karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Oleh: Ida Hanarida Somantri 1,2), Maharani Hasanah 1,3) dan Hakim Kurniawan 2)
1) Anggota Komisi Nasional Plasma Nutfah
2) BB-Biogen, Badan Litbang Pertanian
3) Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah, Badan Litbang Pertanian
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Menyadari potensi keanekaragaman hayati yang sangat strategis tersebut, pemerintah Indonesia berupaya mengembangkan berbagai kebijakan dan peraturan menyangkut pemanfaatan, perlindungan dan pelestariannya. Pemanfaatan keanekaragaman hayati telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, sandang, dan obat-obatan. Kita sepakat bahwa kecukupan pangan misalnya, akan tergantung pada tersedianya varietas unggul yang berproduksi tinggi dan tahan cekaman biotik dan abiotik. Pada dasarnya varietas unggul itu adalah kumpulan dari keanekaragaman genetik spesifik yang diinginkan dan dapat diekspresikan. Keanekaragaman genetik spesifik tersebut ada pada plasma nutfah komoditi yang bersangkutan. Jadi plasma nutfah adalah keanekaragaman genetik di dalam jenis (Sumarno, 2002). Sebagai contoh plasma nutfah adalah pisang tanduk, pisang ambon, pisang lampung, pisang raja bulu; sapi bali, sapi madura; itik mojokerto, itik alabio; domba garut, domba ekor tipis; ikan mas si Nyonya, ikan mas majalaya (Hasanah, 2004); dan padi rojolele, padi pandanwangi, padi arias, padi hawara bunar, padi mentik dan lain-lain.
Keanekaragaman genetik tersebut harus dipertahankan keberadaannya, bahkan harus diperluas agar supaya selalu tersedia bahan untuk pembentukan varietas unggul. Upaya mempertahankan keberadaan plasma nutfah adalah konservasi. Konservasi tersebut secara garis besar terdiri dari konservasi in-situ dan konservasi ex-situ. Kesediaan yang lestari dari plasma nutfah secara ex-situ dilakukan antara lain dengan upaya rejuvenasi atau pembaharuan viabilitasnya, sedangkan untuk memperluas keragaman dapat dilakukan dengan eksplorasi.
Tidak cukup dengan kegiatan rejuvenasi dan eksplorasi saja, namun plasma nutfah yang sudah terkoleksi harus diberdayakan dengan cara dikarakterisasi (sifat-sifat agronominya) dan dievaluasi (ketahanan cekaman biotik dan abiotik). Evaluasi bisa dilakukan secara morfologi/fenotipe atau secara molekular agar supaya dapat dimanfaatkan secara tepat. Selain itu untuk mempermudah mendapatkan informasi dari koleksi plasma nutfah yang kita koleksi maka perlu dilakukan dokumentasi yang memadai, sebaiknya dilakukan secara komputerisasi sehingga membentuk suatu database yang dapat diakses secara mudah oleh para peneliti atau yang memerlukannya.
Berbicara mengenai pemanfaatan plasma nutfah, seseorang dituntut untuk memiliki beberapa pengetahuan untuk dapat memanfaatkannya. Pemanfaatan plasma nutfah untuk tujuan pembentukan varietas unggul minimal memerlukan pengetahuan seperti ilmu pemuliaan dan genetika (Yatim, 1983). Dalam makalah ini akan diulas hal-hal yang berkaitan dengan pelestarian, pemberdayaan, dan pemanfaatan plasma nutfah.
