan ketersediaan<br />
lahan untuk pengembangannya,<br />
dilakukan pembandingan dengan penggunaan<br />
lahan saat ini (existing land use).<br />
Namun, data penggunaan lahan secara<br />
spasial tidak tersedia dan yang tersedia<br />
hanya data dari BPS (Badan Pusat Statistik<br />
2004).<br />
HASIL EVALUASI<br />
KESESUAIAN LAHAN<br />
Berdasarkan hasil evaluasi data spasial<br />
arahan tata ruang pertanian dan sumber<br />
daya iklim, sesuai kriteria yang tercantum<br />
dalam Tabel 1, diperoleh data luas dan<br />
penyebaran lahan yang sesuai untuk<br />
masing-masing kelas kesesuaian lahan,</p>
<p>yaitu sangat sesuai (S1), cukup sesuai<br />
(S2), dan sesuai marginal (S3) di setiap<br />
provinsi (Tabel 2). Lahan yang sesuai<br />
untuk pengembangan jarak pagar seluas<br />
49,53 juta ha, yang terdiri atas kelas sangat<br />
sesuai 14,28 juta ha, cukup sesuai 5,53 juta<br />
ha, dan sesuai marginal 29,72 juta ha. Data<br />
ini masih sangat kasar karena data sumber<br />
daya lahan dan iklim yang digunakan<br />
adalah skala eksplorasi (skala peta<br />
1:1.000.000). Namun demikian, data ini<br />
sangat bermanfaat untuk perencanaan<br />
secara nasional untuk menentukan arah<br />
pengembangan jarak pagar.<br />
Kelas lahan sangat sesuai (S1) terluas<br />
terdapat di Kalimantan yaitu 4,72 juta ha,<br />
(terluas di Kalimantan Timur), disusul<br />
Papua dan Maluku 2,56 juta ha (terluas di<br />
Papua dan Maluku Utara), dan Sulawesi<br />
(terluas di Sulawesi Tenggara). Untuk<br />
kelas cukup sesuai (S2), penyebaran<br />
terluas terdapat di Kalimantan yaitu 1,71<br />
juta ha (terluas di Kalimantan Barat) dan<br />
di Nusa Tenggara 1,26 juta ha (terluas di<br />
Nusa Tenggara Timur). Kelas sesuai<br />
marginal (S3) mempunyai penyebaran<br />
terluas di Sumatera yaitu 11,09 juta ha<br />
(terluas di Sumatera Selatan, Riau, dan<br />
Sumatera Utara), dan Kalimantan 11,03 juta<br />
ha (terluas di Kalimantan Barat, Kalimantan<br />
Tengah, dan Kalimantan Timur).<br />
Meskipun lahan yang sesuai sangat<br />
luas (49,53 juta ha), kenyataannya terdapat<br />
kelemahan dalam penilaian ini. Lahan yang<br />
dinilai adalah seluruh lahan yang berada<br />
pada ketinggian &lt; 700 m, padahal untuk<br />
kelas Sl dan S2, data ketinggian yang<br />
dikehendaki adalah &lt; 400 m dpl. Oleh<br />
karena itu, lahan yang termasuk kelas S1<br />
dan S2 kemungkinan ada yang terdapat<br />
pada ketinggian 400?700 m dpl yang<br />
seharusnya masuk pada kelas S3,<br />
sehingga luas lahan yang termasuk kelas<br />
S3 akan lebih besar dari 29,70 juta ha.<br />
Hasil evaluasi kesesuaian lahan juga<br />
baru mempertimbangkan kondisi biofisik<br />
lahan, iklim, dan lingkungannya sehingga<br />
sangat luas penyebarannya. Apabila ingin<br />
diketahui luas lahan yang tersedia untuk<br />
pengembangan jarak pagar di luar lahan<br />
kering yang telah dimanfaatkan untuk<br />
penggunaan lain, baik di sektor pertanian<br />
maupun nonpertanian, perlu dilakukan<br />
penilaian khusus.<br />
PENGGUNAAN LAHAN VS<br />
KESESUAIAN LAHAN<br />
Penggunaan Lahan<br />
Penggunaan lahan pertanian selama ini<br />
mengacu kepada data penggunaan lahan<br />
dari BPS (Badan Pusat Statistik 2004).<br />
Penggunaan lahan dikelompokkan menjadi<br />
delapan, yaitu sawah, pekarangan, ladang<br />
(huma dan tegalan), padang penggembalaan<br />
(rumput-rumputan), tambak dan<br />
kolam, lahan yang sementara tidak diusahakan,<br />
perkebunan, dan areal tanaman<br />
kayu-kayuan. Luas dan penyebaran<br />
penggunaan lahan tersebut disajikan pada<br />
Tabel 3.<br />
Berdasarkan data BPS pada Tabel 3,<br />
lahan yang telah digunakan sebagai lahan<br />
pertanian seluas 69,15 juta ha. Penggunaan<br />
lahan untuk perkebunan adalah yang<br />
terluas, sekitar 19,60 juta ha, terutama<br />
untuk perkebunan kelapa sawit, karet, dan<br />
kelapa (12,90 juta ha), sisanya untuk kopi,<br />
kakao, cengkih, lada, teh, kapas, tebu, dan<br />
tembakau. Lahan yang sementara tidak<br />
diusahakan (lahan terlantar) dan tegalan<br />
(ladang) masing-masing seluas 12,40 juta<br />
ha dan 10,60 juta ha. Lahan yang sementara<br />
tidak diusahakan termasuk dalam<br />
lahan pertanian, namun merupakan lahan<br />
terlantar yang berupa semak belukar.<br />
Demikian juga padang penggembalaan<br />
yang luasnya mencapai 3,10 juta ha.<br />
Untuk mengetahui lahan yang betulbetul<br />
sudah digunakan dan kaitannya<br />
untuk pengembangan jarak pagar, dapat<br />
digunakan dua skenario. Skenario I<br />
merupakan pengelompokan lahan yang<br />
mencakup seluruh lahan kering yang telah<br />
digunakan, yaitu lahan pekarangan,<br />
ladang (huma dan tegalan), padang<br />
penggembalaan, lahan yang sementara<br />
tidak diusahakan, perkebunan, dan areal<br />
kayu-kayuan. Secara ringkas, total luas<br />
penggunaan lahan kering adalah total<br />
penggunaan lahan (69,15 juta ha)<br />
dikurangi lahan sawah, kolam, dan tambak</p>
<p>(8,46 juta ha) yang hasilnya seluas 60,69<br />
juta ha (Tabel 3).<br />
Skenario II mencakup lahan kering<br />
yang betul-betul telah digunakan, yaitu<br />
lahan pekarangan, ladang (huma dan<br />
tegalan), perkebunan, dan kayu-kayuan.<br />
Total penggunaan lahan kering skenario<br />
II adalah total penggunaan lahan (69,15<br />
juta ha) dikurangi sawah dan kolam (8,46<br />
juta ha) dikurangi lahan yang sementara<br />
tidak diusahakan (12,42 juta ha) dikurangi<br />
padang penggembalaan (3,11 juta ha)<br />
yang hasilnya seluas 45,16 juta ha.<br />
Ketersediaan Lahan<br />
Lahan kering yang sesuai untuk jarak<br />
pagar cukup luas, sekitar 49,53 juta ha<br />
(Tabel 2). Namun, luas lahan yang tersedia<br />
untuk pengembangan jarak pagar belum<br />
diketahui secara pasti. Untuk mendapatkan<br />
data ini, dapat dilakukan tumpang<br />
tepat antara data spasial kesesuaian lahan<br />
dengan data spasial penggunaan lahan,<br />
sehingga diperoleh data luas dan penyebaran<br />
lahan yang sesuai dan belum<br />
dimanfaatkan untuk penggunaan lain.<br />
Namun, data spasial penggunaan lahan<br />
yang mencakup seluruh kawasan Indonesia<br />
saat ini belum tersedia, terutama<br />
untuk tegalan, pekarangan, dan kebun<br />
campuran yang biasanya tidak tergambar<br />
dalam peta penggunaan lahan.<br />
Untuk memprediksi lahan yang<br />
mungkin masih tersedia dan dapat digunakan<br />
untuk pengembangan jarak pagar<br />
dalam skala besar (perkebunan), digunakan<br />
pendekatan dengan mengurangi<br />
lahan yang sesuai dengan lahan yang telah<br />
digunakan dari data BPS (skenario I dan II<br />
pada Tabel 4). Berdasarkan skenario I,<br />
lahan yang sesuai untuk jarak pagar pada<br />
umumnya telah dimanfaatkan untuk<br />
penggunaan lain, yang ditandai dengan<br />
angka minus pada Tabel 4. Di seluruh<br />
Indonesia, lahan yang tersedia adalah<br />
minus 11,14 juta ha, kecuali di Provinsi<br />
Kepulauan Bangka Belitung (76.776 ha)<br />
dan NTB (10.059 ha) yang masih tersedia<br />
lahan untuk pengembangan jarak pagar.<br />
Di Maluku, Maluku Utara, dan Papua, data<br />
penggunaan lahan tidak tersedia sehingga<br />
lahan yang tersedia untuk pengembangan<br />
masih cukup luas yaitu 5,14 juta ha di<br />
Papua, 1,53 juta ha di Maluku Utara, dan<br />
1,25 juta ha di Maluku.<br />
Apabila menggunakan skenario II<br />
maka masih tersedia lahan yang dapat<br />
digunakan untuk pengembangan jarak<br />
pagar seluas 4,39 juta ha, yaitu pada lahan<br />
yang sementara diterlantarkan dan padang<br />
penggembalaan. Lahan tersebut terdapat<br />
di Sumatera Selatan, Bangka Belitung,<br />
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara<br />
Timur, Kalimantan, Sulawesi Tenggara,<br />
Gorontalo, Papua, Maluku, dan Maluku<br />
Utara.<br />
Berdasarkan kedua skenario tersebut,<br />
dapat disimpulkan bahwa pengembangan<br />
jarak pagar dalam skala luas atau perkebunan<br />
besar akan mengalami hambatan<br />
dalam penyediaan lahan. Lahan yang<br />
mungkin dapat dimanfaatkan adalah lahan<br />
terlantar karena masih cukup luas. Lahan<br />
ini pun, apabila status lahannya bukan<br />
lahan negara, akan sulit dideteksi.<br />
Alternatif Pengembangan<br />
Pada tahap awal, pengembangan jarak<br />
pagar diarahkan ke provinsi yang kondisi<br />
lahan dan iklimnya sesuai untuk jarak<br />
pagar, yaitu pada wilayah dengan kelas<br />
kesesuaian lahan sangat sesuai (S1).<br />
Lahan tersebut tersebar di Kalimantan<br />
Timur, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku<br />
Utara, Papua, Kalimantan Selatan, Jawa<br />
Timur, Lampung, Nusa Tenggara Timur,<br />
dan Sumatera Selatan (Tabel 2). Namun,<br />
dengan kondisi lahan yang terbatas<br />
seperti tersebut di atas, akan sulit apabila<br />
pengembangan jarak pagar secara besarbesaran<br />
dilakukan di lahan kering bukaan<br />
baru (ekstensifikasi), kecuali pada lahan<br />
terlantar atau lahan kawasan hutan<br />
konversi (lahan negara). Apabila lahan<br />
tersebut tidak tersedia, salah satu alternatif<br />
pengembangannya adalah secara diversifikasi<br />
dengan tanaman lain, baik dengan<br />
sistem tumpang sari, tanaman sela, tanaman<br />
pagar, atau rotasi.<br />
Lahan pekarangan di Indonesia yang<br />
luasnya 5,55 juta ha dapat pula dimanfaatkan<br />
untuk jarak pagar yang ditanam<br />
sebagai tanaman pagar atau tumpang sari.<br />
Demikian pula lahan tegalan (ladang dan<br />
huma) yang luasnya sekitar 10,59 juta ha;</p>
<p>apabila 5% dari tegalan ini dapat ditanami<br />
jarak pagar sebagai tanaman pagar atau<br />
pembatas kepemilikan lahan, atau tanaman<br />
rotasi (0,50 juta ha), maka akan dihasilkan<br />
biji jarak pagar sekitar 2,50 juta ton (asumsi<br />
hasil panen 2 kg/pohon, populasi 2.500<br />
pohon/ha) (Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan 2006b). Lahan yang<br />
juga potensial adalah lahan terlantar dan<br />
semak belukar, termasuk lahan alangalang<br />
yang luasnya sekitar 12,42 juta ha.<br />
Berdasarkan ulasan di atas, potensi<br />
sumber daya lahan Indonesia sangat besar<br />
dan berpeluang untuk pengembangan<br />
jarak pagar. Meskipun demikian, permasalahan<br />
masih dijumpai baik secara teknis<br />
(budi daya, penyediaan benih, kualitas<br />
buah, kadar minyak, dan lain-lain) maupun<br />
sosial (status lahan, kemampuan masyarakat<br />
tani, pascapanen, dan pemasaran).<br />
Masalah penyediaan benih dapat diatasi<br />
dalam 4?5 tahun ke depan dengan tersedianya<br />
varietas unggul dan benih<br />
sumber dari Badan Litbang Pertanian yaitu<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan. Unit kerja tersebut akan<br />
menghasilkan tiga populasi komposit jarak<br />
pagar, yang dinamakan IP-1A, IP-1M, dan<br />
IP-1P yang berasal dari Asembagus,<br />
Muktihardjo, dan Pakuwon. Benih dalam<br />
bentuk biji sebanyak 6?7 ton tersedia pada<br />
September?Desember 2006 sehingga<br />
dapat mencukupi kebutuhan penanaman<br />
komersial seluas 5.000?6.000 ha pada<br />
tahun 2006?2007, dan akan menghasilkan<br />
minyak pada tahun 2008?2009 (Hasnam<br />
dan Hartati 2006).<br />
Pengembangan jarak pagar secara<br />
besar-besaran (perkebunan) dapat diarahkan<br />
ke lahan terlantar dan belum dimanfaatkan<br />
secara optimal, seperti lahan alangalang<br />
dan semak belukar. Di antara lahan<br />
terlantar tersebut, 1,08 juta ha sudah diidentifikasi<br />
kesesuaiannya untuk pengembangan<br />
lahan pertanian (Mulyani et al.<br />
2000) (Tabel 5).<br />
Penyebaran dan luas lahan alangalang<br />
di masing-masing provinsi disajikan<br />
pada peta skala 1:50.000, yang dapat<br />
digunakan untuk operasional di lapangan.<br />
Lahan alang-alang tersebut berada pada<br />
ketinggian &lt; 400 m dpl, dengan bentuk<br />
wilayah datar-bergelombang (lereng &lt;<br />
15%). Lahan alang-alang yang dapat<br />
dimanfaatkan untuk pengembangan jarak<br />
pagar mempunyai curah hujan &lt; 3.000 mm/<br />
tahun, sehingga sesuai dengan persyaratan<br />
tumbuh jarak pagar. Tabel 5 menunjukkan<br />
hampir seluruh areal yang diidentifikasi<br />
sesuai untuk jarak pagar.<br />
Sebagian lahan terlantar tersebut<br />
terdapat pada kawasan transmigrasi dan<br />
dimiliki oleh petani transmigran, seperti di<br />
di Kabupaten Banjar, Tanah Laut dan<br />
Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan), serta<br />
di Kabupaten Kendari, Buton, dan Kolaka<br />
(Sulawesi Tenggara) (Tabel 5). Namun,<br />
lahan terlantar tersebut diidentifikasi pada<br />
tahun 1998/1999, sehingga saat ini<br />
