Bercocok tanam di wilayah perairan macam rawa dan danau bukan hal mustahil. Suku Aztek di Meksiko telah berhasil membuktikannya. Mereka berhasil membuat kebun buatan di tengah danau. Mereka menyebut kebun buatan itu chinampa. Model pertanian macam ini boleh dikatakan asing bagi kita.
Untuk membangun chinampa, tanah atau lumpur di dasar rawa/danau diangkat ke atas untuk dijadikan bahan urukan sedikit demi sedikit. Pengisi chinampa ini juga termasuk tanaman air yang tumbuh di danau/rawa itu. Supaya tanah atau lumpur tidak hanyut dibawa arus, tempat yang akan dijadikan chinampa diberi patok-patok kayu terlebih dahulu (lihat gambar). Biasanya selisih tinggi chinampa dengan permukaan air danau/rawa berkisar 20 cm. Setelah membentuk daratan mirip pulau di tengah danau, barulah chinampa siap ditanami tumbuhan pertanian.
Untuk pembuatannya, menurut William T. Sanders, pakar antropologi dari Universitas Harvard, chinampa berukuran 8 X 200 m memerlukan 4 – 6 orang selama 8 hari.
Tanaman yang dibudidayakan oleh orang-orang suku Aztek biasanya jagung atau sayuran. Pohon willow juga ditanam untuk memperkuat tebing chinampa agar tidak longsor. Penyiraman dilakukan menggunakan air danau yang pasti berlimpah.
Karena letaknya di tengah perairan, biasanya muncul masalah berkaitan dengan ketinggian air danau, terutama pada musim hujan.
Selain itu, lama-kelamaan chinampa akan menjadi rendah sehingga tergenang air rawa/danau karena adanya pembusukan pada dasar chinampa. Untuk mengatasinya, chinampa perlu diisi kembali dengan lumpur.
Di India model pertanian ini dilakukan oleh orang Nagami di Danau Loktak. Dua per tiga luas danau Loktak (300 km2) didiami oleh Orang Nagami, yang merupakan keturunan Suku Inca yang menyebar ke daratan Asia.
Di Indonesia, model pertanian chinampa masih belum diterapkan. Kalau pun hendak diintroduksikan, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu untuk menghitung segala untung ruginya secara ekonomi, sosial dan lingkungan. (Siswadi Yusuf)
dari : .indomedia.com/intisari/2000/juni

















