Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘hama & penyakit’ Category

Tanaman adenium selama pertumbuhan dan perkembangannya seringkali mendapatkan serangan hama.  Timbulnya serangan hama ini tidak lepas dari faktor: (1) sumber makanan yang tersedia, dalam hal ini adalah tanaman itu sendiri dan gulma, selanjutnya (2) lingkungan, dalam hal ini musim.

Apabila kedua persyaratan di atas tidak terpenuhi, maka hama tersebut tidak akan berkembang biak.  Ditinjau lebih mendalam, hama yang menyerang tanaman adenium terbagi 2 musim, yaitu hama musim kemarau dan hujan.  Hama yang muncul pada musim kemarau: (1) Spider Mites, (2) Thrips, (3) Mealybug dan (4) Root Mealybug.  Sedangkan hama yang muncul di musim hujan adalah Fungus Gnats.

Sebagai catatan:

Hama-hama musim kemarau akan selalu ada bila tanaman adenium yang dibudidayakan dipelihara di dalam rumah plastik walaupun berada di musim hujan, karena selain sumber makanan tersedia, lingkungan yang panas/hangat juga mendukung. 

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara manual dengan pencabutan dengan tangan atau dengan menggunakan bahan kimia dengan menggunakan herbisida sistemik dengan bahan aktif Glifosat sesuai dengan konsentrasi anjuran.

Pengendalian hama dengan cara kimiawi:

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Spider Mites

<!–[if !supportLists]–>a.      <!–[endif]–>Agrimec/Bamex/Schumec (bahan aktif Abamectin)         : 0,25 – 0,5 ml/L

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Kelthane/Dicofan (bahan aktif Dicofol)                          : 0,5 – 1 ml/L

<!–[if !supportLists]–>c.      <!–[endif]–>Demiter/Samite (bahan aktif Pyridaben)                        : 0,5 – 1 ml/L

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Talstar (bahan aktif Bifentrin)                                      : 0,5 – 1 ml/L

<!–[if !supportLists]–>e.      <!–[endif]–>Mitac (bahan aktif Amitraz)                                          : 0,5 – 1 ml/L

  (lebih…)

Read Full Post »

Kehadiran hama tertentu dapat dideteksi dengan 2 cara, yaitu (1) munculnya gejala serangan pada sebagian ataupun keseluruhan bagian tanaman dan (2) menggunakan perangkap yang berwarna kuning yang telah diolesi dengan lapisan minyak goreng.

Pengendalian hama berupa kehadiran fisik hama secara seksama merupakan suatu langkah yang tepat sebelum memutuskan mengendalikan hama dengan bahan kimia.  Suatu metode yang sederhana untuk mendeteksi kehadiran hama tertentu pada tanaman adalah dengan menggunakan perangkap yang berwarna kuning atau biru yang telah diolesi dengan minyak goreng.

<!–[if !supportLists]–>a.      <!–[endif]–>Hama yang tertarik dengan warna kuning adalah sebagai berikut:

  1. Aphid yang bersayap
  2. Leafminer (lalat pengorok daun)
  3. Thrips
  4. Whiteflies (kutu kebul)
  5. Fungus Gnats
  6. Shoreflies 

<!–[if !supportLists]–>b.     <!–[endif]–>Hama yang tertarik dengan warna biru adalah sebagai berikut:

1.  Thrips yang menyerang bunga

Perangkap tersebut dapat dibuat sendiri ataupun dapat menggunakan produk yang sudah jadi dan tinggal mengoleskan pada suatu wadah kaleng, botol plastik, ataupun kertas karton putih dan bukan kayu.  Produk yang dimaksud adalah LeGa (Lem Serangga) yang diproduksi oleh GreenWorld.

godongijo.com, 19 September 2007

Read Full Post »

Pengendalian Lalat Buah

Lalat buah (Dacus sp.) merupakan hama yang menyerang tanaman buah mulai stadia buah masih muda dengan menimbulkan tingkat kerusakan yang parah saat buah menjadi matang.

