Nasrun1 dan Yang Nuryani2
1Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Laing, Kotak Pos 1, Solok, Sumatera Barat
2Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Jalan Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111
ABSTRAK
Penyakit layu bakteri merupakan salah satu penyakit penting pada nilam di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum dan dapat menurunkan produksi nilam 60?80% sehingga menjadi kendala dalam peningkatan produktivitas nilam. Pengendalian patogen dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan yaitu Sidikalang, teknik budi daya (pemupukan, bahan organik, dan mulsa), pestisida hayati (Pseudomonas fluorescens dan Bacillus spp.), pestisida nabati (serai
wangi), pengendalian kimiawi (bakterisida), dan membatasi penyebaran patogen dari daerah terinfeksi ke daerah yang tidak terinfeksi. Pengendalian penyakit layu bakteri harus dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan berbagai teknik pengendalian.
Kata kunci: Nilam, Ralstonia solanacearum, pengendalian hayati, pengendalian terpadu
Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan komoditas ekspor penting
di Indonesia. Ekspor minyak nilam mencapai 1.276 ton dengan nilai US$ 19.264
juta (Direktorat Jenderal Perkebunan 2006). Indonesia merupakan pengekspor minyak nilam terbesar di dunia dengan memasok hampir 90% kebutuhan minyak nilam dunia (Asman 1996). Oleh karena itu, minyak nilam diharapkan dapat meningkatkan sumber pendapatan negara dari sektor nonmigas.
Minyak nilam mempunyai prospek baik untuk memenuhi kebutuhan industri
parfum dan kosmetik (Hernani dan Risfaheri 1989; Asnawi dan Putra 1990).
Minyak nilam dapat pula digunakan sebagai antiseptik, insektisida, dan
aromaterapi (Robin 1982; Mardiningsih et al. 1995). Patchouli alcohol merupakan
komponen utama minyak nilam dan digunakan sebagai indikator kualitas minyak
nilam (Nurjanah dan Marwati 1998).
Pada umumnya pertanaman nilam di Indonesia diusahakan oleh petani yang
tersebar di 14 sentra produksi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sebagian di Jawa (Dhalimi et al. 1998). Produktivitas dan mutu minyak nilam Indonesia masih sangat rendah dengan kadar minyak 1?2% (Rusli et al. 1993). Pada tahun 2003 produktivitas rata-rata nilam hanya 199,48 kg/ha/tahun (Direktorat Jenderal Perkebunan 2006).
Salah satu penyebabnya adalah seranganpenyakit antara lain penyakit layu bakteri
yang dapat menurunkan produksi 60?80% (Asman et al. 1993). Penyakit ini telah menyebar hampir di seluruh sentra produksi nilam di Sumatera Barat, NAD, dan
Sumatera Utara, bahkan akhir-akhir ini telah ditemukan di Jawa Barat dan Jawa
Tengah.
Penyakit layu bakteri pada nilam disebabkan oleh Ralstonia solanacearum
(Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et al. 1997; Asman et al. 1998; Supriadi et al.2000; Nasrun 2005). Penyakit ini menyebar melalui bahan tanaman, dan menyerang tanaman muda sampai tanaman berproduksi (Sufiani dan Hobir 1998).
Kondisi lingkungan yang cocok untuk perkembangan penyakit dapat mendorong penyakit berkembang secara pesat (Supriadi et al. 2000). Ditambah lagi petani belum melakukan pengelolaan penyakit secara benar, seperti menggunakan setek nilam sebagai bibit dari kebun yang terinfeksi penyakit layu bakteri, membiarkan sisasisa tanaman sakit, dan tidak melakukan pemupukan sehingga dapat memacu perkembangan penyakit layu bakteri.
Strategi pengendalian penyakit layu bakteri didasarkan pada konsep pengendalian
yang tepat berdasarkan pertimbangan kelayakan teknologi, ekologi,
ekonomi, dan sosial budi daya. Pengendalian bakteri patogen akan lebih efektif
bila dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan berbagai teknik pengendalian, meliputi varietas tahan atau toleran, teknik budi daya (pergiliran
tanaman, bahan organik, pemupukan), pengendalian menggunakan agens hayati,
pestisida nabati dan kimiawi, serta membatasi penyebaran bakteri patogen termasuk peraturan karantina.
PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM
Gejala Penyakit Di lapangan, penyakit layu bakteri nilam menyebar secara merata pada satu areal pertanaman dengan gejala daun layu dan diakhiri dengan kematian tanaman dalam waktu singkat (Gambar 1). Gejala awal serangan penyakit berupa salah satu daun pucuk layu dan diikuti dengan daun bagian bawah. Setelah terlihat gejala lanjut dengan intensitas serangan di atas 50%, tanaman akan mati dalam waktu 7?25 hari.
Pada serangan lanjut, akar dan pangkal batang membusuk dan terlihat adanya
massa bakteri berwarna kuning keputihan seperti susu. Bentuk gejala ini merupakan
ciri khas dari serangan patogen penyebab penyakit layu bakteri (Nasrun 2005).





