| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI – ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS – MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
BUKAN lantaran ikut tren kalau ternyata tanaman pun berbau mistik. Karena jauh sebelum reality show, sinetron mistik dan acara lain yang sejenis marak di layar kaca, aura mistik dalam tanaman sudah lama diteliti dan dibuktikan para ilmuwan.
Konon setiap tanaman mempunyai aura-aura tersendiri yang dapat mengubah perilaku Anda dan keluarga. Setiap tanaman mempunyai aura panas dan aura dingin. Konon aura panas akan menggiring kita untuk perilaku yang cenderung pemarah, sering gelisah dan selalu menimbulkan percekcokan di dalam rumah tangga. Sedangkan aura dingin justru sebaliknya. Tapi, masih banyak pula orang tua kita menganggap bahwa hal itu takhayul.
Di Indonesia – misteri– aura masih saja ditempatkan dalam kelompok “ilmu klenik” yang sudah barang tentu jauh dari kutub ilmiah. Padahal, penelitian terhadap aura secara ilmiah sudah dilakukan, dalam ruang lingkup yang modern, aura dikategorikan dalam soft science.
Sedangkan ilmuwan-ilmuwan di Amerika Serikat menyadari, selama ini terlalu mengedepankan ilmu yang bersifat material dan mengesampingkan ilmu yang bersifat spiritual. Senyatanya, pada setiap benda terdiri atas molekul-molekul yang terus bergerak. Pergerakannya membuat molekul saling beradu sehingga menimbulkan sinar yang biasa disebut aura.
Perhatian dunia Barat terhadap aura telah terbukti dengan sebuah buku yang dibuat oleh Dr. Lee Steiner, berjudul Psyhic Healing for Psychological Problems. Berbagai eksplorasi tentang aura secara ilmiah pernah dilakukan juga oleh seorang psikolog bernama Thelma Moss. Berkat peranti fotografi kirlian, ia dapat menganalisis dan memprediksikan potensi tumbuh dan tingkat kesuburannya. Melalui penelitian yang ia lakukan terhadap kacang kedelai. Tentu saja, hal itu mengundang beberapa ilmuwan untuk berkumpul dan kemudian mendirikan sebuah organisasi yang bernama International Kirlian Research Association (IKRA). Pada Mei 1972, Thelma Moss memprakarsai konferensi yang dihadiri oleh beberapa ilmuwan. Pertemuan itu bertajuk First Hemisphere Conference on Kirlian Photography.
Hal itu jualah yang membuat seorang ilmuwan yang pernah ikut mengawaki Appolo 14, Edgar D. Mitchell untuk mendirikan sebuah organisasi yang sama yang bernama Institute of Neotic Sciences.
Di Indonesia sesungguhnya pernah dilakukan penelitian serupa oleh Lembaga Antariksa Nasional (Lapan) tahun 1980. Tapi sayang, dokumen hasil penelitiannya sudah sulit untuk ditemukan. Yang lebih sayangnya lagi, peranti fotografi kirliannya pun telah ditumpuk di gudang (?).
Dalam penelitian menggunakan fotografi kirlian, warna aura dapat dibedakan. Seperti halnya untuk aura dingin, pada hasil pemotretannya akan terlihat warna hijau, biru muda, kuning atau putih. Sedangkan bila aura panas, maka warna yang ditimbulkannya adalah merah, oranye, coklat dan atau hitam.
Dalam tumbuhan, pancaran aura dapat diuraikan dengan menggunakan gelombang elektromagnetik. Aura panas berada pada tingkat gelombang yang paling rendah yang disebut gelombang Delta. Sedangkan untuk aura dingin berada di atasnya atau disebut gelombang Alfa.
Secara kuantitatif, gelombang Delta adalah 0,5 – 4 Hertz, dan di atasnya adalah gelombang Theta yaitu berkisar antara 7 – 14 Hertz, selanjutnya tepat di atasnya lagi ada gelombang Beta yaitu kisarannya melebihi 14 Hertz. Untuk lebih pastinya lagi, dapat dibuktikan dan direkam dengan alat pengukur “getaran” otak atau EEG (Electroencephalogram). Jika terlihat grafik yang terputus-putus, itu menunjukkan aura panas. Sedangkan untuk aura dingin akan terlihat grafik yang memanjang.
Sampai di titik ini, apakah kita masih menyangsikan ke-”mistik”-an aura dalam tanaman?
Aura panas dan dingin
Aura panas atau dingin dapat dibedakan secara visual. Umumnya, tanaman-tanaman yang memiliki aura dingin memiliki bunga yang wangi.
Orang tua kita melarang untuk menanam bugenvil (Bougainvillea glabra) atau kembang kertas di halaman depan rumah, apalagi bagi keluarga yang mempunyai anak gadis, konon si gadis akan kesulitan mendapatkan jodoh. “Pamali,” katanya. Lalu, apa hubungannya bugenvil dengan seretnya jodoh atau keluarga?
Boleh jadi karena aura yang ditimbulkan oleh bugenvil panas, sehingga dapat memengaruhi pemilik rumah yang berada dalam radius panasnya. Terlebih bila ditambah oleh aura panas dari penghuni rumah itu. Sebab efek negatif yang ditimbulkannya bisa menjadi besar. Aura yang dimiliki tanaman tidak dapat diubah, sedangkan aura manusia dapat diubah.
Ciri dari manusia yang memiliki aura panas biasanya cenderung emosional, sedangkan yang beraura dingin penyabar dan tenang. Nah, justru di sinilah letaknya. Dalam pemahaman saya, boleh jadi karena keluarga dan si gadis terpengaruh oleh aura panas yang ditimbulkan oleh bugenvil. Jadi, si gadis sering uring-uringan dan pemarah. Boleh jadi kondisi itulah yang membuat pemuda, calon jodoh si gadis, urung melanjutkan ke jenjang perkawinan.
Untuk mengatasinya, aura panas dari sebuah tanaman harus diimbangi dengan tanaman yang beraura dingin. Contohnya saja, suplir, hanjuang/andong merah, lili paris putih, kemuning, sirih gading, dan banyak lagi. Atau juga dapat menanam rumput yang banyak di sekitarnya. Sebab, semua rerumputan tergolong beraura dingin.
Sebagai bahan perbandingan, cobalah Anda sesekali mengunjungi keraton yang di dalamnya terdapat keputren. Bangunan tembok yang dikhususkan untuk memingit putri raja itu ditanami dengan berbagai tanaman yang beraura dingin. Maksudnya adalah agar si putri yang selama dalam pingitan itu dapat dengan tenang dan tenteram.
Seperti halnya di Keraton Surakarta, di dalam Keputren-nya terdapat tanaman-tanaman seperti palem (Palmae), cemara, suplir (Adianthum sp.), pakis (Nephrolepis sp.), kuping gajah (Anthurium crystalinum), srigading (Nyctanthes arbortristis), dan cempaka (Michelia champaca).
Lepas dari percaya atau tidak, tanaman pun memiliki nilai mistik yang bagi sebagian orang masih dianggap “ilmu klenik” dan takhayul. Sepertinya, kita harus membuka kembali lembar demi lembar peninggalan nenek moyang kita dan tak selamanya ilmu material menjadi nomor satu, dan mengesampingkan ilmu spiritual. (Hj. Lia Mutiarawati, S.E., konsultan tanaman hias).***PR-Minggu, 17 Juli 2005


















terima kasih infonya.
Sangat membantu!