Teknik Konservasi Ex-situ dan Rejuvenasi Plasma Nutfah
Teknik konservasi plasma nutfah secara umum terdiri dari konservasi in-situ dan konservasi ex-situ. Mengacu kepada Pedoman Pengelolaan Plasma Nutfah (2002) diterangkan bahwa konservasi in-situ bersifat pasif, karena dapat terlaksana dengan hanya mengamankan tempat tumbuh alamiah sesuatu jenis. Dengan demikian jenis-jenis tersebut diberi kesempatan berkembang dan bertahan dalam keadaan lingkungan alam dan habitatnya yang asli, tanpa campur tangan manusia. Selanjutnya disebutkan bahwa cara kedua dilakukan dengan lebih aktif, yaitu memindahkan sesuatu jenis ke suatu lingkungan atau tempat pemeliharaan baru. Keragaman plasma nutfah dapat dipertahankan dalam bentuk kebun koleksi, penyimpanan benih, kultur jaringan, kultur serbuk sari, atau bagian tanaman lainnya. Menurut Ford-Llyod dan Jackson (1986) konservasi plasma nutfah secara ex-situ merupakan cara pelestarian yang aman dan efisien dan membuat sumber genetik selalu tersedia bagi para pemulia dan pengguna lainnya.
Pada saat ini, kebun koleksi merupakan cara paling efektif di Indonesia untuk menyelamatkan dan mempertahankan keanekaragaman plasma nutfah tanaman. Plasma nutfah tersebut tidak sekedar dilestarikan asal hidup dan merana, tetapi perlu dipelihara sesuai dengan cara budidaya untuk masing-masing tanaman. Tanaman koleksi tersebut diamati pertumbuhannya, diukur semua organ tanaman dan dicatat sifat-sifat morfologinya berupa data deskripsi varietas.
Jumlah tanaman tiap varietas yng ditanam di kebun koleksi tergantung pada besar tanaman dan luas kebun. Tanaman yang berasal dari biji perlu lebih banyak daripada yang dari bibit vegetatif. Tanaman pohon hasil eksplorasi perlu diperbanyak secara vegetatif kemudaian ditanam dikebun koleksi sebanyak 4-6 tanaman tiap varietas.
Konservasi ex-situ dapat juga dilakukan secara in-vitro dengan memanfaakan teknik kultur jaringan.Teknik ini digunakan untuk penyimpanan plasma nutfah dalam jangka panjang dalam jumlah sampai dengan 10 botol setiap aksesi.
Kebun plasma nutfah di Puspitek Serpong dan Cibinong menekankan pada tumbuhan yang berpotensi ekonomi. Di kebun ini ditanam populasi jenis-jenis tumbuhan untuk mengoleksi keanekaragaman plasma nutfahnya. Kebun koleksi khusus seperti Kebun Cukurgondang untuk mangga dan Kebun Tlekung untuk jeruk dan beberapa tanaman lain tergolong dalam kelompok ini.
Arboretum merupakan koleksi botani yang khusus diisi dengan jenis pepohonan (buah-buahan, industri, dan perkebunan). Pada umumnya arboretum menampung semua jenis tanaman tahunan baik yang langka maupun yang telah dibudidayakan dan terkesan arboretum tersebut sebagai hutan buatan.
Balai Penelitian Hutan yang di Indonesia memiliki beberapa arboretum yang berisi koleksi karya-karya hutan, terutama jenis-jenis kayu yang dapat dibudidayakan. Taman hutan raya adalah arboretum yang diberi fungsi tambahan sebagai suatu tempat rekreasi.
Kebun Raja (bukan kebun raya) adalah penerus budaya bangsa dalam membina paru-paru kota yang diisi dengan beraneka jenis tumbuhan setempat. Oleh karena itu, Kebun Raja sangat cocok untuk ditangani oleh propinsi, sehingga pemerintah daerah dapat memanfaatkan plasma nutfah daerahnya guna berbagai macam keperluan.
Kebun kampus seyogyanya dikembangkan pula sebagai suatu kebun koleksi untuk keperluan pendidikan dan laboratorium lapang guna pendidikan dan laboatorium guna pendidikan perplasmanutfahan.
Kebun raya merupakan tempat konservasi ex-situ berbagai jenis tumbuhan alam. Puslitbang Biologi LIPI dengan keempat kebun rayanya yang semuanya meliputi areal seluas 35 ha terus membina koleksi plasma nutfah tanaman serta kerabat-kerabat liar jenis tanaman budidaya Indonesia yang tidak ditangani lembaga lain.