Bila potongan batang nilam yang terinfeksi direndam di dalam air maka akan
terlihat aliran massa bakteri patogen. Hasil pengamatan pada sayatan tipis batang
tersebut secara mikroskopis menunjukkan adanya massa bakteri patogen yang keluar dari jaringan pembuluh kayu. Melalui metode ini dapat diketahui secara pasti
bahwa nilam yang bergejala layu tersebut telah terinfeksi oleh bakteri patogen
pembuluh kayu. Metode ini merupakan karakterisasi awal secara makroskopis dan
mikroskopis serangan bakteri patogen pembuluh kayu (Nasrun 2005).
Sifat-sifat Bakteri Patogen
Pada medium Yeast Peptone Agar (YPA), bakteri patogen berbentuk koloni tidak teratur, berwarna putih dan fluidal yang merupakan
ciri khas koloni R. solanacearum (Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et
al. 1997; Supriadi et al. 2000; Nasrun 2005).
Bakteri patogen mempunyai daya virulensiyang berbeda-beda dengan masa inkubasi 14,60?39,30 hari setelah inokulasi (Nasrun 2005).
Bakteri R. solanacearum mempunyai reaksi negatif terhadap hidrolisis pati,
gelatin, arginin dan produksi levan, dan bereaksi positif terhadap uji katalase, oksidase, akumulasi PHB, dan denitrifikasi.
Isolat bakteri patogen dapat tumbuh pada NaCl 0?2% dengan pH 4?8,50 dan suhu
13?37oC, tetapi tidak dapat tumbuh pada suhu 41oC. Jika bakteri ditumbuhkan pada medium YPA ditambah tetrazolium salt dan diinkubasi selama 24 jam maka akan terlihat koloni berwarna putih, fluidal dengan pusat koloni berwarna merah
jambu (Nasrun 2005). Tipe koloni ini merupakan koloni R. solanacearum virulen
(Hayward 1994). Dari pengecatan negatif dan setelah diuji dengan HCl terlihat
bakteri berbentuk batang dan bersifat gram negatif. Berdasarkan karakterisasi bakteri patogen dengan berpedoman pada sifat-sifat bakteri dan bentuk koloni bakteri dengan mengacu pada metode Hayward (1976) dan Denny dan Hayward (2001), diketahui bahwa bakteri patogen penyebab penyakit layu bakteri pada nilam adalah R. solanacearum. R. solanacearum dapat menggunakan
sumber karbon dari dektrosa, manitol, sorbitol, dulsitol, trehalosa, laktosa, maltosa
dan selobiosa, yang berarti bakteri ini termasuk biovar III (Hayward 1964; Denny
dan Hayward 2001).
Hasil uji patogenisitas pada berbagai jenis tanaman menunjukkan
bahwa isolat R. solanacearum dapat menginfeksi tomat, cabai, terung, dan
tembakau dengan memperlihatkan gejala layu. Sebaliknya R. solanacearum tidak
menginfeksi kacang tanah lokal, jahe, pisang emas, pisang cavendish, dan
heliconia (Nasrun 2005). Hasil uji kisaran inang ini menunjukkan bahwa R. solanacearum dapat menyerang tanaman kelompok Solanaceae, dan bakteri ini termasuk ke dalam ras 1 (Buddenhagen et al. 1962 dalam Hayward 1964).
Penyebaran Bakteri Patogen R. solanacearum merupakan patogen tular
tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996).
Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup
diduga sangat bergantung pada keberadaan
tanaman inang. Supriadi et al. (1995)
menemukan berbagai tanaman inang R.
solanacearum dari berbagai lokasi di
Indonesia. Isolat-isolat yang diperoleh dari
tanaman inang tersebut bervariasi dalam
hal biovar dan patogenisitasnya. Strain
patogen yang spesifik pada tanaman
inang terdapat pada lahan tertentu. Hal
tersebut berkaitan dengan faktor lingkungan,
baik faktor abiotik seperti suhu,
tipe tanah, dan curah hujan maupun faktor
biotik, sebagai contoh keberadaan nematoda
dapat memperparah serangan
penyakit layu bakteri pada beberapa jenis
tanaman (Hayward 1994) termasuk nilam,
karena nilam merupakan salah satu
tanaman inang bagi nematoda (Mustika
dan Nuryani 1993; Mustika 1996).
STRATEGI PENGENDALIAN
Pengendalian penyakit layu bakteri perlu
memperhatikan epidemiologi patogen
yang kompleks seperti strain R. solanacearum
yang berbeda, tanaman inang, dan
kemampuan patogen untuk bertahan
hidup cukup lama di dalam tanah meskipun
tanpa tanaman inang. Faktor lingkungan
yang mendukung perkembangan
patogen antara lain adalah suhu dan curah
hujan yang tinggi. Teknik pengendalian
penyakit layu bakteri dijelaskan berikut ini.
Varietas Tahan
Penggunaan varietas tahan atau toleran
merupakan cara yang paling efektif untuk
mengendalikan penyakit tanaman termasuk
penyakit layu bakteri nilam. Untuk
mendapatkan varietas nilam yang tahan
terhadap penyakit layu bakteri, Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
(Balittro) telah melakukan eksplorasi
plasma nutfah di berbagai daerah sentra
produksi nilam dan memperoleh 28 nomor
nilam Aceh dengan kadar minyak berkisar
antara 1,60?3,59% (Nuryani dan Hadipoentyanti
1994). Dari seleksi terhadap 28
nomor tersebut terpilih 4 nomor harapan
yang memiliki produktivitas, kadar dan
mutu minyak tinggi, yaitu nomor 0003
(Cisaroni), 0007 (Lhokseumawe), 0012
(Tapak Tuan), dan 0013 (Sidikalang). Tiga
dari empat nomor nilam tersebut telah
dilepas melalui SK Mentan, yaitu Sidikalang
No.319/Kpts/SR.120/8/2005,
Lhokseumawe No. 320/Kpts/SR.120/8/
2005, dan Tapak Tuan No. 321/Kpts/
SR.120/8/2005 (Nuryani 2005).
