PENDAHULUAN
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan adalah usaha memperbanyak tanaman buah-buahan dengan menggunakan perbanyakan secara vegetatif seperti stek, cangkok, okulasi (tempel), grafting (sambung) dan kultur jaringan. Keuntungan perbanyakan secara vegetatif antara lain sifat tanaman yang sesuai dengan sifat tanaman induknya, mempercepat tanaman berbuah atau memperpendek masa juvenil(masa tanaman belum menghasilkan).
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan banyak terdapat di Indonesia, sebagai contoh Majalengka terkenal sebagai sentra produksi bibit mangga, rambutan dan jeruk, Lampung terkenal sebagai sentra produksi bibit rambutan dan Bogor terkenal sebagai sentra produksi bibit durian. Untuk Kawasan Indonesia Tengah, Bali merupakan salah satu sentra produksi bibit tanaman buah-buahan. Usaha pembibitan tanaman buah-buahan yang terus berkembang ini diharapkan dapat memenuhi permintaan pekebun buah terhadap bibit buah-buahan sehingga produksi buah meningkat dan dapat memenuhi konsumsi buah dalam negeri.
Tabel 1.1.
Perkiraan Permintaan Buah-buahan di Indonesia Sampai Tahun 2015
| Tahun | Populasi (juta) * |
Peningkatan Konsumsi per 5 Tahun (%) ** |
Konsumsi /Kapita (kg) |
Total Konsumsi (ribu ton) |
| 1995 | 200 | 30,00 | 6.000 | |
| 2000 | 213 | 30,5 | 36,76 | 7.000 |
| 2005 | 227 | 32,5 | 45,70 | 10.375 |
| 2010 | 240 | 34,5 | 57,92 | 13.900 |
| 2015 | 254 | 44,5 | 78,74 | 20.000 |
Sumber : * BPS, ** Departemen Pertanian (1992)
Untuk memenuhi kebutuhan buah dalam negeri, pemerintah berusaha meningkatkan produksi buah-buahan dengan cara mengembangkan agribisnis buah-buahan. Namun peningkatan produksi saja tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan peningkatan mutu buah-buahan.
Dalam agribisnis, mutu buah-buahan sangatlah penting dan menentukan keberhasilan usaha. Masalah mutu yang dihadapi diantaranya penampilan buah yang kotor, memar-memar, tidak higiene, warna yang tidak merata dan citarasa buah yang tidak sama antar buah yang diperdagangkan. Masalah rendahnya mutu buah tersebut dapat diatasi dengan penggunaan bibit berlabel. Bibit berlabel adalah bibit yang telah mendapat sertifikat dari Instansi Penyelenggara Sertifikasi atau Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) dan telah teruji kebenarannya.
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan di daerah Buleleng Bali merupakan usaha untuk memenuhi permintaan pekebun terhadap bibit terutama bibit berlabel. Usaha pembibitan tanaman buah-buahan di daerah Buleleng Bali mulai marak sejak tahun 1979 dan menjadi sentra produksi bibit bagi Propinsi Bali khususnya dan umumnya bagi Kawasan Tengah Indonesia. Tanaman buah-buahan yang dibibitkan di daerah Buleleng Bali yakni mangga, rambutan dan durian.
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan ini telah menjadi kebanggaan wilayah Buleleng dan menjadi salah satu ikon dagang bagi kabupaten ini. Dalam rangka menunjang pengembangan usaha pembibitan tanaman buah-buahan perlu dilakukan studi kelayakan usaha yang dapat digunakan sebagai informasi dan pengetahuan serta bahan pertimbangan bank dalam membiayai pengembangan usaha pembibitan tanaman buah-buahan.
Buku ini akan menyajikan informasi yang mencakup aspek-aspek teknik produksi, pemasaran, keuangan, dan sosial-ekonomi yang terkait dengan pengembangan usaha pembibitan tanaman buah-buahan.
PROFIL USAHA
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan di Kabupaten Buleleng berada di wilayah Kecamatan Sawan dan Kabutambahan. Usaha ini telah berkembang sejak tahun 1979 dan merupakan usaha milik perorangan serta dikelola secara sederhana. Pembibitan tanaman buah-buahan di wilayah ini telah mendapatkan pembinaan dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng sehingga penangkar bibit memperoleh sertifikat sebagai Pengedar Benih dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Denpasar Bali.
