Lamun (seagrass) memiliki kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat. Sehingga lamun dapat dijadikan sebagai sumber makanan kesehatan dan obat-obatan. Demikian hasil penelitian tentang “Potensi Berbagai Jenis Lamun sebagai Sumber Makanan Kesehatan dengan Analisa Proksimat yang dilakukan oleh tiga orang peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang (UNDIP) (Dra. Wilis Ari Setyati, MSi., Drs. Ali Ridlo, Msi. Dan Drs. Subagiyo, Msi.) pada bulan Mei-Oktober 2003.
“ Sumber makanan kesehatan bukan nutrisi, tapi lambat laun bisa sebagai daya tahan penyakit degeneratif atau infeksi,” ungkap Drs. Subagiyo, Msi.
“ Secara tradisional lamun dimanfaatkan untuk pakan ternak saat tidak ada rumput di Jepara. Siapa tahu juga bisa dimanfaatkan untuk manusia,” lanjutnya.
Kandungan nutrisi hasil analisa proksimat lamun di pantai Bandengan, Jepara, Jawa Tengah :

Menurut Subagiyo, penelitian tersebut merupakan penelitian dasar yang diharapkan nanti mampu dikembangkan lebih lanjut secara komersial. Kemungkinan dapat dikembangkan sebagai makanan manusia.
Namun untuk pengembangannya perlu diperhatikan mengenai konservasi lamun itu sendiri. Diharapkan untuk pengembangannya dilakukan pengadaan lamun secara kultur jaringan agar tidak merusak ekosistem lamun di pantai bila dieksploitasi lebih besar lagi.
Yang melatarbelakangi penelitian tersebut adalah bahwa lamun (seagrass) telah dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan obat-obatan secara tradisional. Selain itu lamun seperti organisme yang lain, memproduksi berbagai produk alam metabolit primer dan sekunder, sehingga lamun sangat prospektif digunakan sebagai sumber obat-obatan dan sebagai makanan kesehatan. Sebagai makanan kesehatan lamun dapat digunakan untuk mencegah berbagai penyakit degenaratif.
Masalah yang muncul dalam kajian atau penelitian potensi berbagai jenis lamun sebagai sumber makanan kesehatan adalah :
1. Bagaimana tingkat keanekaragaman jenis lamun di perairan Jepara.
2. Bagaimana profil nutrisi (protein, lipid, karbohidrat dan serat) dari berbagai jenis lamun.
3. Bagaimana potensi dari berbagai jenis lamun untuk dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber makanan kesehatan.
Permasalahan ini muncul, juga didasarkan atas belum adanya katalog yang lengkap mengenai nilai nutrisi dari jenis-jenis lamun yang terdapat di Indonesia, sehingga belum ada dasar pijakan yang lengkap untuk pengembangan pemanfaatan potensi lamun sebagai makanan kesehatan yang dikemas secara komersial.
Lamun di dunia ada 58 jenis. Di Indonesia ada 12 jenis lamun yaitu : Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halodule uninervis, Halodule pinifolia, Halophila ovalis, Halophila spinulosa, Halophila minor, Halophila decipiens dan Thalassodendrom ciliatum.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari status nutrisi berbagai jenis lamun yang terdapat di perairan Jepara berdasarkan analisis proksimat (total karbohirat, serat, lemak dan protein).
Pengambilan sampel lamun dilakukan di perairan pantai Bandengan, Jepara, Jawa Tengah. Selama waktu pengambilan sampel dilakukan pula penghitungan tingkat kepadatannya dengan metode kuadrat.
Sampel lamun yang diambil dari lokasi penelitian selanjutnya dipisah-pisahkan berdasarkan morfologi. Lalu dibersihkan dari kotoran dan hewan-hewan invertebrata yang menempel. Sampel dibagi dua, satu bagian digunakan untuk bahan identifikasi sedangkan satu bagian lain untuk diekstraksi.
Sampel jenis-jenis lamun yang diperoleh selanjutnya diidentifikasi menurut Amadja dkk (1996). Analisis nutrisi dilakukan di Laboratorium Kimia, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Semarang, menggunakan metode dan prosedur seperti yang biasa dilakukan di Laboratorium tersebut.
Ada empat aspek nutrisi yang akan dianalisis yaitu kadar protein, karbohidrat, lipid dan serat.
Hasil penelitian menunjukkan ada enam jenis lamun yang tumbuh di perairan Bandengan Jepara, yaitu : Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Syringodium foliforme, Halodule uninervis dan Thalassodendrom ciliatum. Kepadatan keenamnya berturut-turut 109,00 ind/m2, 106,87 ind/m2, 89,35 ind/m2, 82,97 ind/m2, 73,65 ind/m2 dan 18,75 ind/m2.dari : beritabumi.or.id


















gw jg ada banyk ttng mangrove mau ???
k blog kelompok gw yak
thanks god,
there were young peoples in KeSEMat who cares of mangrove forest ecosystem at Jepara, Central Java still.
Good luck , I am amazing to all of you at KeSEMat
go green !
bole tau pengolahan lamun…