Untuk mengetahui ketahanan varietas
tersebut terhadap R. solanacearum,
telah dilakukan pengujian seleksi ketahanan
tingkat bibit di rumah kaca dan tanaman
dewasa di lapangan. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa varietas Sidikalang
toleran terhadap R. solanacearum (Tabel
1) (Nasrun et al. 2004b; Nuryani dan
Nasrun 2004). Oleh karena itu, varietas
Sidikalang paling ideal untuk dikembangkan
lebih lanjut karena selain toleran
terhadap R. solanacearum juga toleran
terhadap tiga spesies nematoda yaitu
Pratylenchus brachyurus, Meloidogyne
incognita, dan Radopholus similis
(Mustika dan Nuryani 2006).
Di Indonesia terdapat tiga jenis nilam
yaitu nilam Aceh (Pogostemon cablin
Benth.), nilam Jawa (P. heyneanus), dan
nilam sabun (P. hostensis) (Guenther 1994).
Nilam Aceh mempunyai kadar dan kualitas
minyak tinggi (Nuryani dan Hadipoentyanti
1994), namun peka terhadap R.
solanacearum (Nasrun et al. 2004b).
Sebaliknya nilam Jawa mempunyai kadar
dan kualitas minyak rendah, tetapi tahan
terhadap R. solanacearum. Untuk mendapatkan
nilam yang mempunyai kadar
dan kualitas minyak yang tinggi serta
tahan terhadap R. solanacearum telah
dilakukan persilangan nilam Aceh dan
nilam Jawa melalui fusi protoplas. Dari
persilangan ini diperoleh 31 hibrida
somatik dan beberapa di antaranya mempunyai
kandungan fenol dan lignin tinggi
antara lain 9 IV/4, 9 II/23, dan 9 II/34
(Nuryani et al. 2001).
Teknik Budi Daya
Nilam umumnya dibudidayakan dengan
cara perladangan berpindah. Cara ini
dilakukan petani untuk mengatasi berkurangnya
kesuburan tanah, serangan
penyakit layu bakteri dan penyakit lainnya,
sehingga diperoleh produksi yang
tinggi dan pertanaman nilam bebas dari
sifat bakteri dan bentuk koloni bakteri
dengan mengacu pada metode Hayward
(1976) dan Denny dan Hayward (2001),
diketahui bahwa bakteri patogen penyebab
penyakit layu bakteri pada nilam
adalah R. solanacearum.
R. solanacearum dapat menggunakan
sumber karbon dari dektrosa, manitol,
sorbitol, dulsitol, trehalosa, laktosa, maltosa
dan selobiosa, yang berarti bakteri ini termasuk
biovar III (Hayward 1964; Denny
dan Hayward 2001). Hasil uji patogenisitas
pada berbagai jenis tanaman menunjukkan
bahwa isolat R. solanacearum dapat
menginfeksi tomat, cabai, terung, dan
tembakau dengan memperlihatkan gejala
layu. Sebaliknya R. solanacearum tidak
menginfeksi kacang tanah lokal, jahe,
pisang emas, pisang cavendish, dan
heliconia (Nasrun 2005). Hasil uji kisaran
inang ini menunjukkan bahwa R. solanacearum
dapat menyerang tanaman
kelompok Solanaceae, dan bakteri ini termasuk
ke dalam ras 1 (Buddenhagen et al.
1962 dalam Hayward 1964).
Penyebaran Bakteri Patogen
R. solanacearum merupakan patogen tular
tanah dan dapat menyebar dengan mudah
melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan
tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996).
Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup
diduga sangat bergantung pada keberadaan
tanaman inang. Supriadi et al. (1995)
menemukan berbagai tanaman inang R.
solanacearum dari berbagai lokasi di
Indonesia. Isolat-isolat yang diperoleh dari
tanaman inang tersebut bervariasi dalam
hal biovar dan patogenisitasnya. Strain
patogen yang spesifik pada tanaman
inang terdapat pada lahan tertentu. Hal
tersebut berkaitan dengan faktor lingkungan,
baik faktor abiotik seperti suhu,
tipe tanah, dan curah hujan maupun faktor
biotik, sebagai contoh keberadaan nematoda
dapat memperparah serangan
penyakit layu bakteri pada beberapa jenis
tanaman (Hayward 1994) termasuk nilam,
karena nilam merupakan salah satu
tanaman inang bagi nematoda (Mustika
dan Nuryani 1993; Mustika 1996).
STRATEGI PENGENDALIAN
Pengendalian penyakit layu bakteri perlu
memperhatikan epidemiologi patogen
yang kompleks seperti strain R. solanacearum
yang berbeda, tanaman inang, dan
kemampuan patogen untuk bertahan
hidup cukup lama di dalam tanah meskipun
tanpa tanaman inang. Faktor lingkungan
yang mendukung perkembangan
patogen antara lain adalah suhu dan curah
hujan yang tinggi. Teknik pengendalian
penyakit layu bakteri dijelaskan berikut ini.
