| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI – ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS – MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Senja itu
Flamboyan berguguran
Seorang dara memandang
Terpukau …
Satu-satu
Daunnya berjatuhan
Berserakan di pangkuan bumi
Bunga flamboyan itu diraihnya
ahnya terlihat sayu
Flamboyan berguguran
Berjatuhan, berserakan
Sejak itu sang dara berharapkan
Esok lusa kan bersemi kembali
(“Bunga Flamboyan”, Bimbo)
MASA berbunganya memang tergolong jarang, sekali dalam setahun. Persisnya terjadi pada masa pancaroba, pera-lihan dari musim kemarau ke musim hujan. Saat itulah, bu-nganya bermekaran. Namun, karena tampilannya yang luar biasa menawan, orang selalu menanti dan merindukan kehadiran bunganya. Apalagi, setiap kali bunga bermekaran, akan tercipta suasana romantis, saat yang tepat untuk rendezvous. Itulah flamboyan, pohon legendaris yang oleh kalangan pencinta tanaman hias dikenal sebagai “tanaman terindah di dunia”.
Terdapat banyak julukan yang diberikan orang sebagai bentuk kecintaan dan kekaguman terhadap bunga yang bernama Latin Delonix regia itu. Orang Indonesia menyebutnya flamboyan, yang diadaptasi dari kata flamboyant (bahasa Prancis) yang bermakna “cemerlang”. Kalangan ilmiah menyebutnya Royal Poinciana. Orang India menyebutnya dengan gulmohar. Julukan lainnya adalah “flame of the forest”, “flame tree”, atau bersama-sama dengan mawar dijuluki juga sebagai “queen of the flame”.
Di luar julukannya itu sendiri, istilah flamboyan juga menjadi sebutan untuk orang atau situasi tertentu. Ada istilah “flamboyant personality” untuk menyebut pribadi yang cemerlang. Ada juga “flamboyant colors” untuk menggambarkan warna yang semarak dan penuh bunga. Atau “flambo-yant speech” untuk menyebutkan situasi pidato atau pembicaraan seseorang yang penuh dengan bunga bahasa.
Penuh warna
Flamboyan adalah tanaman hias berbentuk pohon dengan perilaku unik dan penuh warna. Tingginya bervariasi dengan paling tinggi mencapai 12 meter. Ia menyukai tempat terbuka dan cukup sinar matahari. Batangnya licin, berwarna cokelat kelabu dengan teras sangat keras, berat, dan tahan air atau serangga. Akarnya cukup kuat sehingga jika ditanam di trotoar bisa mengangkat permukaan trotoar atau jalan. Bentuk pohonnya yang bercabang banyak dan melebar seolah membentuk payung raksasa. Dengan bentuk daun majemuk dan rapat, menciptakan kerimbunan yang khas dan memberikan kerindangan, serta kenyamanan bagi siapa pun yang berteduh di bawahnya.
Daun-daunnya akan terus menghijau sepanjang musim hujan hingga awal musim kemarau. Barulah ketika memasuki pertengahan kemarau, daun-daun flamboyan berguguran. Bahkan beberapa batang dan rantingnya me-ngering, meranggas, lalu patah. Saat itu, flamboyan tampak seperti pohon yang kurus dan gundul. Tampaknya, inilah cara alami flamboyan beradaptasi dengan perubah-an lingkungannya.
Namun, begitu air mulai tercurahkan dari langit dan musim hujan tiba, flamboyan yang tampak kering dan meranggas itu bergairah. Mereka pun seolah menebar “senyum” lewat kemunculan bunga-bunga berwarna jingga dan merah. Ya, ketika musim hujan tiba, bunga flamboyan bermekaran serentak. Periode inilah yang banyak ditunggu pencinta bunga, yang selama hampir setahun dengan sabar menanti kemunculan kembali sang pohon cemerlang itu menampakkan bunganya.
Bunga flamboyan berukuran cukup besar, berbentuk seperti anggrek dan mekar dalam sebuah kumpulan yang padat dan rapat. Warnanya antara merah jingga hingga merah tua (scarlet). Dalam satu kumpulan terdapat lima helai mahkota bunga yang menyebar, di mana salah satunya tampak berbeda dari empat mahkota lainnya. Inilah yang disebut dengan “standar” di mana ukurannya tampak lebih panjang dan ditandai oleh bintik-bintik putih atau kuning pada sisi bagian dalam. Rata-rata panjang tiap helai mahkota bunga 8 cm.