Kebun koleksi adalah kebun yang dikelola oleh lembaga-lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan swasta yang umumnya berisi koleksi plasma nutfah jenis unggul masa lalu serta perangkat plasma nutfah lainnya yang langsung dapat dimanfaatkan untuk perakitan jenis unggul baru. Selain itu, di tingkat nasional perlu dipertimbangkan untuk mendirikan bank plasma nutfah dalam bentuk benih, biak jaringan, sel, DNA, sperma, dan lain-lain yang memerlukan investasi tinggi. Koleksi yang dimaksudkan hendaknya memenuhi kriteria (a) memiliki potensi ekonomi tinggi, (b) sudah mengalami erosi, (c) statusnya langka karena jumlah populasinya rendah, dan (d) penyebarannya sangat terbatas.
Biji ortodok dengan kadar air 10% dapat disimpan untuk jangka menengah dalam gudang penyimpanan ber-AC dengan suhu <18oC dengan kelembaban 45%-60% dilengkapi alat dehumidifier. Tanaman dalam tabung/planlet dapat disimpan jangka menengah dengan mengatur medium tumbuh yang dapat menghambat pertumbuhan.
Pelestarian ex-situ plasma nutfah ternak adalah merupakan semua aktivitas konservasi material genetik secara in-vitro, di luar habitat dimana mereka dikembangkan, termasuk penyimpanan beku dari semen, oosit, embrio, atau jaringan.
Kebun Binatang, Taman Safari, Taman Reptilia, Taman Burung, Sea World Ancol, Taman Aquarium, Taman Mini Indonesia Indah, dan tempat-tempat penangkaran merupakan tempat konservasi ex-situ dari jenis-jenis satwa liar dan ikan.
Pelestarian plasma nutfah ikan di luar habitatnya (ex-situ) dapat dilakukan dalam bentuk wadah koleksi berupa kolam, bak, akuarium, yang dilengkapi dengan sarana yang mempunyai kondisi tertentu untuk menyimpan plasma nutfah, sehingga dapat dipertahankan daya hidup dan sifat genetiknya.
Untuk plasma nutfah mikroba, sampai dengan tahun 2002 terdapat sekitar 1400 koleksi biakan mikroba di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, demikian pula koleksi biakan mikroba yang berada di Balitvet tercatat lebih dari 1000.
Hal yang perlu diperhatikan dalam konservasi ex-situ adalah rejuvenasi (peremajaan). Pada konservasi dengan penyimpanan benih pada jangka waktu tertentu, maka rejuvenasi diperlukan terhadap benih-benih yang telah mengalmi penurunan viabilitas. Rejuvenasi dapat dilakukan secara bergilir atau berkala 2-3 tahun sekali, tergantung kepada komoditas dan keadaan. Tentunya rejuvenasi dimaksudkan untuk memperoleh benih yang baru. Pada pelestarian tanaman semusim di lapang (yang diperbanyak secara vegetatif; misalnya ubijalar dan ubikayu), maka rejuvenasi dilakukan segera setelah panen.
Karakterisasi dan Evaluasi
Karakterisasi merupakan kegiatan dalam rangka mengidentifikasi sifat-sifat penting yang bernilai ekonomis, atau yang merupakan penciri dari varietas yang bersangkutan. Sifat/karakter yang diamati dapat berupa karakter morfologis (bentuk daun, bentuk buah, warna kulit biji, dan sebagainya), karakter agronomis (umur panen, tinggi tanaman, panjang tangkai daun, jumlah anakan, dan sebagainya), karakter fisiologis (senyawa alelopati, fenol, alkaloid, reaksi pencoklatan, dan sebagainya), marka isoenzim, dan marka molekular.