Varietas Tahan
Penggunaan varietas tahan atau toleran
merupakan cara yang paling efektif untuk
mengendalikan penyakit tanaman termasuk
penyakit layu bakteri nilam. Untuk
mendapatkan varietas nilam yang tahan
terhadap penyakit layu bakteri, Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
(Balittro) telah melakukan eksplorasi
plasma nutfah di berbagai daerah sentra
produksi nilam dan memperoleh 28 nomor
nilam Aceh dengan kadar minyak berkisar
antara 1,60?3,59% (Nuryani dan Hadipoentyanti
1994). Dari seleksi terhadap 28
nomor tersebut terpilih 4 nomor harapan
yang memiliki produktivitas, kadar dan
mutu minyak tinggi, yaitu nomor 0003
(Cisaroni), 0007 (Lhokseumawe), 0012
(Tapak Tuan), dan 0013 (Sidikalang). Tiga
dari empat nomor nilam tersebut telah
dilepas melalui SK Mentan, yaitu Sidikalang
No.319/Kpts/SR.120/8/2005,
Lhokseumawe No. 320/Kpts/SR.120/8/
2005, dan Tapak Tuan No. 321/Kpts/
SR.120/8/2005 (Nuryani 2005).
Untuk mengetahui ketahanan varietas
tersebut terhadap R. solanacearum,
telah dilakukan pengujian seleksi ketahanan
tingkat bibit di rumah kaca dan tanaman
dewasa di lapangan. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa varietas Sidikalang
toleran terhadap R. solanacearum (Tabel
1) (Nasrun et al. 2004b; Nuryani dan
Nasrun 2004). Oleh karena itu, varietas
Sidikalang paling ideal untuk dikembangkan
lebih lanjut karena selain toleran
terhadap R. solanacearum juga toleran
terhadap tiga spesies nematoda yaitu
Pratylenchus brachyurus, Meloidogyne
incognita, dan Radopholus similis
(Mustika dan Nuryani 2006).
Di Indonesia terdapat tiga jenis nilam
yaitu nilam Aceh (Pogostemon cablin
Benth.), nilam Jawa (P. heyneanus), dan
nilam sabun (P. hostensis) (Guenther 1994).
Nilam Aceh mempunyai kadar dan kualitas
minyak tinggi (Nuryani dan Hadipoentyanti
1994), namun peka terhadap R.
solanacearum (Nasrun et al. 2004b).
Sebaliknya nilam Jawa mempunyai kadar
dan kualitas minyak rendah, tetapi tahan
terhadap R. solanacearum. Untuk mendapatkan
nilam yang mempunyai kadar
dan kualitas minyak yang tinggi serta
tahan terhadap R. solanacearum telah
dilakukan persilangan nilam Aceh dan
nilam Jawa melalui fusi protoplas. Dari
persilangan ini diperoleh 31 hibrida
somatik dan beberapa di antaranya mempunyai
kandungan fenol dan lignin tinggi
antara lain 9 IV/4, 9 II/23, dan 9 II/34
(Nuryani et al. 2001).
Teknik Budi Daya
Nilam umumnya dibudidayakan dengan
cara perladangan berpindah. Cara ini
dilakukan petani untuk mengatasi berkurangnya
kesuburan tanah, serangan
penyakit layu bakteri dan penyakit lainnya,
sehingga diperoleh produksi yang
tinggi dan pertanaman nilam bebas dari
sebut mempunyai sifat antibakteri dan
antifungal yang sangat kuat (Sait 1991).
Sitronelal dapat menghambat pertumbuhan
Fusarium oxysporum f.sp. vanillae
penyebab penyakit busuk batang panili
(Chrisnawati 1999) dan F. oxysporum f.sp.
lycopersici penyebab penyakit layu
fusarium pada tomat (Chrisnawati dan
Andraini 2000). Pengujian secara in planta
di rumah kaca menunjukkan bahwa sitronelal
dapat mengendalikan penyakit layu
fusarium tomat secara nyata (Chrisnawati
2003). Hasil pengujian formula sitronelal
secara in vitro menunjukkan formula ini
dapat menghambat pertumbuhan jamur F.
oxysporum f.sp. lycopersici (Chrisnawati
2004). Begitu pula hasil pengujian komponen
sitronelal dan geraniol terhadap R.
solanacearum penyebab penyakit layu
bakteri nilam secara in vitro, menunjukkan
bahwa kedua komponen tersebut dapat
menghambat pertumbuhan koloni R.
solanacearum (Nasrun 2005).
Pengendalian secara Kimiawi
Pengendalian penyakit layu bakteri secara
kimiawi dengan antibiotik Agrep dapat
menekan perkembangan penyakit sampai
67% terutama karena kontaminasi berkurang
(Asman dan Sitepu 1994; Asman
1996). Namun demikian, pengendalian
secara kimiawi harus merupakan alternatif
terakhir apabila teknik pengendalian
lainnya dinilai tidak berhasil. Pengendalian
secara kimiawi harus memenuhi ketentuan
sebagai berikut: 1) bakterisida yang digunakan
adalah jenis yang terdaftar atau
diizinkan oleh Menteri Pertanian, 2)
memenuhi kriteria enam tepat yaitu tepat
jenis, mutu, waktu, sasaran, dosis, dan
konsentrasinya serta cara dan alat aplikasinya,
dan 3) tidak membahayakan
manusia dan lingkungan.