Keindahan bunga flamboyan akan tampak jika bunga itu masih di pohon dalam bentuk “gerombolan”. Jika dilihat satu per satu, bunganya tampak kurang menarik. Namun, untuk bisa menyaksikan kecerlangan bunga flamboyan memang harus pandai mencari waktu yang tepat. Bunga flamboyan biasanya terlihat paling cemerlang pada minggu pertama kemunculannya. Pada saat langit cerah dan matahari bersinar terang, warna merah jingga menyala memendarkan cahaya berkilauan. Birunya langit yang menghampar luas, seolah menjadi latar belakang yang menciptakan kontras dari sebuah lukisan alam dengan warna merah bunga flam-boyan sebagai objeknya. Saat itulah, kita akan menyaksikan panorama alam yang luar biasa menakjubkan, sebuah gambar hasil ciptaan Tuhan yang tak mungkin bisa ditandingi siapa pun.
Sayangnya, periode penuh keindahan itu hanya sebentar. Begitu memasuki minggu berikutnya, kecerlangan bunga flamboyan mulai luntur. Kita hanya akan menyaksikan warna pastel yang lebih lembut dan merah tua yang sudah redup. Penampakan bunganya mulai membosankan. Apalagi kemudian, satu per satu bu-nganya berguguran, berjatuhan, dan berserakan di atas rerumputan atau aspal jalan. Meski demikian, musim bunga flamboyan yang berlangsung antara bulan Oktober hingga Desember itu tetap menghadirkan suasana romantis. Bagi sebagian masyarakat kita—entah berhubungan langsung atau tidak—periode tersebut sering pula disebut musim kawin atau bercinta.
Seiring berjalannya musim hujan dan rontoknya bunga, flamboyan pun berganti warna penampilan, dari merah ke hijau. Inilah periode kemun-culan daun-daunnya yang secara perlahan mengalami evolusi dari warna hijau muda menjadi hijau tua cerah. Daunnya tergolong daun majemuk, berbentuk seperti pakis, ringan, dan lembut. Daunnya terbagi dalam dua tangkai (pinnate), tangkai utama (pinnae) dan tankai skunder (pinnules). Panjang daun mencapai 30-50 cm. Dalam satu daun terdapat 20-40 pasang pinnae dan 10-20 pasang pinnules.
Setelah bunga rontok, putiknya berubah menjadi buah yang berbentuk seperti pedang (polong). Saat masih muda, warna buahnya hijau muda cerah, namun saat ke-ring dan tua, akan berubah menjadi cokelat dan hitam. Panjang buah bisa mencapai 60 cm dan lebar 5 cm. Meski buahnya berbentuk polong besar, bijinya tergolong kecil dengan berat tiap biji rata-rata 0,4 gram. Bijinya bisa ditanam untuk menghasilkan tanaman baru, namun biasanya budi daya flamboyan dilakukan dengan cara stek batang atau cangkok karena alasan kepraktisan.
Belum populer
Di sejumlah negara, flambo-yan sudah menjadi komoditas penting sebagai tanaman hias yang diperdagangkan. Di Indonesia sebenarnya tanam-an ini juga sudah cukup banyak dikenal dan dibudidayakan di berbagai tempat. Namun, umumnya masyarakat kita menanam flamboyan lebih karena alasan fungsinya sebagai peneduh yang cepat tumbuh. Di beberapa kompleks perumahan atau trotoar jalan, pohon flamboyan mudah dijumpai. Sedangkan menjadikan flamboyan sebagai tanaman hias demi terciptanya keindahan, harus diakui masih sangat kurang.
Karena lebih ke alasan fungsional sebagai peneduh, tanaman flamboyan sering ditanam cul leos, alias setelah tumbuh, ya sudah, dibiarkan hidup sendiri, tanpa mendapat pera-watan atau pemeliharaan sebagaimana layaknya dilakukan terhadap tanaman hias. Tak jarang, tanaman pun bisa tumbuh menjulang tinggi dan tak terawat. Padahal, de-ngan perlakuan yang tepat melalui pemangkasan yang teratur, kita bisa menghasilkan bentuk tanaman yang tidak terlalu tinggi. Atau sistem penanaman yang berjejer teratur. Sehingga saat musim bunga tiba, kita bisa menyaksikan keindahannya lebih leluasa. Sambil menikmati kemun-culan bunganya, kita juga akan tahu bunga itu sebagai pertanda, musim hujan sudah tiba.
Saat ini, masa berbunga flamboyan memang sudah lewat. Jika pun masih ada, hanya satu dua bunga yang tumbuh di antara hijaunya daun-daunnya yang rimbun. Keindahannya sudah jauh berkurang. Jika ingin menyaksikan kecerlangan bunga flamboyan, kita harus menunggu hingga Oktober tahun depan. Ya, seperti sang dara dalam syair lagu Bimbo, semoga saja esok lusa, Oktober nanti, bunga flamboyan akan bersemi kembali, dan kita bisa menyaksikan keindahannya yang memukau. ***
Syarifah, S.P.