Untuk komoditas peternakan, unit biologi dasar atau biotipe yang ada adalah rumpun, tipe, galur atau varietas yang bersama-sama dalam suatu populasi membentuk gambaran yang cukup berbeda antara satu dengan lainnya pada lingkungan yang berbeda.
Terhadap mikroba yang telah diisolasi dan dikoleksi dilakukan karakterisasi baik dari sifat dan karakter morfologi koloninya pada media khusus maupun bentuk sel dan cirinya, serta sifat-sifat biokimiawinya. Karakter pertumbuhan dan perkembang-biakannya juga perlu dicatat dan dipelajari.
Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan guna mengidentifikasi kandungan senyawa gizi (protein, lemak, vitamin, dan sebagainya) serta bagaimana reaksi varietas tanaman terhadap cekaman faktor biotik (ketahanan terhadap hama, penyakit) dan abiotik (toleransi kekeringan, toleransi keracunan Fe, toleransi keracunan Al, toleransi kadar garam tinggi, toleransi lahan masam). Kegiatan karakterisasi dan evaluasi memiliki arti dan peran penting yang akan menentukan nilai guna dari varietas tanaman yang bersangkutan.
Pada ternak yang dimaksud dengan evaluasi adalah perbandingan antara dua rumpun lebih. Agar evaluasi ini berlaku, rumpun ternak yang dibandingkan harus dilakukan bersama pada lingkungan yang sama. Performa yang diamati harus meliputi semua aspek misalnya laju kelahiran, mortalitas, morbiditas, produksi, sistem pakan serta bila mungkin performa selama hidupnya.
Dokumentasi Data
Kegiatan dokumentasi dilakukan untuk merekam dan menyimpan berbagai data dan informasi penting yang dihasilkan dari kegiatan eksplorasi, konservasi, karakterisasi, evaluasi dan rejuvenasi (Hakim Kurniawan dan Rifa Yelli, 2000).
Data pada dasarnya merupakan kumpulan dari berbagai informasi. Macam dan tipe informasi tersebut akan ditentukan darimana data atau informasi tersebut berasal. Di dalam kaitannya dengan pengelolaan plasma nutfah tanaman, pada umumnya data dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe yaitu :
1. Data paspor, yaitu data yang berisi kumpulan informasi umum yang berhubungan dengan asal dimana varietas/kultivar tersebut berasal. Data paspor memuat berbagai informasi yang berasal dari kegiatan eksplorasi. Dikarenakan informasi tersebut diinventarisasi pada saat dilakukan eksplorasi di lapang, maka data paspor umumnya berisi mengenai informasi-informasi yang bersifat umum. Namun demikian, informasi tersebut sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran historis mengenai varietas/kultivar yang dikoleksi.
Meskipun terkadang terdapat beberapa item yang bersifat spesifik komoditas, akan tetapi secara umum format untuk pengisian data paspor tersebut telah disusun dalam bentuk blanko isian baku, sebagaimana ditunjukkan pada contoh berikut:

Setelah kegiatan eksplorasi selesai, maka dianjurkan untuk segera melakukan verifikasi, editing dan entry data ke dalam format dokumentasi yang telah disusun/disiapkan. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari terjadinya ketidaklengkapan informasi, atau tertukarnya data dan informasi antara varietas tanaman yang satu dengan yang lainnya.
2. Data karakterisasi, yaitu kumpulan informasi yang diperoleh dari hasil kegiatan karakterisasi. Dengan demikian data karakterisasi akan berupa sifat-sifat dari karakter morfologis, agronomis, atau fisiologis.
Dalam hal ini, dikenal dua macam data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang merupakan hasil observasi terhadap karakter kualitatif, seperti tipe bunga, warna daun, bentuk daun, warna tangkai bunga, dan sebagainya. Oleh karena itu pada kelompok data kualitatif dikenal adanya kategori-kategori terhadap variable deskriptor. Sementara data kuantitatif adalah data yang merupakan hasil pengukuran (measurement) secara kuantitatif, seperti tinggi tanaman, panjang daun, umur panen, diameter bunga, dan sebagainya.