Kerusakan yang timbul dimulai dari lalat buah betina yang siap bertelur menyuntikkan telurnya ke dalam buah muda. Perkembangan selanjutnya adalah menetasnya larva berupa ulat yang memakan daging buah dan bahkan terdapat lubang kecil sebagai tempat keluar dari ulat tersebut. Dengan demikian buah akan membusuk dari dalam dan rontok.

Langkah pengendalian yang paling mudah adalah dengan menjaga kebersihan sekitar tanaman buah ataupun kebun dengan membuang dan membakar sampah daun dan buah yang busuk, membungkus buah sejak dini yaitu saat telah menjadi buah kecil (fruit set) dengan menggunakan kertas koran, plastik, dan lain-lain. Namun langkah tersebut tidak mengurangi populasi lalat buah yang berkembang. Salah satu jalan adalah dengan menggunakan perangkap lalat buah yaitu Metil Eugenol. Metil eugenol merupakan feromon sintetis (buatan) atau hormon penarik (attractan) lalat buah jantan yang dipunyai lalat betina untuk mengadakan perkawinan. (lebih…)

Read Full Post »

Tanaman dalam siklus hidupnya tidak terlepas dari serangan hama.  Serangan hama muncul pada saat kondisi tertentu sesuai dengan habitat yang diinginkan.  Habitat yang dimaksud adalah kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan sumber makanan.
Secara umum populasi hama meningkat pada musim kemarau, dimana suhu tinggi (>28oC) dan kelembaban rendah (<60%) merupakan kondisi yang sesuai untuk berkembang.  Perkembangan hama pada musim kemarau, selain sumber makanan yang tersedia adalah kondisi lingkungan yang sesuai untuk bertelur dan menetas.  Sedangkan saat musim hujan banyak hama musim kemarau bertahan pada tanaman inang lain seperti gulma rumput atau bayam liar.  Contoh hama musim kemarau seperti belalang, ulat, aphids, thrips, spider mites, white fly, lalat buah, pengorok daun, dan lain sebagainya. 

Namun ada kasus tertentu ada hama yang berkembang pada musim hujan seperti fungus gnats dan shore fly.  Dimana perkembangan hama ini lebih dikarenakan ketersediaan makanan berupa lumut yang berkembang dalam kondisi lembab.

Berdasar kondisi di atas, pengendalian hama selain menggunakan insektisida, cara lain adalah dengan membersihkan lingkungan (sampah organik dan gulma).  Contoh lalat buah berkembang pada buah yang busuk, spider mites bertahan pada gulma bayam liar, dan lain-lain.  Selain itu mencegah lingkungan media tanam atau sekitar tanaman terlalu lembab yang bertujuan mencegah serangan fungus gnats dan shore fly. 

godongijo.com, 16 November 2007

Read Full Post »

Penyakit tanaman dapat berkembang dan menyebar bila kondisi seperti suhu dan kelembaban memenuhi syarat untuk berkembang, selain itu kondisi tanaman dan teknis budidaya juga berperan.

Penyebab penyakit yang sering menyerang tanaman yaitu bakteri dan cendawan.  Bakteri dan cendawan cenderung berkembang pada lingkungan yang mempunyai kelembaban tinggi (>80%), dimana bakteri berkembang pada suhu tinggi (>28oC), sedangkan cendawan pada suhu rendah (<22 -25oC). 

Tanaman yang mengalami stres rentan terhadap serangan penyakit, stres yang dimaksud dapat dikarenakan (1) penggantian media baru dan (2) penggenangan air di daerah perakaran dalam jangka waktu lama.  Faktor lainnya adalah salah pemberian pupuk (konsentrasi pupuk yang kurang/lebih dan macam pupuk yang salah).   

Pengaturan jarak tanam ataupun jarak antar pot tanaman di dalam membudidayakan tanaman juga mempengaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit.  Semakin rapat jarak antar tanaman memberikan resiko tinggi dalam penyebaran penyakit tersebut.  Demikian pula dengan media tanam yang salah menentukan komposisi dan perbandingannya.  Bila media tanam terlalu lembab dan kuat memegang air maka akan membuat akar tanaman membusuk yang dapat menjadi awal masuknya penyakit.

