Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘biopestisida’ Category

Penggunaan pupuk atau nutrisi makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) lebih sering dipergunakan bila dibandingkan dengan penggunaan pupuk mikro.  Walaupun demikian pupuk mikro mempunyai peranan dalam meningkatkan penampilan tanaman (kualitas daun, hasil panen dan sebagainya).

Pupuk mikro tersusun dari unsur Besi (Fe), Boron (B), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Molibdat (Mo), umumnya unsur mikro ini tersedia pada pH tanah antara 5 – 6.

Besi mempunyai peranan dalam menyusun enzim-enzim pada transport elektron, pembentukan ultrastruktur kloroplas, penyusun enzim-enzim katalase dan peroksidase, dan sebagainya.  Boron, mengendalikan transpor gula, pembentukan polisakarida, bagian pembentukan dari dinding sel dan metabolisme senyawa pektat.  Mangan berperanan dalam aktifasi beberapa enzim yang berkaitan dengan sintesis asam lemak dan nukleotida serta memainkan peranan dalam respirasi serta fotosintesis.  Tembaga, berperanan dalam fotosintesis karena bagian penyusun enzim kloroplas plastosianin dalam sistem transpor electron dan penyusun beberapa enzim oksidase.  Seng merupakan penyusun dari enzim  penyusun sintesis Triptofan, prekursor (pra zat) dari IAA, bersama tembaga berperanan  dalam penyusunan enzim superoksida dismutase (enzim pemecah O2).  Molibdat, berperanan dalam “carier” elektron antara tahap teroksidasi dan tereduksi.

Macam pupuk Mikro:

  1. Growmore Soluble Micro Mix
  2. Metalik

Catatan:

Seringkali tujuan meningkatkan derajat kebasaan dengan menggunakan dolomite (mengandung Ca dan Mg) tidak memperhatikan konsentrasi yang diberikan dapat memberikan dampak ketidak tersediaan unsur mikro bagi tanaman.

godongijo.com, 01 Oktober 2007

Read Full Post »

Berawal dari kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menangani masalah pengadaan, riset dan development, dari satu perusahaan yang bergerak di Vagatable Food Processing & Packaging untuk tujuan expor ke negara belahan Eropa dan Amerika. Kenyataannya, penerapan cara Pertanian Organik Modern masih belum populer untuk diterapkan di negara kita, sehingga perusahan tersebut memberikan kepercayaan lagi kepada kami untuk terus mengembangkan sistem Pertanian Organik yang intergeted, agar hasil dari pertaniannya bisa masuk pasaran Eropa dan Amerika yang sudah lama meninggalkan sistem pertanian unorganik ( Kimia ).

Untuk menjaga tanaman dari hama dan pestisida kimia, kami mengembangkan Greenhouse, yang berfungsi pula untuk menjamin kelangsungan produksi agar tidak tergantung pada musim. Setelah Greenhouse jadi, dalam sekala percobaan, kami menanam beberapa jenis komoditi yang akan kami expor di antaranya: cabe, terong, dan tomat, langsung di atas tanah seperti biasanya.

Kami tidak menggunakan pestisida, karena kami menanam dalam Greenhouse tadi, dengan di cover dengan net yang bisa menahan hama Cabuk ( White fly ) pembawa virus Bemicia tabaci yang cukup sulit untuk diberatas.

Menanam di atas tanah seperti bisanya ternyata memerlukan pemupukan secara kimia yang sangat banyak di luar kewajaran secara kalkulasi ekonomi, dan dari hasilnya tidak bisa masuk katagori organik. Jadi dari kualitas dan harga kita tidak bisa bersaing di pasar global.

Dengan kendala yang dihadapi itu, kami simpulkan untuk memperbaiki tanah pertanian dengan penambahan bahan organik yang sudah hampir hilang di seluruh tanah pertanian kita, akibat pemakaian pupuk kimia yang terus menerus (hampir 30–35 tahun), dan upaya perbaikan tanah hampir tidak pernah dilakukan.