mungkin sudah dibuka dan dimanfaatkan<br />
untuk penggunaan lainnya.</p>
<p>KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Hasil evaluasi kesesuaian lahan berdasarkan<br />
data pada peta skala eksplorasi menunjukkan<br />
bahwa lahan yang sesuai<br />
untuk jarak pagar seluas 49,53 juta ha, yang<br />
terdiri atas kelas sangat sesuai 14,28 juta<br />
ha, cukup sesuai 5,53 juta ha, dan sesuai<br />
marginal 29,72 juta ha. Namun, lahan yang<br />
tersedia hanya sekitar 4,39 juta ha yang<br />
tersebar di 12 provinsi.<br />
Pengembangan jarak pagar dapat<br />
diprioritaskan pada lahan yang sangat<br />
sesuai dan cukup sesuai, yang tersebar<br />
luas di Kalimantan Timur, Sulawesi Utara,<br />
Papua, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,<br />
Kalimantan Selatan, Maluku, dan Maluku<br />
Utara. Karena pesatnya perubahan penggunaan<br />
lahan saat ini, data spasial kesesuaian<br />
lahan perlu ditumpangtepatkan<br />
dengan data spasial penggunaan lahan<br />
saat ini (paling tidak pada skala<br />
1:1.000.000), sehingga dapat diketahui luas<br />
lahan yang tersedia untuk pengembangan<br />
jarak pagar (ekstensifikasi).<br />
Alternatif lain untuk pengembangan<br />
jarak pagar adalah melalui diversifikasi<br />
dengan tanaman lain yang sudah ada<br />
(existing land use), baik dengan tumpang<br />
sari, sebagai tanaman sela, tanaman rotasi,<br />
atau tanaman pagar. Jarak pagar umumnya<br />
diusahakan sebagai tanaman pagar atau<br />
pembatas kepemilikan kebun atau tegalan.<br />
Pengembangan jarak pagar dalam<br />
skala luas (perkebunan besar) dapat<br />
diarahkan pada lahan terlantar atau tidak<br />
diusahakan (lahan alang-alang dan semak<br />
belukar) seluas 12,40 juta ha. Di antara lahan<br />
terlantar tersebut, sekitar 1 juta ha telah<br />
diidentifikasi kesesuaiannya pada skala<br />
1:50.000, yang memadai untuk operasional<br />
di tingkat kabupaten dan kecamatan.<br />
Namun, status dan kepemilikan lahan<br />
terlantar tersebut belum diketahui, kecuali<br />
untuk beberapa lokasi transmigrasi di<br />
Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Arivin, A.R., D. Allorerung, Z. Mahmud, D.S.<br />
Effendi, Sumanto, dan F. Isa. 2006. Karakteristik<br />
fisik lingkungan daerah pertanaman<br />
jarak pagar (Jatropha curcas L.) di Cikeusik,<br />
Banten. Makalah disampaikan pada Lokakarya<br />
II Status Teknologi Tanaman Jarak<br />
Pagar. Hotel Pangrango, Bogor, 29 November<br />
2006.<br />
Badan Pusat Statistik. 2004. Indonesia dalam<br />
Angka 2004. Badan Pusat Statistik, Jakarta.<br />
www.bps.go.id (6 Juni 2006).<br />
Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. 2003.<br />
Atlas Sumberdaya Iklim Pertanian Indonesia<br />
Skala 1:1.000.000. Balai Penelitian Agroklimat<br />
dan Hidrologi, Bogor. 42 hlm.<br />
Balai Penelitian Tanah. 2003. Petunjuk Teknis<br />
Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian.<br />
Balai Penelitian Tanah, Bogor. 154 hlm.<br />
Becker, K. and H.P.S. Makkar. 1999. Jatropha<br />
and Moringa: Source of renewable energy<br />
for fuel, edible oil, animal feed and pharmaceutical<br />
products, ideal trees for increasing</p>
<p>cash income. Presented at Daimler Chrysler/<br />
The World Bank Environment Forum,<br />
Magdeburg. 3 pp<br />
David, A., Z. Mahmud, A.A. Rivaie, D.S. Effendi,<br />
dan A. Mulyani. 2006. Peta kesesuaian lahan<br />
dan iklim jarak pagar (Jatropha curcas L.).<br />
Makalah disampaikan pada Lokakarya Status<br />
Teknologi Budidaya Jarak Pagar (Jatropha<br />
curcas L.). Badan Penelitian dan Pengembangan<br />
Pertanian, Jakarta, 11?12 April<br />
2006. 14 hlm.<br />
Fundora-Mayor, L. Castineiras, T. Shagarodsky,<br />
V. Mareno, M. Garcia, C. Girandy, O. Barrios,<br />
L. Fernandes, G.R. Cristobal, V. Fuentes, A.<br />
Valiente, and T. Hernandez. 2004. Seed<br />
Systems and Genetic Diversity in Home<br />
Garden: a Cuban Approach. p 68?77. In<br />
Proceeding of Seed Systems and Crop Genetic<br />
Diversity on Farm. International Plant<br />
Genetic Resources Institute, Rome, Italy.<br />
Hasnam dan Rr. Sri Hartati. 2006. Penyediaan<br />
benih unggul harapan jarak pagar (Jatropha<br />
curcas L.). Makalah disampaikan pada<br />
Lokakarya Status Teknologi Budidaya Jarak<br />
Pagar (Jatropha curcas L.). Badan Penelitian<br />
dan Pengembangan Pertanian, Jakarta,<br />
11?12 April 2006. 13 hlm.<br />
Heller, J. 1996. Physic Nut (Jatropha curcas<br />
L.). Promoting the conservation and use of<br />
underutilised and neglected crops. 1. Institute<br />
of Plant Genetics and Crop Plant Research.<br />
Gatersleben/International Plant Genetic<br />
Resources Institute, Rome. 66 pp.<br />
Henning, R.K. 2004. The Jatropha System.<br />
Economy and dissemination strategy.<br />
International Conference of Renewable<br />
Energy. Bonn, Germany, 1?4 June 2004.<br />
Heyne, K. 1950. Tumbuhan Berguna Indonesia<br />
II. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.<br />
Jones, N. and J.M. Miller. 1992. Jatropha curcas.<br />
A multipurpose species for problematic sites.<br />
The World Bank. Asia Technical Department,<br />
Agriculture Division. 11 pp.<br />
Mahmud, Z., A.A. Rivaie, dan D. Allorerung.<br />
2006. Kultur teknis jarak pagar. (Jatropha<br />
curcas L.). Makalah pada Lokakarya Status<br />
Teknologi Budidaya Jarak Pagar (Jatropha<br />
curcas L.). Badan Penelitian dan Pengembangan<br />
Pertanian, Jakarta, 11?12 April<br />
2006. 8 hlm.<br />
Mal, B. and V. Joshi. 1991. Underutilized plant<br />
resources. p 211?229. In R.S. Paronda and<br />
R.K. Arora (Eds.). Plant Genetic Resources<br />
- Conservation and Management. Malhotra<br />
Publishing House, New Delhi, India.<br />
Mulyani, A., Sukarman, dan D. Subardja. 2000.<br />
Evaluasi ketersediaan lahan untuk perluasan<br />
areal pertanian. Laporan Penelitian No. 15/<br />
Puslittanak/2000. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. 52 hlm.<br />
Okabe, T. and M. Somabhi. 1989. Ecophysiological<br />
studies on drought tolerant<br />
crops suited to the Northeast Thailand.<br />
Technical Paper No. 5. Agricultural Development<br />
Research Center in Northeast<br />
Thailand.<br />
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000.<br />
Atlas Sumberdaya Lahan Eksplorasi Indonesia<br />
Skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. 41 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan<br />
Agroklimat. 2001. Atlas Arahan Tata Ruang<br />
Pertanian Indonesia Skala 1:1.000.000.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah<br />
dan Agroklimat, Bogor. 37 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan<br />
Agroklimat. 2002. Arahan Pewilayahan<br />
Komoditas Pertanian Unggulan Nasional<br />
Skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. 43 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.<br />
2006a. Petunjuk Teknis Budidaya Jarak<br />
Pagar (Jatropha curcas L.) Edisi 2. Pusat<br />
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan,<br />
Bogor. 35 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.<br />
2006b. Panduan Umum Perbenihan Jarak<br />
Pagar (Jatropha curcas L.) Edisi 2. Pusat<br />
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan,<br />
Bogor. 25 hlm.<br />
Sadakorn, J. 1984. Physic nut (Jatropha curcas<br />
Linn.), a potential source of fuel oil from<br />
seeds for an alternative choice of energy.<br />
Thai. Agric. Res. J. 2: 67?72.</p>
<p>dari : pustaka-deptan.go.id</p></div>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/1097/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/1097/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/1097/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/1097/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/1097/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/1097/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/1097/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/1097/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/1097/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/1097/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=1097&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/potensi-sumber-daya-lahan-untuk-pengembangan-jarak-pagar-jatropha-curcas-l-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STRATEGI MEMPERTAHANKAN MULTIFUNGSI PERTANIAN DI INDONESIA</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/strategi-mempertahankan-multifungsi-pertanian-di-indonesia/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/strategi-mempertahankan-multifungsi-pertanian-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 13:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[aneka tanaman]]></category>
		<category><![CDATA[lahan]]></category>
		<category><![CDATA[tanaman pangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/?p=1095</guid>
		<description><![CDATA[


Abdurachman Adimihardja
Balai Penelitian Tanah, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
ABSTRAK
Pengetahuan dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap multifungsi pertanian masih rendah. Fungsi pertanian yang paling dikenal masyarakat adalah sebagai penghasil produk pertanian, seperti padi, palawija, dan hortikultura,
yang nilai ekonomisnya lebih rendah dari nilai kegunaan di luar pertanian, seperti untuk industri, pertambangan, perdagangan, dan permukiman. Hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=1095&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="entry hentry">
<div class="meta"></div>
<div class="content">
<p><strong>Abdurachman Adimihardja</strong><br />
Balai Penelitian Tanah, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123</p>
<p><strong>ABSTRAK</strong><br />
Pengetahuan dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap multifungsi pertanian masih rendah. Fungsi pertanian yang paling dikenal masyarakat adalah sebagai penghasil produk pertanian, seperti padi, palawija, dan hortikultura,<br />
yang nilai ekonomisnya lebih rendah dari nilai kegunaan di luar pertanian, seperti untuk industri, pertambangan, perdagangan, dan permukiman. Hal tersebut, ditambah dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat pedesaan<br />
yang memerlukan pendapatan segera dan pemikiran tentang fungsi pertanian hanya dalam jangka pendek, menyebabkan konversi lahan diterima sebagai hal yang wajar, dan bukan sebagai masalah hilangnya multifungsi pertanian. Faktor lain yang mendorong percepatan proses konversi lahan pertanian adalah pembangunan<br />
sektor lain yang membutuhkan lahan siap pakai terutama ditinjau dari karakteristik biofisik dan asesibilitas, yang umumnya terpenuhi oleh lahan pertanian beririgasi. Selain itu, kuantitas dan kualitas multifungsi pertanian menjadi berkurang dengan terjadinya degradasi lahan pertanian yang diakibatkan oleh banjir, longsor, erosi<br />
tanah, dan sebagainya. Faktor-faktor pendorong hilangnya atau berkurangnya multifungsi pertanian tidak mungkin diubah hanya oleh masyarakat pengguna lahan pertanian, tetapi memerlukan fasilitas dan kebijakan pemerintah dengan strategi yang tepat dan tegas, namun harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Strategi utama untuk mempertahankan multifungsi pertanian di Indonesia adalah: 1) meningkatkan citra pertanian dan masyarakat tani, 2) mengubah kebijakan produk pertanian harga murah, 3) meningkatkan apresiasi terhadap multifungsi pertanian, 4) meningkatkan upaya konservasi lahan pertanian, dan 5) operasionalisasi penetapan lahan pertanian abadi sesuai Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.<br />
<em>Kata kunci</em>: Multifungsi pertanian, degradasi lahan, konversi lahan, strategi<span id="more-1095"></span></p>
<p>Bagi negara agraris seperti Indonesia, peran sektor pertanian sangat penting<br />
dalam mendukung perekonomian nasional, terutama sebagai penyedia<br />
bahan pangan, sandang dan papan bagi segenap penduduk, serta penghasil<br />
komoditas ekspor nonmigas untuk menarik devisa. Lebih dari itu, mata pencaharian<br />
sebagian besar rakyat Indonesia bergantung pada sektor pertanian. Namun<br />
ironis sekali, penghargaan masyarakat umum terhadap pertanian relatif rendah<br />
dibandingkan sektor lain, seperti industri, pertambangan, dan perdagangan. Hal ini<br />
menyebabkan penghargaan terhadap lahan pertanian pun terlalu rendah, tidak<br />
proporsional dengan tingkat manfaatnya.<br />
Lahan pertanian yang merupakan faktor utama sistem produksi pertanian<br />