Solusi selain mencegah dengan menggunakan fungisida dan bakterisida adalah dengan cara kontrol lingkungan dengan membuat lingkungan sekitar tanaman mudah teraliri udara, mengatur penyiraman air, pemberian pupuk yang tepat (konsentrasi,macam pupuk), mengatur jarak antar tanaman dan membuat media tanam tepat komposisi dan perbandingan. 

godongijo.com, 17 November 2007

Read Full Post »

Salah satu hambatan utama dalam budidaya bawang merah adalah serangan hama dan penyakit. Untuk mengendalikannya, petani di sentra produksi Brebes, Jateng, memilih penggunaan pestisida kimia sintetik. Sementara petani di Desa Guntarano, Kecamatan Tanantovea, Kab. Donggala, Sulteng, justru memanfaatkan bahan-bahan alami alias racun nabati. Berikut pengalaman mereka bergelut dengan hama maupun penyakit yang merusak tanaman bawang merah.

Akbar, Memanfaatkan Kearifan Lokal

Dua tahun silam, seluruh kebun bawang merah di Desa Guntarano yang luasnya 83 ha, luluh-lantak oleh serangan lalat pengorok daun (Liriomyza chinensis). Tak terkecuali kebun milik Akbar, Ketua Kelompok Tani Abadi. “Waktu itu, kebun saya hancur, saya rugi hingga Rp20 juta,” kenangnya.

Menurut Akbar, yang juga Ketua Gapoktan Guntarano, hambatan utama dalam budidaya bawang merah di wilayahnya memang hama pengorok daun. Sampai-sampai dinas terkait menginstruksikan para petani tidak menanam bawang merah selama tiga tahun untuk memutuskan siklus hidup hama itu. “Jika serangannya mengganas, bisa habis satu hektar dalam semalam,” tandasnya.

Pengalaman pahit itu memaksa Akbar memutar otak mencari cara pengendalian yang jitu. Dia menyimpulkan, ledakan Liriomyza itu dipicu oleh tingginya penggunaan insektisida kimia sehingga perlu dicari alternatif pengendaliannya. “Saya bersama petani lainnya sudah mencoba berbagai ramuan alami, dan berhasil,” akunya.

Beberapa jenis tanaman yang dimanfaatkan sebagai insektisida hayati itu adalah akar tuba, akar kelor, sambiloto, daun pepaya, daun srikaya, dan daun mindi. Akar tuba atau akar kelor ditumbuk, diperas airnya, lalu larutannya disemprotkan. “Larutan ini bisa menyelamatkan 75% dari lahan yang terserang,” ucapnya.

Insektisida alami lainnya, yaitu campuran daun sambiloto, daun pepaya, daun srikaya, dan daun mindi. Daun-daun itu dicincang dan dimasukkan ke dalam drum. Setengah drum berisi rajangan dan setengahnya lagi diisi air penuh. Setelah dibiarkan dua malam, larutan itu disemprotkan. Cara ini lebih banyak dipilih petani karena hasilnya lebih paten.

Akbar bersama kawan-kawan juga menemukan cara mengendalikan ulat grayak (Spodoptera exigua) dengan air gerusan cabai. Dosisnya, satu sendok teh dicampur 15 liter air (satu tangki semprot/knapsack).

Penyemprotan insektisida alami tersebut rata-rata seminggu sekali sejak ditemukan gejala serangan. Sampai menjelang panen, penyemprotan dilakukan 9 kali.

“Kalau ingin memanfaatkan musuh alami, tanaman bisa disemprot dengan air gula pasir untuk mengundang semut. Ulat grayak akan dimangsa semut,” cetusnya. Sedangkan untuk mengendalikan rerumputan (gulma), mereka menggunakan larutan sari buah kakao.

Alhasil, 186 petani dalam Gapoktan Guntarano, kini bisa bernapas lega. Hama yang sebelumnya menjadi batu sandungan, sejak 2008 dapat dikendalikan melalui kearifan lokal. Upaya itu mampu menekan penggunaan pestisida kimia hingga 50%. Mereka bersyukur karena sekarang melek inovasi teknologi dan wawasannya bertambah. Semua itu tidak terlepas dari peran Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI), yang masuk ke Guntarano pada 2005. Pelaksanaan program yang dicanangkan Badan Litbang Deptan, dan sebagian didanai Asian Development Bank (ADB) itu, didukung oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dan dinas pertanian setempat.