Dengan perhitungn ekonomis, perbaikan tanah pertanian memerlukan waktu dan biaya yang sangat tinggi, jadi kami mencoba menanam jenis komoditas tadi di dalam polibag, menggunakan media yang umum di pakai, seperti kotoran ternak, cocopeat, arang sekam dengan campuran yang disesuaikan dengan jenis tamanan. Untuk tanaman yang hampir 22.000 tanaman/ha, memerlukan sekitar 200 tons media tanam untuk tahap pertama, selanjutnya hanya di tambah 25 % atau 50 tons/musim tanam/ha. Dan kami sangat kesulitan mendapatkan posokan media tanam sebanyak itu.

Pengolahan Limbah Gula sebagai Pupuk Organik

Kebetulan lokasi kami berdekatan dengan pabrik gula dari bahan tebu yang mempunyai limbah organik berupa blotong (filter cake), dan abu boiler di Desa Kebon Agung Pakis Aji, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Blotong (filter cake) merupakan limbah padat hasil dari proses produksi pembuatan gula, dimana dalam suatu proses produksi gula akan dihasilkan blotong dalam jumlah yang sangat besar. Sebagai contoh, pada tahun 2003 dalam satu proses produksi gula di P.G. Kebon Agung mampu menghasilkan limbah blotong sebanyak 21.000 ton sedang di P.G PTPN X mampu menghasilkan limbah blotong sebanyak 110.000 ton.

Sementara ini pemanfatan blotong, sebagai pupuk organik masih belum maksimal dan penggunanya pun terbatas. Hal ini disebabkan karena :

  1. <!–[endif]–>Pengolahan limbah blotong menjadi pupuk organik masih bisa dikatakan hanya asal-asalan, masih belum ditangani dengan menggunakan satu proses yang baik dan benar sehingga pupuk organik yang dihasilkan, masih belum sempurna.
  2. <!–[if !supportLists]–>Minimnya pengetahuan petani akan manfaat penggunaan pupuk organik dari bahan blotong. (lebih…)

Read Full Post »

Penggunaan pupuk anorganik tak selamanya menguntungkan. Bahkan bisa jadi malah merugikan petani. Setidaknya itulah yang dialami petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Penggunaan pupuk anorganik tak selamanya menguntungkan. Bahkan bisa jadi malah merugikan petani. Setidaknya itulah yang dialami petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Berpuluh-puluh tahun mereka menggunakan pupuk anorganik, seperti urea, KCl, dan TSP. Dalam rentang waktu sepanjang itu, atas perintah para penyuluh pertanian, petani terus memacu produktivitas komoditas pertanian melalui penggunaan pupuk anorganik secara intensif.

Dampaknya, kini tanah mereka kian mengeras. Struktur dan tekstur tanahnya pun tidak lagi segembur dahulu, sebelum mereka menggunakan pupuk anorganik.

Jauh sebelum pupuk anorganik beredar di pasaran, petani sudah terbiasa menggunakan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan, jerami, atau limbah pertanian tanaman. Namun kebiasaan petani yang kini menggarap sawah seluas 50.685 hektare ini tak dilanjutkan ketika pupuk anorganik dipromosikan sebagai penyelamat produktivitas mereka.

Sekilas memang, produktivitas panen meningkat. Namun lama kelamaan, penggunaan pupuk pabrik atau anorganik berdampak negatif pada tanah. “Pupuk tersebut membuat tanah menjadi keras dan struktur menjadi jelek,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Ir Marsudi Hadiwiyanto kepada Pembaruan pekan lalu.

Jika hal itu dibiarkan maka bukan tidak mungkin penghasilan produksi pertanian di Bantul yang saat ini telah mencapai 5,89 ton per hektar dalam bentuk Gabah Kering Pungut (GKP) akan menurun. Padahal tahun 2005 produksi padi di Bantul diharapkan bisa meningkat hingga 7,5 ton per hektar GKP. “Hal ini wajar karena sekitar 57 persen masyarakat Bantul bergerak di sektor pertanian,” jelas Marsudi.