belum terawat dan terjamin kelestariannya dengan baik. Apabila produksi pertanian<br />
diharapkan mampu mengimbangi kebutuhan penduduk yang terus meningkat<br />
maka seharusnya luas dan produktivitas lahan pertanian juga terus ditingkatkan.<br />
Namun, kenyataan menunjukkan hal lain.<br />
Lahan sawah yang diandalkan sebagai penghasil bahan pangan utama cenderung<br />
menurun luas bakunya akibat konversi ke nonpertanian. Pertanian lahan<br />
kering, walaupun konversinya tidak secepat lahan sawah, dalam beberapa<br />
dasawarsa terakhir terus mengalami degradasi oleh proses erosi, longsor,<br />
pencemaran, kebakaran, dan sebagainya.<br />
Proses konversi lahan saat ini berlangsung cepat, seolah-olah tidak terkendali,<br />
terutama terhadap lahan sawah irigasi di Pulau Jawa dan sekitar kota-kota<br />
besar di luar Jawa. Pada tahun 1981?1999, di Indonesia terjadi konversi lahan sawah seluas 1,60 juta ha, dan sekitar 1 juta ha di antaranya terjadi di Jawa (Irawan et. al. 2001). Di samping itu, pertanian lahan kering mengalami degradasi yang menurunkan fungsi-fungsi pertanian di berbagai wilayah. Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan (1993) mencatat bahwa lahan pertanian yang<br />
terdegradasi di Indonesia sudah menyebar luas, yaitu sekitar 18,30 juta ha atau<br />
28,50% dari total lahan pertanian Indonesia yang luasnya sekitar 64,30 juta ha.<br />
Lahan terdegradasi tersebut tersebar di seluruh provinsi dengan luasan bervariasi<br />
dari 1.500 ha (Maluku) sampai 3,60 juta ha (Irian Jaya).<br />
Tingkat konversi dan degradasi lahan pertanian di Indonesia mungkin<br />
tidak akan setinggi seperti digambarkan di atas apabila disadari bahwa sistem<br />
pertanian memiliki keunggulan berupa multifungsi yang sangat bermanfaat bagi<br />
masyarakat luas. Multifungsi pertanian ini sangat penting, sehingga para peserta<br />
seminar Multifungsi Pertanian dan Konservasi Sumberdaya Lahan (Agus et al.<br />
2004) sepakat bahwa bagi Indonesia sebagai negara agraris, memperhitungkan<br />
multifungsi pertanian di dalam pengambilan kebijakan pembangunan bukan<br />
merupakan suatu pilihan, melainkan suatu keharusan. Dalam makalah ini dibahas<br />
secara singkat beberapa strategi yang diperlukan untuk mempertahankan multifungsi pertanian di Indonesia.</p>
<p><strong>MULTIFUNGSI PERTANIAN DI INDONESIA</strong></p>
<p>Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang multifungsi pertanian masih<br />
rendah, terbukti dengan hasil penelitian Irawan et al. (2004) di DAS Citarum (Jawa<br />
Barat) dan DAS Kaligarang (Jawa Tengah). Masyarakat setempat baru mengenal 2?4 jenis fungsi pertanian, yaitu: 1) penghasil produk pertanian, 2) pemelihara pasokan air tanah, 3) pengendali banjir, dan 4) penyedia lapangan kerja. Padahal fungsi lahan pertanian bagi kemanusiaan jauh lebih banyak, seperti dikemukakan oleh Agus dan Husen (2005), yaitu: penghasil produk pertanian, berperan dalam mitigasi banjir, pengendali erosi tanah, pemelihara pasokan air tanah, penambat gas karbon atau gas rumah kaca, penyegar udara, pendaur ulang sampah organik, dan<br />
pemelihara keanekaragaman hayati. Lebih jauh di Korea Selatan, Eom dan Kang<br />
(2001) dalam Agus dan Husen (2005) mengidentifikasi 30 jenis fungsi pertanian<br />
yang bermanfaat bagi masyarakat umum dan perlu terus dilestarikan.<br />
Pandangan masyarakat umum yang kurang benar terhadap pertanian seperti<br />
tersebut di atas merupakan salah satu sebab rendahnya penghargaan terhadap<br />
pertanian. Lebih jauh lagi, hal tersebut menyebabkan pandangan terhadap konversi<br />
lahan pertanian pun kurang proporsional.<br />
Mereka menganggap konversi lahan sebagai hal yang biasa, bukan sebagai<br />
proses hilangnya multifungsi pertanian. Hal lain yang mendorong konversi lahan pertanian adalah kondisi sosial-ekonomi masyarakat pedesaan yang memerlukan<br />
pendapatan segera untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, serta pemikiran tentang fungsi lahan pertanian hanya dalam jangka pendek dan ruang<br />
lingkup yang sempit. Selain itu, terdapat faktor eksternal yang mendorong percepatan proses konversi tersebut yaitu gencarnya pembangunan sektor nonpertanian dalam memperoleh lahan yang siap pakai, terutama ditinjau dari karakteristik biofisik dan asesibilitas. Kebutuhan tersebut pada umumnya dapat terpenuhi oleh lahan pertanian beririgasi.<br />
Isu multifungsi pertanian sudah mulai banyak diperhatikan dan dibicarakan<br />
di Indonesia, namun masih terbatas sebagai wacana di kalangan terbatas,<br />
seperti para ilmuwan, peneliti, perguruan tinggi, dan pengamat pertanian. Tampaknya para pengambil kebijakan di tingkat pusat maupun daerah belum banyak mempertimbangkan manfaat multifungsi tersebut dalam menetapkan kebijakan pembangunan pertanian. Demikian juga masyarakat umum masih kurang peduli terhadap kenyataan adanya multifungsi pertanian, yang seyogianya dijadikan<br />
bahan pertimbangan dalam menilai lahan pertanian. Ke depan, masih perlu advokasi<br />
lebih lanjut tentang pentingnya multifungsi tersebut dalam kehidupan, yang<br />
tidak bijaksana apabila mengabaikannya.<br />
Dari sudut penelitian, perlu diteliti berbagai jenis fungsi yang dimiliki<br />
berbagai tipe pertanian seperti sawah irigasi dan tadah hujan, pertanian tanaman<br />
pangan lahan kering, pertanian rawa, dan perkebunan.<br />
<strong>DEGRADASI MULTIFUNGSI PERTANIAN</strong></p>
<p>Multifungsi pertanian di Indonesia saat ini sedang mengalami degradasi, sejalan<br />
dengan menurunnya kualitas dan kuantitas lahan pertanian. Proses degradasi<br />
multifungsi lahan yang paling signifikan adalah konversi lahan pertanian, karena<br />
proses ini menghilangkan semua fungsi pertanian bersamaan dengan beralihnya<br />
fungsi lahan pertanian itu sendiri. Proses degradasi lain yang banyak terjadi adalah<br />
erosi dan longsor, pencemaran, dan kebakaran hutan atau lahan.<br />
Konversi Lahan Pertanian Proses konversi lahan saat ini berlangsung tidak terkendali, terutama terhadap lahan sawah irigasi di Jawa dan<br />
sekitar kota-kota besar di luar Jawa.<br />
Konversi lahan akan terus berlangsung<br />
sebagai dampak berbagai pembangunan<br />
yang memerlukan lahan seperti sektor<br />
industri, transportasi, pendidikan, dan<br />
permukiman. Winoto (2005) menyatakan<br />
bahwa ancaman konversi lahan sawah ke<br />
depan sangat besar, yang mengancam<br />
sekitar 42,40% luas sawah beririgasi di<br />
Indonesia, seperti tergambarkan dalam<br />
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)</p>
<p>Pemerintah Kabupaten. Salah satu penyebabnya<br />
adalah adanya kepentingan Pemerintah<br />
Daerah untuk mengumpulkan dana<br />
melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD),<br />
yang diupayakan antara lain dengan cara<br />
meningkatkan nilai ekonomi lahan pertanian.<br />
Perhitungan Pemda mungkin benar<br />
apabila nilai lahan pertanian hanya diukur<br />
dengan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)<br />
yang diperoleh, sehingga konversi ke<br />
penggunaan untuk industri atau permukiman<br />
misalnya dianggap akan lebih<br />
menguntungkan. Namun, akan lain kesimpulannya<br />
bila nilai multifungsi pertanian<br />
dipertimbangkan juga dan dihitung nilai<br />
ekonomisnya.<br />
Erosi Tanah dan Pencemaran<br />
Kimiawi<br />
Erosi tanah oleh air telah terjadi sejak lama<br />
dan masih terus berlanjut sampai saat ini.<br />
Beberapa data yang mendukung pernyataan<br />
ini dapat dikemukakan, antara<br />
lain: 1) sedimentasi di DAS Cilutung<br />
(Jawa Barat) meningkat dari 0,90 mm/<br />
tahun pada 1911/12 menjadi 1,90 mm/<br />
tahun pada 1934/35, dan naik lagi menjadi<br />
5 mm/tahun pada 1970-an (Soemarwoto<br />
1974), 2) laju erosi di DAS Cimanuk (Jawa<br />
Barat) mencapai 5,20 mm/tahun, mencakup<br />
areal 332 ribu ha (Partosedono 1977), 3)<br />
pada tanah Ultisols di Citayam (Jawa<br />
Barat) yang berlereng 14% dan ditanami<br />
tanaman pangan semusim, laju erosinya<br />
mencapai 25 mm/tahun (Suwardjo 1981),<br />
4) di Putat (Jawa Tengah) laju erosi<br />
mencapai 15 mm/tahun, dan di Punung<br />
(Jawa Timur) sekitar 14 mm/tahun;<br />
keduanya pada tanah Alfisols berlereng<br />
9?10% yang ditanami tanaman pangan<br />
semusim (Abdurachman et al. 1985), dan<br />
5) di Pekalongan, Lampung, laju erosi<br />
tanah mencapai 3 mm/tahun pada tanah<br />
Ultisols berlereng 3,50% yang ditanami<br />
tanaman pangan semusim; dan pada<br />
tanah Ultisols di Baturaja berlereng 14%,<br />
laju erosinya mencapai 4,60 mm/tahun<br />
(Abdurachman et al. 1985).<br />
Secara teknis, proses erosi tanah<br />
dapat dikendalikan karena sudah banyak<br />
teknologi pengendalian erosi yang cukup<br />
efektif, seperti teras bangku, gulud, strip<br />
rumput, mulsa, dan pertanaman lorong<br />
(Abdurachman et al. 2005). Namun,<br />
adopsi teknologi konservasi tersebut<br />
terkendala oleh berbagai permasalahan<br />
sosial-ekonomi, terutama lemahnya<br />
permodalan petani. Petani mendahulukan<br />
kegiatan yang langsung memberikan<br />
keuntungan seperti pemupukan dan<br />
pemberantasan hama atau penyakit,<br />
sedangkan penerapan teknologi pengendalian<br />
erosi merupakan prioritas terakhir,<br />
karena dianggap mahal dan tidak terasa<br />
keuntungannya dalam jangka pendek.<br />
Lahan pertanian di Indonesia juga<br />
mengalami penurunan kualitas akibat<br />
penggunaan bahan-bahan agrokimia,<br />
seperti insektisida, pestisida, dan herbisida.<br />
Penggunaan bahan kimia tersebut<br />
meninggalkan residu dalam tanah serta<br />
dalam bagian tanaman seperti buah, daun,<br />
dan umbi. Data lapangan menunjukkan<br />
adanya residu insektisida pada beras dan<br />
tanah sawah di Jawa, berupa organofosfat,<br />
organoklorin, dan karbamat (Ardiwinata<br />
et al. 1999; Harsanti et al. 1999;<br />
Jatmiko et al. 1999).<br />
Kebakaran dan Longsor<br />
Kebakaran hutan atau lahan terjadi setiap<br />
tahun di Indonesia, terutama di Kalimantan,<br />
Sumatera, Sulawesi, dan Papua.<br />
Menurut Bappenas (1998), di Indonesia<br />
sekitar 1,50 juta ha lahan gambut terbakar<br />
selama musim kemarau 1997. Parish (2002)<br />
melaporkan terjadinya kebakaran lahan<br />
gambut seluas 0,50 juta ha di Kalimantan<br />
pada musim kemarau 1982 dan 1983.<br />
Kebakaran ini menurut Jaya et al. (2000)<br />
secara langsung mengakibatkan hilangnya<br />
serasah dan lapisan atas gambut.<br />
Kebakaran hutan juga menimbulkan<br />
kerugian seperti gangguan terhadap<br />
keanekaragaman hayati, lingkungan hidup,<br />
kesehatan, serta kelancaran transportasi<br />
(Musa dan Parlan 2002).<br />
Di sisi lain, lahan pertanian juga<br />
sering terdegradasi oleh banjir dan<br />
longsor. Pada tahun 1998?2004 di Indonesia<br />
terjadi banjir 402 kali dan longsor<br />
294 kali, yang mengakibatkan kerugian<br />
materiil Rp 668 miliar (Kartodihardjo 2006).<br />
Banjir dan longsor membawa tanah dari<br />
puncak atau lereng bukit ke tempat di<br />
bawahnya, dan menimbulkan kerusakan<br />
lahan pertanian baik di lokasi longsor<br />
maupun pada lahan pertanian yang<br />
tertimbun longsoran tanah, serta alur di<br />
antara kedua tempat tersebut. Lahan<br />
pertanian yang terkena banjir dan longsor<br />
tersebut jelas terdegradasi multifungsinya.<br />
PERMASALAHAN<br />
MEMPERTAHANKAN<br />
MULTIFUNGSI PERTANIAN<br />
Walaupun disadari pentingnya upaya<br />
mempertahankan multifungsi lahan, dan<br />
berbagai teknologi dan cara mengatasinya<br />
sudah tersedia, implementasinya<br />
tidaklah mudah. Upaya tersebut dihadapkan<br />
kepada beberapa permasalahan yang<br />
harus diatasi dengan baik, bila multifungsi<br />
pertanian akan dipertahankan.<br />
Rendahnya Apresiasi terhadap<br />
Pertanian<br />
Disadari bahwa sektor pertanian sangat<br />
penting karena menyediakan berbagai<br />
produk yang dibutuhkan seluruh penduduk,<br />
dan menghasilkan komoditas<br />
ekspor. Namun, masyarakat memandang<br />
sektor industri, perdagangan, pertambangan,<br />
dan lain-lain memberikan lebih<br />
banyak keuntungan bagi mereka yang<br />
bekerja di dalamnya, dan lebih terjamin<br />
dibanding para petani. Usaha pertanian<br />
dianggap mengandung banyak risiko<br />
kegagalan, dan harga jual produknya<br />
relatif rendah.<br />
Pandangan masyarakat umum tersebut<br />
menjadikan bidang pertanian<br />
sebagai pilihan terakhir dalam melakukan<br />
investasi dan pencarian pekerjaan.<br />