Berdasarkan hasil wawancara, luas lahan pembibitan tanaman buah-buahan yang dimiliki penangkar di Kecamatan Sawan dan Kabutambahan berkisar antara 0,4 ha hingga 3 ha. Produksi bibit yang dihasilkan dapat mencapai 257.000 bibit untuk luas lahan pembibitan 3 ha. Selain lahan pembibitan penangkar juga memiliki kebun buah untuk pohon induk penghasil mata tempel. Jumlah pohon induk penghasil mata tempel yang dimiliki penangkar berbeda-beda. Penangkar bibit di wilayah Kecamatan Kabutambahan ada yang memiliki 40 pohon induk mangga Arumanis dan 10 pohon induk mangga Lalijiwa. Sedangkan jumlah pohon induk yang dimiliki salah satu penangkar di Kecamatan Sawan yaitu 20 pohon durian Kani, 3 pohon mangga Arumanis, 4 pohon mangga Lalijiwa dan rambutan masing-masing 5 pohon untuk Binjai, Rapiah dan Lebak Bulus.
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan di Kabupaten Buleleng dipengaruhi oleh ketersediaan air sepanjang tahun, ketersediaan pohon induk penghasil mata tempel untuk batang atas dan ketersediaan biji untuk batang bawah. Irigasi di wilayah ini menggunakan sistem subak sehingga memungkinkan air tersedia sepanjang tahun. Pada wilayah ini pohon induk penghasil mata tempel yang tersedia adalah durian Kani, mangga Arumanis dan Lalijiwa, rambutan Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah. Oleh karena itu jenis tanaman buah yang dapat ditangkarkan di wilayah ini adalah Mangga (Mangifera indica) yang terdiri dari dua kultivar Arumanis dan Lalijiwa, Durian (Durio zibethinus) kultivar Kani dan Rambutan (Nephelium lappaceum) kultivar Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah.
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan di Kabupaten Buleleng terkenal karena bibit yang dihasilkan adalah bibit berlabel. Data pada Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng menyebutkan pada tahun 2005, jumlah penangkar bibit yang memperoleh sertifikat sebagai Pengedar Benih berjumlah 19 penangkar terdiri dari 15 penangkar di Kecamatan Sawan dan 4 penangkar di Kecamatan Kabutambahan. Sedangkan penangkar bibit yang tidak bersertifikat sebagai Pengedar Benih diperkirakan berjumlah lebih kurang 15 penangkar.
Tabel 2.1.
Luas Areal Tanam dan Produksi Bibit Berlabel di Kabupaten Buleleng Bali
| Tahun | Luas Areal Tanam (ha) |
Produksi Bibit Berlabel |
| 2000 | 5,65 | 431.776 |
| 2001 | 4,61 | 143.568 |
| 2002 | 5,99 | 316.858 |
| 2003 | 5,98 | 399.092 |
| 2004 | 17,20 | 217.315 |
| 2005* | 22,87 | 281.288 |
Sumber : Dinas Pertanian Kab. Buleleng Bali, 2005
Keterangan : * Data sementara
Pada Tabel 2.1. menunjukkan perkembangan luas areal tanam dan produksi bibit berlabel dari tahun 2000–2005 di Kecamatan Sawan dan Kabutambahan. Luas areal tanam usaha pembibitan tanaman buah-buahan dari tahun 2000 hingga tahun 2005 cenderung terus meningkat. Pada tahun 2000 luas areal tanam sekitar 5,65 ha dan pada tahun 2005 luas areal tanam meningkat menjadi 22,87 ha. Peningkatan luas areal tanam ini ternyata tidak diikuti oleh peningkatan produksi bibit berlabel. Pada tahun 2000, produksi bibit berlabel mencapai 431.776 bibit dan cenderung terus berkurang pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2005, produksi bibit berlabel hanya mencapai 281.288 bibit.
Penurunan produksi ini mungkin dikarenakan mahalnya biaya sertifikasi bibit yaitu Rp 165 per bibit, sehingga bibit yang diproduksi tidak semuanya berlabel. Biaya sertifikasi bibit terdiri dari biaya pemeriksaan lapang untuk pemeriksaan batang bawah Rp 5 per bibit, untuk bibit yang dinyatakan lulus dan telah diokulasi, dikenakan biaya tambahan Rp 45 per bibit dan biaya untuk pembelian label yang terbuat dari plastik sebesar Rp 115 per bibit. Selain karena biaya sertifikasi yang mahal, faktor lain yang menyebabkan penurunan produksi bibit berlabel adalah ketersediaan mata tempel dan biji batang bawah yang bersertifkat dari Instansi Penyelenggara Sertifikasi tidak mencukupi kebutuhan penangkar pada saat musim tanam. Akibatnya penangkar menggunakan batang bawah dan batang atas yang tidak bersertifikat.