3. Data evaluasi, yaitu kumpulan informasi yang diperoleh dari hasil kegiatan evaluasi, seperti kandungan gizi (kandungan amilosa beras, kandungan protein biji, kandungan HCN umbi dan sebagainya), reaksi terhadap cekaman faktor biotik (hama dan, penyakit) dan abiotik (kekeringan, keracunan alumunium, keracunan besi, kadar garam tinggi dan sebagainya).
4. Data pengelolaan materi, yaitu data yang berkaitan dengan kegiatan penambahan atau pengurangan materi untuk tujuan pengawasan. Termasuk pula dalam hal ini dokumentasi informasi bila terjadi tukar-menukar koleksi varietas. Data hasil kegiatan rejuvenasi juga termasuk dalam kelompok data pengelolaan materi.
Jumlah dan macam item pada data karakterisasi dan evaluasi bersifat spesifik untuk komoditas tertentu, karena berkaitan erat dengan karakter-karakter yang dimiliki oleh varietas tanaman komoditas yang bersangkutan. Oleh karena itu, untuk tiap-tiap komoditas varietas tanaman telah tersedia rujukan deskriptor standar yang disusun oleh lembaga penelitian internasional. Misalnya, untuk kelompok komoditas sayuran merujuk kepada deskriptor dari AVRDC (Asian Vegetable Research and Development Center, Taiwan), komoditas padi merujuk kepada IRRI (The International Rice Research Institute, Philippines), dan sebagainya.
Pada kenyataannya, macam deskriptor tersebut akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pelaksana dalam melakukan kegiatan karakterisasi dan evaluasi, baik dari segi teknis, ketersediaan sarana, maupun ketersediaan pendanaan.
Pemanfaatan Plasma Nutfah
Plasma nutfah yang kita miliki tidaklah berarti tanpa pemberdayaan melalui karakterisasi dan evaluasi. Setelah diberdayakan yang berarti telah diketahui sifat-sifat yang dimiliki oleh individu plasma nutfah yang kita milikipun masih belum berarti sama sekali tanpa dimanfaatkan untuk kesejahteraan.
Pemanfaatan plasma nutfah bisa dilakukan dengan berbagai cara,tergantung kepada tujuan yang ingin dicapai. Pemanfaatan plasma nutfah bisa secara langsung atau melalui proses pemuliaan. Pemanfaatan plasma nutfah melalui pemuliaan tampak lebih membutuhkan dasar-dasar ilmiah daripada pemanfaatan plasma nutfah secara langsung. Di dalam teknik pemuliaan saat ini dikenal dengan istilah pemuliaan secara konvensional dan pemuliaan secara in-konvensional melalui bioteknologi.
Pemanfaatan secara langsung sebenarnya sudah dilakukan sejak dahulu kala oleh para petani dengan cara hanya memilih tanaman-tanaman yang mereka anggap baik untuk ditanam pada musim berikutnya; dalam hal ini sudah terkait unsur seleksi. Pemanfaatan yang lebih sederhana adalah menggunakan secara langsung misalnya menebang pohon kayu atau bambu untuk keperluan pembuatan rumah dan kelengkapannya, mengambil tanaman obat untuk jamu, rotan untuk industri dan sebagainya.
Pemanfaatan plasma nutfah melalui metode pemuliaan pada tanaman umumnya dapat dibedakan menjadi metode pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri (self pollinated crop) dan metode pemuliaan tanaman menyerbuk silang (cross pollinated crop) (Poespodarsono, S., 1988); Makmur, A., 1984).
Metode pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dapat dilakukan melalui introduksi, seleksi massa atau seleksi galur murni, hibridisasi yang dilanjutkan dengan seleksi (Makmur, 1984). Pada metode pemuliaan melalui hibridisasi pada tanaman menyerbuk sendiri dikenal beberapa cara yaitu seleksi pedigree, seleksi bulk population, metode silang balik dan metode Diallel Selective Mating System (DSM).