Demikian juga dalam penggunaan lahan<br />
pertanian, masyarakat cenderung untuk<br />
tidak mempertahankannya apabila ada<br />
rencana konversi lahan ke penggunaan<br />
nonpertanian.<br />
Tingginya Nilai Faktor-faktor<br />
Penyebab Erosi dan Longsor<br />
Kondisi sumber daya alam Indonesia<br />
cenderung mempercepat laju erosi dan<br />
longsor, terutama tiga faktor berikut: 1)<br />
curah hujan yang tinggi, 2) lereng yang<br />
curam, dan 3) tanah yang peka erosi. Salah<br />
satu faktor atau gabungan faktor-faktor<br />
tersebut akan menyebabkan tingginya<br />
laju erosi. Dari ketiga faktor alami tersebut,<br />
faktor lereng merupakan penyebab erosi<br />
alami yang paling dominan di samping<br />
curah hujan yang tinggi. Sebagian besar<br />
(77%) lahan di Indonesia berlereng &gt;3%<br />
dengan topografi bervariasi dari datar<br />
agak berombak, bergelombang, berbukit<br />
sampai bergunung. Lahan datar (lereng</p>
<p>&lt;3%) hanya sekitar 42,60 juta ha, kurang<br />
dari seperempat wilayah Indonesia<br />
(Subagyo et al. 2000).<br />
Praktek Pertanian Tanpa<br />
Penerapan Konservasi<br />
Laju erosi akan meningkat apabila faktor<br />
manusia juga turut berperan, yaitu jika<br />
petani melaksanakan pertanian tanpa<br />
penerapan teknik-teknik konservasi<br />
tanah. Hal ini banyak terjadi pada<br />
pertanian lahan kering di lereng-lereng<br />
bukit atau gunung. Pada umumnya para<br />
petani pengguna lahan tersebut tergolong<br />
petani gurem dengan luas garapan kurang<br />
dari 1 ha dan modal kerja kecil. Dengan<br />
kondisi ekonomi seperti itu, dapat dimengerti<br />
mengapa mereka tidak menerapkan<br />
teknik-teknik pengendalian erosi.<br />
Praktek pertanian tanpa penerapan<br />
teknik konservasi dapat dilihat pada sistem<br />
perladangan berpindah (slash and<br />
burn) yang masih banyak dijumpai di luar<br />
Jawa. Bahkan pada sistem pertanian<br />
menetap pun, baik yang ada di Jawa<br />
maupun pulau-pulau lain, penerapan<br />
teknik-teknik konservasi tanah belum<br />
merupakan kebiasaan petani, dan belum<br />
dianggap bagian penting dari budi daya<br />
pertanian.<br />
Masalah Politik dan Sosial-<br />
Ekonomi<br />
Rendahnya penerapan teknik-teknik konservasi<br />
bukan disebabkan oleh kurangnya<br />
teknologi konservasi yang dibutuhkan,<br />
namun lebih disebabkan oleh hambatan<br />
yang lebih besar, yaitu masalah politik,<br />
sosial, dan ekonomi. Hambatan-hambatan<br />
tersebut menyebabkan penerapan teknikteknik<br />
konservasi tanah belum berhasil<br />
baik, dan proses degradasi masih terus<br />
berlangsung.<br />
Politik atau kebijakan pemerintah<br />
dalam menangani konservasi tanah dan<br />
air sangat menentukan keberhasilan<br />
upaya pengendalian degradasi lingkup<br />
nasional. Hal ini disadari oleh banyak<br />
pihak, namun realisasi yang berupa<br />
program dan pendanaan sering tidak<br />
dijadikan prioritas utama. Pemerintah<br />
lebih mengarahkan program dan pendanaannya<br />
kepada kegiatan-kegiatan<br />
yang dapat memberikan hasil segera dan<br />
mudah dilihat masyarakat umum, seperti<br />
pembuatan jalan, jembatan, irigasi, dan<br />
subsidi pupuk. Di sisi lain, program<br />
konservasi tanah tidak cepat dan tidak<br />
mudah terlihat hasilnya, padahal kebutuhan<br />
biaya implementasinya cukup<br />
besar.<br />
Masalah sosial sering menghambat<br />
upaya konservasi lahan pertanian, seperti<br />
kepemilikan dan hak atas lahan, fragmentasi<br />
lahan pertanian, sempitnya lahan<br />
garapan petani, dan tekanan penduduk.<br />
Selain itu, ada permasalahan yang melekat<br />
pada petani sendiri, misalnya keengganan<br />
berpindah dari lahan yang tidak sesuai<br />
untuk pertanian seperti DAS bagian hulu,<br />
atau mengganti komoditas pertanian dari<br />
tanaman semusim menjadi tanaman<br />
tahunan.<br />
Hambatan ekonomis terkait dengan<br />
kondisi petani, yang pada umumnya<br />
tergolong petani kecil atau petani gurem<br />
yang tidak memiliki modal kerja cukup,<br />
sehingga komponen konservasi lahan<br />
terabaikan. Mereka sangat membutuhkan<br />
hasil langsung yang dapat diperoleh segera<br />
untuk memenuhi kebutuhan seharihari<br />
keluarganya. Di sisi lain, penerapan<br />
tindakan konservasi memerlukan biaya<br />
tinggi, sedangkan hasilnya baru dapat<br />
terlihat dalam jangka panjang.<br />
Dalam masalah konversi atau alih<br />
fungsi lahan pertanian ke nonpertanian,<br />
banyak petani menjual lahan pertaniannya<br />
karena membutuhkan dana untuk<br />
keperluan hidup keluarga, walaupun<br />
terpaksa kehilangan atau berkurang mata<br />
pencahariannya. Dalam hal kebakaran<br />
hutan, masalah ekonomi yang menonjol<br />
adalah memilih cara penyiapan lahan<br />
untuk perkebunan yang biayanya murah.<br />
Namun, alasan tidak disiplin dan mau<br />
mudahnya saja lebih dominan dibanding<br />
alasan ekonomi.<br />
STRATEGI MEMPERTAHANKAN<br />
MULTIFUNGSI<br />
PERTANIAN<br />
Mempertahankan pertanian dengan<br />
multifungsinya merupakan hal yang<br />
sangat penting dalam pembangunan<br />
pertanian. Namun, hal ini tidak mudah, dan<br />
memerlukan kemauan politik pemerintah<br />
serta kesungguhan kerja masyarakat<br />
untuk bersama-sama mengupayakannya<br />
dengan menggunakan strategi yang tepat.<br />
Meningkatkan Citra Pertanian<br />
dan Masyarakat Tani<br />
Anggapan bahwa pertanian sebagai suatu<br />
usaha yang kurang menguntungkan,<br />
penuh risiko, dan kurang dihargai masyarakat<br />
perlu diubah menjadi agribisnis,<br />
yang merupakan bagian dari usaha yang<br />
cukup menjanjikan dan menantang,<br />
terutama bagi para investor. Demikian juga<br />
citra pengguna lahan sebagai petani<br />
gurem yang hidup subsisten dengan<br />
pengetahuan yang agak terbelakang,<br />
perlu diubah menjadi pelopor pembangunan<br />
menuju pertanian yang maju dan<br />
tangguh. Diharapkan para petani akan<br />
merasa lebih nyaman dan aman mengusahakan<br />
pertaniannya, tidak perlu beralih ke<br />
usaha lain.<br />
Mengubah Kebijakan Produk<br />
Pertanian Harga Murah<br />
Harga bahan pangan, yang merupakan<br />
produk utama pertanian rakyat, memang<br />
harus terjangkau oleh seluruh penduduk<br />
Indonesia. Hal ini perlu agar tidak ada<br />
yang kesulitan memperoleh makanan, dan<br />
tidak mengganggu kestabilan pemerintahan.<br />
Namun demikian, apabila harga<br />
hasil panen terlalu rendah terutama pada<br />
waktu panen besar, pihak yang dirugikan<br />
adalah para petani. Di luar masa panen,<br />
ketika petani sudah kehabisan simpanan<br />
hasil panennya, biasanya harga bahan<br />
pangan mahal sehingga petani mendapat<br />
kesulitan ekonomi.<br />
Upaya pemerintah sudah ada, antara<br />
lain dengan menetapkan harga dasar<br />
gabah atau harga pembelian gabah petani,<br />
namun belum berhasil baik. Diperlukan<br />
upaya yang lebih efektif, walaupun<br />
mungkin memerlukan biaya yang lebih<br />
besar. Apabila berhasil meningkatkan<br />
harga produk pertanian sesuai pengorbanan<br />
petani maka harkat sosial petani<br />
dan pertanian akan terangkat.<br />
Meningkatkan Apresiasi<br />
terhadap Multifungsi Pertanian<br />
Peningkatan kesadaran masyarakat akan<br />
adanya berbagai manfaat pertanian yang<br />
lestari sangat perlu dilakukan, mengingat<br />
saat ini manfaat yang dikenal hanyalah<br />
sebatas lahan pertanian sebagai penghasil<br />
bahan pangan dan produk pertanian<br />
lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan<br />
melaksanakan advokasi dan promosi akan<br />
pentingnya pertanian beserta multifungsinya.<br />
Dalam jangka pendek, promosi ini<br />
dapat dilakukan melalui seminar dan<br />
simposium, atau yang jangkauannya lebih</p>
<p>luas yaitu melalui media cetak dan elektronis.<br />
Dalam jangka panjang, sasaran<br />
promosi bukan hanya masyarakat umum,<br />
tetapi harus mencakup juga para pelajar<br />
dan mahasiswa, baik melalui kurikulum<br />
pokok maupun ekstrakurikuler.<br />
Mengendalikan Degradasi<br />
Lahan Pertanian<br />
Pengendalian erosi dan longsor. Teknologi<br />
pengendalian erosi dan longsor<br />
sudah banyak tersedia, baik berupa<br />
metode vegetatif maupun mekanis.<br />
Masalah yang perlu diatasi dalam upaya<br />
pengendalian degradasi lahan pertanian<br />
adalah rendahnya adopsi teknologi tersebut<br />
oleh para petani pengguna lahan.<br />
Perlu perbaikan dalam proses transfer<br />
teknologi dari sumber teknologi kepada<br />
penyuluh dan kepada pengguna teknologi.<br />
Selain itu, perlu peningkatan kemauan dan<br />
kemampuan petani untuk menerapkan<br />
teknologi konservasi yang dibutuhkan.<br />
Pengendalian pencemaran kimiawi.<br />
Dalam rangka mengatasi pencemaran<br />
tanah oleh agrokimia, pemerintah telah<br />
memberlakukan berbagai peraturan, antara<br />
lain: 1) Permentan No. 7/1973 tentang<br />
peredaran, penyimpanan, dan penggunaan<br />
pestisida, 2) Kepmentan No. 280/1973,<br />
tentang pendaftaran, aplikasi dan lisensi<br />
pestisida, 3) Kepmentan No 429/1973,<br />
tentang pembatasan pestisida, 4) Kepmentan<br />
No. 536/1985 tentang pengawasan<br />
pestisida, dan 5) UU No. 12/1992<br />
tentang budi daya tanaman. Namun demikian,<br />
kenyataan di lapangan menunjukkan<br />
bahwa penggunaan bahan-bahan agrokimia<br />
terus meningkat dari tahun ke tahun<br />
(Badan Pengendali Bimas 1990; Soeyitno<br />
dan Ardiwinata 1999). Peraturan-peraturan<br />
yang berlaku tidak mampu mengendalikan<br />
impor dan penggunaan bahanbahan<br />
agrokimia, antara lain karena<br />
penegakan hukumnya belum dilaksanakan<br />
dengan baik, dan perdagangan bahanbahan<br />
agrokimia menyangkut nilai ekonomi<br />
yang besar.<br />
Lahan pertanian juga perlu dilindungi<br />
terhadap pencemaran oleh limbah<br />
industri, seperti industri tekstil, kertas,<br />
baterai, dan cat, dengan cara pengaturan<br />
pembuangan limbah. Teknologi pengelolaan<br />
limbah sudah tersedia, antara lain<br />
berupa pembuatan instalasi pengolahan<br />
limbah untuk berbagai jenis limbah industri.<br />
Lebih jauh dari itu, sudah ditetapkan juga<br />
baku mutu limbah untuk berbagai unsur<br />
pencemar (Ramadhi 2002), dan beberapa<br />
peraturan daerah tentang pengendalian<br />
pencemaran tanah dan air. Namun demikian,<br />
upaya-upaya tersebut belum mampu<br />
mengendalikan proses pencemaran tanah<br />
pertanian.<br />
Pengendalian kebakaran dan kerusakan<br />
wilayah pertambangan. Pengendalian<br />
ini lebih mengarah kepada<br />
aspek sosial, budaya, hukum, dan kebijakan<br />
pemerintah dibanding dengan<br />
aspek teknis. Kebakaran hutan dan lahan<br />
misalnya, perlu dicegah dengan aturan<br />
pelarangan yang ketat dengan sanksi<br />
yang berat. Pembukaan hutan perlu<br />
diarahkan agar menggunakan cara mekanis<br />
atau manual sebagai pengganti cara<br />
pembakaran, yang meskipun murah dan<br />
mudah, namun mengakibatkan degradasi<br />
lahan dan lingkungan. Kerusakan wilayah<br />
pertambangan timah atau batu bara juga<br />
perlu dicegah dengan peraturan, agar<br />
cara-cara penambangannya lebih memperhatikan<br />
pemanfaatan lahan setelah<br />
penambangan selesai.<br />
Pengendalian daerah tangkapan<br />
hujan dan konversi lahan. Upaya perlindungan<br />
lahan pertanian yang mendesak<br />
untuk segera ditangani adalah: 1) pengendalian<br />
degradasi daerah tangkapan hujan<br />
(water catchment area), dan 2) pengendalian<br />
konversi lahan pertanian. Kedua<br />
macam degradasi lahan tersebut masih<br />
terus berlangsung dan menimbulkan<br />
hambatan besar bagi pembangunan sektor<br />
pertanian, berupa penurunan produksi<br />
pertanian nasional, di samping kerugian<br />
besar bagi keluarga tani dan masyarakat<br />
serta pemerintah daerah.<br />
Merealisasikan lahan pertanian<br />
abadi sesuai RPPK. Revitalisasi Pertanian,<br />
Perikanan, dan Kehutanan (RPPK)<br />
yang dicanangkan oleh Presiden RI pada<br />
bulan Juni 2005, merupakan strategi umum<br />
untuk meningkatkan kesejahteraan petani,<br />
nelayan dan petani hutan, serta menjaga<br />
kelestarian sumber daya alam (Kementerian<br />
Koordinator Bidang Perekonomian 2005).<br />
Salah satu hal penting yang dinyatakan<br />
dalam RPPK adalah perlunya penetapan,<br />
penegasan, dan penegakan hukum bagi<br />
tersedianya lahan pertanian abadi seluas<br />
30 juta ha, yang terdiri atas 15 juta ha lahan<br />
beririgasi dan 15 juta ha lahan kering.<br />
Penetapan ini merupakan salah satu<br />