Untuk menghasikan bibit berlabel, makadiperlukan mata tempel yang telah lulus sertifikasi dari InstansiPenyelenggara Sertifikasi dan berasal dari pohon induk yang telahdiobservasi dan telah dilepas varietasnya oleh Menteri Pertanian. Bijiatau seedling yang digunakan sebagai batang bawah harus berasal daripohon induk yang telah dideterminasi oleh Instansi PenyelenggaraSertifikasi dan dinyatakan layak sebagai pohon induk/penghasil benihsumber. Namun, jumlah mata tempel dan biji untuk batang bawahbersertifikat yang tersedia sangat terbatas, sehingga penangkarmenggunakan mata tempel dan biji untuk batang bawah yang tidakbersertifikat. Akibatnya bibit yang dihasilkan pun tidak berlabel.
POLA PEMBIAYAAN
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan di Kecamatan Sawan dan Kabutambahan Kabupaten Buleleng telah mendapatkan kredit sejak tahun 1985 yaitu dari Bank Perniagan Umum Singaraja dengan plafond kredit Rp 500.000 dan tahun 1986 dari BPD Bali dengan plafond kredit Rp 3.000.000 tingkat suku bunga kredit 1% per bulan dan jangka waktu pinjaman selama 3 tahun. Setelah itu, sejak tahun 1995 pemberian kredit dilakukan oleh BNI Cabang Singaraja.
Jenis kredit yang disalurkan bank BNI adalah Kredit Modal Kerja (KMK) dengan total jumlah plafond kredit yang telah disalurkan kepada tiga debitur perorangan di dua kecamatan adalah Rp 170.000.000 terdiri dari Rp 100.000.000 Rp 50.000.000 dan Rp 20.000.000 dengan bunga pinjaman menurun sebesar 15,75% dan jangka waktu pinjaman 1 tahun dengan review setiap tahun serta tidak diberlakukan masa grace period untuk usaha ini.
Layanan Kredit Modal Kerja (KMK) diberikan untuk pembiayaan modal kerja perusahaan, baik perusahaan perorangan maupun yang berbadan hukum. Pengajuan kredit ini misalnya untuk pembelian bahan baku, pembayaran tenaga kerja dan sarana produksi. Manfaat KMK untuk membantu meningkatkan atau memperlancar pembeliaan bahan baku, biaya produksi dan biaya pemasaran.
Adapun persayaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh kredit ini adalah :
- Maksimum kredit disesuaikan dengankebutuhan modal kerja dan kemampuan membayar kembali usaha yangbersangkutan.
- Memiliki izin usaha dan izin lainnya.
- Jangka waktu paling lama 1 tahun dan dapatdiperpanjang sesuai dengan kebutuhan.
- Jaminan adalah barang-barang yang dibiayaidan jaminan tambahan lainnya.
Prosedur dalam mendapatkan kredit meliputi permohonan kredit oleh debitur yang dilanjutkan dengan peninjauan dan analisa oleh pihak bank dan jika memenuhi persyaratan maka kredit dapat segera dikucurkan. Persyaratan-persyaratan yang diajukan diantaranya adanya jaminan dari debitur, adanya perijinan dalam mendirikan usaha seperti SIUP, TDP dan NPWP. Pada saat awal pengajuan kredit calon debitur harus menanggung biaya administrasi seperti provisi, notaris, pengikatan jaminan, biaya aministrasi dan asuransi resiko.
Proses penyaluran kredit setelah persyaratan kredit terpenuhi oleh debitur hingga pencairan kredit sekitar dua minggu. Pencairan kredit dilakukan sekaligus dan sistem pencairan melalui rekening koran. Hal ini dikarenakan bank tidak memperkenankan debitur mengajukan pinjaman di tempat lain dan dimaksudkan agar debitur menjalankan aktivitas keuangannya lewat bank yang bersangkutan. Selain memberikan kredit, bank juga memberikan bantuan berupa teknis administrasi kredit dan monitoring usaha.
dari : bi.go.id











bagus sih…
yang bagusnya apa ya…?hai cuma pingin kenal aja…..!
Mohon informasi tempat tersedianya bibit jeruk keprok tejakula di buleleng, terimakasih
boleh gak saya minta satu contoh study kelayakan tanam kakau.froom asyari panteraja(unsyiah Banda Aceh.
Mohon informasi tempat tersedianya bibit buah naga di denpasar, thanks
Mohon di berikan gambaran standarisasi pembibitan tanaman hias.
saya tertarik dan mau mengembangkan duren kane dan montong di Bali. mohon info dimana dapat beli bibitnya, harga per batang, spesifikasi bibit nya ? makasih atas bantuannya . hub saya di 081999644755
Salam,
Saya sedang belajar usaha distribusi bibit buah-buahan yang cepat bebuah dan pohonnya kecil. Saya tinggal di Makassar. alamat email saya: masasukses@gamail.com. atau sms ke 0852 557 606 63. terimakasih atas bantuanta.