Dulladi, Mampu Membaca Alam

Di Wanasari, Brebes, nama Dulladi sudah tidak asing. Petani sekaligus penangkar benih bawang merah ini kondang lantaran jarang gagal dalam budidaya bawang merah untuk konsumsi maupun benih.

Pengalamannya selama bertahun-tahun telah mengantarkan Dulladi peka terhadap perubahan alam. Dari kepiawaiannya membaca perubahan lingkungan, akhirnya dia mampu menyusun strategi penanganan serangan hama maupun penyakit. Ia mengandalkan pestisida yang dgunakannya secara efektif dan efisien. (lebih…)

Read Full Post »

Beberapa waktu lalu ribuan hektare sawah di wilayah Demak dan sekitarnya gagal panen akibat serangan hama. Hingga kini hama merupakan salah satu kendala produksi yang selalu mengganjal target produksi.
Beberapa waktu lalu ribuan hektare sawah di wilayah Demak dan sekitarnya gagal panen akibat serangan hama. Hingga kini hama merupakan salah satu kendala produksi yang selalu mengganjal target produksi. Padahal kebutuhan beras nasional meningkat minimal 0,5 juta ton setiap tahunnya.

Ledakan jenis hama terjadi silih berganti dan tidak jarang diikuti oleh munculnya strain atau biotipe baru yang lebih ganas. Di antaranya hama wereng batang cokelat (WBC) yang merupakan hama penting yang harus diwaspadai karena sewaktu-waktu populasinya bisa meledak bila kondisi lingkungan mendukung. Hama ini merupakan vektor virus kerdil rumput dan kerdil hampa dengan peningkatan populasi secara eksponensial. (lebih…)

Read Full Post »

Serangan patogen blas (Pyricularia oryzaeCav.) pada padi dapat menyebabkan kerusakan hingga 90 %. Cara pengendalian alternatif adalah dengan menggunakan ekstrak tumbuhan sebagai fungisida nabati.

Fungisida Nabati Pengendali Penyakit Blas
(Sumber : Balittra, balittra@telkom.net)

Serangan patogen blas (Pyricularia oryzaeCav.) pada padi dapat menyebabkan kerusakan hingga 90 %. Penggunaan pestisida sintetik mengakibatkan kerusakan pada lingkungan. Cara pengendalian alternatif adalah dengan menggunakan ekstrak tumbuhan sebagai fungisida nabati. Fungisi nabati berpeluang tinggi dalam pengembangannya karena aman terhadap lingkungan, praktis pembuatannya, aplikasinya mudah dan biayanya murah.

Dari serangkaian penelitian terhadap 18 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan fungisida nabati, teridentifikasi tiga jenis tumbuhan yang berkemampuan tinggi dalam menekan perkembangan patogen blas. Ketiga jenis tumbuhan tersebut adalah sirih (ekstrak daun), jambu biji (ekstrak daun) dan lengkuas (ekstrak rimpang).

Pembuatan ekstrak adalah dengan menghancurkan bahan tumbuhan (daun sirih, jambu biji dan rimpang lengkuas) dengan blender. Bahan tersebut kemudian direbus dalam air suling dengan perbandingan 1:10 (1 bagian bahan dengan 10 bagian air suling) yang ditambah dengan sedikit detergen. Proses perebusan dihentikan setelah volume larutan tinggal 10 %. Larutan tersebut mengandung antifungal dan dapat dijadikan sebagai fungisida nabati.

Pada tingkat kondisi laboratorium ekstrak daun sirih menekan perkembangan patogen blas hingga 100 %, ekstrak daun jambu biji 64 % dan ektrak rimpang lengkuas 100 %. Pada kondisi lapangan, ekstrak ketiga jenis tumbuhan tersebut menekan intensitas penyakit blas leher masing-masing sebagai berikut : ekstrak daun sirih dari 21.7 % menjadi 3.3 %, ekstrak daun jambu biji dari 21.7 % menjadi 4.7 % dan ekstrak rimpang lengkuas dari 21.7 % menjadi 2.7 %.

situshijau.co.id, 17 Juni 2002

Read Full Post »

Bibit bebas penyakit tidak berarti tahan terhadap penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), tetapi masih bisa tertular oleh serangga penularnya atau disebut vektor CVPD sehingga diperlukan upaya untuk mengendalikan serangga tersebut.