strategi operasional, dengan tujuan utama<br />
untuk mengendalikan konversi lahan<br />
pertanian.<br />
Penetapan lahan sawah irigasi abadi<br />
seluas 15 juta ha harus dilaksanakan<br />
secara bertahap, karena sekarang ini luas<br />
sawah baku di Indonesia hanya sekitar<br />
7,78 juta ha (BPS 2003), dengan kualitas<br />
bervariasi dari sawah irigasi teknis sampai<br />
sawah tadah hujan. Abdurachman et al.<br />
(2005) mengemukakan kriteria biofisik<br />
penetapan lahan sawah abadi atau sawah<br />
utama dengan menggunakan tiga parameter,<br />
yaitu: status irigasi, intensitas pertanaman<br />
(IP), dan tingkat produktivitas.<br />
Berdasarkan kriteria tersebut, maka luas<br />
sawah yang layak dijadikan lahan sawah<br />
abadi hanya sekitar 3,30 juta ha di Jawa,<br />
Bali, dan Lombok (Abdurachman et al.<br />
2004). Lahan-lahan sawah di Sumatera,<br />
Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau<br />
lainnya belum selesai dievaluasi seluruhnya.<br />
Namun demikian, jelas masih jauh<br />
untuk mendapatkan luasan 15 juta ha<br />
sawah abadi, karena pencetakan sawah<br />
baru memerlukan biaya tinggi dan waktu<br />
lama.<br />
Pertanian lahan kering yang ada<br />
(existing) di Indonesia cukup luas, yaitu<br />
sekitar 39,60 juta ha (BPS 2004), terdiri atas<br />
tegalan 15,60 juta ha, pekarangan 5,70 juta<br />
ha, dan perkebunan 18,30 juta ha. Di<br />
samping itu, terdapat lahan kayu-kayuan<br />
10,40 juta ha dan lahan terlantar 10,20 juta<br />
ha. Dengan demikian, menemukan pertanian<br />
lahan kering abadi seluas 15 juta ha<br />
cukup mudah dengan memilih dan<br />
memanfaatkan lahan yang ada. Sekarang<br />
ini sedang disusun kriteria lahan abadi<br />
yang dimaksud, dan sedang dipelajari<br />
pula permasalahan lain yang terkait,<br />
seperti tinjauan aspek hukum, sosial dan<br />
ekonomi, di samping permasalahan<br />
biofisik lahan.<br />
KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Adanya keunggulan pertanian berupa<br />
multifungsi yang bermanfaat besar bagi<br />
masyarakat sudah mulai diperhatikan dan<br />
diapresiasi, namun masih terbatas oleh<br />
kalangan tertentu seperti peneliti, ilmuwan,<br />
dan pengamat pertanian. Masyarakat luas,<br />
termasuk para petani, baru mengenal 2?4<br />
fungsi pertanian sehingga penghargaan<br />
terhadap pertanian kurang sesuai dengan<br />
nilai pertanian yang sebenarnya. Oleh<br />
karena itu, masyarakat memandang<br />
konversi lahan pertanian sebagai suatu<br />
hal biasa, dan bukan sebagai proses<br />
hilangnya multifungsi pertanian.<br />
Lahan pertanian di Indonesia secara<br />
umum terus mengalami degradasi, yang<br />
berarti proses penurunan multifungsi</p>
<p>pertanian pun terus terjadi. Upaya pemerintah<br />
dalam pengendalian degradasi lahan<br />
pertanian masih perlu ditingkatkan,<br />
sementara petani tidak memiliki kemampuan<br />
yang memadai untuk mengatasi<br />
faktor-faktor penyebabnya secara efektif<br />
dan cepat.<br />
Strategi utama untuk mempertahankan<br />
multifungsi pertanian di Indonesia<br />
adalah: 1) meningkatkan citra pertanian<br />
dan masyarakat tani, 2) mengubah<br />
kebijakan produk pertanian harga murah,<br />
3) meningkatkan apresiasi terhadap multifungsi<br />
pertanian, 4) meningkatkan upaya<br />
konservasi lahan pertanian, dan 5) operasionalisasi<br />
penetapan lahan pertanian<br />
abadi sesuai RPPK. Penerapan strategi<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Abdurachman, A., A. Barus, U. Kurnia, dan<br />
Sudirman. 1985. Peranan pola tanam dalam<br />
usaha pencegahan erosi pada lahan pertanian<br />
tanaman semusim. Pemberitaan Penelitian<br />
Tanah dan Pupuk No. 4: 41?46.<br />
Abdurachman, A., Wahyunto, dan R. Shofiyati.<br />
2004. Gagasan pengendalian konversi lahan<br />
sawah dalam rangka peningkatan ketahanan<br />
pangan nasional. Prosiding Seminar Nasional<br />
Multifungsi Pertanian dan Konversi Sumber<br />
Daya Lahan. Bogor, 18 Desember 2003 dan<br />
7 Januari 2004. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. hlm. 24?47.<br />
Abdurachman, A., S. Sutono, dan N. Sutrisno.<br />
2005. Teknologi pengendalian erosi lahan<br />
berlereng. hlm. 101?140. Dalam Abdurachman,<br />
T. Mappaena, dan Saleh. (Ed.). Teknologi<br />
Pengelolaan Lahan Kering: Menuju<br />
Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Tanah dan Agroklimat, Bogor.<br />
Abdurachman, A., Wahyunto, dan R. Shofiyati.<br />
2005. Kriteria biofisik dalam penetapan<br />
lahan sawah abadi di Pulau Jawa. Jurnal<br />
Penelitian dan Pengembangan Pertanian 24<br />
(4): 131?136.<br />
Agus, F. dan E. Husen. 2005. Tinjauan umum<br />
multifungsi pertanian. Prosiding Seminar<br />
Nasional Multifungsi Pertanian dan Ketahanan<br />
Pangan. Bogor, 12 Oktober dan<br />
24 Desember 2004. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. hlm. 1?16.<br />
Agus, F., H. Pawitan, dan E. Husen. 2004.<br />
Ringkasan Eksekutif. Prosiding Seminar<br />
Multifungsi Pertanian dan Konservasi<br />
Sumber Daya Lahan. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.<br />
Ardiwinata, A.N., S.Y. Jatmiko, dan E.S. Harsanti.<br />
1999. Monitoring residu insektisida di Jawa<br />
Barat. Dalam Risalah Seminar Hasil<br />
Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan<br />
Produktivitas Padi di Lahan Sawah Menuju<br />
Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan,<br />
24 April 1999. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.<br />
Bappenas. 1998. Planning for fire prevention<br />
and drought management project: Internal<br />
Report. Bappenas, Jakarta.<br />
Badan Pengendali Bimas. 1990. Pesticide Use in<br />
Planning and Realization for Food Crops.<br />
Ministry of Agriculture. Laporan Badan<br />
Pengendali Bimas, Jakarta. 13 pp.<br />
BPS (Badan Pusat Statistik). 2003?2004.<br />
Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik,<br />
Jakarta.<br />
Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan<br />
Lahan. 1993. Laporan inventarisasi/identifikasi<br />
lahan marginal/kritis pada kawasan<br />
lahan usaha tani seluruh Indonesia. Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan, Departemen<br />
Pertanian, Jakarta.<br />
Harsanti, E.S., S.Y. Jatmiko, dan A.N. Ardiwinata.<br />
1999. Residu insektisida pada ekosistem<br />
lahan sawah irigasi di Jawa Timur. Dalam<br />
Risalah Seminar Hasil Penelitian Emisi GRK<br />
dan Peningkatan Produktivitas Padi di<br />
Lahan Sawah Menuju Sistem Produksi Padi<br />
Berwawasan Lingkungan, 24 April 1999.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman<br />
Pangan, Bogor.<br />
Irawan, S. Eriyatno, A. Supriyatna, I.S. Anugrah,<br />
N.A. Kirom, B. Rachman, dan B. Wiryono.<br />
2001. Perumusan Model Kelembagaan<br />
Konversi Lahan Pertanian. Pusat Penelitian<br />
Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.<br />
Irawan, B., E. Husen, Maswar, R.L. Watung, dan<br />
F. Agus. 2004. Persepsi dan apresiasi<br />
masyarakat terhadap multifungsi pertanian:<br />
Studi kasus di Jawa Barat dan Jawa Tengah.<br />
Prosiding Seminar Multifungsi Pertanian dan<br />
Konservasi Sumber Daya Lahan. Pusat<br />
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan<br />
Agroklimat, Bogor. hlm. 21?43.<br />
Jatmiko, S.Y., E.S. Harsanti, dan A.N. Ardiwinata.<br />
1999. Pencemaran Pestisida pada Agro-<br />
Ekosistem Lahan Sawah Irigasi dan Tadah<br />
Hujan di Jawa Tengah. Risalah Seminar Hasil<br />
Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan<br />
Produktivitas Padi di Lahan Sawah menuju<br />
Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan,<br />
24 April 1999. Puslitbangtan, Bogor.<br />
Jaya, A., S.E. Page, J.O. Rieley, S. Limin, and<br />
H.D.V. Bohn. 2000. Impact of forest fire<br />
on carbon storage in tropical peat lands. In.<br />
L. Rochefort and J.Y. Daigle (Eds.).<br />
Sustaining Our Peatlands. Proc. of the 11th<br />
International Peat Congress, Quebec City,<br />
Canada. p. 106?113.<br />
Kartodihardjo, H. 2006. Masalah dan Kebijakan<br />
Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Makalah<br />
disampaikan pada Diskusi Terbuka Rehabilitasi<br />
Hutan dan Lahan: Kebijakan,<br />
operasionalisasi dan gagasan baru. Institut<br />
Pertanian Bogor, Bogor.<br />
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.<br />
2005. Revitalisasi Pertanian, Perikanan,<br />
dan Kehutanan (RPPK) Indonesia. Kementerian<br />
Koordinator Bidang Perekonomian,<br />
Jakarta. hlm. 56.<br />
Musa, S. and I. Parlan. 2002. The 1997/1998<br />
forest fire experience in Peninsular Malaysia.<br />
Workshop on Prevention and Control<br />
of Fire in Peatland, 19?21 March 2002.<br />
MARDI. Kuala Lumpur, Malaysia. p. 8.<br />
Parish, F. 2002. Peatlands. Biodiversity and<br />
Climate Changes in SE Asia, an overview.<br />
Paper presented at Workshop on Prevention<br />
and Control of Fire in Peatlands, 19?21<br />
March 2002, MARDI. Kuala Lumpur,<br />
Malaysia. p. 11.<br />
Partosedono, R.S. 1977. Effects of Man’s<br />
Activity on Erosion in Rural Environments<br />
and Feasibility Study for Rehabilitation. In<br />
Publ. No. 113: 53?54. Paris. IAHS-AISH.<br />
Ramadhi, T. 2002. Identifikasi Pencemaran<br />
Lahan Sawah Akibat Limbah Industri Tekstil<br />
(Studi Kasus di Kecamatan Rancaekek,<br />
Bandung). Laporan Praktek Lapang. Program<br />
Studi Analisis Lingkungan, Fakultas Matematika<br />
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut<br />
Pertanian Bogor, Bogor.<br />
Soejitno, J. dan A.N. Ardiwinata. 1999. Residu<br />
pestisida pada agroekosistem tanaman<br />
pangan. Dalam Risalah Seminar Hasil<br />
Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan<br />
Produktivitas Padi di Lahan Sawah Menuju<br />
Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan,<br />
24 April 1999. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.<br />
Soemarwoto, O. 1974. The soil erosion problem<br />
in Java. Proc. First International Congress<br />
of Ecology. The Hague. p. 361?364.<br />
Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2000.<br />
Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Dalam<br />
Abdurachman, Amien, Agus, dan Djaenudin<br />
(Ed.). Sumber Daya Lahan Indonesia dan<br />
Pengelolaannya. Pusat Penelitian dan<br />
tersebut memerlukan kemauan politik dan<br />
fasilitasi pemerintah, dan perlu didukung<br />
oleh para petugas pertanian di lapangan.<br />
Mereka harus bekerja sama dengan<br />
masyarakat tani dalam memahami dan<br />
melaksanakan segala upaya untuk mempertahankan<br />
multifungsi pertanian.</p>
<p>Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. hlm. 21?66.<br />
Suwardjo, H. 1981. Peranan Sisa-sisa Tanaman<br />
dalam Konservasi Tanah pada Usaha Tani<br />
Tanaman Semusim. Tesis Doktor, Institut<br />
Pertanian Bogor, Bogor.<br />
Winoto, J. 2005. Kebijakan Pengendalian Alih<br />
Fungsi Tanah Pertanian dan Implementasinya.<br />
Seminar Sehari Penanganan<br />
Konversi Lahan dan Pencapaian Lahan<br />
Pertanian Abadi. Departemen Pekerjaan<br />
Umum 13 Desember 2005. Bogor. hlm. 8.</p>
<p>dari : pustaka-deptan.go.id</p></div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/1095/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/1095/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/1095/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/1095/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/1095/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/1095/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/1095/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/1095/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/1095/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/1095/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=1095&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/strategi-mempertahankan-multifungsi-pertanian-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Walhi Serahkan Uang Donasi Untuk Sewa Hutan Indonesia</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/04/21/walhi-serahkan-uang-donasi-untuk-sewa-hutan-indonesia/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/04/21/walhi-serahkan-uang-donasi-untuk-sewa-hutan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 23:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[


Kompas/Ahmad Arif
Kerusakan hutan di kawasan ekosistem Leuser yang berada di sekitar jalur Ladia Galaska ke arah Pinning, Kabupaten Gayo Lues, NAD pada September 2005.