Pada seleksi pedigree, tanaman dengan kombinasi karakter yang dikehendaki diseleksi pada generasi F2, turunan selanjutnya diseleksi lagi pada generasi-generasi berikutnya sampai mencapai kemurnian genetik. Sedangkan pada seleksi bulk, seleksi ditunda sampai generasi lanjut (F5 atau F6) setelah hibridisasi. Pada DSM kita menggunakan berbagai variasi metode seleksi dalam usulan mengkombinasikan berbagai karakter yang diinginkan, kemudian dilakukan seleksi. Selanjutnya metode silang balik dilaksanakan dengan cara melakukan silang balik secara berulang-ulang dari suatu varietas yang ingin diperoleh sifat baiknya (misal ketahanan terhadap penyakit) kepada varietas lain yang sudah cukup beradaptasi.
Metode pemuliaan tanaman menyerbuk silang sedikit berbeda dengan tanaman menyerbuk sendiri karena pada tanaman menyerbuk silang, dalam populasi alami terdapat individu-individu yang secara genetik heterozigot untuk kebanyakan lokus. Secara genotipe juga berbeda dari satu individu ke individu lainnya, sehingga keragaman genetik dalam populasi sangat besar. Fenomena lain yang dimanfaatkan dalam tanaman menyerbuk silang adalah ketegaran hibrida atau heterosis. Heterosis didefinisikan sebagai meningkatnya ketegaran (vigor) dan besaran F1 melebihi kedua tetuanya. Sebaliknya bila diserbuk sendiri akan terjadi tekanan inbreeding. Beberapa metode yang populer pada tanaman menyerbuk silang misalnya pembentukan varietas hibrida, seleksi massa, seleksi daur ulang, dan dilanjutkan dengan pembentukan varietas bersari bebas atau varietas sintetik. Untuk tanaman yang membiak secara vegetaif dapat dilakukan seleksi klon, hibridisasi yang dilanjutkan dengan seleksi klon. Cara ini dapat digunakan juga untuk pemuliaan tanaman tahunan yang biasa dibiakan secara vegetatif.
Pada ternak secara umum pemanfaatan plasma nutfah ternak ada tiga macam (KNPN, 2002) yaitu :
? Penggunaan rumpun ternak asli/lokal sebagai rumpun murni secara terus menerus. Hal ini diterapkan apabila rumpun ternak impor tidak akan lebih baik hasilnya dibandingkan dengan ternak asli/lokal, bahkan ternak asli/lokal lebih baik mutunya dibandingkan dengan rumpun impor pada kondisi lingkungan tertentu. Keadaan ini dapat terjadi apabila kondisi produksi dan pasar statis.
? Membentuk rumpun baru melalui persilangan. Apabila kondisi produksi atau pasar berubah secara cepat, maka pembentukan rumpun yang sesuai dengan persilangan dapat dicapai dalam waktu yang relatif cepat, yaitu dengan menggabungkan rumpun-rumpun yang tersedia. Rumpun baru ini dikenal sebagai rumpun komposit atau sintetis.
? Penggantian rumpun. Perubahan pasar dan kondisi produksi dapat mengakibatkan banyak rumpun yang tidak sesuai untuk digunakan lagi. Pada masa lampau penggantian rumpun dilakukan secara bertahap melalui metode silang balik berulang (repeated back cross atau grading up) terhadap suatu rumpun.