Pengendalian Vektor Penyakit CVPD Tanaman Jeruk
(Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, pushor@rad.net.id)

Bibit bebas penyakit tidak berarti tahan terhadap penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), tetapi masih bisa tertular oleh serangga penularnya atau disebut vektor CVPD sehingga diperlukan upaya untuk mengendalikan serangga tersebut.

Serangga penular yang merupakan kutu loncat (Diaphorinan citriKuw.), biasanya menyerang kuncup, tunas dan daun-daun muda yang mengakibatkan tunas-tunas muda keriting dan pertumbuhannya terhambat. Serangan parah dapat mengakibatkan bagian tanaman yang terserang menjadi kering dan secara bertahap akan mati.

Pengendalian secara kimiawi sebaiknya dilakukan pada pagi hari menggunakan insektisida dengan bahan aktif Dimethoate, Endosulfan diaplikasikan melalui daun atau tanah dan Imidakloprid yang diaplikaskan melalui saputan batang.
(lebih…)

Read Full Post »

Salah satu hama yang yang paling ditakuti petani teh adalah Helopeltis antonii yang menumpang hidup pada gulma seperti babadotan, sintrong, dan antanan. Hama berbentuk seperti nyamuk ini menyerang pucuk daun teh dan ranting-ranting muda serta daun muda.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama Jawa Barat, perkebunan teh menyimpan banyak cerita, baik yang bernilai sejarah maupun mitos. Cerita yang menggambarkan hubungan antara bangsa penjajah dan kaum pribumi yang tertindas.

Juga bukti betapa komoditas yang satu ini memiliki nilai ekonomi penting bagi kolonial Belanda. Saat itu produksi teh Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

(lebih…)

Read Full Post »

Cara Atasi Hama Anthurium

Anthurium memang cenderung tahan terhadap serangan hama. Tetapi tetap saja ada kemungkinan tanaman Anda terserang.

Anthurium memang cenderung tahan terhadap serangan hama. Tetapi tetap saja ada kemungkinan tanaman Anda terserang. Berikut informasi mengenai hama dan cara penanganannya.

a. Aphid
Wujud hama ini adalah kutu berwarna kuning. Aphid biasanya hidup bergerombol pada pucuk tanaman dan pangkal bunga. Penyebarannya terhitung cepat. Karena aphid menghisap cairan daun, daun yang terserang tumbuh tidak sempurna, cenderung keriting, menghitam, dan kering.

Penanggulangan: gunakan insektisida seperti Ye Man Te, Demiter, Supracide, Decis, Curacron, atau Basudin. Insektisida ini bersifat kombinasi antara contact killing dan nervous disturbing. Artinya, bila insektisida mengenai serangga, serangga langsung mati. Jika tidak mati kemampuan reproduksinya hilang, sehingga terputuslah siklus hidup serangga. Semprotkan insektisida ke bagian tanaman yang terserang aphid seminggu sekali dalam kurun waktu tiga minggu. Pencegahan dilakukan dengan menyemprotkan insektisida sekali dalam sebulan.

b. Fungus Gnat
Fungus gnat adalah hama yang bentuknya menyerupai nyamuk berwarna hitam. Ia hidup pada media tanam yang lembab. Adenium yang terserang ditandai dengan adanya bintik hitam di kuncup bunganya. Kemudian kuncup bunga akan membusuk dan gugur.
Penanggulangan: semprotkan insektisida, seperti Ye Man Te, Demier, atau Proleaf ke bagian tanaman yang terserang. Alternatif lain Trigard dan Agrimec dengan dosis 0.5/liter air.

c. Mealy Bug
Hama ini berupa kutu berwarna putih dan mempunyai sejenis tepung yang dijumpai pada ketiak dan pucuk daun muda. Serangannya menyebabkan pertumbuhan pucuk yang abnormal. Penanggulangan: semprotkan insektisida, seperti Proleaf ke bagian tanaman yang terserang. (lebih…)

Read Full Post »

Petani kentang di Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, diimbau mewaspadai serangan cacing emas yang akhir-akhir ini mulai menyerang tanaman kentang di beberapa desa di Dataran Tinggi Dieng

Petani kentang di Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, diimbau mewaspadai serangan cacing emas (Nematoda sista kuning atau Golden cyst restochiensis) yang akhir-akhir ini mulai menyerang tanaman kentang di beberapa desa di Dataran Tinggi Dieng (2.603 meter). Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir sedikitnya 34 hektar tanaman kentang rusak.