Senin, 3 Maret 2008 &#124; 14:00 WIB
JAKARTA, SENIN &#8211; Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Nasional WALHI, bersama dengan beberapa tokoh Republik Mimpi seperti Jarwo Kuat dan Effendi Gazali menyerahkan uang sejumlah Rp1.614.000 hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=741&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="width:300px;float:left;margin-right:10px;">
<div style="width:298px;padding:0 0 5px;">
<div id="loadarea" style="margin-bottom:5px;width:298px;"><img src="http://kompas.com/photo/2008/01/29/203231p.JPG" border="0" alt="" width="298" /></div>
<div id="boxpoto" style="margin-bottom:0;text-align:right;font-family:arial;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:9px;line-height:normal;color:#666666;"><a href="http://kompas.com/index.php/read/xml/2008/03/03/14005262/walhi.serahkan.uang.donasi.untuk.sewa.hutan.indonesia.#">Kompas/Ahmad Arif</a></div>
<div id="boxtitle" style="margin-bottom:0;font-family:arial;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:11px;line-height:normal;color:#333333;">Kerusakan hutan di kawasan ekosistem Leuser yang berada di sekitar jalur Ladia Galaska ke arah Pinning, Kabupaten Gayo Lues, NAD pada September 2005.</div>
</div>
<p><!--- video --></p>
</div>
<div class="tanggal">Senin, 3 Maret 2008 | 14:00 WIB</div>
<p><strong>JAKARTA, SENIN</strong> &#8211; Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Nasional WALHI, bersama dengan beberapa tokoh <em>Republik Mimpi</em> seperti Jarwo Kuat dan Effendi Gazali menyerahkan uang sejumlah Rp1.614.000 hasil donasi kepada Departmen Keuangan Republik Indonesia yang diwakili oleh Agoeng Adhianto, kepala humas Depkeu, untuk menyewa lahan hutan Indonesia selama dua tahun, Senin (3/3).</p>
<p>Penyerahan uang ini sebagai bagian dari aksi kepedulian lingkungan yang dilakukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menolak PP No.2/2008 tentang penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan hutan. Menurut Chalid, peraturan pemerintah ini jelas akan menimbulkan kerusakan hutan secara permanen.</p>
<p>&#8220;PP ini jelas akan mengijinkan pembukaan hutan lindung dan hutan produksi untuk kegiatan tambang dengan tarif sewa seharga seratus dua puluh hingga tiga ratus rupiah per meter persegi,&#8221; tegas Chalid. Dalam aksinya di depan kantor Depkeu, WALHI menggelar orasi, spanduk dan dagangan dari dua penjual gorengan sebagai simbol bahwa hutan Indonesia hanya dihargai senilai harga gorengan.<span id="more-741"></span></p>
<p>PP ini menurut WALHI akan berpotensi merusak lebih dari 900 ribu hektar hutan lindung di Indonesia yang dilakukan oleh tiga belas perusahaan yang telah ditunjuk pemerintah. Chalid menambahkkan bahwa aksi mereka tidak akan berhenti di sini. Ia mengaku telah mendapat dukungan dari sejumlah donatur yang bersedia untuk memberikan sumbangan untuk menyewa lahan hutan di Inonesia selama dua tahun.</p>
<p>WALHI juga mengajak seluruh lapisan masyarakat yang masih peduli terhadap hutan Indonesia untuk ikut memberikan sumbangan untuk melawan peraturan pemerintah ini. &#8220;Kami sudah mengumpulkan seratus dua puluh empat orang yang bersedia menyewa hutan Indonesia. Antara lain Daniel Dakidae, Frangky Sahilatua, dan Olga Lidya. Masing-masing bersedia menyewa antar satu hingga sepuluh hektar hanya selama dua tahun. Kami yakin setelah dua ribu sembilan pemerintah yang baru akan mencabut PP ini,&#8221; ujar Chalid.<strong> (KP)</strong><br />
<strong>KP</strong></p>
<p>dari : Kompas.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/741/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/741/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/741/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=741&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/04/21/walhi-serahkan-uang-donasi-untuk-sewa-hutan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kompas.com/photo/2008/01/29/203231p.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Walhi: Donasi Publik Capai Rp 34 M</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/04/21/walhi-donasi-publik-capai-rp-34-m/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/04/21/walhi-donasi-publik-capai-rp-34-m/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 23:49:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 13 April 2008 &#124; 18:44 WIB
KALIANDA, MINGGU &#8211; Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi terus menggalang kekuatan publik untuk mendesak pemerintah mencabut PP No. 2 tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berasal dari penggunaan kawasan hutan. Penggalangan kekuatan berupa donasi publik sejak 4 Februari 2008 hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=742&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="tanggal">Minggu, 13 April 2008 | 18:44 WIB</div>
<p><strong>KALIANDA, MINGGU</strong> &#8211; Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi terus menggalang kekuatan publik untuk mendesak pemerintah mencabut PP No. 2 tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berasal dari penggunaan kawasan hutan. Penggalangan kekuatan berupa donasi publik sejak 4 Februari 2008 hingga kini sudah terkumpul sekitar Rp 34 miliar dan akan terus dilakukan hingga enam bulan ke depan.</p>
<p>&#8220;Dana itu akan kami sumbangkan kepada Negara melalui Departemen Keuangan. Negara sedang membutuhkan dana sampai-sampai mengizinkan pembukaan hutan lindung untuk pertambangan kepada 13 perusahaan pertambangan dengan tarif sangat murah Rp 300 per meter per tahun,&#8221; ujar Direktur Eksekutif Walhi Nasional Chalid Muhammad, Minggu (13/4) pada acara peringatan Hari Bumi di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan.</p>
<p>Chalid mengatakan, upaya penggalangan donasi publik merupakan upaya Walhi mengajak masyarakat menolak upaya pemerintah merusak hutan lindung lebih luas lagi. Walhi menyebutkan, laju kerusakan hutan di Indonesia yang sudah mencapai 2,7 juta hektar per tahun. Sehingga upaya tersebut sekaligus sebagai penegasan, masyarakat umum juga memiliki kemampuan mengelola hutan.</p>
<p>Walhi menyebutkan, sampai sekarang komitmen berupa donasi publiK yang masuk ke Walhi sudah sebesar Rp 34 miliar. &#8220;Donasi publik itu berasal dari individu-individu, seniman, ibu rumah tangga, anggota parlemen, seniman, dan juga kelompok-kelompok agama yang peduli kelestarian hutan, &#8221; kata Chalid.<span id="more-742"></span></p>
<p>Walhi yakin dukungan penolakan kebijakan pemerintah melalui donasi publik itu akan terus membesar. Walhi akan membuka dukungan donasi itu hingga enam bulan ke depan. Walhi merencanakan, donasi publik yang terkumpul akan diserahkan kepada Departemen Keuangan.</p>
<p>Menurut Chalid, upaya penolakan tegas semacam itu lebih merupakan tekanan politik kepada pemerintah untuk membatalkan kebijakan pengelolaan hutan lindung yang membolehkan 13 perusahaan pertambangan membuka hutan lindung. Walhi yakin, upaya tersebut jauh lebih berhasil daripada memakai jalur penolakan melalui <em>judicial review</em> di Mahkamah Agung (MA). &#8220;Pengadilan kita sedang sakit, penuh korupsi. Cara melalui tekanan semacam ini akan jauh lebih efektif,&#8221; katanya.<br />
<strong>HLN</strong></p>
<p>dari : kompas.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/742/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/742/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/742/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=742&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/04/21/walhi-donasi-publik-capai-rp-34-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harga Hutan Alam</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/18/harga-hutan-alam/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/18/harga-hutan-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 15:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/?p=699</guid>
		<description><![CDATA[ 		 Fachruddin Mangunjaya
Selasa, 18 Maret 2008 &#124; 19:58 WIB 




 
  				          




 Ketetapan yang dibuat dalam Peraturan Pemerintah tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak untuk Penggunaan Kawasan Hutan, Nomor 2 Tahun 2008, dianggap terlampau murah. Pemerintah memutuskan harga hutan dengan mengizinkan pembukaan kawasan hutan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=699&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- open --> 		 <!-- article --><font color="#666666" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="3"><b>Fachruddin Mangunjaya</b></font><br />
<font face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Selasa, 18 Maret 2008 | 19:58 WIB </font></p>
<p><font face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"></p>
<table align="left" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="150">
<tr>
<td bgcolor="#000000">
<div> <img src="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/img/fachrudinmangunjaya.jpg" border="0" height="115" hspace="0" vspace="0" width="150" /></p>
<div class="cap"><font color="#ffffff" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="1">  				          </font></div>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<p></font> Ketetapan yang dibuat dalam Peraturan Pemerintah tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak untuk Penggunaan Kawasan Hutan, Nomor 2 Tahun 2008, dianggap terlampau murah. Pemerintah memutuskan harga hutan dengan mengizinkan pembukaan kawasan hutan untuk kegiatan tambang, energi, infrastruktur telekomunikasi, dan jalan tol dengan tarif hanya Rp 1,2-2,4 juta per hektare. Tentu saja harga ini terlalu murah jika dibuat per meter, yaitu hanya Rp 102 dan Rp 240 per tahun, lebih murah dari harga pisang goreng yang sekarang berkisar Rp 300-500 per potong. Bandingkan pula murahnya harga 1 hektare lahan hutan, sama dengan harga 1 meter persegi tanah di kawasan menengah di Jakarta. Andaikan lahan itu di Jakarta&#8211;walaupun di bawahnya tidak ada lahan tambang&#8211;satu hektarenya akan berharga Rp 1,2 miliar hingga Rp 2,4 miliar.</p>
<p>Lalu, berapa harga yang pantas untuk nilai hutan sehingga diperoleh angka yang tepat dan bertanggung jawab? Dalam kondisi seperti sekarang, ketika semua orang sudah pandai berhitung, dengan kepentingan yang berbeda, harga ini akan sangat bervariasi karena perbedaan persepsi. Selama ini para pengambil kebijakan di bidang kehutanan, misalnya, hanya menghitung hasil hutan melalui rente ekonomi kayu (log). Hal ini karena ekonomi pasar tidak menghargai ranah publik yang lain, seperti nilai air sungai yang mengalir, fungsi hutan sebagai regulasi iklim, penyedia tanaman obat-obatan, dan sumber stok genetik, serta nilai-nilai yang tidak tampak lainnya. Karena itu, selama tidak ada nilai jual yang konkret yang menghasilkan pemasukan dan pendapatan negara, perhitungannya pun akan diabaikan. <span id="more-699"></span></p>
<p>Di lain pihak, akibat hilangnya fungsi-fungsi tersebut, masyarakat mulai sadar, sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh pemerintah, ketika terjadi bencana lingkungan, harga tersebut ternyata tidak mampu membawa penawar dan mengembalikan kehidupan mereka. Belum lagi biaya eksternalitas yang harus ditanggung oleh penduduk akibat limbah industri dan pertambangan yang mengakibatkan penurunan jasa ekosistem baik secara lokal maupun global.</p>
<p>Orientasi para pengambil keputusan di bidang kehutanan semacam ini&#8211;meminjam kata Emil Salim&#8211;masih berorientasi pada pembangunan konvensional yang antroposentris. Menyadari kesenjangan itu, para ahli lingkungan melakukan pendekatan penghitungan nilai ekonomi (valuasi ekonomi) terhadap hutan alam dan ekosistem alami yang ditinjau dari berbagai aspek. Secara teoretis, Indrawan dkk (2007) menghitung nilai ekonomi sumber daya dengan berbagai masukan. Pertama, nilai langsung, yaitu nilai-nilai ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan, misalnya perolehan ikan, daging, kayu bakar, bahan bangunan, tumbuhan obat, dan rumput serta tumbuhan yang dapat dimakan oleh ternak.</p>
<p>Kedua, nilai tidak langsung. Misalnya kontrol banjir, kesuburan tanah, penyerap karbon atau regulasi iklim, air minum, rekreasi, dan wisata alam, termasuk jasa misalnya pengamatan burung, jasa biologi seperti pengontrol hama, dan keberadaan serangga penyerbuk. Ketiga, perhitungan juga dilakukan untuk nilai pilihan masa depan, yaitu sebagai sumber obat, sumber daya genetik, wawasan biologi, dan suplai air. Dan keempat, nilai kehidupan, misalnya perlindungan keanekaragaman hayati, memelihara budaya penduduk lokal, melanjutkan proses evolusi, serta ekologi.</p>
<p>Berdasarkan penilaian ini, setiap daerah dan kawasan tentu akan berbeda-beda. Karena itu, valuasi ekonomi lingkungan biasanya mengambil jalan tengah untuk tidak memberikan kompensasi yang dipukul rata, dengan dan mempertimbangkan dampak ekologi yang dapat dikaitkan oleh pembangunan pada potensi dan kajian nilai-nilai ekonomi di daerah sekitarnya. Karena itu, apabila peraturan ini dilakukan secara nasional, ketentuan lain hendaknya memberikan keleluasaan kepada aturan di bawahnya berupa peraturan daerah dan peraturan menteri secara lebih terperinci dengan melihat berbagai pertimbangan ekologis yang turut dihitung.</p>
<p>Hendaknya kita belajar, ketika harga tersebut dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tengah melanda kita, seperti tanah longsor, banjir, kehilangan fungsi hutan sebagai regulasi ekosistem, bahkan dari peristiwa lumpur Lapindo yang ketika terjadi kerusakan dan bencana, harga yang diterima pasti tidak sebanding. Karena itu, wajarlah jika ada penolakan dari beberapa pemerintah daerah dalam penetapan harga tersebut. Sebab, pemda mulai sadar, masyarakat di daerahlah yang menjadi korban akibat kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat.</p>
<p>Sejak awal ditandatanganinya Perpu Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pertambangan di Hutan Lindung oleh Presiden Megawati yang kemudian menjadi UU Nomor 19 Tahun 2004, masih segar di ingatan kita perdebatan yang berpihak pada kebijakan untuk mengorbankan alam sebagai subyek dan sumber pendapatan ekonomi instan. Para pencinta lingkungan masih dapat berharap ada lagi skema lain yang bisa diandalkan untuk benar-benar memperketat penambangan di hutan lindung tersebut dengan peraturan ketat. Bahkan Departemen Kehutanan berjanji ingin memperketat peraturannya antara lain dengan meminta penambang membayar ganti rugi nilai tegakan yang ditebang, menyediakan tanah lain kepada Departemen Kehutanan, menanggung biaya reboisasi, dan mereklamasi kawasan hutan lindung yang telah dipergunakan tanpa menunggu berakhirnya kegiatan penambangan.</p>
<p>Anjuran para ahli ekologi adalah, dalam mengambil prinsip perhitungan ini, pertimbangan harus diadakan berdasarkan analisis biaya-manfaat (<i>cost-benefit</i>) dengan menghitung segala jasa ekosistem yang ada di kawasan tersebut. Namun, dalam prakteknya, cara perhitungan ekonomi-ekologi ini sangat sulit dihitung karena biaya dan manfaat selalu berubah dan sulit diukur.</p>
<p>Sebagai pencinta lingkungan, saya menghargai pemerintah daerah yang kini cenderung kritis dan menahan diri dan mengaplikasikan prinsip pencegahan. Pada prinsipnya&#8211;untuk situasi yang tidak stabil dengan alam yang sensitif seperti Indonesia&#8211;prinsip kehati-hatian lebih baik diterapkan. Bila perlu, lebih baik berbuat keliru dengan terlalu berhati&#8211;dan membatalkan sebuah proyek&#8211;daripada membuka kemungkinan terjadinya bencana di masa depan.</p>
<p>*) Fachruddin Mangunjaya, Pendiri Borneo Lestari Foundation, Kalimantan Tengah</p>
<p>dari : tempointeraktif.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/699/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/699/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/699/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=699&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/18/harga-hutan-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/img/fachrudinmangunjaya.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BIO-LESTARI: Pupuk Hayati Berfungsi Ganda</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/bio-lestari-pupuk-hayati-berfungsi-ganda/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/bio-lestari-pupuk-hayati-berfungsi-ganda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 00:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/bioinsektisida-slnpv-mengendalikan-hama-ulatgrayak-pada-kedelai/</guid>
		<description><![CDATA[Meningkatkan Kesuburan             Tanah &#38; Menunjang Keberlanjutan Sistem Produksi  Kacang-kacangan
Formula           BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Mikroba           penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=633&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="isiHead"><b><font color="#ff6600">Meningkatkan Kesuburan             Tanah &amp; Menunjang Keberlanjutan Sistem Produksi  Kacang-kacangan</font></b><i></p>
<p><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_sengon.png" align="right" height="230" hspace="5" width="313" /></i>Formula           BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Mikroba           penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi           tanaman kacang-kacangan, ketersediaan hara di dalam tanah, dan menaikkan           efisiensi pemakaian pupuk. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk           nodul pada tanaman kacang-kacangan, penambat nitrogen bebas, dan cendawan           pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa           organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba           dan tanaman.