Sedangkan pada ikan disebutkan bahwa pemanfaatan plasma nutfah ikan dengan program pemuliaan relatif masih baru. Penelitian pada saat ini lebih banyak dilakukan terhadap karakterisasi morfologi dan biokimia plasma nutfah yang dilakukan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi terhadap jenis-jenis ikan mas, lele, patin, bandeng, kerapu, sidat, udang galah, dan udang windu. Pemanfaatan plasma nutfah melalui ginogenesis telah dilakukan dalam rangka pembentukan klon ikan dengan sifat genetik yang sama dengan induk aslinya dan seluruh ikan yang dihasilkan betina. Pemanfaatan plasma nutfah melalui persilangan dilakukan pada pembenihan udang windu yang berasal dari lokasi penangkapan induk berbeda. Hal ini dianjurkan pula untuk dilakukan pada pembenihan jenis-jenis ikan budidaya lainnya agar tidak terjadi inbreeding.
Masih mengutip dari Pedoman Pengelolaan Plasma Nutfah (KNPN, 2002) dijelaskan bahwa plasma nutfah mikroba yang sudah dimanfaatkan antara lain untuk diagnosis penyakit dalam bnetuk antigen dan antiserum. Sebagai contoh adalah bakteri Bacillus anthracis, telah dimanfaatkan sebagai vaksin untuk memberikan kekebalan pada ternak dan manusia terhadap penyakit anthrax yang bersifat zoonosis dan mematikan. Demikian pula vaksin Newcastle Disease (Tetelo) untuk ayam telah diproduksi dengan memanfaatkan plasma nutfah virus ND strain yang tidak ganas. Pemanfaatan mikroba pertanian melalui program pemuliaan masih relatif jarang dilakukan di Indonesia. Penelitian yang dilakukan saat ini masih terfokus pada karakterisasi morfologi dan biokimiawi mikroba.Pemanfaatan potensi mikroba dituntut untuk menghasilkan bahan aktif melalui bioproses. Produk pangan dan farmasi yang diproduksi melalui sistem bioproses menjadi andalan dalam proses industri masa mendatang. Selain produk yang dihasilkan cukup aman untuk dikonsumsi, prosesnya pun tidak memberikan dampak pencemaran seperti pada industri kimia yang menggunakan bahan sulit terdegradasi secara alami.
Seiring dengan perkembangan bioteknologi, beberapa teknik yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pelestarian plasma nutfah antara lain penggunaan konservasi in-vitro, kryopreservasi, dan beberapa teknik molekuler dalam rangka evaluasi dan karakterisasi plasma nutfah. Teknik evaluasi dan karakterisasi yang dapat digunakan seperti PCR, RAPD, RFLP, atau mikrosatelit. Sedangkan untuk pemanfaatan plasma nutfah yang pada umumnya untuk tujuan pembentukan varietas unggul antara lain kultur jaringan, teknik penyelamatan embrio dalam persilangan kerabat jauh, analisis molekuler yang digunakan dalam seleksi (marker aided selection) dan rekayasa genetik (transformasi). Transformasi akan menghasilkan tanaman transgenik, namun demikian masih terjadi pro dan kontra terhadap produk ini. Tetapi teknologi ini sangat berkembang dengan pesat. Tanaman transgenik yang mempunyai sifat ketahanan terhadap hama, penyakit, herbisida atau peningkatan hasil telah dihasilkan melalui rekayasa genetik, dan tanaman transgenik tersebut sudah banyak ditanam dan dipasarkan di berbagai negara (Herman, 1999).
Pada plasma nutfah ikan mas banyak diteliti mengenai frekuensi alel dan keragaman genetiknya termasuk dengan cara Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) pada strain Majalaya, Punten, Sinyonya, Merah, Kaca, dan Domas. Sedangkan pada ternak bioteknologi biasa digunakan dalam pengembangan peta genetik. Disamping itu telah berkembang pula teknologi produksi, penyimpanan beku semen dan embrio.
Bioteknologi pada mikroba sebenarnya telah lebih dulu dimanfaatkan manusia yaitu mikroba transgenik yang pertama kali dapat menghasilkan insulin manusia yang diguankan sebagai agen terapetik, demikian juga produk pangan hasil fermentasi adalah hasil kegiatan bioteknologi mikroba.