Aris Widianto, petugas pengamat hama Dinas Pertanian Banjarnegara, Sabtu (8/10), mengatakan, hama cacing emas tidak boleh dianggap remeh karena dapat menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan tanaman kentang mati, paling tidak pertumbuhannya kerdil. Tanaman yang terserang cacing akan layu atau pertumbuhannya kerdil dan umbinya kecil-kecil. (lebih…)

Read Full Post »

Hama yang satu ini dikenal luas dengan sebutan kutu gajah. Padahal dia punya nama beken yaitu Orchidophilus atterimus. Hama ini punya selera yang cukup luas terhadap keluarga Orchidaceae seperti Dendrobium, Vanda, Phalaenopsis, Renanthera, Angraecum, Saccolobium, Cymbidium, Spathoglottis dll. Hama ini berbentuk menyerupai kutu beras, namun ukurannya cukup besar dengan panjang tubuh mencapai 1 cm. Kutu ini memiliki moncong yang panjang dan melengkung layaknya belalai gajah, itulah kenapa dia sering disebut sebagai kutu gajah.

Hama ini menyerang jaringan baik pada daun, batang semu (bulb), dan akar muda. Hama betina dewasa seringkali membuat lubang pada batang anggrek untuk meletakkan telurnya. Saat telur menetas maka lahirlah larva yang akan menggerogoti batang anggrek dari dalam. Pada saat itu, tanaman anggrek akan berhenti tumbuh, daun nampak pucat kekuningan dan diikuti dengan kerontokan daun apabila serangan bertambah parah. Hal ini karena larva didalam batang anggrek telah memutus jaringan pengangkut batang, sehingga air, unsur hara dan cadangan makanan tidak dapat tersalurkan kebagian tanaman lainnya.

Kutu gajah dapat meletakkan telurnya didalam batang semu, di daun, dan di ketiak daun anggrek. Pada percobaan skala laboratorium, telur kutu gajah akan menetas dalam 11 hari. Kemudian masuk pada fase larva selama kurang lebih 4 bulan dan dilanjutkan fase kepompong yang membutuhkan waktu sekitar 16 hari. Setelah menjadi hama dewasa, kutu ini mampu hidup antara 9 hingga 12 bulan lamanya. Hama dewasa biasanya aktif pada saat pergantian musim kemarau ke musim hujan.

Untuk mengendalikan hama ini dapat digunakan cara mekanis yaitu memunguti hama ini secara manual dengan tangan kemudian membunuhnya, atau secara kimiawi dengan insektisida sistemik apabila terdapat gejala serangan dari dalam. Untuk langkah preventif dapat menggunakan insektisida kontak berbahan aktif organophosphat atau pyrethroid maupun menjaga kebersihan media tanam dan kebun. Peringatan dari saya yaitu gunakanlah insectisida pada dosis anjuran serta diselang seling dengan bahan aktif yang berbeda agar mengurangi resiko resistensi hama serta meminimalkan pencemaran lingkungan berlebih.

Anggrek.org, 02 Februari 2007

Read Full Post »

Bila mendengar kata senjata biologi (biology weapon/bioweapon), pasti yang pertama tersbesit adalah penyakit-penyakit menular pada manusia seperti antrax, botulinum, ebola, cacar ganas, maupun penyakit pada ternak seperti sapi gila bahkan flu burung. Tapi jangan salah sangka, saat ini ancaman lain justru datang dari sector pertanian. Suatu perang terselubung untuk menghancurkan sistem ketahanan pangan dan ekonomi suatu negara.