</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b><i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_akar-sengon.png" align="right" height="226" hspace="5" width="310" /></i>Manfaat dan Keunggulan</b><br />
• Merangsang         pembentukan nodul<br />
• Meningkatkan daya tambat nitrogen<br />
• Meningkatkan     P-tersedia dalam tanah<br />
• Meningkatkan kesuburan tanah<br />
• Meningkatkan efisiensi pemupukan<br />
• Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi<br />
• Mengefisienkan sistem pengiriman<br />
• Merangsang aktivitas mikroba rizosfir<br />
• Memperlebat dan memperkuat perakaran<br />
• Memperkokoh dan memperkuat tanaman<br />
• Efektif untuk kacang tanah, kedelai, dan sengon<br />
• Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon<br />
• Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain<span id="more-633"></span></p>
<p class="isiHead"><b>Keuntungan</b><br />
•        Menghemat pemakaian pupuk<br />
•        Menghemat pestisida<br />
•        Tidak merusak tanah dan aman lingkungan</p>
<p class="isiHead"><b>Cara Penggunaan</b><br />
•          Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih)<br />
•          Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai         melekat rata dan segera tanam<br />
•        Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh</p>
<p class="isiHead"><b>Dosis dan Kandungan Mikroba</b><br />
Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau         200 g/ha. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik         107-108, <i>Rhizobium</i> 108-109, dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul       per g bahan pembawa.</p>
<p class="isiHead"><b>Perhatian</b><br />
•          Jangan tercampur dengan pupuk kimia<br />
•          Pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5,5<br />
•          Simpan BIO-LESTARI di bawah suhu &lt;20oC dan jauh dari sinar<br />
•        Jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa</p>
<p class="isiHead"><b>Hasil Penelitian</b><br />
<i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil1.png" align="right" height="197" hspace="5" width="365" /></i>Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol,       dosis anjuran 50 kg Urea/ha, 100 kg SP-36/ha, 50 kg KCl), MK 1999.
</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">
<i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil2.png" align="left" height="162" hspace="5" width="365" /></i>      Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil         akar, bobot kering akar, tinggi tanaman, diameter batang, bobot kering       total, dan indeks mutu bibit sengon (<i>Paraserianthes falcataria</i>).
</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">
<i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil3.png" align="right" height="169" hspace="5" width="367" /></i>Rata-rata bobot kering tanaman, serapan N dan P serta         jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI       (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh, MK 1997.
</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil4.png" align="left" height="250" hspace="5" width="365" /></i>Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk         NPK terhadap bobot kering tajuk, jumlah bintil akar, serapan N dan P tanaman,         jumlah polong isi, dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah       Kuning Lampung (tanpa pengapuran; pH 3,96; Al-dd 1,209 me/100g), MK 1998.</p>
<p class="isiHead">dari : biogen.litbang.deptan.go.id</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/633/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/633/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/633/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=633&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/bio-lestari-pupuk-hayati-berfungsi-ganda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_sengon.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_akar-sengon.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil3.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/BioLestari_hasil4.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Biopestisida Unggulan, NPS (Nematoda Patogen Serangga)</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/biopestisida-unggulan-nps-nematoda-patogen-serangga/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/biopestisida-unggulan-nps-nematoda-patogen-serangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 00:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[hama & penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/kit-elisa-untuk-deteksi-dini-peanut-stripe-virus-pstv/</guid>
		<description><![CDATA[           Dua           genus nematoda patogen serangga (NPS), Steinernema dan Heterorhabditis,           mempunyai beberapa keunggulan sebagai agensia pengendalian biologi         [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=632&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="isiHead"><i>           <img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_cover.png" align="right" height="217" hspace="5" width="175" /></i>Dua           genus nematoda patogen serangga (NPS), <i>Steinernema</i> dan <i>Heterorhabditis</i>,           mempunyai beberapa keunggulan sebagai agensia pengendalian biologi           serangga hama dibandingkan dengan musuh alami lain, yaitu daya bunuhnya           sangat cepat, kisaran inangnya luas, aktif mencari inang sehingga efektif           untuk mengendalikan serangga dalam jaringan, tidak menimbulkan resistensi,       dan mudah diper-banyak.</p>
<p class="isiHead"><b>Mekanisme Patogenisitas</b><br />
Mekanisme patogenisitas NPS terjadi melalui simbiosis dengan bakteri             patogen <i>Xenorhabdus</i> untuk Steinernema dan Photorhabdus untuk <i>Heterorhabditis</i>.             Infeksi NPS dilakukan oleh stadium larva instar III atau juvenil             infektif (JI) terjadi melalui mulut, anus, spirakel, atau penetrasi             langsung             membran intersegmental integumen yang lunak. Setelah mencapai haemocoel             serangga, bakteri simbion yang dibawa akan dilepaskan ke dalam haemolim             untuk berkembang biak dan memproduksi toksin yang mematikan serangga.             NPS sendiri juga mampu menghasilkan toksin yang mematikan. Dua faktor             ini yang menyebabkan NPS mempunyai daya bunuh yang sangat cepat.             Serangga yang terinfeksi NPS dapat mati dalam waktu 24-48 jam setelah             infeksi.<span id="more-632"></span></p>
<p class="isiHead"><b>Cara Isolasi</b><br />
<i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_ulatHongkong.png" align="left" height="237" hspace="5" width="219" /></i>NPS mudah diisolasi dari sampel tanah ber-pasir yang porositasnya tinggi.           Sampel tanah di tempatkan dalam botol, kemudian diinfestasi dengan           ulat lilin, ulat Hongkong (<i>Tenebrio molitor</i>), atau ulat bambu.           Setelah diinkubasikan selama 5 hari, ulat akan mati terinfeksi oleh           nematoda.           Ulat yang mati terinfeksi <i>Steinernema</i>, tubuhnya tampak berwarna           coklat muda, sedangkan yang terinfeksi <i>Heterorhabditis</i> berwarna           coklat tua           agak kemerah-merahan. Isolasi NPS dari tubuh ulat dilakukan dengan           cara menempatkan ulat pada cawan petri yang beralaskan kertas saring           basah. Dalam waktu 2–3 hari, NPS akan keluar dari tubuh serangga       dan masuk ke dalam air di cawan yang lebih besar.</p>
<p class="isiHead"><b>Cara Perbanyakan</b><br />
<i>Perbanyakan secara In Vivo</i><br />
Perbanyakan NPS secara in vivo dilakukan dengan menggunakan ulat Hongkong         (<i>T. molitor</i>). Ulat Hongkong dimasukkan dalam bak plastik atau         nampan yang dialasi dengan kertas saring atau kertas koran. Suspensi         JI diinokulasikan         secara merata pada kertas tersebut. Dalam waktu 7 hari, 80-90% ulat sudah         terinfeksi oleh NPS. Ulat yang terinfeksi dipindahkan ke rak perangkap         yang dialasi kain, kemudian ditempatkan dalam bak plastik yang berisi         air. Setelah diinkubasikan selama 3-5 hari, JI NPS akan keluar dari serangga         dan masuk ke dalam air. Satu gram ulat Hongkong bisa menghasilkan 65.000         JI.</p>
<p><i>Perbanyakan secara In Vitro</i><br />
Perbanyakan secara in vitro dengan medium buatan sebenarnya lebih sulit         dan rumit karena sangat tergantung pada biakan bakteri primer, tetapi         lebih efisien untuk produksi skala besar atau komersial. Medium yang         digunakan adalah bahan berprotein tinggi, seperti homogenat usus, ekstrak         khamir, pepton, tepung kedelai, dan lain-lain. Perbanyakan bisa dilakukan         di medium cair atau semi padat. Medium semi padat dengan spon paling         umum digunakan karena porositasnya tinggi. Nutrisi untuk perbanyakan         diresapkan ke dalam spon dengan perbandingan 12,5 : 1 (medium : spon,         satuan dalam berat). Spon dimasukkan dalam botol atau plastik tahan panas,         kemudian disterilisasi. Setelah medium dingin, bakteri simbion fase primer         diinokulasikan ke dalam medium. Bakteri dibiarkan berkembang biak selama         2-3 hari sebelum diinokulasi dengan JI. NPS dapat dipanen dua minggu         kemudian. Setiap 1 g medium spon dapat menghasilkan 90.000 JI. Perbanyakan         dengan medium cair dilakukan dalam bubble column fermentor untuk memberikan       aerasi yang baik bagi perkembangan NPS.</p>
<p class="isiHead"><b>Formulasi</b><br />
<i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_formulasi.png" align="right" height="174" hspace="5" width="307" /></i>JI diformulasikan menjadi biopestisida dalam bentuk cair atau butiran.           Formulasi cair yang telah dikembangkan oleh BB-Biogen dikemas dalam           spon yang praktis untuk digunakan, disimpan, dan ditransportasikan.           Satu kemasan mengandung 200.000.000 JI. Formulasi butiran dikembangkan           menggunakan bahan dasar alginat, tanah liat, atau tanah gambut. Ke           dalam formulasi juga ditambahkan bahan aditif yang berfungsi sebagai       <i>surfactant</i>, anti desikan, dan <i>nutrient stimulan</i>.</p>
<p class="isiHead"><b><br />
Aplikasi</b><br />
Formulasi cair, butiran alginat, dan tanah liat diaplikasikan dengan           teknik penyemprotan biasa setelah dilarutkan dalam air. Sedangkan formulasi           tanah <i>peat</i> dengan cara ditabur. Biopestisida NPS diaplikasikan dengan           dosis 109 JI/ha. Waktu aplikasi yang tepat adalah sore hari karena           NPS sangat rentan terhadap kekeringan. Waktu satu malam cukup bagi       NPS untuk menemukan dan menginfeksi inangnya.</p>
<p><b>Keefektifan</b><br />
<i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_bioasai2.png" align="right" height="264" hspace="5" width="154" /></i><i><img src="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_bioasai1.png" align="right" height="263" hspace="5" width="141" /></i>Biopestisida NPS telah terbukti efektif mengendalikan penggerek batang           padi, hama lanas (<i>Cylas formicarius</i>), <i>Lyriomyza</i>,           ulatgrayak (<i>Spodoptera           litura)</i>, penggerek tongkol jagung (<i>Ostrinia furnacalis</i>),           ulat kantong, dan penggerek polong kedelai (<i>Etiela zinkenella</i>).</p>
<p>dari : biogen.litbang.deptan.go.id</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/632/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/632/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/632/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=632&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/biopestisida-unggulan-nps-nematoda-patogen-serangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_cover.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_ulatHongkong.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_formulasi.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_bioasai2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/images/NPS_bioasai1.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lahan Kritis vs Empon-empon</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/01/lahan-kritis-vs-empon-empon/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/01/lahan-kritis-vs-empon-empon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Mar 2008 02:08:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[

           Lembaga     Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA) di Yogyakarta telah berhasil menanami lahan     kritis seluas 12.400 m2 dengan empon-empon. Jahe, kunyit,     temu lawak, temu giring, temu hitam, kencur, laos. Dengan bantuan Rp [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=624&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.indomedia.com/intisari/byprod/tan_obat.htm"><br />
</a><br />
<hr width="600" />           <img src="http://www.indomedia.com/intisari/1999/maret/images/empon_kop.jpg" alt="empon_kop.jpg (12299 bytes)" align="right" height="72" hspace="5" vspace="5" width="250" /><font face="Arial">Lembaga     Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA) di Yogyakarta telah berhasil menanami lahan     kritis seluas 12.400 m<sup>2</sup> dengan <i>empon-empon</i>. Jahe, kunyit,     temu lawak, temu giring, temu hitam, kencur, laos. Dengan bantuan Rp 16 juta dari Yayasan     Kehati (Keanekaragaman Hayati) dari Jakarta, LSPPA telah menggerakkan enam kelompok tani     beranggotakan 120 orang di Desa Genjahan, Kabupaten Gunung Kidul untuk pekerjaan itu.     Karena sukses, mereka kemudian memperluas sendiri pertanamannya sampai 24.000 m<sup>2</sup>.</font><font face="Arial">Sudah     sejak lama sebagian besar dari mereka hanya mengandalkan hasil sawah tadah hujan berupa     padi gogo di musim hujan, dan palawija di musim kemarau berupa singkong, jagung, kacang     panjang, dan ubi. Tetapi kini, dengan bertanam <i>empon-empon</i>, ada penghasilan     tambahan berupa jamu yang meningkatkan pendapatan mereka.</font></p>
<p><font face="Arial">    </font><font face="Arial">Pemicu gerakan itu ialah keluarga Suratman, seorang penyuluh lapangan Keluarga     Berencana di Ponjong, dari kabupaten yang sama. Istrinya yang semula terkena infeksi darah     dan tidak dapat sembuh oleh obat dokter, dirawat di RS Bethesda, Yogyakarta, dengan     pengobatan jamu tradisional, tusuk jarum, dan pijat refleksi. Ternyata sembuh, dan tinggal     berobat jalan saja. Suratman semula turun ke Yogya sepekan sekali untuk membeli jamu di RS     Bethesda.</font><span id="more-624"></span></p>
<p><font face="Arial">    </font><font face="Arial">Kebutuhan membeli jamu inilah yang menggugah pikiran sahabat Suratman, Ir. Henu     Putranto, dari LSPPA di Yogya. Bagaimana kalau Suratman menanam sendiri <i>empon-empon</i>     itu di desanya? Jadi tidak perlu turun ke Yogya lagi untuk mencari jamu. Maka, jadilah     gerakan menanam <i>empon-empon</i> itu.</font></p>
<p><font face="Arial">    </font></p>
<div align="center">
<table align="left" border="0" cellspacing="1" width="200">
<tr>
<td>
<p align="center"><img src="http://www.indomedia.com/intisari/1999/maret/images/krtn_green.jpg" alt="krtn_green.jpg (25775 bytes)" height="250" width="238" /></p>
<p align="center">Ilustrasi: Anton</p>
</td>
</tr>
</table>
<p><font face="Arial">    </font></div>
<p><font face="Arial"><i>Empon-empon</i> itu kemudian ditanam oleh istri petani, para tetangga     Suratman. Permulaannya memang dibantu oleh para suami, dalam pengolahan tanah dan     pembersihan lahan, tetapi perawatan tanaman selanjutnya dilakukan oleh para istri. Tanah     yang sudah dibersihkan dari rerumputan liar dan dicangkul gembur itu langsung ditanami     bibit <i>empon-empon</i> berupa belahan umbi akarnya, kemudian dinaungi dengan atap     daun-daunan, atau anyaman bambu, agar tidak rusak disengat matahari. Karena disirami     secara teratur (kadang air harus didatangkan dari tempat yang jauh), bibit <i>empon-empon</i>     bertunas, tumbuh, dan menghasilkan umbi <i>empon-empon</i> baru.</font></p>