RANGKUMAN
Indonesia dikenal sebagai suatu negara yang memiliki keaneragaman hayati yang tinggi. Di dalam keanekaragaman hayati, terdapat keragaman di dalam jenis yang disebut plasma nutfah. Plasma nutfah yang kita miliki harus dipertahankan keberadaannya, karena plasma nutfah merupakan asset negara yang tak ternilai. Plasma nutfah merupakan bahan untuk pembentukan varietas unggul yang diinginkan untuk tujuan kesejahteraan manusia, baik sandang, pangan ataupun papan. Untuk hal di atas plasma nutfah tersebut harus diberdayakan dengan cara karakterisasi dan evaluasi (konvensional ataupun molekular), karena memiliki plasma nutfah tanpa mengetahui sifat-sifat yang terkandung di dalamnya tidaklah berarti. Selanjutnya untuk memudahkan mendapatkan informasi yang diperlukan perlu dibuat dokumentasi yang baik, yaitu dengan membuat database dari koleksi plasma nutfah tersebut.
Pemanfaatan adalah sesuatu keuntungan yang harus dapat dirasakan dari kepemilikan plasma nutfah. Pemanfaatan bisa secara langsung atau melalui proses pemuliaan baik pemuliaan secara konvensional ataupun in-konvensional (bioteknologi). Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah terdapatnya keragaman yang luas di dalam plasma nutfah tersebut, sehingga ada kesempatan untuk dapat melakukan pemilihan.
PUSTAKA
Ford-Llyod, B. and M. Jackson. 1986. Plant Genetic Resources; an Introduction to their conservation and use. Edward Arnold, London.
Hanarida, I. 1999. Pemanfaatan Bioteknologi untuk Pemuliaan Padi : Suatu Studi Pendahuluan. Buletin Agrobio Vol. 3 No. 1 Tahun 1999. Badan Litbang Pertanian.
Herman M. 1999. Tanaman Hasil Rekayasa Genetik dan Pengaturan Keamanannya di Indonesia. Buletin Agrobio Vol. 3 No. 1 Tahun 1999. Badan Litbang Pertanian.
Hasanah, M. 2004. Pedoman Pengelolaan Plasma Nutfah dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah. Makalah disampaikan pada Lokakarya Strategi Pengelolaan Plasma Nutfah Daerah di Bogor, 5-6 Agustus 2004. 12 halaman.
Komisi Nasional Plasma Nutfah. 2002. Pedoman Pengelolaan Plasma Nutfah. Deptan. Badan Litbang Pertanian. 42 halaman.
Kurniawan, H. dan R. Yelli. 2000. Dokumentasi Data Varietas Lokal Tanaman Pertanian. Makalah disampaikan dalam sosialisasi UU No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman dan Peningkatan Pengetahuan dan Kemampuan Tenaga Pendata Varietas Lokal Tanaman Pertanian pada tanggal 23-25 Juni 2003 di Manado, Sulawesi Utara. 19 halaman.
Makmur, A. 1984. Pokok-Pokok Pengantar Pemuliaan Tanaman. Institut Pertanian Bogor. 49 halaman.
Poespodarsono, S. 1988. Dasar-dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman.
Sumarno. 2002. Penggunaan bioteknologi dalam pemanfaatan dan pelestarian plasma nutfah tumbuhan untuk perakitan varietas unggul. Seminar Nasional Pemanfaatan danPelestarian Plasma Nutfah. Kerjasama Pusat Penelitian Bioteknologi IPB dan KNPN Deptan.
Yatim, W. 1983. Genetika. Penerbit Tarsito, Bandung. 397 halaman.
Source :KNSDG-indoplasma


















Pemberdayaan plasma nutfah perlu memperhatikan keseimbangan ekosistemnya dan karena semua itu kekayaan bangsa kiranya bisa memberikan nilai tambah untuk Indonesia khususnya pariwisata & ilmu pengetahuan. Ok