| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI – ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS – MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Asam Jengkolat
Asam jengkolat sangat sukar larut dalam air dan kelarutannya dalam asam basa sangat lama. Van Veen beranggapan, bila asam jengkol dalam bentuk tidak berikatan dengan zat lain, kadarnya adalah 12 persen.
Para penyuka jengkol umumnya sudah tahu risiko atau implikasi makan jengkol. Apa lagi kalau bukan urusan bau tak sedap. Meski saat makan tidak terasa baunya, begitu makan selesai, maka dari mulut keluar bau tak sedap. Begitu juga beberapa jam (5-12 jam) pascamakan jengkol, saat kita buang air (besar dan kecil), bau tak sedap pun menebar dari kamar mandi/WC. Orang lain pun jadi korban “bom jengkol”. Orang yang makan jengkol juga tersiksa oleh bau tersebut, tapi setidaknya ia sudah menikmati jengkolnya. Sedangkan orang lain hanya ketiban bau busuknya.
Bau tak sedap, sebenarnya tak lebih dari implikasi minimum yang harus ditanggung konsumen jengkol. Yang harus diwaspadai ketika seseorang makan jengkol adalah implikasi lain berupa keracunan, karena jengkol bersama ubi kayu (singkong) dan tempe bongkrek termasuk jenis makanan yang sering menimbulkan keracunan. Nah, jika sudah menyangkut keracunan, biasanya orang kurang menyadari apakah dirinya sudah termasuk keracunan jengkol atau tidak?
Orang memang sudah banyak tahu apa yang orang Sunda sebut sebagai jengkoleun atau keracunan jengkol. Namun, umumnya pemahaman itu lebih merujuk pada gejala orang kesulitan buang air kecil beberapa jam pascamakan jengkol. Bukan hanya sulit, air kencing juga berwarna putih dan disertai rasa perih pada saluran urine bersamaan dengan mengalirnya urine. Padahal, di luar itu, ada tanda-tanda lain yang menjadikan seseorang sebenarnya sudah masuk ketegori keracunan jengkol.
Ada beberapa tanda dan gejala keracunan jengkol. Menurut Dr. Murniati Manik, M.Sc. Sp.KK, dari Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Univesitas Sumatra Utara, gejala yang timbul disebabkan oleh hablur (kristal) asam jengkol yang menyumbat tractus urinarius. Keluhan pada umumnya timbul dalam waktu 5-12 jam setelah memakan jengkol. Keluhan yang tercepat 2 jam dan yang terlambat 36 jam sesudah makan biji jengkol.
Gejala paling umum ditandai dengan nyeri perut, kadang disertai muntah, adanya serangan kolik pada waktu berkemih, munculnya gangguan pengeluaran urine (disuria), dan hematuria (darah dalam urine). Volume air kemih juga berkurang bahkan sampai terjadi anuria. Kadang-kadang terdapat hematuria. Napas, mulut, dan urine berbau jengkol. Pada keracunan yang lebih berat, penderita bahkan tidak bisa kencing sama sekali.
Jika gejalanya berlanjut, dapat terjadi gagal ginjal akut ditandai dengan fase oliguri (sekresi jumlah urin berkurang dalam hubungannya dengan asupan cairan). Memang, belum ada data yang menyebutkan ada orang meninggal karena keracunan jengkol, namun munculnya gejala-gejala tersebut sudah cukup membuat orang yang mengalaminya menderita. Mengapa sampai bisa terjadi keracunan jengkol?
Asam jengkolat
Penyebab terjadinya keracunan jengkol tak lain dan tak bukan berupa zat spesifik dalam jengkol yang bernama asam jengkolat. Orang Inggris menyebutnya djenkolic acid. Orang Belanda menyebutnya djenkolzuur, sedangkan orang Jerman menyebutnya dengan djenkolsaure.
Asam jengkolat adalah asam amino yang mengandung sulfur (belerang) berbentuk kristal kuning seperti jarum halus.