Pembatasan Penyebaran
Bakteri Patogen
Membatasi penyebaran bakteri patogen
dari satu kebun terinfeksi ke kebun yang
sehat merupakan cara pengendalian yang
tepat. Namun cara ini sulit dilakukan oleh
petani karena secara ekonomi pada
keadaan tertentu tidak menguntungkan.
Namun bila dilakukan secara terpadu
dengan komponen pengendalian lainnya
dapat menekan populasi bakteri patogen.
Bakteri patogen dapat menyebar dari
satu kebun ke kebun yang lain melalui
bahan tanaman, tanah, dan air. Selain itu,
bakteri patogen dapat tinggal sampai 2
tahun di dalam tanah meskipun tanpa
tanaman inang. Pada keadaan lingkungan
yang sesuai, bakteri patogen pada stadia
tahan atau istirahat akan berkembang.
Berdasarkan bentuk epidemiologi
penyakit layu bakteri nilam maka pencegahan
penyebaran atau masuknya
bakteri patogen ke daerah lain dapat dilakukan
dengan: 1) sanitasi dengan
perendaman setek nilam dalam suspensi
antibiotik, 2) eradikasi nilam terinfeksi penyakit
layu bakteri, dan 3) tidak menggunakan
bibit nilam yang berasal dari
kebun yang terinfeksi bakteri patogen
(Asman et al. 1992).
Pengendalian secara Terpadu
Pengendalian secara terpadu merupakan
salah satu strategi pengendalian penyakit
layu bakteri pada nilam dengan mengombinasikan
beberapa komponen
teknologi pengendalian, meliputi penggunaan
varietas tahan atau toleran, teknik
budi daya (pergiliran tanaman, bahan
organik, dan pemberaan), pengendalian
hayati, pestisida nabati, pengendalian
kimiawi, dan pencegahan penyebaran
patogen. Pengendalian secara terpadu
dapat dilakukan dengan menggunakan
varietas toleran (Sidikalang), agens hayati
P. fluorescens dan Bacillus sp., mulsa, dan
pestisida nabati serai wangi. Hasil penelitian
Asman (1996) di Jawa Barat
menunjukkan bahwa penggunaan teknik
budi daya, bakterisida sintetis, pupuk
kandang dan buatan, mulsa serta abu
sekam dapat menekan laju serangan
penyakit layu bakteri nilam sampai 86,50%.
Untuk mendapatkan teknologi pengendalian
penyakit layu bakteri nilam
tepat guna di tingkat petani, perlu dilakukan
on farm research yang melibatkan
petani, Balai Penelitian Tanaman Obat dan
Aromatik dan Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian pada beberapa lokasi terutama
daerah sentra produksi. Hal ini dilakukan
agar petani dapat secara langsung menerapkan
teknologi pengendalian penyakit
secara utuh. Agar petani dapat mengadopsi
teknologi secara cepat perlu dilakukan
pelatihan dan pendidikan para petugas
melalui Sekolah Lapang Pengendalian
Hama Terpadu (SLPHT).
KESIMPULAN DAN SARAN
Penyakit layu bakteri yang disebabkan
oleh R. solanacearum merupakan masalah
utama dalam budi daya nilam. Serangan
penyakit ini dapat menurunkan produksi
secara nyata sehingga menimbulkan kerugian
yang besar pada petani. Hingga kini
belum ada teknologi yang tepat untuk
mengendalikan penyakit layu bakteri pada
nilam.
Pengendalian penyakit layu bakteri
nilam dapat dilakukan dengan menanam
varietas toleran terhadap R. solanacearum
yaitu Sidikalang, teknik budi daya (pupuk
anorganik dan organik, mulsa dan pergiliran
tanaman), agens hayati (P. fluorescens
dan Bacillus sp.), pestisida nabati (minyak
serai wangi), pestisida kimiawi (antibiotik
Agrep), dan membatasi penyebaran
bakteri patogen pada daerah yang belum
terinfeksi bakteri patogen. Untuk mendapatkan
varietas tahan terhadap R.
solanacearum dengan produksi tinggi,
perlu dilakukan penelitian dan evaluasi
secara berkelanjutan menggunakan
genom-genom baru, mulai dari pengujian
laboratorium, rumah kaca sampai ke
lapangan.
Untuk mengoptimalkan aplikasi
teknologi pengendalian bakteri patogen
perlu dilakukan transfer teknologi secara
langsung ke petani. Untuk memenuhi hal
ini perlu ada pemberdayaan dan koordinasi
berbagai pihak terkait, baik instansi
pemerintah, swasta maupun petani.
Penerapan teknologi pengendalian
penyakit layu bakteri nilam secara terpadu
diharapkan dapat mengatasi masalah
penyakit layu bakteri nilam serta meningkatkan
produksi. Hal ini selanjutnya
akan meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan petani.