Persenjataan biologi mendapat perhatian sejumlah kalangan pada akhir-akhir ini karena berkaitan dengan kemudahan  pembuatan dan propagasi massa hayati (mikroba) tidak saja oleh ahli biologi/mikrobiologiwan semata tetapi juga mereka yang berpengalaman dalam kerja laboratorium mikrobiologi atau propagasi sel (kultur jaringan). Adanya mikroba bakteri, cendawan dan virus yang bersifat patogen akan sangat bermanfaat untuk “perang hayati” dan banyak anggotanya sangat mudah untuk diperoleh, dikembangbiakkan, dimodifikasi dan disebarluaskan. Walaupun kenyataan  bahwa senjata biologi sangat bermanfaat dalam penanganan kekuatan militer biasa, kemungkinan lain yaitu penggunaan senjata biologi oleh kelompok-kelompok terorganisir sebagai alat dalam usaha penghancuran sistem pertanian suatu bangsa. Sistem pertanian merupakan unsur pokok dalam pembangunan ekonomi suatu negara agraris khususnya di basis negara-negara berkembang seperti kawasan Asia Tenggara dan sebagian Asia Timur, khususnya lagi Indonesia sebagai negara dengan sumber pendapatan sebagian besar penduduknya berasal dari pertanian.

Berdasarkan data Sakernas yang telah diolah kembali (UPPLS, 1999) jumlah tenaga kerja pertanian (petani) masih mendominasi hampir separuh dari tenaga kerja nasional. Pada tahun 1992-1998 terlihat bahwa mulai tahun 1992-1997 jumlah petani terus menurun, tetapi karena adanya krisis ekonomi mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang keluar dari sektor pertanian kembali lagi  menekuni bidang pertanian sehingga tahun 1998 jumlah petani meningkat.  Hal ini membuktikan bahwa sektor pertanian masih tetap merupakan penyangga dalam penyerapan tenaga kerja akibat meningkatnya jumlah pengangguran. Bagi negara berkembang dengan sector agraris sebagai pondasi utama nya, swadaya pangan menjadi tuntutan penting untuk mencapai ketahanan pangan baik lokal maupun nasional.

Melihat pentingnya sistem pertanian bagi suatu negara agraris seperti Indonesia, maka selayaknyalah kita waspada terhadap segala bentuk peyusupan agen-agen biologis yang berperan sebagai bioweapon. Bahkan dugaan salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet adalah kegagalan pemerintah negara itu menjaga ketahanan pangan. Hal itu disebabkan gandum Uni Soviet selalu terserang penyakit karat batang (Puccinia graminis) yang dibawa oleh turis-turis Barat ke negara itu. Karena kekhawatiran serupa, Amerika Serikat menerbitkan Undang-Undang (UU) Bioterorisme. Dalam UU pengganti UU Karantina Tumbuhan. Disitu disebutkan bahwa patogen penyebab penyakit tanaman dicantumkan sebagai salah satu senjata biologis. Dengan UU itu, kalau ada orang membawa tanaman atau apa pun yang diduga mengandung patogen, ia bisa dikenai ancaman hukuman berat karena dikategorikan teroris. Kasus nyata lain yaitu terinfeksinya lahan kentang di Jawa dan Sumatera Utara akibat benih kentang dari Perancis yang membawa penyakit nematode sista kuning (Globodera rostochinensis) pada Maret 2003. Penyakit ini meyebabkan lahan yang sudah terinfeksi tidak dapat ditanami kentang hingga 15 tahun lamanya. Agen hayati lainnya yang memiliki potensi sebagai agen hayati perusak adalah Magnaporthe grisea pada tanaman padi.

Hal yang sama dapat terjadi pada industri anggrek nasional yang saat ini mulai berkembang. Masalah kompetisi bisnis, ekonomi dan politik dalam bisnis peranggrekan internasional dapat saja menjadi latar belakang adanya penyusupan bioweapon ke suatu negara yang memiliki basis bisnis anggrek. Dengan demikian, kewaspadaan nasional perlu digalakkan sedini mungkin untuk mencegah masuknya jenis-jenis penyakit baru yang berpotensi merusak industri peranggrekan nasional. Cukup banyak jenis-jenis penyakit yang potensial sebagai agen bioweapon untuk menyerang anggrek baik dari golongan bakteri, cendawan maupun virus. Dengan serangkaian kegiatan isolasi, lalu uji coba preferensi inang, kemudian dilanjutkan dengan rekayasa resistensi penyakit dengan induksi kimiawi, lalu diuji kembali dengan metoda postulat Koch, yang disusul dengan evaluasi persentase serangan dan uji resistensi penyakit terhadap pestisida. Dengan serangkaian kegiatan ini, diupayakan untuk ditemukan penyakit dengan tingkat serangan yang lebih ganas (virulensi tinggi), memiliki range inang yang luas (polifag) serta toleran terhadap paparan pestisida dosis tinggi.