Penelitian terhadap asam jengkolat pernah dilakukan oleh Van Veen dan Hyman pada tahun 1933 dan berhasil mengisolasi asam jengkolat dari biji jengkol. Asam jengkolat sangat sukar larut dalam air dan kelarutannya dalam asam basa sangat lama. Van Veen beranggapan, bila asam jengkol dalam bentuk tidak berikatan dengan zat lain, maka kadarnya adalah 12 persen. Pada varietas hitam kadar asam jengkol dapat mencapai sampai 34 persen. Jengkoleun dapat terjadi bila reaksi air seni pemakan adalah asam, sehingga asam jengkolat mengendap dalam bentuk jarum halus yang dapat merusak ginjal. Menurut Heyne, keripik jengkol kurang beracun dibanding dengan jengkol yang belum diolah.
Kandungan asam jengkolat berbeda-beda tergantung varietas dan umur biji jengkol. Pada biji muda, kandungannya lebih rendah dibandingkan pada biji tua. Biji jengkol mentah dan setengah masak dicurigai sebagai penyebab keracunan karena asam jengkolat masih dalam keadaan aktif. Kandungan asam jengkolat dalam biji jengkol tua berkisar antara 1-2 persen dari berat biji. Satu biji jengkol mentah beratnya sekitar 15 gram. Kandungan asam jengkolat sekitar 0,15 – 0,30 gram. Biasanya biji jengkol mentah mengandung asam jengkolat masih dalam keadaan aktif.
Meski demikian, sebagian besar ahli berpendapat, terjadinya keracunan jengkol tidak tegantung pada jumlah berapa banyak jengkol yang dikonsumsi seseorang. Begitu pun dengan apakah jengkol yang dimakan itu berpa biji tua atau biji muda, serta cara memasak, tak ada hubungannya dengan terjadinya keracunan jengkol. Van Veen dan Hyman berkesimpulan bahwa timbulnya gejala keracunan tergantung dari kerentanan seseorang terhadap asam jengkol, dan itu bersifat sementara. Hal ini terbukti pada banyak orang yang pernah mengalami keracunan jengkol ternyata tidak kambuh lagi walaupun berulang kali memakan jengkol.
Menurut Oen L.H. dari Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, keracunan jengkol merupakan salah satu sebab payah ginjal akut (acute renal failure). Telah disepakati oleh para peneliti bahwa keracunan jengkol disebabkan oleh pengendapan kristal-kristal asam jengkolat di dalam saluran-saluran traktus urogenitalis, sehingga menyebabkan penyumbatan mekanis. Pada pemeriksaan urine dengan mikroskop dapat ditemukan hablur asam jengkol berupa jarum runcing yang kadang-kadang bergumpal menjadi ikatan atau berupa roset. Lantas, bagaimana menangani jengkoleun?
Penanganan
Jika gejala penyakit ringan (muntah, sakit perut atau pinggang saja), Murniati menyarankan, penderita tidak perlu dirawat, cukup dinasihati agar banyak minum air serta memberikan natrium bikarbonat saja (air bersoda). Bila gejala penyakit sudah pada tahap lebih berat (oliguria, hematuria, anuria, dan tidak dapat minum) penderita perlu dirawat dan diberi infus natrium bikarbonat dalam larutan glukosa 5 persen. Sedangkan jika terjadi gagal ginjal akut, penderita harus diberi natrium bikarbonat lewat infus dengan dosis sesuai analisis gen darah.
Selain itu, sebelum dikonsumsi, kadar asam jengkolat dalam jengkol bisa diturunkan. Ada beberapa cara untuk menurunkan kadar asam jengkolat. Salah satunya adalah resep tradisional yang sudah dilakukan secara turun-temurun, yakni dengan cara dibuat jengkol sepi atau rebus jengkol dalam larutan yang mengandung abu gosok. Jengkol sepi adalah jengkol yang dikecambahkan, dibuat dengan cara memendam biji jengkol dalam tanah pada kedalaman sekitar 10 cm dan disiram dengan air setiap hari selama 14 hari, supaya berkecambah.
Nah, sebaiknya memang lebih berhati-hati saja jika Anda termasuk penggemar berat jengkol. Jangan sampai hanya gara-gara Anda terlalu suka dan sering makan jengkol, Anda lupa pada risiko yang mungkin muncul.***
Syarifah, S.P.
Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.
Pikiran Rakyat :25Okt2007


















kalo keracunan jengkol minum aja minum aja minyak kelapa . insya Allah sembuh.