| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI – ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS – MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
11 Juli 2001
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sedikitnya 107.000 dari 215.000 hektar hutan alam Kerinci di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) kini gundul akibat pembabatan hutan yang tak terkendali .
Dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Kerinci, sekitar 410 Km dari kota Jambi, Selasa (10/7), Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin mengatakan, selain penebangan yang tak terkendali, lambannya reboisasi dan rehabilitasi ikut mengakibatkan hutan itu makin kritis.
Secara rinci ,Zulkifli menjelaskan, sekitar 50.000 Ha hutan alam kritis itu berada dalam kawasan TNKS, 32.000 Ha di luar kawasan, dan 25.000 Ha di kawasan hutan rakyat. Kerusakan tersebut tetap menjadi ancaman serius bagi Kerinci karena bisa mengakibatkan banjir sebagaimana terjadi Desember 2000 lalu. Bencana itu mengakibatkan lebih kurang 6.000 Ha areal persawahan penduduk rusak parah, dan 8.000 jiwa penduduk kehilangan tempat tinggal.
Menurut Gubernur, guna memperbaiki dan merehabilitasi bangunan dan persawahan yang rusak akibat banjir bandang , Pemda Jambi dan Pemda Kerinci telah mengajukan permohonan ke pusat untuk mengembalikan sebagian dana reboisasi ke daerah tersebut. “Dana itu menjadi andalan daerah untuk merehabilitasi kerusakan hutan di Kerinci dan Jambi. Sebab, daerah tersebut tidak memiliki cadangan dana rehabilitasi hutan,” katanya.
Zulkifli juga meminta warga Kerinci di perantauan, para pengusaha lokal dan warga masyarakat agar mengupayakan pengadaan dana untuk membantu rehabilitasi kerusakan hutan. Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk penanaman tanaman produktif seperti kemiri, pinang, dan jeruk manis.
Gubernur menambahkan, sungai-sungai di Kerinci saat ini mulai terancam kekeringan akibat pendangkalan “Sungai Batang Merao di Kerinci kini mengalami pendangkalan yang cukup drastis, dan itu menjadi ancaman serius banjir bandang,” tutur Zulkifli Nurdin.
(Dimas Adityo)

