Mengembalikan Kesuburan

Atas dasar itu, pihaknya menyerukan petani untuk menggunakan pupuk organik. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ternyata penggunaan pupuk organik sangat baik untuk mengembalikan kesuburan tanah. “Kini petani kami sedang kembali beralih pada penggunaan pupuk organik,” ujarnya.

Petani boleh lega. Sebab, Bupati Bantul Idham Samawi juga sepakat menggalakkan penggunaan pupuk berimbang yang terdiri dari campuran pupuk organik dan anorganik.

Bahkan, ada rencana dikeluarkannya larangan untuk menjual pupuk kandang ke luar wilayah Bantul. Hal itu demi menjaga agar kebutuhan pupuk kandang petani di sana dapat terpenuhi.

Sebelumnya pupuk organik justru banyak dijual ke daerah lain seperti Wonosobo, Temanggung, atau daerah-daerah penghasil tembakau dan sayuran. Konsekuensinya, Pemda akan membeli pupuk organik dari masyarakat lokal sesuai harga pasar.

Menurut Marsudi, saat ini telah terdapat beberapa kelompok petani di Bantul yang memproduksi pupuk organik dengan dikelola oleh sejenis paguyuban petani. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas tanah, pihaknya juga kembali menggerakkan kesadaran masyarakat untuk menanam oro-oro yang diyakni dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah.

Dilihat dari segi ekonomi, penggunaan pupuk organik lebih murah ketimbang anorganik. Menurut Ketua Kelompok Tani Luwes Dusun Kepek Timbul, Desa Harjo, Bantul, Paijan, sebelumnya petani mengeluarkan sekitar Rp 89 ribu untuk membeli pupuk anorganik setiap sekali tanam dalam seribu meter persegi sawah.

Kini mereka cukup membeli pupuk organik beserta anorganik sebagai campurannya sebanyak Rp 90 ribu dan untuk dua kali masa tanam. Tentu saja hal ini dapat membantu memangkas biaya produksi.

Layak Dicontoh

Bantul memang layak dijadikan contoh bagi petani di daerah lainnya. Selain sudah mulai menerapkan penggunaan pupuk yang ramah lingkungan dan bisa diproduksi sendiri oleh masyarakatnya, Pemda pun ikut turun tangan dalam membenahi pascapanen.
(lebih…)

Read Full Post »

Riset dari Science University of Tokyo telah berhasil membuat antibodi hepatitis B dengan meman faatkan tanaman padi transgenik. Selama ini, antibodi tersebut dibuat dari darah penderita hepatitis B. Jo Chiba.

Riset dari Science University of Tokyo telah berhasil membuat antibodi hepatitis B dengan memanfaatkan tanaman padi transgenik. Selama ini, antibodi tersebut dibuat dari darah penderita hepatitis B. Jo Chiba. Profesor dari universitas tersebut dan pimpinan tim itu mengatakan : metode itu selain menghemat biaya karena teknologi pemrosesannya lebih sederhana, juga akan mengurangi peluang masuknya viruss lain ke dalam produk itu. Sekitar 300 juta orang di dunia membawa virus hepatitis B. Di negara-negara berkembang yang kekurangan dana untuk membeli immunoglobin, atau produk-produk antibodi lain yang mahal, amat sulit untuk mengatasi penyakit ini. Cina yang memiliki jumlah penderita hepatitis B yang besar, telah menunjukkan ketertarikannya dalam mengembangkan produk immunoglobin dengan metode baru tersebut. Suatu lembaga penelitian bioproduk di Shanghai telah bekerjasama dengan tim dari Science university of Tokyo dalam pengembangan metode untuk penggunaan praktis.

situshijau.co.id, 28 Mei 2002

Read Full Post »

Tembakau, Pestisida Organik

Memakai bahan kimia itu memang sangat ampuh untuk membasmi semua berbagai jenis hama. Namun dapat membahayakan, apalagi dengan takaran yang berlebihan.
Pasti kesal deh, bila tanaman terserang hama dan penyakit. Apalagi tanaman sayur. Daunnya yang hijau menjadi santapan empuk bagi ulat dan serangga pemakan daun. Bakal buah dan bunga pun turut disantap. Tidak itu saja, batang-batangnya sering dijadikan tempat untuk menaruh telur-telumya.