Alumni jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan
Fakultas Pertanian Unpad.
Pikiran Rakyat :28-12-2006











Saya sangat2 berterimakasih atas wacana dan ulasan yg diberikan. Sudah lama saya mencari2 ulasan ttg bunga Flamboyan. Saya dulu prnh pny mjlh Intisari yg juga mengulas ttg bunga Flamboyan entah tahun brp, tp sudah tak tahu rimbanya. Namun dg adanya ulasan ini, saya menjadi lega. Terimakasih yg sebesar2nya saya haturkan. Bila berkenan, sudikah kiranya penulis atau siapapun yg membaca tulisan ini mengirimkan pada saya foto2 bunga atau pohon Flamboyan ke email flamboyan158@gmail.com dan/atau flamboyan_158@yahoo.com?
Saya akan sangat berterimakasih atas bantuannya, krn bunga flamboyan telah bermekaran didalam hati saya sejak kecil hingga skrg walaupun saya belum pernah tahu bunga flamboyan yg sebenarnya. Flamboyan sudah melekat dlm sanubari saya sejak kecil.
Terimakasih atas semua partisipasi yg diberikan.
Salam hormat saya,
Tirta
Bagus sekali tulisannya.
Mohon bantuannya, apakah ada tanaman flamboyan yang tumbuh dg ukuran kecil yg tidak memakan tempat, saya ingin menanamnya.
Bunga flamboyan sebenarnya ada berapa warna dan warna apa yang paling favorit atau dicari orang.
Tks
balas ya…..!
tulisannya cukup menarik.
mohon bantuannya, pernahkah anda mengetahui fenomena ulat jengkal pada flamboyan sebelum tanaman tersebut menggugurkan daunnya? mohon bantuan infonya.
thx
Dulu th 70-80 an bunga flamboyan ini banyak ditemui dimana mana, kalau saya pulang ke Yogya lewat darat siang hari di bulan November, maka mata ini terhibur oleh cerahnya bunga flamboyan yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Sekarang bunga flamboyan sudah mulai berkurang, pohon pohonya umumnya sudah besar dan tua. Tidak ada generasi muda yang punya inisiatif untuk menanam bunga indah ini. Pemerintah ewat dinas pertamanan, maah mengganti pohon flamboyan yang indah ini dengan pohon akasia yang tidak ada bunganya. Th 70-80 an sepanjang jl gunung sahari, dipinggir kali banyak berjejer pohon flamboyan dan sangat indah dipandang mata bila musim bunga tiba. Sekarang saya lewat jaan itu, sudah tidak ketemu lagi dengan bunga flamboyan. Hilang sudah keindahan sepanjang Jl Gunung Sahari.
mudah nya menanam biji flamboyan, dalam seminggu dari biji sudah bisa keluar daunnya. lucu banget. Ambil aja biji yang dah kering tuh, lukai kulit di bagian bakal tunasnya, taruh di kapas basah, tunggu deh ampe 2 hari, indahnya kecambah flamboyan. Mudah banget ternyata menanam flamboyan. Aku sudah ada 20 kecambah flamboyan sekitar 7 cm. lucu2 banget
pohon flamboyan yang tumbuh hingga 12 m butuh berapa tahun ya? mohon bantuan penjelasan masa tumbuhnya. sy tertarik untuk menanamnya. hub ke kagayane@gmail.com. terima kasih.
[...] (sumber: http://anekaplanta.wordpress.com) [...]
Luar biasa, indah dan informatif sekali ulasannya. Saya salah satu pecinta pohon flamboyan.. Saya penggemar beratnya! Hari ini saya baru tahu kalo nama pohonnya adalah pohon Flamboyan.. Thanks sudah membuat artikel mengenai pohon paling indah di dunia ini.
saya adalh pecinta pohon Flamboyan entah mengapa setiap kali saya melihat ini saya berdecak kagum “Subhanalloh” indah menyejukkan dan langka……
menurt saya,bunga fLamboyan itu VERY BEAUTIFFUL,,,
tidak ada yang menandigin keindahannya,saya sangat suka bunga ini,karna bunga ini adalah bunga tercantik di dunia.
Hai Teh Syarifah,
Nuhun pisan atas tulisannya yang menarik dan memberi pengetahuan penting. Pasti bermanfaat untuk banyak orang.
Salam