Selama 10 tahun tinggal di Malang, saya sudah lima kali pindah kos. Di setiap rumah kos yang saya tempati, saya selalu berusaha menanam berbagai jenis tanaman di pekarangan sekitar rumah dan lahan tidur di daerah itu.
Para pemilik rumah kos yang saya tinggalkan kemudian bisa menikmati hasil dari berbagai jenis tanaman itu, seperti pisang, pepaya, jeruk, kelapa, jagung, ubi kayu, dan masih banyak lagi. Tidaklah mengherankan bila setiap kali saya berpisah dengan bapak ibu kos, selalu muncul suasana haru. Mereka merasa kehilangan saya.
Tetapi karena saya berjiwa petualang, maka selalu saya ingin melanglang ke berbagai sudut Kota Malang. Di mana saja tinggal, saya berusaha menanam lagi bibit tanaman yang hasilnya kelak bisa dinikmati oleh semua warga bila saya meninggalkan tempat tinggal itu.
Mengapa saya bersemangat melakukan itu?
Itu karena adat di daerah saya, yaitu di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, sudah tertanam kuat dalam hati sanubari saya.
Menurut adat itu, alam semesta beserta isinya merupakan satu kesatuan yang utuh, saling berhubungan, saling mengisi, dan saling bergantungan.
Kelangsungan hidup manusia sangat tergantung pada tumbuh-tumbuhan dan hewan. Demikian juga sebaliknya. Karena itu, masyarakat Manggarai berusaha benar melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Caranya melalui cerita adat yang diwariskan dari nenek moyang dan diteruskan ke anak cucu generasi berikutnya.
Dalam cerita adat itu dikisahkan bahwa baik hewan maupun tumbuh-tumbuhan adalah penjelmaan arwah para nenek moyang manusia purba (nenek moyang orang Manggarai) yang hidup ribuan tahun lampau. Karena itu, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak boleh disalahgunakan sesuka hati karena bisa mendatangkan bencana. Biasanya berupa banjir, angin taufan, serangan hama dan penyakit tanaman, serta berbagai jenis penyakit yang menimpa manusia.
Itulah sebabnya, mereka berpendapat, barang siapa yang rajin menanam berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan menyelamatkan berbagai jenis binatang, akan mendapat berkah berlimpah dari arwah nenek moyang. Karena itu, sejak berusia balita, anak-anak Manggarai sudah dididik untuk mencintai tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Anak yang sudah berusia tujuh tahun diwajibkan mulai menanam bibit berbagai jenis tanaman setiap tahun, pada awal musim hujan. Jadi, tidaklah mengherankan bila anak Manggarai sudah mulai mempunyai dan mengelola kebun pisang, kelapa, cengkeh, kopi, vanili, kemiri, avokad, bahkan pohon jati.
Pada setiap tahun berikutnya, jumlah tanaman yang ditanam dan dikelola harus dua kali lipat banyaknya dari jumlah pada tahun sebelumnya. Bila seorang anak menanam tumbuhan tidak sesuai dengan ketentuan adat, maka ia akan menderita berbagai penyakit. Jumlahnya sebanyak jumlah tanaman yang belum ditanamnya. Nah, daripada mendapat hukuman yang sangat berat, setiap anak memerintah dirinya sendiri untuk menanam tumbuh-tumbuhan setiap tahun.
Cerita adat inilah yang tertanam kuat dalam batin saya hingga saat ini. Di tanah rantau pun, saya berusaha menanam berbagai jenis tanaman pertanian dan pohon pelindung di pinggir jalan. (Timo Teweng)
dari : indomedia.com/intisari/2000/juli

