DAFTAR PUSTAKA
Arwiyanto, T. 1997. Pengendalian hayati penyakit
layu bakteri tembakau. Jurnal Perlindungan
Tanaman Indonesia 5(1): 54?60.
Arwiyanto, T. 1998. Pengendalian secara Hayati
Penyakit Layu Bakteri pada Tembakau.
Laporan Riset Unggulan Terpadu IV (1996?
1998). Kantor Menteri Negara Riset dan
Teknologi, Jakarta. 58 hlm.
Arwiyanto, T. dan I. Hartana. 1999. Pengendalian
hayati penyakit layu bakteri tembakau,
Percobaan rumah kaca. Jurnal Perlindungan
Tanaman Indonesia 5(1): 50?59.
Asman, A. 1996. Penyakit layu dan budok pada
tanaman nilam dan cara pengendaliannya.
Proc. Seminar on Integrated Control on
Main Disease of Industrial Crops. Bogor, 13?
14 March 1996. Research Institute for Spice
and Medicinal Crops, Bogor. hlm. 284?290.
Asman, A., M.A. Esther, dan D. Sitepu. 1998.
Penyakit layu, budok dan penyakit lainnya
serta strategi pengendaliannya. Monograf
Nilam, Balai Penelitian Tanaman Rempah
dan Obat (5): 84?88.
Asman, A., N. Natsir, A. Nurawan, dan D. Sitepu.
1992. Penelitian penyakit nilam. Laporan
Hasil Penelitian Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat, Bogor. 13 hlm.
Asman, A., Nasrun, A. Nurawan, dan D. Sitepu.
1993. Penelitian penyakit nilam. Risalah
Kongres Nasional XII dan Seminar Ilmiah
PFI, Yogyakarta 2: 903?911.
Asman, A. dan D. Sitepu. 1994. Penelitian
Penanggulangan Penyakit Nilam di DI Aceh.
Laporan Kerjasama PT Pupuk Iskandar
Muda dan Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat, Bogor. 19 hlm.
Asnawi, R. dan M.P. Putra. 1990. Pengaruh
bentuk torehan dan zat pengatur tumbuh
terhadap pertumbuhan setek nilam (Pogostemon
cablin Benth.). Buletin Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat 5(1): 46?53.
Aspiras, R.B. and A.R. de la.Cruz. 1985. Potential
biological control of bacterial wilt in tomato
and potato with Bacillus polymyxa FU6 and
Pseudomonas fluorescens. p. 89?92. Proceedings
of an International Workshop
PCARRD, Los Banos, Philippines, 8?10
October 1985.
Badalucco, L. and P.J. Kulkman. 2001. Mineralization
and immobilization in the
rhizosphere. In R. Pinton, Z. Varanini, and
P. Nannipieri (Eds.). The Rhizosphere,
Biochemistry and Organic Substance at the
Soil-Plant Interface. Marcel Dekker, Inc.
New York-Basel. 411 pp.
Campbell, R. 1989. Biological Control of Microbial
Plant Pathogens. Cambridge University
Press, Cambridge. 218 pp.
Chrisnawati. 1999. Uji Daya Kendali Minyak
Serai Wangi dan Komponennya terhadap
Pertumbuhan Fusarium oxysporum f. sp.
vanilae secara in vitro. Tesis Program Studi
Hama dan Penyakit Tumbuhan Program
Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.
45 hlm.
Chrisnawati dan H. Andraini. 2000. Studi
efektivitas beberapa fraksi minyak serai wangi
terhadap Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici
penyebab penyakit layu fusarium tanaman
tomat. Laporan Penelitian Dosen Muda.
Tahun 2000 (No. 104/P2IPT/DM/VI/1999).
Fakultas Pertanian Universitas Mahaputra
Muhammad Yamin, Solok. 26 hlm.
Chrisnawati. 2003. Studi efektivitas pestisida
nabati sitronelal terhadap Fusarium oxysporum
f.sp. lycopersici penyebab penyakit layu
fusarium tanaman tomat secara in planta.
Laporan Penelitian Dosen Muda Tahun
2002 (No. 149/LIT/BPPK-SDM/IV/2002).
Fakultas Pertanian Universitas Mahaputra
Muhammad Yamin, Solok. 30 hlm.
Chrisnawati. 2004. Studi Efikasi Formula Pestisida
Nabati Sitronelal terhadap Fusarium
oxysporum f.sp. lycopersici Penyebab Penyakit
Layu Fusarium Tomat secara in vitro.
Laporan Penelitian Dosen Muda No. 304/
P4T/DPPM/DM, SKW, SOSAG/III/2004).
Fakultas Pertanian Universitas Mahaputra
Muhammad Yamin, Solok. 26 hlm.
Chrisnawati, Nasrun, dan T. Arwiyanto. 2006.
Pengendalian hayati penyakit layu bakteri
nilam menggunakan kombinasi bakteri
Pseudomonas fluorescens dan Bacillus sp.
Laporan Penelitian Hibah Bersaing. Fakultas
Pertanian Universitas Mahaputra Muhammad
Yamin, Solok. 68 hlm.
Cook, R.J. and K.F. Baker. 1989. The Nature
and Practice of Biological Control of Plant
Pathogens. APS Press, St. Paul, Minnessota.
505 pp.
Dai-Soo Kim, R.J. Cook, and D.M. Weller. 1997.
