Ungguli Serat Baja?
MARIJUANA, ganja, narkotik, hemp, hashish, merupakan segudang nama untuk satu tanaman yaitu Cannabis sativa. Tentu saja nama-nama di atas sudah tidak asing bagi orang-orang di dunia. Hampir di berbagai media massa maupun elektronik selalu ada saja kasus yang berkaitan dengan ganja, bahkan banyak film-film yang mengupas tentang ganja ataupun narkotik ini.
Cannabis sativa merupakan jenis tanaman herba tahunan yang tingginya dapat mencapai 4 meter. Adapun batang dewasanya kaku dan berserat, susunan daunnya oposit, dan menjadi alternatus di akhir cabangnya, sedangkan tiap daunnya berbentuk palmatus (menjari). Bunganya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang karena kecil, hanya sekira 0,5 cm dan tersembunyi, serta berwarna hijau yang rancu dibedakan dengan warna daunnya. Berbagai varietas tanaman ganja ini ada yang hanya memiliki bunga betina, bunga jantan, dan ada juga yang memiliki kedua jenis kelamin bunga. Kantong sari bunga jantan melepaskan pollennya dengan bantuan angin ketika akan melakukan persarian dan fertilisasi.
Tanaman ganja merupakan tanaman asli daerah tropis di Asia. Kini sudah ditanam hampir di berbagai negara di dunia dengan beragam kondisi iklim dan tanah. Perbedaan iklim dan varietas khusus memengaruhi akan apa yang dihasilkan Cannabis sativa ini. Serat dihasilkan dari varietas Cannabis sativa yang tangkainya panjang, cabangnya sedikit, dan hanya menghasilkan sedikit biji, selain itu juga tumbuh subur pada iklim dengan temperatur yang tidak ekstrem, dan bercurah hujan sekira 670 mm/tahun.
Sedangkan minyak dihasilkan dari varietas yang pendek, matang lebih awal, dan menghasilkan banyak biji. Dan penghasil obat atau drug, tanamannya pendek, bercabang banyak, dengan daun-daunnya yang hijau tua.
Ketiga jenis varietas ini dibedakan berdasarkan tinggi tanaman, banyak cabang, dan karakteristik lainnya. Bahkan laporan penelitian Central Asia, Hindustani, and Eurosiberian Centers of Diversity menyebutkan, tanaman ini tahan terhadap berbagai penyakit, kekeringan, jamur, pH yang tinggi maupun rendah, serangga, laterit, myobacteria, tanah yang kurang subur, berbagai kemiringan, dan juga hadirnya rumput-rumput liar.
Secara umum, marijuana alias ganja tumbuh subur di area yang fertil (subur), tanahnya kaya akan nutrisi dan bersifat netral atau sedikit alkalis. Berdasarkan catatan statistika Cool Temperate Steppe to Wet through Tropical Very Dry to Wet Forest Life Zones dituliskan, marijuana toleran pada kondisi alam dengan curah hujan antara 300 – 4.000 mm/tahun dengan curah hujan optimum 99 mm/tahun, temperatur tahunannya antara 6 – 27 oC dengan suhu optimum 14,4 oC, dan pH antara 4,5 sampai 8,2 dengan pH optimum 6,5.
Pertama kali tanaman hemp ditumbuhkan di Cina sekira 500 tahun yang lalu. Saat ini hampir semua ngara di dunia menanamnya. Dan Cina pula menjadi awal temuan kegunaan ganja dengan mengambil minyaknya sebagai bahan bakar lampu. Bahkan kini dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif produk minyak bakar, karena sangat mudah dihasilkan dan tidak menimbulkan kebakaran.
Selain menghasilkan minyak, Cannabis sativa menghasilkan serat berkualitas paling baik, bahkan lebih baik dari kapas. Demikian pula kertas tanaman hemp jauh lebih baik dari pohon-pohon lain. Di AS pernah digunakan sebagai bahan dasar tali, dan dibutuhkan untuk para tentaranya pada PD II.
Berita terakhir penggunaan tanaman ganja dalam menyokong kehidupan Homo sapiens seperti diberitakan IPTEKNET pada tanggal 3 Mei 2004 adalah pemrosesan ganja oleh para pakar teknik kimia dan kimia terapan Universitas Toronto, Kanada yang dipimpin Profesor Mohini Sain, menjadi serat material biokomposit berkekuatan tinggi. Serat itu kelak dapat dibuat sebagai material struktural untuk beragam komponen, mulai dari komponen yang berat seperti komponen bodi mobil, kontruksi bangunan dan jembatan, sayap pesawat terbang, maupun peralatan ringan seperti helm (pelindung kepala), alat pacu jantung buatan, dan kantong penyimpan darah.