<p><font face="Arial">    </font><font face="Arial">Hasil umbi jahe, kencur, dan temulawak dijual ke pasar kota, sedangkan kelebihannya     diolah menjadi minuman sekaligus jamu. Antara lain <i>wedang</i> (minuman) jahe, beras     kencur, temu lawak.</font></p>
<p><font face="Arial">    </font><font face="Arial">Tindakan mereka berfungsi ganda. Pertama, lahan kritis yang semula tidak produktif     diubah menjadi lahan yang memberi penghasilan tambahan. Hasil yang dipungut dari usaha ini     memberi manfaat kepada masyarakat berupa <i>empon-empon</i> penjaga kesehatan tubuh secara     tradisional.</font></p>
<p><font face="Arial">    </font><font face="Arial">Kedua, (dan ini sama pentingnya dengan fungsi pertama), lahan yang semula makin merana     kalau dibiarkan berupa &#8220;perkebunan&#8221; rumput itu, kini berubah menjadi lahan subur     berisi tanaman bermanfaat yang menjaga mikroklimat di permukaan tanah, di bawah naungan     daun <i>empon-empon</i> itu. Penanaman tumbuh-tumbuhan yang memberi naungan kepada     permukaan tanah ini seperti pemberian mulsa di kebun (atau taman) yang mampu     mempertahankan kegemburan dan kelembapan tanah. </font></p>
<p><font face="Arial">    </font><font face="Arial">Apa yang dilakukan oleh Ir. Henu Putranto dan Suratman itu patut diteladani. Mereka     mencetuskan gagasan, dan mengajukan proposal ke Yayasan Kehati sebagai penyandang dana,     lalu memulai kerja besar, menghijaukan lahan kritis dengan <i>empon-empon</i>. Banyak     pihak yang memetik manfaat dari tindakan itu. <b>(SS)</b></font></p>
<p>dari : indomedia.com/intisari/1999/maret</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/624/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/624/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/624/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=624&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/01/lahan-kritis-vs-empon-empon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indomedia.com/intisari/1999/maret/images/empon_kop.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">empon_kop.jpg (12299 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indomedia.com/intisari/1999/maret/images/krtn_green.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">krtn_green.jpg (25775 bytes)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membuat Kebun di Tengah Danau</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/02/28/membuat-kebun-di-tengah-danau/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/02/28/membuat-kebun-di-tengah-danau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 15:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/2008/02/28/membuat-kebun-di-tengah-danau/</guid>
		<description><![CDATA[              Bercocok tanam di wilayah perairan macam rawa dan danau bukan hal mustahil.       Suku Aztek di Meksiko telah berhasil membuktikannya. Mereka berhasil       membuat kebun buatan di tengah danau. Mereka menyebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=565&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>       <font face="Arial" size="2">       Bercocok tanam di wilayah perairan macam rawa dan danau bukan hal mustahil.       Suku Aztek di Meksiko telah berhasil membuktikannya. Mereka berhasil       membuat kebun buatan di tengah danau. Mereka menyebut kebun buatan itu <i>chinampa</i>.       Model pertanian macam ini boleh dikatakan asing bagi kita.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">       Untuk membangun <i>chinampa</i>, tanah atau lumpur di dasar rawa/danau       diangkat ke atas untuk dijadikan bahan urukan sedikit demi sedikit.       Pengisi <i>chinampa</i> ini juga termasuk tanaman air yang tumbuh di danau/rawa       itu. Supaya tanah atau lumpur tidak hanyut dibawa arus, tempat yang akan       dijadikan <i>chinampa</i> diberi patok-patok kayu terlebih dahulu (lihat       gambar). Biasanya selisih tinggi <i>chinampa</i> dengan permukaan air       danau/rawa berkisar 20 cm. Setelah membentuk daratan mirip pulau di tengah       danau, barulah <i>chinampa</i> siap ditanami tumbuhan pertanian.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">       Untuk pembuatannya, menurut William T. Sanders, pakar antropologi dari       Universitas Harvard, <i>chinampa</i> berukuran 8 X 200 m memerlukan 4 –       6 orang selama 8 hari.</font><span id="more-565"></span></p>
<p><font face="Arial" size="2">       Tanaman yang dibudidayakan oleh orang-orang suku Aztek biasanya jagung       atau sayuran. Pohon willow juga ditanam untuk memperkuat tebing <i>chinampa</i>       agar tidak longsor. Penyiraman dilakukan menggunakan air danau yang pasti       berlimpah.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">       Karena letaknya di tengah perairan, biasanya muncul masalah berkaitan       dengan ketinggian air danau, terutama pada musim hujan.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">       Selain itu, lama-kelamaan <i>chinampa</i> akan menjadi rendah sehingga       tergenang air rawa/danau karena adanya pembusukan pada dasar <i>chinampa</i>.       Untuk mengatasinya, <i>chinampa</i> perlu diisi kembali dengan lumpur.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">       Di India model pertanian ini dilakukan oleh orang Nagami di Danau Loktak.       Dua per tiga luas danau Loktak (300 km<sup>2</sup>) didiami oleh Orang       Nagami, yang merupakan keturunan Suku Inca yang menyebar ke daratan Asia.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">       Di Indonesia, model pertanian <i>chinampa</i> masih belum diterapkan.       Kalau pun hendak diintroduksikan, perlu dilakukan penelitian terlebih       dahulu untuk menghitung segala untung ruginya secara ekonomi, sosial dan       lingkungan. <b>(Siswadi Yusuf)</b></font></p>
<p>dari : .indomedia.com/intisari/2000/juni</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/565/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/565/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/565/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=565&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/02/28/membuat-kebun-di-tengah-danau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETIKA di sekolah dasar dulu, guru saya mengajarkan trik menghafal musim hujan: kalau nama bulan itu diakhiri “ember” (tempat menampung air), bulan depannya musim hujan dimulai. Trik itu jitu sehingga sampai sekarang saya selalu ingat kalau sudah bulan September, maka siap-siap dengan payung. Memang demikian pergantian musim di negeri kita, yaitu pada bulan Oktober dan April. Dari bulan Oktober sampai Maret, wilayah Indonesia bagian utara khatulistiwa mengalami musim hujan dan bagian selatan musim kering, dan sebaliknya dari bulan April sampai September. (Garis khatulistiwa adalah garis khayal yang membagi Bumi sama bagian antara utara dan selatan. Garis khatulistiwa berbeda dengan garis edar Matahari.)</title>
		<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/26/ketika-di-sekolah-dasar-dulu-guru-saya-mengajarkan-trik-menghafal-musim-hujan-kalau-nama-bulan-itu-diakhiri-%e2%80%9cember%e2%80%9d-tempat-menampung-air-bulan-depannya-musim-hujan-dimulai-trik-i/</link>
		<comments>http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/26/ketika-di-sekolah-dasar-dulu-guru-saya-mengajarkan-trik-menghafal-musim-hujan-kalau-nama-bulan-itu-diakhiri-%e2%80%9cember%e2%80%9d-tempat-menampung-air-bulan-depannya-musim-hujan-dimulai-trik-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 02:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>plantus</dc:creator>
				<category><![CDATA[lahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/26/ketika-di-sekolah-dasar-dulu-guru-saya-mengajarkan-trik-menghafal-musim-hujan-kalau-nama-bulan-itu-diakhiri-%e2%80%9cember%e2%80%9d-tempat-menampung-air-bulan-depannya-musim-hujan-dimulai-trik-i/</guid>
		<description><![CDATA[advertorial  &#124;


tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN &#8211; TANPA SKRIPSI &#8211; ABSENSI HADIR BEBAS &#8211; BERKUALITAS &#8211; IJAZAH &#38; GELAR DARI DEPDIKNAS &#8211; MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain




MANAJEMEN &#8211; AKUNTANSI &#8211; ILMU KOMUNIKASI &#8211; ILMU PEMERINTAHAN


utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
KETIKA di    [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=316&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://anekaplanta.wordpress.com/author/plantus/" title="Posts by plantus">advertorial</a>  |</p>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="511">
<tr align="left" bgcolor="#e1d8b3" valign="middle">
<td colspan="5" height="35">tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN &#8211; TANPA SKRIPSI &#8211; ABSENSI HADIR BEBAS &#8211; BERKUALITAS &#8211; IJAZAH &amp; GELAR DARI DEPDIKNAS &#8211; MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain</td>
</tr>
</table>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="512">
<tr>
<td align="right" bgcolor="#ff9900" height="1"><b>MANAJEMEN &#8211; AKUNTANSI &#8211; ILMU KOMUNIKASI &#8211; ILMU PEMERINTAHAN</b></td>
</tr>
</table>
<p align="right"><font color="#ff6600" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- <b>utkampus.net</b></font></p>
<p><font face="Times New Roman">KETIKA di             sekolah dasar dulu, guru saya mengajarkan trik menghafal musim hujan: kalau nama bulan itu             diakhiri “ember” (tempat menampung air), bulan depannya musim hujan dimulai.             Trik itu jitu sehingga sampai sekarang saya selalu ingat kalau sudah bulan September, maka             siap-siap dengan payung. Memang demikian pergantian musim di negeri kita, yaitu pada bulan             Oktober dan April. Dari bulan Oktober sampai Maret, wilayah Indonesia bagian utara             khatulistiwa mengalami musim hujan dan bagian selatan musim kering, dan sebaliknya dari             bulan April sampai September. (Garis khatulistiwa adalah garis khayal yang membagi Bumi             sama bagian antara utara dan selatan. Garis khatulistiwa berbeda dengan garis edar             Matahari.)</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Daerah di sekitar khatulistiwa (23,5 LU – 23,5 LS) disebut daerah tropis, iklimnya             disebut iklim tropis yaitu memiliki dua musim dengan kelembapan udara paling cocok untuk             banyak jenis makhluk hidup. Wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa memiliki musim lebih             banyak. Benua Eropa, Amerika Utara, dan Selatan, dan Australia misalnya memiliki empat             musim, yakni panas (<i>summer</i>), gugur (<i>autumn</i>), dingin (<i>winter</i>), dan             semi (<i>spring</i>). Ini menimbulkan pertanyaan, apa yang menyebabkan wilayah di Bumi             pada waktu yang bersamaan memiliki musim berbeda tergantung lokasinya?</font><span id="more-316"></span></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Banyak yang menduga bahwa musim-musim terjadi karena orbit Bumi mengelilingi Matahari             yang berbentuk elips: saat posisi terjauh, maka Bumi dingin, dan sebaliknya. Contoh             ekstremnya adalah planet Merkurius yang panas dan planet Pluto yang dingin. Atau kita akan             merasakan hangat saat dekat dengan api unggun dan dingin saat jauh. Teori ini logis jika             hanya menjelaskan hangat dan dingin, tapi tidak menjelaskan kenapa ada dua musim berbeda             (misalnya bagian utara khatulistiwa musim dingin dan selatan musim panas) pada saat yang             bersamaan?</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Sebenarnya, jarak Bumi dan Matahari tidaklah menentukan musim di Bumi, karena             perbedaannya jarak terjauh dan terdekat tidak signifikan. Perbandingannya seperti kita             berdiri satu meter dari api unggun, kemudian menjauh sekira dua cm, tentu kita tidak bisa             membedakan perbedaan panas yang kita rasakan.Ternyata kemiringan poros Bumi-lah yang             membuat terjadinya pergantian musim (lihat Gambar).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Gambar di atas mengilustrasikan bagaimana cahaya matahari tersebar ke permukaan Bumi             yang dibagi oleh garis khatulistiwa, utara dan selatan. Pada posisi tersebut, bagian             selatan Bumi menerima sinar matahari lebih banyak daripada bagian utara sehingga bagian             selatan mengalami musim panas atau musim kemarau untuk daerah tropis. Sementara bagian             utara mengalami musim dingin atau musim hujan untuk daerah tropis. Kondisi ini akan             berganti setelah enam bulan, saat posisi Bumi di sebelah kanan Matahari (berdasarkan             ilustrasi pada Gambar). </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Perhatikan juga kutub utara dan selatan Bumi. Walau Bumi sudah berotasi penuh (24 jam),             kutub utara tidak akan menerima sinar Matahari sehingga selalu malam, sedangkan kutub             selatan menerima sinar Matahari terus sehingga selalu siang. Kondisi ini akan berlaku             sampai enam bulan, saat posisi Bumi di sebelah kanan Matahari (berdasarkan ilustrasi pada             Gambar). Inilah penjelasan kenapa di kutub pergantian siang dan malam adalah sekali dalam             enam bulan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Ini juga menjelaskan bagaimana pada musim panas siang hari lebih lama daripada malam             hari (atau sebaliknya pada musim dingin). Lebih detail lagi, pada tanggal 21 Juni bagian             utara mengalami siang hari terpanjang (sebaliknya bagian selatan siang hari terpendek); 21             Maret dan 22 September Matahari tepat berada di garis khatulistiwa sehingga lama siang             hari benar-benar sama dengan lama malam hari di semua wilayah Bumi; dan 21 Desember bagian             utara mengalami siang hari terpendek (sebaliknya bagian selatan siang hari terpanjang).             Keempat hari itu adalah terkait dengan empat musim yang ada di Bumi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Sungguh menakjubkan akibat kemiringan poros Bumi ini. Tentu saja ini tidak terjadi             secara kebetulan, sesungguhnya ini adalah salah satu bentuk kekuasaan Allah SWT. Bagi yang             tertarik lebih jauh, bisa dibuat perhitungan-perhitungan sederhana apa jadinya kalau poros             Bumi tidak miring, atau memiliki kemiringan bukan 23,45 derajat. Bagaimana pengaruhnya             terhadap musim?*** </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Febdian Rusydi<br />
<i>Alumni Fisika Teknik ITB</i></font></p>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="597">
<tr>
<td bgcolor="#ff9900" height="1">&nbsp;</td>
</tr>
</table>
<p><font color="#ff6600" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Pikiran Rakyat :28-12-2006</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/anekaplanta.wordpress.com/316/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/anekaplanta.wordpress.com/316/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anekaplanta.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anekaplanta.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anekaplanta.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anekaplanta.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anekaplanta.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anekaplanta.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anekaplanta.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anekaplanta.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anekaplanta.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anekaplanta.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anekaplanta.wordpress.com&blog=2366511&post=316&subd=anekaplanta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/26/ketika-di-sekolah-dasar-dulu-guru-saya-mengajarkan-trik-menghafal-musim-hujan-kalau-nama-bulan-itu-diakhiri-%e2%80%9cember%e2%80%9d-tempat-menampung-air-bulan-depannya-musim-hujan-dimulai-trik-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64f7aac0bb6a387a93245632751eea85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">plantus</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>