Bacillus sp. L324-92 for biological control
of three root diseases of wheat grown with
reduced tillage. Phytopathology 87: 551?
558.
Dhalimi, A., Angraeni, dan Hobir. 1998. Sejarah
perkembangan budidaya nilam di Indonesia.
Monograf Nilam, Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat (5): 1?9.
Denny, T.P. and A.C. Hayward. 2001. Ralstonia
solanacearum. In N.W. Schaad, J.B. Jones,
and W. Chun (Eds.). Laboratory Guide for
Identification of Plant Pathogenic Bacteria.
Third Edition. APS Press, St. Paul Minnessota.
373 pp.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Nilam.
Statistik Perkebunan Indonesia 2003?2005.
Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. 19
hlm.
Emmyzar, M. Djamal, dan M. Syakir. 1998.
Kendala dan peluang pengembangan nilam.
Monograf Nilam, Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat (5): 65?69.
Guenther, E. 1994. Minyak Atsiri. Jilid IVA.
Universitas Indonesia Press, Jakarta. 407 hlm.
Gunawan, O.S. 1995. Pengaruh mikroorganisme
antagonis dalam mengendalikan bakteri layu
Pseudomonas solanacearum pada tanaman
kentang. Risalah Kongres Nasional dan
Seminar Ilmiah PFI XII, Mataram. hlm.
473?479.
Hayward, A.C. 1964. Characteristics of Pseudomonas
solanacearum. J. Appl. Bacterial
27(2): 265?277.
Hayward, A.C. 1976. Systematic and relationship
of Pseudomonas solanacearum. p. 6?13.
In L. Sequeira and A. Kelman (Eds.). Proc.
First International Conference on Bacterial
Wilt Disease Caused by Pseudomonas
solanacearum. North Carolina.
Hayward, A.C. 1994. Systematic and phylogeny
of Pseudomonas solanacearum and related
bacteria. p. 123?135. In A.C. Hayward and
G.L. Hartman (Eds.). Bacterial Wilt. The
disease and its causative agent, Pseudomonas
solanacearum. CAB International.
Hernani dan Risfaheri. 1989. Pengaruh perlakuan
bahan sebelum penyulingan terhadap
rendemen dan karakteristik minyak nilam.
Pemberitaan Penelitian Tanaman Industri
XV(2): 54?61.
Idris, H. dan Nasrun. 2000. Pemanfaatan mulsa
daun kopi dan bakteri antagonis dalam
pengendalian penyakit layu bakteri jahe.
Jurnal Stigma 8(4): 321?324.
Keel, H.D.C. 2003. Regulation of antibiotic
production in root-colonizing Pseudomonas
spp. and relevance for biological control of
plant disease. Ann. Rev. Phytopathol. 41:
117?153.
Kloepper, J.W. 1983. Effect of seed pierce
innoculation with plant growth-promoting
rhizobacteria on population of Erwinia
carotovora on potato roots and daughters
tubers. Phytopathology 73: 217?219.
Landa, B.B., H.A.E. de Werd, B.B. McSpadden
Gardener, and D.M. Weller. 2002. Comparison
of three methods for monitoring populations
of different genotypes of 2,4-diacethylphloroglucinol-
producing Pseudomonas
fluorescens in rhizosphere. Phytopatholgy
92: 129?137.
Mardiningsih, T.L., S.L. Triantoro, Tobing, and
S. Rusli. 1995. Patchouli oil product as insect
repellent. Indust. Crops Res. J. 1(3): 152?
158.
Mehrotra, R.S. 1980. Plant Pathology. Tata Mc.
Graw Hill Pub. Co. Ltd., New Delhi. 771 pp.
Modjo, H.S. 1991. Usaha menjadikan pengendalian
hayati terhadap patogen tumbuhan
sebagai tulang punggung pengendalian hama
terpadu. Makalah Seminar Dies Natalis
Fakultas Pertanian Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto. 20 hlm.
Mulya, K., Supriadi, E.M. Ardhi, S. Rahayu, dan
N. Karyani. 2000. Potensi bakteri antagonis
dalam menekan perkembangan penyakit
layu bakteri jahe. Jurnal Penelitian Tanaman
Industri 6(2): 37?43.
Mustika, I. 1996. Prospek pengendalian nematoda
parasit tanaman secara hayati. Makalah pada
Kongres Nasional II dan Seminar Ilmiah
Perhimpunan Nematologi Indonesia. Jember,
23?24 Juli 1996. Pusat Penelitian Kopi dan
Kakao, Jember. 8 hlm.
Mustika, I. and Y. Nuryani. 1993. Screening for
resistance of four patchouli cultivars to
Radopholus similis. J. Spice and Medicinal
Crops 1(2): 11?17.
Mustika, I. dan Y. Nuryani. 2006. Strategi pengendalian
nematoda parasit pada tanaman
nilam. Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Pertanian 25(1): 7?15.
Nasrun. 1996. Penggunaan Pseudomonas fluorescens
dalam pengendalian penyakit layu
tanaman jahe. hlm. 160?165. Proc. Seminar
on Integrated Control on Main Disease of
Industrial Crops. Bogor, 13?14 March 1996
Research Institute for Spice and Medicinal
Crops, Bogor.
Nasrun, Y. Nuryani, Hobir, dan Repianyo. 2004a.