Indonesia menjadi negara yang sangat rawan karena beberapa hal, yaitu :

    Memiliki plasma nutfah anggrek alam terbesar di dunia sebagai modal dasar dalam pemuliaan anggrek dimasa mendatang.
    Merupakan harta besar bagi Indonesia sekaligus incaran bagi ilmuan-ilmuan botani dan para pemulia tanaman termasuk breeder anggrek di seluruh dunia sebagai modal untuk merakit hybrid-hybrid baru yang unggul, khususnya bagi pesaing di negara-negara Asia, karena mereka memiliki pola iklim yang lebih sesuai untuk anggrek-anggrek dari Indonesia.

    Termasuk negara yang banyak mengimpor bibit-bibit anggrek dari mancanegara.
    Bibit impor yang telah diinfeksi dengan mikroba patogen berbahaya dapat menjadi “amunisi” bioweapon saat tiba di Indonesia dan tercampur di lokasi budidaya, dan akan semakin merebak luas dengan cepat seiring dengan distribusi perdagangan lokal.

    Bisnis anggrek di Indonesia banyak menjadi topangan bisnis skala rumah tangga maupun skala industri besar.
    Bisnis anggrek dari sektor hulu hingga hilir sedikit banyak mampu memperkuat perekonomian masyarakat di lini terbawah sekaligus terbukanya peluang berkembangnya industri anggrek nasional serta meningkatnya apresiasi perakitan hybrid-hybrid baru yang lebih unggul. Oleh karena itu, peluang ekspor nasional akan semakin meningkat san membuat persaingan bisnis anggrek baik lokal maupun Internasional semakin kompetitif.

    Mulai bangkitnya industri anggrek nasional untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang dahulu selalu ditutup dengan import.

    Indonesia merupakan negara tropis dengan kelembaban tinggi, sehingga sangat potensial untuk berkembangnya mikroba-mikroba patogen

    Lemahnya sistem karantina dan pengawasan impor terhadap komoditas pertanian dari luar negeri
    Peluang masuknya bibit-bibit impor yang telah terinfeksi bioweapon akan semakin lebar

Satu hal penting yang sangat diincar pihak luar adalah kekayaan plasma nutfah anggrek alam yang dimiliki Indonesia, karena dari situlah bahan genetic untuk merangkai anggrek-anggrek hybrid di masa depan. Apabila semua plasma nutfah dan varian-varian unggul telah “ditransfer” ke luar negeri baik melalui perdagangan ilegal maupun penyelundupan….saat itulah tombol roket bioweapon segera dipencet untuk merusak industri budidaya dalam negeri sehingga menciptakan ketergantungan komoditas anggrek (misal bunga potong dll) terhadap pasokan anggrek dari luar. Selain itu, dengan rusaknya kantung-kantung sentra budidaya anggrek nasional, maka ekspor anggrek otomatis juga akan melemah, ditambah dengan peraturan bioterrorisme di manca negara yang semakin ketat yang kesemuanya bermuara pada melemahnya posisi Indonesia dalam bisnis anggrek lokal maupun internasional. Just say goodbay….

Mungkin artikel ini tampak terlalu phobia atau bahkan hiperbola bagi banyak orang, bahkan banyak pula yang tersenyum geli. Fiuh ~_~ !!, namun yang pasti, misi untuk menyampaikan wacana ini telah tersampaikan, sehingga sedikit banyak sudah ada upaya untuk terus meningkatkan kesadaran akan kewaspadaan dini terhadap berbagai kemungkinan. Keep smiling and thinking ^_^!!

Anggrek.org, 05 Februari 2007

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.