Diberitakan pula, kekuatan serat biokomposit yang dihasilkan tanaman ganja sama kuat, bahkan melebihi kekuatan serat baja. Keunggulan lainnya adalah lebih ringan, lebih efisien energi, bersifat renewable (dapat diperbarui kembali). Maka, di masa depan penggunaannya dalam industri skala besar akan mampu mengurangi konsumsi petrokimia maupun gangguan lingkungan hidup berupa terjadinya efek rumah kaca. Terjadinya dampak buangan sisa yang merugikan sedikit berhubungan dengan bahan campuran plastiknya yang bersifat bioplastik yang biodegradable atau mudah terurai, sehingga bahan tersebut dinyatakan green atau ramah lingkungan.
marijuana tetap saja merupakan tanaman yang kontroversial di samping kegunaannya yang menguntungkan masyarakat, yaitu sampai saat ini banyak yang menggunakannya sebagai alat senang-senang alias fly. Bahkan di Amerika diperkirakan 30 juta penduduknya mengisap marijuana, demikian pula di Indonesia dengan semakin banyak berita yang memuat kasus narkotika.
Inggris melarang keras penggunaan Cannabis sativa yang di sana terkenal dengan sebutan herbal medicine at it most controversial, walaupun jelas-jelas digunakan untuk menghilangkan rasa sakit para penderita penyakit kronik dan sklerosis. Dan tentu saja mengundang kemarahan para dokter dalam perkumpulan House of Lords Select Committee on Science and Technology yang telah menetapkan cannabis sebagai obat spesifik yang diberikan di bawah pengawasan dan treatment.
Menurut para dokter di perkumpulan itu, pemerintah Inggris hanya melihat sisi buruk cannabis sebagai obat fly pemuda-pemudi Inggris, dan disayangkan pemerintah tidak mengetahui sifat theurapetical (pengobatan) dalam dunia kedokteran. Keadaan ini jauh berbeda dengan negara Swiss dan Belanda yang secara terang-terangan mengizinkan penggunaan tanaman cannabis, entah untuk keperluan medis atau untuk fly.
Virus ”Herpes”
Pada akhir pertengahan abad ke-19, ekstrak marijuana merupakan obat kedua yang direkomendasikan untuk dunia kedokteran. Adapun bagian-bagian dari tanaman cannabis memiliki sifat yang berbeda. Seperti bahan aktif kimia dengan konsentrasi tinggi dikandung bunga betina, sedangkan bagian daunnya hanya mengandung sedikit bahan aktif kimia dan tidak terdapat bahan aktif kimia pada bagian biji. Dan karenanya semua yang berkepentingan pada ganja lebih memperhatikan keadaan bunganya daripada bagian lainnya.
Sampai saat ini sudah ditemukan berbagai macam penyajian bunga cannabis tersebut, diisap, langsung dimakan, ataupun dicampur dalam teh, atau bahkan dikeringkan yang dikenal dengan nama hashish.
Komponen bahan aktif kimia yang terkandung dalam cannabis adalah cannabinol, cannabidinol, dan tetrahydrocannabinol (THC) yang terdiri atas delta-9-THC dan delta-8-THC. Delta-9-THC diketahui dapat menghambat replikasi dari virus Herpes simplex.
Secara medis sifat-sifat cannabis adalah tonic (penguat), intoxicant (keras), stomachic, antispasmodic, analgesik (penghilang rasa sakit), sedative (penenang), dan anodyne (penenang). Biji dan daun cannabis digunakan dalam perawatan kanker dan tumor. Jamu-jamuan dari akar cannabis dapat menyembuhkan penyakit tumor dan kejang perut, selain itu juga dapat digunakan untuk penyakit antraks, asma, keracunan darah, bronkitis, luka terbakar, batuk, diare, disentri, epilepsi, demam, migren, rematik, dan masih banyak lagi penyakit yang menggunakan jasa cannabis untuk sembuh.
Sifat toksik (racun) terbesar pada tanaman cannabis terletak pada tangkai bunganya. Namun perlu diingat, bagian tanaman lainnya juga mengandung sifat toksik dan dapat mengakibatkan inkoordinasi otot, pusing-pusing, susah konsentrasi, kebingungan, susah berjalan, mulut kering, dysphagia, dysarthria, penglihatan kabur, dan muntah-muntah. Bahkan mengonsumsi ganja dalam dosis tinggi menginduksi koma dan kematian akibat gagal jantung.
Di Indonesia, tanaman ganja banyak tumbuh di Aceh yang notabene merupakan rahasia dapur masak bagi ibu rumah tangganya, sehingga dihasilkan makanan yang sedapnya bukan main.
Bagaimanapun juga, dengan tetap berpegang pada prinsip penggunaan ganja atau apa pun yang terlalu atau berlebihan dapat merugikan dan hasilnya tidak seperti yang diharapkan, seperti yang menjadi semboyan semua orang di AS dari berbagai lapisan mengenai ganja, yaitu ”Toxic only if large quantities eaten (beracun jika dimakan berlebihan)!”***PR-Kamis, 21 April 2005
Sri Nurilla Fazari,
Mahasiswa Biologi ITB.


















Iya dih….?