Seleksi ketahanan varian nilam terhadap
penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum)
secara in planta. Jurnal Stigma 12(4):
471?473.
Nasrun, Christanti, T. Arwiyanto, dan I. Mariska.
2004b. Seleksi antagonistik Pseudomonas
fluorescens terhadap Ralstonia solanacearum
penyebab penyakit layu bakteri nilam secara
in vitro. Jurnal Stigma 12(2): 228?231.
Nasrun. 2005. Studi Pengendalian Hayati Penyakit
Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum)
Nilam dengan Pseudomonas fluorescens.
Disertasi Doktor Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Nasrun, Christanti, T. Arwiyanto, dan I. Mariska.
2005. Pengendalian penyakit layu bakteri
nilam menggunakan Pseudomonas fluorescens.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
11(1): 19?24.
Nurjanah, N. dan T. Marwati. 1998. Penanganan
bahan dan penyulingan minyak nilam.
Monograf Nilam. Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat (5): 108?115.
Nuryani, Y. dan E. Hadipoentyanti. 1994.
Karakterisasi dan evaluasi plasma nutfah
tanaman atsiri. Review Hasil dan Program
Penelitian Plasma Nutfah Pertanian. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Jakarta. hlm. 209?219.
Nuryani, Y., I. Mustika, dan C. Syukur. 2001.
Kandungan fenol dan lignin tanaman hibrida
nilam (Pogostemon sp.) hasil fusi protoplas.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri 7(4):
104?108.
Nuryani, Y. dan Nasrun. 2004. Tanggapan
Beberapa Nomor Nilam terhadap Penyakit
Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum).
Laporan Penelitian Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat, Bogor.
Nuryani, Y. 2005. Pelepasan varietas unggul
nilam. Warta Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Industri 11(1): 1?3.
Radhakrishan, S.K., Mathew, and J. Mathew.
1997. Influence of shade intensities and
varietal reactions of patchouli (Pogostemon
patchouli) to bacterial wilt incited by
Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum
E.F. Smith. Bacterial Wilt Newsletter,
Publication of the Australian Centre for International
Agricultural Research (2): 22?25.
Robin, S.R.J. 1982. Selected marker for the
essential oils of patchouli and vetiver.
Tropical Product Institute, Ministry of
Overseas Development, Great Britain. 167:
17?20.
Rusli, S., Hobir, A. Hamid, A. Asman, S. Sufiani,
dan M. Mansyur. 1993. Evaluasi Hasil
Penelitian Minyak Atsiri, Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 15 hlm.
Sait, S. 1991. Potensi Minyak Atsiri Daun
Indonesia sebagai Sumber Bahan Obat.
Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Pengembangan
Atsiri di Sumatera, Bukittinggi.
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat,
Bogor. hlm. 126?134.
Sitepu, D. and A. Asman. 1989. Laporan penelitian
penyakit nilam di DI Aceh. Kerjasama PT
Pupuk Iskandar Muda (Persero) dan Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 20
hlm.
Sitepu, D. and S. Mogi. 1996. Practical strategy
to control bacterial wilt disease of ginger
crops. p. 173?180. Proc. Seminar on
Integrated Control on Main Diseases of
Industrial Crops, Bogor, 13?14 March 1996.
Research Institute for Spice and Medicinal
Crops, Bogor.
Sumardiyono, C., S.M. Widyastuti, and Y. Assi.
2001. Pengimbasan ketahanan pisang terhadap
penyakit layu Fusarium dengan
Pseudomonas fluorescens. hlm. 257?259.
Prosiding Kongres XVI dan Seminar Nasional
Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Bogor,
22?24 Agustus 2001.
Sufiani, S. dan Hobir. 1998. Teknik produksi bibit.
Monograf Nilam, Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat 5: 40?46.
Supriadi, J.G. Elphinstone, A. Robinson-Smith,
and S.Y. Hartati. 1995. Physiological, serological
and pathological variation amongst
isolates by Pseudomonas solanacearum
from ginger and other hosts in Indonesia.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri 1(2): 88?
98.
Supriadi, K. Mulya, and D. Sitepu. 2000. Strategy
for controlling wilt disease of ginger caused
by Pseudomonas solanacearum. Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Pertanian
19(3): 106?111.
Tasma, I.M. dan H. Moko. 1998. Pengaruh zat
tumbuh terhadap pertumbuhan dan hasil
nilam. Pemberitaan Penelitian Tanaman
Industri XIII(3?4): 72?82.
dari : .pustaka-deptan.go.id











thanks! artikel2nya bagus dan bermanfaat!
Oke bos infonya…………..
Sebenarnya ini bisa juga di tangani dengan pupuk hayati yang berbasis bakteri juga tapi bakteri yang endukung pertumbuhan tananaman. Saya punya pupuknya dan kadar bakterinya untuk saat ini cukup tinggi rata-rata 10 pangkat 10 dan 11. jika ingin tahu lebih lanjut produk kami bisa hubungi saya di glnt17@yahoo.com
Artikelnya komplete Banget, salut deh.
TERIMAKASIH TULISAN DAN INFORMASI DALAM BLOGNNYA, CUKUP BERMANFAAT. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com
Terima kasih atas artikelnya. Sangat lengkap dan semoga bermanfaat terutama di bidang hama dan penyakit tanaman.