Banyak racun atau pestisida yang dipakai untuk membasmi hama, furadan misalnya. Memakai bahan kimia itu memang sangat ampuh untuk membasmi semua berbagai jenis hama. Namun dapat membahayakan, apalagi dengan takaran yang berlebihan. Kesuburan tanah menjadi berkurang, serta pestisida cair itu dapat meresap dipermukaan daun atau buah.

Bahkan, serangga-serangga pemakan ulat dan telur ikut pula binasa. Untuk mencegah pengaruh tersebut sebaiknya menggunakan bahan alami yang tidak berbahaya. Bentuk ini adalah pemberantasan hama yang ramah lingkungan.

Sederhana pula cara pembuatannya. Resep yang banyak dikenal adalah dengan memakai bumbu dapur dan tembakau. Caranya yaitu, rendam sebanyak setengah kilogram tembakau dalam 2 liter air. (lebih…)

Read Full Post »

Mulsa buat Tanaman Anda

Mulsa sangat berguna untuk membantu pertumbuhan tanaman Anda. Mulsa berguna untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit. Dari bahan asalnya mulsa dibedakan menjadi mulsa organik dan anorganik.

Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa ini mudah dan murah didapatkan. Keuntungan lainnya adalah mulsa ini dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Sebaiknya cacah terlebih dahulu jerami/alang-alang sebelum ditebarkan di atas tanah sebagai mulsa. Hanya saja pada beberapa waktu kemudian perlu ditambahkan cacahan jerami/alang-alang untuk mengganti yang mulsa yang telah terurai. Selain jerami dan alang-alang dapat digunakan cacahan batang dan daun jagung atau rumput-rumputan lainnya.

Daripada sekeliling tanaman penuh dengan rumput atau hanya dibiarkan mengering terkena sinar matahari, mengapa tidak Anda coba gunakan mulsa dari jerami/alang-alang ?

Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Kalau mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam, maka mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam. Kemudian mulsa dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Hanya saja mulsa ini sekarang harganya mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam budidaya cabai atau melon.

situshijau.co.id, 28 Mei 2002

Read Full Post »

Pestisida Organik

Pestisida Organik

Resep I

Bahan yang diperlukan :

- Tembakau ? kg;
– air 2 liter;
– kapur banus 4 butir digerus.

Cara pembuatannya:

- Tembakau direndam air 2 liter selama dua hari.
– Campurkan gerusan kapur barus.
– Setiap 2 sendok makan rendaman tembakau dan kapur barus dicampur dengan air cucian 1 liter. – Semprotkan pada tanaman yang sedang kena hama penyakit.

Resep II

Bahan yang diperlukan:

- tembakau 1 ons;
– jahe 1 ons;
– bawang putih 1 ons;
– air 5 liter.

Cara pembuatannya:

Jahe dan bawang putih dihaluskan, campur dengan tembakau dan masukkan air, tutup rapat dan simpan selama 2 hari 2 malam langsung digunakan. Resep pengendali hama ini bisa digunakan untuk 10.000 m2 lahan.

Sebaiknya pestisida ini digunakan pada sore hari sekitar pukul 16.00 atau 17.00 WIB. Kalau masih ada sisa bisa disimpan kurang Iebih 1 minggu. Pemakaian bisa diulangi kalau hama penyakitnya masih belum hilang tuntas.

Pengendali hama ini lebih efektif bila digunakan untuk tiga kali pemakaian, atau kalau misalnya masih tersisa banyak bisa disimpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari.

situshijau.co.id, 28 Juni 2002

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.